NovelToon NovelToon
Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Variabel Yang Mencari Nilai Sejati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Ketos
Popularitas:296
Nilai: 5
Nama Author: Erna Lestari

Oskar Biru Arkais sorang pemuda yang berusaha mencari arti cinta Sejati,
Dan Si Mahira Elona Luis si Gadis Tomboy yang Tak Pernah Percaya akan Adanya cinta Sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Dirimu adalah buku yang ingin kubaca seumur hidup

bukan karena kisahnya yang sempurna

melainkan karena setiap halamannya selalu

membuatku jatuh cinta kembali"

_Oskar Biru Arkais_

Bell bunyi pulang sekolah telah menggelegar di setiap sudut SMA 2 Nusa Bina. Siswa-siswi berdatangan berlarian keluar kelas, siap mengakhiri hari yang melelahkan. Namun di salah satu pojok belakang gedung olahraga, suasana jauh berbeda.

Mahira Elona Luis mencoba lagi dan lagi memutar gagang pintu ruang ganti putri. Pelukan tangannya yang kuat tidak sedikit pun membuat kunci bergerak – pintu tetap terkunci erat.

“Dasar pintu sialan!” ucapnya dengan nada rendah, menendang alas pintu menggunakan sepatu olahraganya. Rambut pendek yang selalu rapi terpaku di dahinya akibat keringat, sementara jaket pramuka yang dikenakan terbalik karena dia baru saja mengganti baju setelah latihan ekstra.

Elona sudah berusaha memanggil bantuan selama lima menit terakhir, tapi gedung olahraga sepi seperti hutan malam. Hari ini jadwal ekstra pramuka memang berbeda dari biasanya, dan dia sendiri yang memutuskan untuk latihan tambahan setelah mengurus perlengkapan untuk acara bakti sosial minggu depan. Sekarang dia terkunci tanpa membawa hp di kantong – karena biasanya selalu ditaruh di lemari yang khusus disediakan, dan lemari itu juga terkunci bersama dengan barang-barangnya.

“Sial, kalau sampai begadang di sini ya ampun…” gumamnya, mulai memeriksa setiap sudut ruangan berukuran tidak terlalu besar itu. Rak baju kosong sebagian, beberapa kursi plastik tersebar, dan di pojok lain ada meja kecil yang biasanya digunakan untuk menyimpan perlengkapan olahraga. Tidak ada jendela yang bisa digunakan untuk keluar, hanya kipas angin yang berputar pelan di langit-langit.

Sementara itu, di luar gedung, Oskar Biru Arkais sedang berjalan dengan langkah teratur menuju arah kantin. Sebagai ketua OSIS yang dikenal dingin dan tegas, dia jarang meninggalkan sekolah setelah jam pulang, kecuali hari ini dia harus menyelesaikan laporan evaluasi kegiatan ekstrakurikuler yang harus dikirim ke kantor guru besok pagi. Saat melewati gedung olahraga, dia terdengar suara yang samar seperti ada yang memanggil bantuan.

Biru mengerutkan kening. Suara itu tidak terlalu jelas, tapi dia merasa ada yang tidak beres. Dia berbalik arah dan masuk ke gedung olahraga yang sudah sepi.

“Siapa di sana?” panggilnya dengan suara yang khas – tegas tanpa nada emosi.

Elona yang tengah mencoba menginjak kursi untuk meraih kipas angin sekaligus berharap bisa menemukan cara keluar, langsung terkejut dan hampir terjatuh. “Ada orang sini! Di ruang ganti putri!” teriaknya dengan suara penuh harapan.

Biru melangkah ke arah pintu ruang ganti putri, melihat bahwa kunci di luar memang terpasang dengan posisi terkunci. “Mengapa kamu terkunci di dalam?” tanyanya dengan nada yang tidak menunjukkan sedikit pun kekaguman atau kesusahan.

“Kalau saya tahu pasti tidak akan sampai seperti ini!” balik Elona dengan nada sedikit jengkel. “Tolong bantu saya keluar dong! Saya punya janji sama nenek untuk bawa belanjaan!”

Biru mengamati kunci pintu. Ternyata itu adalah kunci lama yang sering macet, bahkan pihak sekolah sudah berencana menggantinya bulan depan. Dia mencoba memutar kunci perlahan, tapi tidak berhasil. Lalu dia mencoba sedikit memukul bagian sekitar gagang sambil memutarnya – seperti yang pernah dia lihat petugas kebersihan lakukan.

“Ngapain kamu pukul-pukulin pintu? Nanti rusak lagi tuh!” teriak Elona dari dalam, tapi suara itu langsung terhenti ketika terdengar klik kecil dari kunci.

Pintu terbuka perlahan, dan Elona yang tengah berdiri tepat di belakang pintu hampir menabrak tubuh Biru yang tinggi itu. Dia mundur dengan cepat, membuat jaket pramukanya yang sudah terbalik semakin acak-acakan.

Biru hanya melihatnya dengan tatapan netral. “Kamu adalah Mahira Elona Luis, ketua pramuka kelas XI IPS 2 bukan?” tanyanya, seolah-olah sedang membaca daftar nama siswa.

Elona mengangguk, sambil menata kembali jaketnya. “Ya, terima kasih ya. Nama kamu kan Oskar Biru… emang kamu bisa bikin pintu terbuka dengan cara itu?”

“Pengalaman,” jawabnya singkat. “Sebaiknya kamu segera pulang sebelum hujan turun. Langit sudah mulai mendung.”

Elona mengangkat kepala dan melihat melalui celah jendela gedung – benar saja awan gelap mulai mengumpul. Dia buru-buru mengambil tasnya dari lemari, lalu berbalik menghadap Biru yang sudah siap pergi.

“Eh, tunggu dulu!” panggil Elona. “Aku mau traktir kamu dong, nanti aku beliin kamu es batu atau apa aja!”

Biru berhenti dan menoleh sebentar. “Tidak perlu. Ini hanya tanggung jawab sebagai ketua OSIS untuk membantu siswa yang kesusahan.”

Sebelum Elona bisa menjawab lagi, Biru sudah berjalan meninggalkan gedung olahraga. Sementara itu, tetesan hujan mulai jatuh perlahan. Elona menghela napas, sambil tersenyum kecil.

“Dingin sekali ya orangnya… tapi lumayan baik hati juga ternyata,” gumamnya sebelum berlari keluar sambil mengejar waktu agar tidak terlalu basah oleh hujan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!