Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.
Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Tahta Cahaya dan Janji Nasi Jagung
Langkah kaki Ranu pada tangga cahaya itu menimbulkan gema yang merambat hingga ke seluruh penjuru Alam Dewa. Setiap pijakannya memancarkan gelombang murni yang menghapus sisa-sisa energi hitam yang sempat merembes dari Alam Antahberantah.
Kini, ia bukan lagi sekadar pemuda desa dari Kerajaan Durja, ia adalah Sang Hyang Wira Candra dalam wujud kemanunggalan yang sempurna serta memiliki kebijaksanaan dewa namun memiliki keteguhan hati manusia.
Sesampainya di pelataran Puncak Sembilan Langit, ia disambut oleh ribuan prajurit langit yang ragu-ragu antara menghunus senjata atau bersujud. Di ujung aula agung, Dewa Amangkrat berdiri gemetar di depan singgasana emas.
"Wira Candra... kau... bagaimana mungkin kau membuka bintang ketujuh tanpa bantuan Sesepuh Langit?!" teriak Amangkrat dengan suara pecah.
Ranu terus berjalan, jubah cahayanya menyapu lantai kristal. "Amangkrat, kau mencari kekuatan di dalam ambisi, sementara aku menemukannya di dalam pengabdian. Kau lupa bahwa langit ini ada untuk melindungi bumi, bukan untuk menginjaknya."
Tiba-tiba, bayangan di belakang Amangkrat membesar dan memadat. Sosok Sang Prahara Abadi—entitas iblis kuno yang sesungguhnya—menampakkan diri. Ia mencengkeram bahu Amangkrat hingga sang dewa pengkhianat itu menjerit kesakitan.
"Manusia kecil yang sombong," geram Sang Prahara Abadi. "Kau pikir dengan tujuh bintang itu kau bisa menghentikan kegelapan yang sudah ada sebelum cahaya tercipta?"
"Aku tidak berniat menghentikan kegelapan," jawab Ranu dengan tenang. Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah pedang yang terbuat dari jalinan rasi bintang muncul di genggamannya—Pedang Penentu Takdir. "Aku hanya berniat mengembalikanmu ke tempat di mana kau tidak bisa menyakiti siapa pun lagi."
Pertempuran puncak pun pecah. Amangkrat, yang kini digerakkan seperti boneka oleh Sang Prahara, merangsek maju dengan tombak petir merahnya. Namun, Ranu bergerak dengan keanggunan yang melampaui waktu. Ia tidak hanya bertarung dengan fisik, tapi dengan otoritas alam semesta.
"Jurus Pamungkas Bintang Ketujuh: Fajar Abadi!"
Ranu menebaskan pedangnya. Bukan api atau ledakan yang keluar, melainkan gelombang cahaya putih yang begitu murni hingga menembus segala bentuk ilusi dan kegelapan. Amangkrat terlempar dari singgasana, energi iblis yang merasuki tubuhnya tercerabut paksa oleh cahaya tersebut.
Sang Prahara Abadi mencoba melawan dengan mengeluarkan kabut kehampaan, namun Ranu menghentakkan kakinya.
"Atas nama bumi yang memberiku makan, dan langit yang memberiku tugas... LENYAPLAH!"
Cahaya dari tujuh bintang di punggung Ranu menyatu menjadi satu pilar raksasa yang menelan Sang Prahara Abadi. Iblis kuno itu melolong ngeri saat eksistensinya dihapus dari lembaran sejarah semesta. Tanpa sisa, tanpa jejak.
Suasana di Alam Dewa mendadak menjadi sangat damai. Para prajurit langit serentak bersujud. Amangkrat yang kini telah kehilangan seluruh kekuatannya merangkak di lantai, menatap Ranu dengan ketakutan.
"Wira Candra... ampuni aku... aku hanya ingin menjadi sepertimu..." isak Amangkrat.
Ranu menatap mantan jenderalnya itu dengan tatapan kasihan. "Kau ingin menjadi sepertiku, tapi kau menolak penderitaan manusia. Kau akan tetap di sini, Amangkrat, bukan sebagai dewa, tapi sebagai penjaga gerbang tanpa nama hingga kau memahami arti kerendahan hati."
Dewi Laksita dan para sesepuh langit lainnya mendekat, membawa Mahkota Cakrawala. "Gusti Wira Candra, kembalilah ke singgasana. Langit membutuhkannmu untuk memimpin kembali."
Ranu melihat mahkota itu, lalu ia menatap ke bawah, menembus awan-awan menuju sebuah kerajaan kecil bernama Durja. Di sana, ia melihat ibunya sedang menata meja makan, ayahnya sedang duduk di depan rumah, dan Sekar Arum yang sedang menatap langit dengan penuh harap.
Ranu tersenyum tipis. Ia mengambil mahkota itu, namun bukannya memakainya, ia justru meletakkannya di atas singgasana kosong tersebut.
"Tugasku di sini sudah selesai dengan menghancurkan kegelapan," ucap Ranu. "Tapi tugasku sebagai seorang anak dan seorang manusia belum selesai. Biarkan singgasana ini menunggu. Aku punya janji yang harus ditepati."
"Tapi Gusti... Anda adalah Dewa Tertinggi!" seru para sesepuh.
"Dan aku juga adalah Ranu Wara," jawab Ranu dengan nada santai yang kembali muncul. "Sastro pasti akan sangat marah kalau aku membiarkan sate kambingnya mendingin."
Kerajaan Durja, Satu Jam Kemudian.
Di halaman rumah Ki Garna, suasana masih tegang namun penuh harap. Tiba-tiba, secercah cahaya perak turun dari langit dengan sangat lembut. Dari dalam cahaya itu, muncul pemuda dengan jubah biru tua—bukan lagi jubah cahaya dewa yang menyilaukan, tapi pakaian yang mereka kenal.
"Ranu!" teriak Nyai Sumi sambil berlari memeluk anaknya.
"Dinda Ibu, Ranu pulang," bisik Ranu sambil mencium kening ibunya.
Ki Garna mendekat dengan mata berkaca-kaca, disusul oleh Ki Sastro, Ki Ageng Jagat, dan Diajeng Sekar Arum.
"Kau benar-benar kembali, Den Ranu?" tanya Sastro tak percaya. "Hamba pikir Anda sudah lupa pada kami yang tinggal di debu bumi ini."
Ranu tertawa, menepuk bahu Sastro dengan akrab. "Sastro, sudah kukatakan bukan? Di langit tidak ada sambal terasi yang seenak buatan ibuku. Bagaimana mungkin aku betah di sana?"
Sekar Arum melangkah maju, wajahnya merona merah. "Selamat datang kembali... Ranu."
Ranu menatap sang putri dengan lembut. "Terima kasih, Diajeng. Sepertinya aku akan menetap di sini untuk waktu yang sangat lama. Masih banyak ladang yang harus aku bantu urusi bersama Bapak."
Sore itu, di sebuah gubuk sederhana di Kerajaan Durja, seorang Dewa Tertinggi duduk melantai bersama keluarganya. Ia makan nasi jagung dengan lahap, tertawa mendengar celoteh Ki Sastro tentang kuda yang mogok makan, dan menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus dari lembah.
Tujuh bintang di punggungnya kini meredup, tersimpan rapi sebagai rahasia alam semesta. Bagi dunia, ia adalah Sang Fajar yang menyelamatkan mereka. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah Ranu, anak seorang saudagar miskin yang akhirnya menemukan surga yang sesungguhnya: kedamaian di dalam hati dan kasih sayang keluarga.
......................