Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Ardiansyah
Suasana gereja mendadak sunyi senyap saat pendeta mengucapkan kalimat yang dinanti.
"Mempelai pria dipersilakan membuka penutup wajah mempelai wanita dan menciumnya sebagai tanda ikatan suci!"
Jantung Gia serasa berhenti berdetak. Ini dia, saat dimana penyamarannya terbongkar. Saat dimana kemarahan seorang Ardiansyah akan meledak dan menghancurkan keluarganya, terutama dirinya.
Tangan Ares yang besar dan hangat bergerak perlahan. Jemarinya menyentuh pinggiran kain veil yang tipis. Sementara Gia memejamkan mata rapat-rapat, siap untuk dihina atau bahkan diusir dari altar itu. Gia akan menjadikan hari ini adalah hari paling buruk sepanjang dia puluh tahun hidupnya.
Srett....
Kain putih itu tersingkap. Cahaya lampu kristal langsung menerpa wajah Gia yang polos. Kecantikannya yang alami, dengan bulu mata yang basah karena sisa tangis dan bibir yang bergetar, terpampang nyata di depan mata Ares.
Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari barisan kursi keluarga. Mereka mulai menyadari ada yang berbeda dengan pengantin perempuan.
"Lho, itu bukan Siska!"
"Siapa gadis itu? Itukan anak haram Tuan Hilman?"
"Berani sekali mereka menipu keluarga Ardiansyah!"
Hilman dan Sarah yang ada di barisan depan pucat pasi, tubuh mereka kaku ketakutan. Mereka menunggu ledakan amarah Ares dan keluarganya. Sarah lupa kalau banyak pasang mata yang menyaksikan pernikahan itu dan mereka semua bisa menjadi percikan api bagi keluarga Ardiansyah yang sedang menyiapkan bom waktu kemudian meledak begitu saja.
Namun, Aresta Ardiansyah tetap bergeming. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata cokelat Gia yang ketakutan. Alih-alih mundur atau berteriak, Ares justru maju selangkah, memperpendek jarak hingga Gia bisa mencium aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu.
Ares menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Gia.
"Jangan menunduk!" Bisiknya rendah dan sangat intim.
"Mulai detik ini, kamu adalah istriku. Tidak ada yang boleh melihatmu sebagai pengecut!"
Ares kemudian berbalik menatap para tamu undangan dengan tatapan tajam yang seketika membungkam seluruh ruangan. Auranya begitu mengintimidasi hingga bisik-bisik itu hilang ditelan bumi. Suasana hening seketika, tatapan Ares sepertinya berhasil mengintimidasi begitu banyak tamu di ruangan itu.
Ia kembali menatap Gia, lalu dengan lembut tangan besarnya meraih dagu gadis itu, mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Di depan ratusan pasang mata, Ares mengecup kening Gia dengan sangat lama dan penuh takzim, sebuah tanda kepemilikan yang sah.
"Terima kasih sudah berdiri di sini untukku, Gia!" Ucap Ares cukup keras agar terdengar oleh barisan depan, terutama Hilman dan Sarah.
Gia terpaku. Pria itu menyebut namanya dengan lantang seolah tidak terjadi apa-apa saat ini. Ares seolah sudah tahu kalau dia bukan Siska. Tapi yang membuat Gia bingung, kenapa Ares justru melindunginya.
Semua tamu undangan masih kebingungan, mereka terus bertanya-tanya meski bibir mereka tak bisa bersuara karena dibungkam dengan tatapan tajam dari mata elang milik Ares.
🌹🌹🌹
Perjalanan menuju mansion Ardiansyah terasa sangat panjang bagi Gia. Ia duduk merapat ke pintu mobil, merasa tidak pantas berada di dalam Rolls Royce mewah itu bersama pria sehebat Ares Ardiansyah.
"Tuan..." Suara Gia mencicit.
Ares yang sedang menutup tablet kerjanya menoleh. Ia melonggarkan sedikit dasinya, menanggalkan kesan kaku di altar tadi.
"Ya, Gia?"
"Kenapa Anda tidak marah? Anda tahu saya bukan Kak Siska. Keluarga saya... kami sudah menipu Anda!" Gia meremas jemarinya yang pucat.
Ares menatap jemari kecil itu, lalu tanpa ragu ia meraih tangan Gia dan menggenggamnya di atas pangkuannya. Genggaman yang posesif namun lembut.
"Aku tidak suka barang bekas, Gia!" Ucap Ares tenang.
"Kakakmu kabur karena dia tidak menghargai komitmen ini. Tapi kamu? Kamu gemetar ketakutan tapi tetap berdiri di sana demi keluargamu. Aku lebih suka pengantin yang memiliki hati, bukan sekadar nama di atas kertas!"
Ares mendekatkan wajahnya, membuat Gia menahan napas.
"Mulai malam ini, kamu tidak perlu lagi melayani Papa dan Mama tirimu itu. Kamu adalah Nyonya Ardiansyah. Mintalah apa pun, maka aku akan memberikannya untukmu. Mengerti?"
Gia hanya bisa mengangguk pelan, air mata haru mulai menggenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah kepergian Ibunya, ada seseorang yang berdiri di depannya sebagai pelindung, bukan sebagai majikan.
Mansion Ardiansyah di malam hari tampak seperti istana dalam dongeng, namun bagi Gia, setiap sudutnya terasa asing dan mengintimidasi. Setelah acara resepsi yang kaku, ia kini berdiri di tengah kamar utama yang luasnya hampir sama dengan ruang keluarga di rumah Papanya.
Harum aroma lilin terapi dan bunga lili putih memenuhi ruangan. Di atas ranjang king size dengan sprei sutra abu-abu, gaun pengantinnya yang berat terasa seperti beban yang mencekik lehernya.
Cklek....
Pintu terbuka. Ares masuk dengan langkah tegap. Ia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam.
Gia menunduk dalam, tangannya meremas ujung gaunnya.
"Tuan..."
Ares berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Gadis yang tampak begitu kecil dan rapuh di tengah kemewahan ini.
"Kamu tidak perlu gemetar begitu!" Suara Ares berat dan rendah.
"Aku tidak akan memakanmu!"
Gia mendongak sedikit, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca karena kelelahan dan rasa takut.
"Maaf, Tuan. Saya... saya hanya merasa ini semua seperti mimpi buruk yang tidak nyata!"
Ares tertegun sejenak melihat kejujuran di mata Gia. Kebanyakan wanita akan melakukan apa saja untuk berada di posisi ini, tapi gadis ini justru menyebutnya mimpi buruk.
"Dengar, Gia!"
Ares mendekat, membuat Gia secara refleks menahan napas.
"Pernikahan ini adalah transaksi untuk menyelamatkan muka keluargaku dan menolong ekonomi keluargamu. Aku tidak mengharapkanmu menjadi istri yang sempurna. Cukup jalankan peranmu di depan publik, dan kau akan mendapatkan apa pun yang kamu mau"
"Termasuk kebebasan saya?" Gia bertanya dengan begitu percaya diri.
Ares menyipitkan mata. Ia meraih dagu Gia dengan jemarinya, memaksa gadis itu menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Gia bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana dari tubuh Ares.
"Kebebasanmu adalah milikku sekarang!" Ucap Ares dingin, namun jemarinya mengusap kulit pipi Gia dengan lembut, sebuah tindakan yang membingungkan.
"Mandilah. Pakai pakaian yang sudah disiapkan di ruang ganti. Aku akan tidur di sofa malam ini!"
"Di sofa? Tapi ini kamar Anda, Tuan!" Gia terperangah karena keputusan Ares itu.
"Aku tidak akan memaksa satu ranjang denganmu kalau kamu memang belum mengijinkannya!" jawab Ares pendek sebelum berbalik menuju balkon.
Saat Gia melangkah menuju kamar mandi, ia tidak menyadari bahwa Ares diam-diam memperhatikannya dari pantulan kaca. Ada sesuatu dari keteguhan hati gadis itu yang membuat dinding es di hati sang Tuan Besar sedikit retak.
Malam itu, di bawah langit-langit mansion yang megah, dua orang asing tidur dalam satu ruangan yang sama. Yang satu terjaga karena rasa bersalah pada masa lalu, dan yang satu lagi terjaga karena ketakutan akan masa depan.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus