Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memenangkan Hati Calon Mertua
"Bima, kamu ternyata ada di rumah. Kapan sampai?"
Seorang wanita tua, memakai kalung emas besar di lehernya memeluk tubuh Bima.
"Aku sampai tengah malam, Nek. Aku sengaja nggak bangunin kalian, khawatir tidur lelap Nenek terganggu," sahut Bima sambil tersenyum lebar.
Marsinah, perempuan yang berusia lebih dari setengah abad itu celingukan ke belakang tubuh cucunya.
"Mana calon istri kamu itu? Kamu datang bersamanya, kan?"
"Rasanya enak." Suara dari arah dapur mengalihkan perhatian keduanya.
Marsinah menatap Bima yang tersenyum bangga.
"Dia ada di dapur? Biar Nenek temui dia."
Marsinah segera menuruni tangga dengan langkah perlahan, menuju dapur. Matanya berbinar melihat sosok Nadira yang begitu nampak anggun berdiri di depan wajan yang mengepulkan asap.
"Mas Bima." Nadira tersenyum lebar melihat sosok Bima, dan segera mendekat.
"Dia...?" Marsinah menunjuk ke arah Nadira.
Setelah mendapat anggukan dari cucunya perempuan itu langsung memeluk tubuh Nadira.
"Jadi kamu wanita yang dipilih Bima? Ternyata dia sangat pintar memilih calon istri. Kamu cantik, dan sepertinya pintar memasak," puji Marsinah tulus.
"Dia nenekku, sayang. Dia kepala keluarga di rumah ini," kata Bima sambil merangkul tubuh Nadira.
"Saya Nadira, Nek. Saya senang memasak. Sejak kecil, saya selalu membantu ibu menyiapkan makanan," ujar Nadira.
Marsinah menepuk lengan Nadira pelan. "Bagus. Memang menantu seperti kamu yang dibutuhkan keluarga ini. Selain pintar berdandan, harus pintar juga mengenyangkan perut semua orang."
Nadira menunduk dan tersenyum puas dengan pujian itu.
"Bima? Apa orangtua kamu sudah bertemu dengan Nadira?" tanya Marsinah, menatap cucunya kembali.
"Papa masih di kamar. Sepertinya dia sedang bersiap pergi kerja, Nek."
"Sambil nunggu, Nenek duduk saja dulu di sini."
Bima membimbing neneknya duduk di kursi, setelah itu dia mendorong Nadira ke depan kompor. "Buatkan teh hijau untuk Nenek, sayang. Setiap pagi, kamu harus selalu ingat untuk menyiapkannya sebelum sarapan," bisik Bima.
Nadira mengangguk dan segera melaksanakan perintah Bima. Tekad saat ini hanya satu, mengambil hati semua orang di rumah itu.
"Apalagi yang harus aku siapkan, Mas?"
"Kopi. Papa biasanya nggak langsung makan makanan berat. Pastikan kopinya nggak terlalu manis," sahut Bima sambil mengusap lengan Nadira.
Nadira dengan sigap menyiapkan semua kebutuhan semua orang. Itu bukan hal baru, dulu saat awal menikah, dia sudah melakukan rutinitas istri idaman itu setiap pagi untuk Arga.
"Selama pagi semuanya!" Seorang pria yang mengenakan setelan forman datang dengan langkah penuh percaya diri dan duduk di samping Marsinah.
"Dira, itu papaku. Ayo, biar aku kenalkan padanya."
Nadira mengangguk kecil dan menghampiri pria bernama Mardi. "Selama pagi, Pa."
Mardi menaikan pandangan dan menatap Nadira dengan sebelah alis terangkat. "Selamat pagi. Kamu...?"
"Oh, dia calon istrimu itu, Bima?"
"Benar, Pa. Gimana? Cantik kan? Dia juga pintar mengurus pekerjaan rumah, Pa," jawab Bima sambil mengusap kepala Nadira yang merasa tersanjung oleh pujian itu.
"Hmm... pilihan yang bagus. Kamu memang selalu bisa diandalkan," kata Mardi menatap putranya dengan bangga.
"Ah, ya... teh dan kopinya. Biar aku ambil dulu."
Nadira bergegas pergi mengambil minuman yang sudah dia siapkan dan diletakan di atas meja. "Silahkan Nek, Pa. Semoga kalian suka, ya."
Nadira berdiri dengan gugup, khawatir mereka tidak menyukai minuman yang telah dia buat. Namun, setelah melihat keduanya meminum minuman itu dan memberikan pujian "enak" dia bisa bernapas lega.
"Aku akan sajikan sarapan, Mas. Aku tinggal dulu," pamit Nadira dan segera berlalu.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Mardi.
Suaranya yang lumayan keras terdengar sampai di telinga Nadira.
"Ya, kapan aku menjadi anggota keluarga ini? Aku juga sudah nggak sabar," batin Nadira sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Secepatnya, Pa. Mungkin akhir bulan depan," jawab Bima. Ia sudah menghitung masa Iddah Nadira.
"Bagus. Semakin cepat semakin baik."
Mardi menepuk pundak putranya. "Papa akan berangkat sekarang. Ajak calon istrimu menemui Mama-mu sebelum kamu berangkat kerja," pesan Mardi sebelum menghilang dari balik pintu dapur.
"Loh, Mas? Papa kamu nggak ikut sarapan?" tanya Nadira membawa semangkuk besar sup yang mengepul.
"Papanya Bima nggak makan nasi saat sarapan, Nadira. Jadi, Nenek akan jadi yang pertama mencicipi masakan calon cucu mantu," kata Marsinah.
Nadira tersenyum lebar dan meletakan sup itu di atas meja. Dia melayani Marsinah dengan sepenuh hati.
Perempuan itu duduk di samping Bima dan mulai menikmati sarapannya.
"Kamu sangat pintas masak, Nadira. Keluarga ini sangat beruntung memiliki menantu seperti kamu," puji Marsinah.
"Nenek terlalu berlebihan. Masakan ku biasa aja kok," sahut Nadira merendah.
Tatapan wanita itu kemudian beralih pada Bima. "Mas, di mana Mama-mu? Kenapa nggak ikut sarapan bareng kita?" tanyanya heran.
Bima berdehem pelan sambil melirik Marsinah yang juga tengah menatap ke arahnya. "Kamu mau bertemu dengannya? Ayo, biar aku antar."
Bima bangkit dari kursi, dan Nadira langsung mengikuti. Mereka berdua berjalan menuju kamar utama di lantai bawah.
"Mama ada di dalam," ucap Bima, suaranya terdengar gugup.
Nadira membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Matanya menyapu kamar yang bersih dan luas itu dengan tatapan berbinar, sebelum matanya membelalak lebar melihat sosok ibu dari Bima.
"Mas, Mama-mu..."
Bersambung...