Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Sidang Cerai
Gema langkah kaki di koridor sayap barat High Tower terdengar seperti dentang lonceng kematian. Nayara berjalan dengan punggung tegak, meski setiap inci lantai marmer yang ia pijak terasa mengirimkan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Ia tidak mengenakan gaun sutra pemberian keluarga Arkananta hari ini. Sebaliknya, ia memilih setelan sederhana yang ia bawa dari panti asuhan—kain katun yang sedikit kaku namun bersih, berbau sabun batangan murah yang akrab di hidungnya.
"Nyonya, Anda tidak perlu melakukan ini sendirian. Tuan Arkan sudah mengatur segalanya," bisik Bayu yang berjalan di belakangnya, wajahnya tersembunyi di balik bayangan pilar.
"Saya tahu, Bayu. Tapi mereka harus melihat bahwa saya berdiri di sini bukan karena harta suami saya, tapi karena martabat saya sendiri," jawab Nayara pelan, suaranya mengandung getaran baja yang tidak bisa dipatahkan.
Saat pintu ruang sidang keluarga terbuka, aroma parfum amber milik Nyonya Besar yang memuakkan langsung menyerbu, mencoba menenggelamkan wangi melati samar dari sapu tangan yang digenggam Nayara. Di dalam ruangan luas itu, sebuah meja panjang mahoni telah dikelilingi oleh para tetua High Council dan pengacara berpakaian perlente. Di tengah meja, sebuah dokumen dengan sampul biru tua terletak seperti belati yang siap menghujam.
"Duduklah, Nayara. Kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu janda yang tidak tahu diri," suara Nyonya Besar membelah keheningan, dingin dan tanpa ampun.
Nayara menatap kursi kayu tanpa sandaran empuk yang diletakkan di sudut ruangan—sebuah penghinaan fisik yang disengaja untuk menunjukkan kasta terendahnya. Ia duduk di sana tanpa keluhan, meskipun visinya sempat menyempit sesaat akibat kilasan memori saat ia diusir dari tanah panti di masa lalu.
Di balik dinding kaca satu arah, Arkananta berdiri di ruang monitor dengan rahang yang mengeras hingga otot pipinya berkedut hebat. Ia melihat bagaimana istrinya diperlakukan seperti pesakitan. Tiba-tiba, Arkan mencengkeram dadanya. Rasa nyeri tajam menusuk tulang rusuk kirinya, seolah-olah ada ujung pena yang ditekan keras ke dalam dagingnya. Ia merasakan buku-buku jarinya memutih dan telapak tangannya memanas, menyerap getaran ketakutan Nayara yang disembunyikan di balik wajah tenangnya.
"Silakan dimulai, Pengacara," perintah Nyonya Besar.
Pria berkacamata di ujung meja berdehem, suaranya terdengar seperti gesekan kertas yang tajam. "Nyonya Nayara, berdasarkan bukti-bukti baru mengenai asal-usul panti asuhan Anda yang tidak teregistrasi secara sah, pernikahan Anda dengan Tuan Arkananta dianggap cacat hukum sejak awal. Apalagi dengan kondisi Tuan Arkan yang saat ini... tidak berdaya pasca-kecelakaan, keluarga besar memutuskan untuk memutus hubungan ini secara administratif."
"Cacat hukum?" Nayara mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata pengacara itu. "Panti saya sudah berdiri sebelum gedung ini memiliki pondasi. Jika Anda bicara soal legalitas, kenapa tidak bicara soal sabotase rem mobil suami saya yang terjadi kemarin?"
Suasana ruangan mendadak membeku. Nyonya Besar meletakkan cangkir porselennya dengan denting yang keras. "Jangan berhalusinasi, Nayara. Kecelakaan itu adalah kutukan yang kau bawa ke rumah ini. Sekarang, tanda tangani surat pembatalan pernikahan ini, atau Panti Cahaya Sauh akan diratakan dengan tanah besok pagi karena pelanggaran izin lahan."
Nayara merasakan napasnya menjadi manual dan berat. Setiap tarikan oksigen terasa seperti menghirup debu yang menyesakkan. Ini adalah dilema martabat yang paling pahit. Jika ia bertahan, anak-anak panti kehilangan tempat tinggal. Jika ia menyerah, ia mengkhianati perjuangan Arkananta yang sudah mempertaruhkan nyawa demi melindunginya.
"Pena, Nyonya," pengacara itu menggeser sebuah pulpen logam berat ke depan Nayara.
Jemari Nayara gemetar saat meraih pulpen itu. Di ruang monitor, Arkananta hampir menghantam layar kaca saat merasakan sensasi terbakar di telapak tangannya sendiri. Ia bisa merasakan batin Nayara yang sedang menjerit, sebuah kesedihan yang begitu dalam hingga lidahnya terasa pahit seolah menelan empedu.
"Apakah ini yang Anda inginkan, Nyonya Besar? Menghancurkan panti asuhan hanya untuk menyingkirkan saya?" tanya Nayara, matanya berkilat tajam di bawah lampu kristal yang menyilaukan.
"Aku hanya sedang membersihkan noda di kain sutra keluargaku," jawab Nyonya Besar dengan senyum tipis yang merendahkan. "Tanda tangani, dan panti itu akan tetap berdiri. Tolak, dan kau akan melihat anak-anak itu tidur di jalanan malam ini."
Nayara menunduk, melihat dokumen di depannya. Huruf-huruf di kertas itu tampak menari, berubah menjadi bayangan hitam yang mencoba mencekik nuraninya. Ia memegang pulpen itu dengan kuku yang menusuk telapak tangannya sendiri, menciptakan bekas luka kecil yang menjadi jangkarnya.
"Saya tidak akan menandatanganinya," suara Nayara keluar, rendah namun menggelegar di ruang yang sunyi itu.
"Apa kau bilang?" Kireina yang duduk di samping Nyonya Besar berteriak tidak percaya. "Kau ingin anak-anak panti itu hancur?"
"Saya tidak akan menandatanganinya karena surat ini tidak berharga," Nayara berdiri, meletakkan pulpen itu kembali dengan denting yang tajam. "Suami saya masih hidup. Dan selama jantungnya masih berdetak, tidak ada satu pun pengacara di gedung ini yang punya hak untuk memisahkan kami."
"Dia sudah mati di mata hukum, jalang!" Nyonya Besar berdiri, wajahnya merah padam. "Keamanan! Paksa dia!"
Dua pria berseragam hitam melangkah maju, mencengkeram bahu Nayara hingga ia meringis kesakitan. Di saat yang sama, Arkananta di ruang monitor merasakan bahunya seolah diremukkan oleh tekanan yang tak kasat mata. Ia tidak bisa menunggu lagi.
"Cukup," Arkan berbisik pada dirinya sendiri, suaranya seperti guntur yang tertahan.
Tiba-tiba, pintu besar ruang sidang itu terbuka dengan satu tendangan keras. Dentumannya membuat porselen di atas meja bergetar hebat. Di ambang pintu, berdiri sesosok pria dengan setelan hitam sempurna, wajahnya sekeras granit, dan auranya begitu menekan hingga suhu ruangan terasa merosot drastis.
"Siapa yang memberi izin kalian untuk menyentuh istriku?" suara Arkananta menggema, dingin dan mematikan.
Keheningan yang mencekik seketika melanda ruangan itu. Nyonya Besar terpaku, cangkir porselen di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer, menciptakan suara denting yang menyedihkan. Kireina terengah, wajahnya memucat hingga menyerupai kertas dokumen yang berserakan. Arkananta melangkah masuk dengan langkah kaki yang mantap, setiap ketukan sepatunya terdengar seperti vonis hakim yang tidak bisa diganggu gugat.
"Arkan? Bagaimana mungkin... laporan medis menyatakan kamu kritis!" Kireina memekik, suaranya melengking karena ketakutan yang gagal disembunyikan.
"Laporan medis bisa dibeli, Kireina. Sama seperti pengacara di depanmu ini," Arkananta berhenti tepat di belakang kursi kayu tempat Nayara tadi dipaksa duduk. Ia meletakkan tangannya di bahu Nayara, memberikan kehangatan yang seketika menghapus rasa dingin di sumsum tulang istrinya.
Nayara mendongak, menatap wajah suaminya. Ia melihat kilatan amarah yang murni di mata abu-abu Arkan, namun ia juga merasakan denyut nyeri di bahu Arkan yang merupakan pantulan dari cengkeraman penjaga tadi. Resonansi di antara mereka kini terasa harmonis, sebuah aliran kekuatan yang membuat Nayara mampu berdiri tegak kembali.
"Ibu," Arkan menatap Nyonya Besar dengan pandangan yang menghunus. "Saya tidak menyangka harga diri Ibu begitu murah hingga harus mengancam anak-anak panti hanya untuk memuaskan ego politik Ibu."
"Arkananta! Jaga bicaramu! Aku melakukan ini demi nama baik keluarga!" Nyonya Besar mencoba memulihkan otoritasnya, meski tangannya gemetar hebat di balik meja mahoni.
"Nama baik yang mana? Nama baik yang dibangun di atas sabotase rem mobil anak kandung Ibu sendiri?" Arkan mengisyaratkan pada Bayu yang baru saja masuk membawa sebuah tas koper hitam.
Bayu membuka koper itu dan mengeluarkan lembaran data forensik digital serta rekaman video tersembunyi. "Ini data sabotase dari dalam High Tower. Dan ini bukti legalitas Cahaya Sauh di bawah perlindungan pribadi Tuan Arkananta," lapor Bayu singkat dan taktis.
Pengacara keluarga itu berkeringat dingin, mencoba menyelinap keluar, namun Bayu segera menghalangi jalannya dengan tatapan yang mengunci.
"Duduk kembali, Tuan Pengacara. Sidang ini belum selesai," suara Arkan rendah namun mengandung ancaman yang nyata.
Nayara mengambil dokumen biru tua di atas meja, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia merobeknya menjadi dua bagian di depan wajah Nyonya Besar. Suara kertas yang robek itu terdengar sangat memuaskan di telinga Arkan.
"Panti asuhan itu bukan noda, Nyonya Besar," Nayara bicara dengan nada yang sangat tenang, martabat sunyinya kini bersinar lebih terang daripada lampu kristal di ruangan itu. "Itu adalah tempat di mana manusia diajarkan tentang kesetiaan. Sesuatu yang sepertinya tidak pernah Ibu pelajari di balik tembok marmer yang dingin ini."
"Kau... berani-beraninya kau mengajariku!" Nyonya Besar menghantam meja, namun suaranya pecah.
"Cukup, Ibu," Arkan memotong dengan suara yang membelah udara. "Mulai detik ini, tidak ada lagi sidang keluarga tanpa seizin saya. Dan mengenai Empire Group, saya akan mengambil alih audit internal mulai besok pagi. Jika saya menemukan satu rupiah pun dana yang digunakan untuk menyewa pembunuh atau praktisi gelap, saya sendiri yang akan memastikan Ibu menghadapi otoritas hukum."
Arkan menarik kursi kayu yang tadi diduduki Nayara, lalu menendangnya hingga bergeser jauh. Ia kemudian menarik salah satu kursi kulit mewah milik tetua High Council dan mempersilakan Nayara duduk. "Duduklah di sini, Nayara. Di tempat yang seharusnya menjadi milikmu."
Nayara menatap kursi itu, lalu menatap Arkan. Ia menyadari bahwa suaminya kini bukan lagi underdog yang bisa ditekan. Arkananta telah menjelma menjadi seorang komandan yang siap membakar seluruh kepalsuan di gedung ini.
"Kita pergi dari sini, Arkan. Aroma di sini terlalu menyesakkan napas saya," bisik Nayara, merasakan mual di perutnya mulai mereda berganti dengan rasa lelah yang amat sangat.
"Jangan lepaskan lenganku, Nayara. Kita tinggalkan tempat ini sekarang," jawab Arkan lembut, menuntunnya keluar dari ruang sidang tanpa menoleh lagi pada keluarga besarnya yang kini tampak seperti pecundang di atas panggung mereka sendiri.
Saat mereka berjalan di koridor, Arkan merasakan nyeri di tulang rusuknya perlahan menghilang. Ia melirik Nayara yang tampak lelah namun matanya menunjukkan binar kemenangan yang jujur. Jam tangan perak di pergelangan tangan Arkan kembali berdetak dengan ritme yang tenang.
"Anda benar-benar datang tepat waktu," ucap Nayara saat mereka memasuki lift pribadi.
"Aku selalu datang tepat waktu untuk hal yang berharga, Nayara," jawab Arkan, matanya menatap angka lift yang terus turun. "Tapi bersiaplah. Kekalahan mereka hari ini akan memicu amarah yang lebih besar. Mereka akan mencoba mengasingkan kita ke tempat yang lebih gelap."
"Ke manapun itu, selama saya membawa tasbih ini dan Anda membawa prinsip itu, saya tidak takut," Nayara menggenggam butiran tasbih di sakunya, merasakan retakannya yang kini seolah menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Arkan mengangguk, ia tahu langkah selanjutnya adalah masa pengasingan yang disiapkan oleh High Council. Mereka akan dikirim ke Desa Sunyi, wilayah yang dianggap sebagai Forgotten Zone, tempat di mana hukum rimba dan kemiskinan diharapkan akan menghancurkan mereka. Namun, di dalam hatinya, Arkan tahu bahwa di sanalah ia akan membangun legiunnya yang sebenarnya, jauh dari kepalsuan Marmer High Tower.