NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekasih Bohongan

Di bawah langit Kota Jakarta yang dipenuhi gemerlap lampu dan hiruk-pikuk manusia, Fauzan Arfariza melangkah santai di trotoar pusat kota. Jakarta, dengan segala kesibukannya, tak pernah benar-benar tidur. Di sanalah takdir sering mempermainkan manusia, mempertemukan mereka yang seharusnya berpapasan, dan mengikat mereka dalam pusaran peristiwa yang tak terduga.

Tiba-tiba, sebuah sosok menabraknya dengan tergesa. Tubuh itu ringan namun hangat, membuat Fauzan refleks mengulurkan tangan agar orang tersebut tidak terjatuh. Saat pandangannya bertemu dengan wajah yang dikenalnya, senyum tipis terbit di sudut bibirnya.

Orang itu adalah Nora Ananta.

“Apa ini?” ujar Fauzan sambil tersenyum samar. “Kemarin menabrakku dengan Ferarri belum cukup, sekarang kau  menabrakku juga?”

Di balik ucapannya yang terdengar bercanda, hatinya justru sempat bergetar. Ia menyadari, tertabrak manusia jelas jauh lebih menyenangkan daripada ditabrak kendaraan bermesin mahal. Ada kelembutan, ada denyut kehidupan—sesuatu yang tidak dimiliki oleh besi dan baja.

Pandangan Fauzan tanpa sadar menelusuri sosok Nora. Ia tampak ramping, anggun, namun tetap menyimpan wibawa seorang perempuan yang terbiasa berada di puncak. Tidak berlebihan, tidak mencolok, tetapi kehadirannya selalu terasa. Aura itu, aura yang membuat orang-orang menoleh tanpa sadar, seolah ia membawa keseimbangan dan kestabilan—seperti pertemuan Keseimbangan dan Kestabilan dalam harmoni alam semesta.

Nora sendiri terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu Fauzan di tempat ini. Sejenak ia terdiam, lalu berkata dengan nada mendesak, “Jangan banyak bicara. Ini darurat dunia persilatan kota. Aku butuh bantuanmu.”

Fauzan mengangkat alis. “Bantuan apa? Kau mau meminjam Rupiah?”

“Bukan uang,” jawab Nora cepat. “Aku mau meminjam… dirimu. Untuk sebentar saja. Kau harus berpura-pura menjadi pacarku.”

Fauzan terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Berpura-pura jadi pacarmu? Jadi orang yang mengejarmu itu ada di sini?”

Nora mengangguk. “Namanya Romy Tampubolon. Dia terus mengejarku tanpa henti. Aku sudah muak.”

“Kalau begitu terima saja,” jawab Fauzan santai. “Walau dia jelas tak setampan aku, tapi masih lumayan.”

Nora melotot. “Aku serius!”

“Aku tidak bisa,” ujar Fauzan. “Aku sudah punya kekasih.”

Ucapan itu bagaikan percikan api. Dada Nora naik turun, menahan kesal. Biasanya para pria berlomba-lomba mendekatinya, rela melakukan apa saja demi satu senyuman. Namun pria di depannya ini justru bersikap seolah menjadi pacarnya adalah kerugian besar.

Namun,  bukanlah Nora Ananta jika mudah menyerah. Matanya menyipit, lalu senyum licik terbit. “Baiklah. Kalau begitu, aku baru saja pulang dari kantor polisi lalu lintas. Aku sudah melihat rekaman kamera pengawas. Insiden kemarin… bukan aku yang menabrakmu. Kau yang sengaja menjatuhkan diri.”

Fauzan tersentak. “Aku bantu! Tentu saja aku bantu!” katanya cepat. “Untuk orang lain mungkin tidak, tapi untukmu, aku pasti bantu.”

Ia memang merasa bersalah. Kerusakan Ferarri milik Nora bukan hal kecil. Tenaganya mungkin kuat, tapi dompetnya jelas tidak.

Kilatan kemenangan terpancar di mata Nora. “Kalau begitu, usir orang itu untukku. Dan aku anggap urusan kecelakaan selesai.”

“Serahkan padaku,” jawab Fauzan mantap.

Di saat itu pula, Romy Tampubolon telah menyadari kehadiran mereka. Dengan setelan rapi dan langkah penuh percaya diri, ia mendekat sambil membawa setangkai mawar biru—Enchantress—yang konon didatangkan khusus dari Eropa.

Kerumunan spontan membuka jalan. Drama akan segera dimulai.

“Nora, kau sudah datang,” ujar Romy Tampubolon lembut. “Ini untukmu. Semoga setiap harimu seindah bunga ini.”

“Sebelum melihatmu, suasana hatiku baik-baik saja,” jawab Nora dingin. “Sekarang rusak.”

Ia bahkan tidak melirik bunga itu. “Romy, sudah berapa kali kukatakan? Kita tidak mungkin. Lagi pula, aku sudah punya pacar.”

Romy Tampubolon tertegun, lalu tertawa kecil penuh meremehkan. “Berhentilah bercanda. Aku tahu segalanya tentangmu. Kau tidak punya pacar.”

“Aku tahu kau tak akan percaya,” kata Nora. Ia lalu menggenggam lengan Fauzan dengan penuh keakraban. “Karena itu, aku membawanya ke sini. Ini pacarku, Fauzan Arfariza.”

Mahendra menatap Fauzan dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya dingin, penuh penghinaan.

“Nora,” katanya akhirnya, “kalau pun kau ingin mencari orang untuk berpura-pura, setidaknya carilah yang pantas. Kau pikir aku akan percaya pada orang seperti ini?”

Fauzan tersenyum tipis. “Apa maksudmu? Kau meremehkanku?”

“Perlu ditanya?” jawab Romy. “Jika ingin dihormati, kau harus punya kemampuan.”

Ia melanjutkan dengan nada menekan, “Apa kau punya simpanan sepuluh digit di bank?”

“Tidak.”

“Penghasilan tahunan ratusan juta?”

“Aku belum lulus.”

Romy Tampubolon tertawa puas. “Keluarga Romy Tampubolon memiliki aset ratusan miliar Rupiah. Aku wakil presiden grup. Apa yang bisa kau bandingkan denganku?”

Bisik-bisik segera menyebar.

“Jelas tak sebanding…”

“Kalau aku jadi Nora, aku pilih Romy…”

“Tampan saja tidak cukup…”

Nora menggigit bibir. Ia lupa, perisai yang diambilnya terlalu rapuh dibandingkan lawan di hadapan mereka.

Romy Tampubolon menunjuk Ferarri di kejauhan. “Mobil itu hadiah dariku. Tiga miliar Rupiah. Kau bahkan tak akan menghasilkan sebanyak itu seumur hidup.”

Lalu ia mengangkat mawar biru. “Ini didatangkan khusus dari Eropa. Satu tangkai lima ratus ribu. Jauh lebih mahal dari pakaianmu.”

Ia menatap Fauzan tajam. “Orang sepertimu tidak layak mengejar Nora, apalagi membandingkan diri denganku.”

Namun Fauzan tetap tenang. Ia berkata perlahan, “Jadi menurutmu hanya orang kaya yang berhak mencintai Nora? Atau di matamu, Nora hanyalah perempuan yang menilai segalanya dengan uang?”

Romy Tampubolon tersentak. “Aku—aku tidak bermaksud begitu!”

Ia panik. Nora adalah putri keluarga besar. Baginya, uang hanyalah debu.

“Nora, jangan salah paham,” katanya cepat.

Namun Nora justru menatap Fauzan dengan penuh minat. Dalam beberapa kalimat, pria ini telah menghancurkan keunggulan Romy Tampubolon.

Melihat Nora diam, Romy Tampubolon semakin gelisah. “Perasaanku tulus. Saat mendengar kecelakaanmu, aku ketakutan. Aku membeli mobil itu bukan soal uang, tapi demi dirimu.”

Sorak-sorai muncul.

“Terimalah dia!”

“Dia tulus!”

Isyarat diberikan. Kerumunan ikut berseru.

Di tengah gemuruh itu, Fauzan berdiri tegak, bagaikan Pedang yang terhunus dari lubuk hati yang terdalam. Aura ketenangannya memancar, seolah Energi Vital mengalir selaras dengan denyut kota.

Drama ini belum usai. Di balik sorakan, takdir telah berputar. Dan di Kota Jakarta, kisah besar baru saja dimulai—kisah tentang harga diri, tentang keseimbangan dan kestabilan, dan tentang bagaimana seorang Dokter muda perlahan melangkah menuju jalan yang akan mengguncang dunia.

Di bawah cahaya lampu Gedung Herbal  yang temaram namun anggun, di tengah aroma ramuan obat yang menguar seperti napas panjang dari masa silam, seorang pria berjas mahal perlahan menekuk lututnya. Satu lututnya menyentuh lantai marmer dingin, sementara di tangannya tergenggam erat sebuket mawar biru Enchantress— pekat seperti malam yang menyimpan ribuan rahasia.

Pria itu adalah Romy Tampubolon.

Wajahnya menampilkan ekspresi penuh perasaan, seakan seluruh dunia telah berhenti berputar demi satu sosok perempuan yang berdiri di hadapannya. Dengan suara yang sengaja dibuat dalam dan menggema, ia berkata,

“Nora Ananta, sejak detik pertama aku melihatmu, aku tahu hidupku telah sepenuhnya tersesat dalam pesonamu. Hatiku telah kau isi tanpa sisa. Dalam hidup ini, aku bersumpah tak akan memandang perempuan lain selain dirimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Kata-kata itu meluncur laksana bait puisi yang telah dihafalnya berulang kali. Dan seperti gelombang pasang yang menabrak tebing, kerumunan di sekitar mereka pun bergemuruh.

“Bersama! Bersama! Bersama!”

Sorak-sorai itu membahana, seolah langit Jakarta pun ikut bertepuk tangan. Namun di balik gemuruh tersebut, wajah Nora Ananta justru tampak kaku. Senyum tipis yang dipaksakan menghiasi bibirnya, sementara sepasang matanya mencari satu sosok yang sejak awal berdiri tenang di sisi lain.

Tatapan itu jatuh pada Fauzan Arfariza.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!