Tiga kali menikah. dua kali dikhianati. Dua kali hancur berkeping-keping.
Nayara Salsabila tidak pernah menyangka bahwa mimpi indah tentang rumah tangga bahagia akan berubah menjadi mimpi buruk berkepanjangan. Gilang, suami pertamanya yang tampan dan kaya, berselingkuh saat ia hamil dan menjadi ayah yang tidak peduli.
Bima, cinta masa SMA-nya, berubah jadi penjudi brutal yang melakukan KDRT hingga meninggalkan luka fisik dan trauma mendalam.
Karena trauma yang ia alamai, kini Nayara di diagnosa penderita Anxiety Disorder, Nayara memutuskan tidak akan menikah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan Reyhan—seorang kurir sederhana yang juga imam masjid. Tidak tampan. Tidak kaya. Tapi tulus.
Ketika mantan-mantannya datang dengan penyesalan, Nayara sudah berdiri di puncak kebahagiaan bersama lelaki yang mengajarkannya arti cinta sejati.
Kisah tentang air mata yang berubah jadi mutiara. Tentang sabar yang mengalahkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda-tanda Aneh
Pagi itu Nayara bangun dengan perut yang masih mual. Sudah dua minggu lebih kehamilannya berjalan, tapi mual muntahnya tidak berkurang sama sekali. Malah tambah parah. Bahkan cuma cium bau nasi aja udah bikin dia pengen muntah.
Gilang sudah tidak ada di ranjang. Nayara melirik jam dinding. Baru jam enam pagi. Kemana Gilang sepagi ini?
Nayara turun dari ranjang pelan-pelan, kepalanya pusing berputar. Dia berjalan ke kamar mandi, berkumur dengan air dingin supaya mual di tenggorokan sedikit reda. Cermin di depannya memantulkan wajah pucat dengan kantung mata hitam. Jelek. Benar kata Gilang, dia jelek sekarang.
Suara air shower terdengar dari kamar mandi tamu di bawah. Gilang mandi di sana? Kenapa tidak di kamar utama seperti biasa?
Nayara keluar dari kamar, turun tangga pelan-pelan sambil berpegangan erat di pegangan karena takut jatuh. Perutnya yang mulai sedikit membesar bikin keseimbangannya agak terganggu.
Di ruang tamu, keranjang cucian kotor tergeletak di dekat tangga. Nayara mendekat, berniat mengangkatnya ke mesin cuci. Tapi hidungnya yang sensitif langsung mencium sesuatu.
Wangi.
Wangi parfum.
Bukan parfum Gilang yang biasa wangi kayu cendana. Ini wangi bunga mawar. Manis. Lembut. Wangi parfum cewek.
Jantung Nayara langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar waktu meraih kemeja putih Gilang yang ada di paling atas keranjang. Kemeja yang Gilang pakai kemarin waktu bilang ada rapat sampai malam.
Nayara angkat kemeja itu, menciumnya pelan. Wangi parfum cewek makin kuat tercium. Menusuk hidung. Bikin perut Nayara makin mual, tapi bukan karena kehamilannya. Mual karena ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Nayara periksa kemeja itu satu per satu. Kerah, lengan, bagian dada. Semuanya bersih. Tidak ada apa-apa.
Tunggu.
Nayara mendekatkan kerah kemeja ke arah jendela supaya kena cahaya matahari pagi. Matanya menyipit, menatap lekat-lekat.
Ada noda.
Noda tipis berwarna merah muda di bagian kerah. Sangat tipis, hampir tidak kelihatan kalau tidak diperhatikan baik-baik.
Lipstik.
Itu bekas lipstik.
Tangan Nayara gemetar hebat. Kemeja jatuh dari tangannya, tergeletak di lantai seperti kain pel kotor. Napasnya sesak. Dadanya sakit. Kepalanya berputar lebih kencang.
Tidak. Tidak. Ini pasti salah lihat. Pasti bukan lipstik. Pasti cuma, cuma noda makanan. Atau tinta. Iya, pasti tinta pulpen yang tidak sengaja kena.
Nayara mengambil kemeja itu lagi, menatapnya lekat-lekat. Makin dilihat, makin jelas. Itu lipstik. Bentuknya seperti bibir yang nyium. Tipis tapi jelas.
Air mata Nayara jatuh. Satu. Dua. Tiga. Terus mengalir seperti keran yang bocor.
Kenapa ada lipstik di kerah kemeja Gilang?
Kenapa?
Siapa yang cium leher Gilang sampai lipstiknya nempel di kerah?
"Nayara?"
Nayara tersentak. Gilang berdiri di pintu kamar mandi, handuk melilit di pinggangnya, rambut basah menetes air. Wajahnya bingung melihat Nayara yang berdiri sambil memegang kemejanya.
"Kamu, kamu kenapa pegang kemeja gua?" tanya Gilang sambil berjalan mendekat.
Nayara mengangkat kemeja itu dengan tangan gemetar, menunjukkan bagian kerah pada Gilang. "Ini apa, Mas?"
Gilang melirik sekilas, lalu mengangkat bahu. "Apa?"
"Ini! Noda merah muda ini! Di kerah!" Suara Nayara mulai meninggi, bergetar menahan tangis.
Gilang merebut kemeja itu dari tangan Nayara, memeriksanya sebentar, lalu melemparnya ke sofa. "Oh itu. Itu tinta pulpen. Kemarin ada yang minjem pulpen, baliknya tidak ditutup. Kena deh."
"Ini bukan tinta! Ini lipstik! Aku bisa lihat!" Nayara menunjuk kemeja itu dengan jari gemetar.
"LIPSTIK APAAN! ITU TINTA! MATA LO RABUN APA GIMANA SIH?" Gilang membentak keras. Nayara mundur selangkah, tubuhnya bergetar.
"Tapi, tapi bentuknya kayak bekas ciuman, Mas. Dan, dan kemeja ini wangi parfum cewek." Nayara mencoba bicara pelan, berusaha tidak memancing emosi Gilang lebih jauh.
Gilang tertawa. Tertawa keras dengan nada mengejek. "Wangi parfum cewek? Nayara, lo lagi hamil. Hormon lo kacau. Hidung lo jadi sensitif. Lo cium apa-apa jadi aneh-aneh."
"Tapi aku yakin ini bukan..."
"UDAH! GUA BILANG ITU TINTA YA TINTA! JANGAN TANYA-TANYA LAGI!" Gilang naik ke atas, meninggalkan Nayara yang berdiri terpaku.
Nayara menatap kemeja yang tergeletak di sofa. Tangannya gemetar. Kepalanya berputar. Perutnya mual luar biasa.
Dia berlari ke kamar mandi, muntah. Keluar semua isi perutnya yang memang sudah kosong dari semalam. Cuma air sama cairan empedu pahit.
Gilang bohong. Nayara tahu Gilang bohong. Itu bukan tinta. Itu lipstik. Bekas ciuman dari cewek lain.
Tapi Nayara tidak bisa apa-apa. Kalau dia terus tanya, Gilang marah. Kalau dia diam, hatinya sakit. Mau gimana lagi?
Nayara berkumur, membasuh wajahnya dengan air dingin. Matanya merah bengkak. Wajahnya pucat seperti mayat.
Gilang turun dengan baju rapi. Jas hitam, kemeja baru yang putih bersih, dasi merah. Wangi parfum kayu cendana menyengat hidung Nayara lagi.
"Gua berangkat. Lo jangan mikirin yang aneh-aneh. Istirahat yang cukup. Jaga kandungan lo." Gilang bicara tanpa melirik Nayara, matanya sibuk dengan ponsel.
"Mas, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Nayara pelan.
"Tidak tahu. Ada rapat sama klien. Mungkin malem." Gilang meraih kunci mobil dari meja.
"Mas bisa tidak pulang agak cepat? Aku, aku butuh temen ngobrol. Sendiri terus di rumah ini sepi banget."
Gilang menghela napas panjang, menunjukkan dia kesal. "Nayara, gua kerja buat lo dan anak lo. Jangan egois. Lo di rumah enak, makan tidur doang. Gua di luar sana capek cari duit."
"Aku tidak egois, Mas. Aku cuma, cuma pengen Mas di rumah lebih lama. Aku kangen sama Mas."
"Kangen? Lo kemarin malem aja gangguin gua tidur gara-gara ngidam sate kambing. Sekarang bilang kangen?" Gilang tertawa sinis. "Lucu banget sih lo."
Dan Gilang pergi. Pintu tertutup. Mobil menyala. Pergi meninggalkan Nayara sendirian lagi di rumah besar yang dingin.
Nayara duduk di sofa, memeluk bantal. Menangis pelan. Dadanya sakit. Hatinya lebih sakit.
Gilang berubah. Sangat berubah. Bukan Gilang yang dulu melamar dia dengan kata-kata manis. Bukan Gilang yang bilang dia takdir terbaik. Bukan Gilang yang bilang akan membahagiakan dia selamanya.
Ini Gilang yang kasar, yang cuek, yang egois.
Dan Nayara terjebak. Terjebak di pernikahan ini dengan perut yang mulai membesar, dengan bayi yang bergantung padanya, dengan cinta yang sudah tidak ada balasannya.
Siang itu Nayara coba tidur tapi tidak bisa. Pikirannya terus ke kemeja tadi pagi. Lipstik merah muda di kerah. Wangi parfum cewek yang menempel kuat.
Gilang selingkuh?
Tidak mungkin. Mereka baru menikah tiga bulan. Tiga bulan! Orang waras mana yang selingkuh secepat itu?
Tapi semua tanda-tanda menunjukkan ke arah sana. Gilang pulang makin malem. Gilang sibuk sama ponsel terus. Gilang jarang sentuh Nayara lagi. Bahkan tidur aja sering membelakangi Nayara.
Nayara bangun dari sofa, berjalan ke ruang cuci. Kemeja Gilang masih di sana, tergeletak di keranjang. Nayara ambil lagi, menciumnya.
Wangi parfum masih ada. Mawar. Manis. Menusuk.
Nayara periksa saku kemeja. Kosong. Tidak ada apa-apa.
Tunggu. Ada yang mengganjal di saku dalam. Saku kecil di bagian dada kiri.
Nayara memasukkan tangannya, mengeluarkan sesuatu. Kertas. Kertas kecil terlipat.
Struk.
Struk pembelian dari restoran.
Nayara buka lipatan itu dengan tangan gemetar. Matanya membaca tulisan di sana.
"Restoran Le Jardin. Meja untuk 2 orang. Paket makan malam romantis. Steak Wagyu x2, Wine x1 botol, Tiramisu x2. Total: Rp 3.500.000"
Tanggalnya kemarin. Kemarin malam. Waktu Gilang bilang lembur sampai jam sebelas.
Nayara menatap struk itu lama. Tangannya tidak gemetar lagi. Malah kebas. Seluruh tubuhnya kebas. Seperti dibekukan.
Meja untuk dua orang.
Paket romantis.
Wine.
Gilang tidak minum wine. Gilang bilang dia tidak suka alkohol.
Tapi dia pesan wine untuk siapa?
Untuk cewek yang lipstiknya nempel di kerahnya?
Nayara jatuh terduduk di lantai ruang cuci. Struk masih digenggam erat di tangannya. Kertas itu kusut, basah karena keringat tangannya.
Gilang berbohong.
Gilang tidak lembur kemarin.
Gilang makan malam romantis dengan cewek lain.
Sementara Nayara di rumah, sendirian, menunggu dengan perut lapar dan hati yang rindu.
Air mata jatuh lagi. Kali ini deras. Tidak bisa ditahan. Isakan pecah dari tenggorokannya, keras, menyakitkan.
"Kenapa, Mas? Kenapa kamu lakuin ini?" Nayara berbicara pada dirinya sendiri, suaranya serak. "Aku hamil anak kamu. Aku setia sama kamu. Kenapa kamu khianati aku?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara tangisannya sendiri yang mengisi ruangan sepi itu.
Nayara memeluk perutnya yang mulai membuncit. "Maafin Mama, sayang. Papa tidak cinta sama kita. Papa cinta sama cewek lain."
Dan Nayara menangis sampai sore. Sampai matanya bengkak tidak bisa dibuka. Sampai tenggorokannya kering tidak bisa bersuara.
Struk restoran itu dia simpan di dalam laci meja riasnya. Bukti. Bukti kalau suaminya pengkhianat. Bukti kalau pernikahannya sudah hancur bahkan sebelum bayinya lahir.
Bukti kalau cinta Gilang cuma omong kosong belaka.
penyakit selingkuh tak bakal sembuh
ntar kalau rujuk kembali gilang pasti selingkuh lgi 🤭