NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Hitam 4

Warisan Mutiara Hitam 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:58.2k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kokop Gann

(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)

Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.

Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.

Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kavaleri Cahaya

Pegunungan Cermin Perak menjulang di cakrawala seperti barisan pedang raksasa yang terhunus ke langit. Semakin dekat Chen Kai melangkah, permukaan tanah tidak lagi tertutup kristal kasar, melainkan berubah menjadi lantai perak halus yang memantulkan setiap gerakan di atasnya dengan kejernihan yang mengerikan. Di tempat ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi; setiap bayangan adalah target.

"Tuan, suasananya berubah," bisik Mo Yan, tangannya sibuk menggerus beberapa kelopak bunga dari Makam Bintang di dalam kuali kecil yang ia bawa. "Udara di sini mulai mengandung Niat Pedang yang liar. Jika kita tidak segera meminum pil pelindung, meridian kita akan teriris oleh angin."

Ah-Gou, yang wajahnya memerah menahan tekanan atmosfer, hanya bisa mengangguk lemah. Ia merasa seolah-olah sedang berjalan di dalam cairan logam yang mendidih.

Chen Kai menghentikan langkahnya mendadak. Mata dengan lingkaran emasnya berkilat tajam ke arah langit selatan.

"Simpan pil itu untuk nanti, Mo Yan," kata Chen Kai, suaranya rendah namun membawa otoritas yang menggetarkan udara. "Tamu kita sudah tiba."

WUSH—!

Dari kejauhan, seberkas cahaya putih melesat membelah awan perak, diikuti oleh puluhan kilatan serupa. Hanya dalam hitungan detik, ruang di atas mereka terdistorsi, dan dua puluh penunggang kuda yang terbuat dari cahaya murni mendarat di sekeliling mereka, membentuk formasi pengurung yang sempurna.

Mereka adalah Unit Kavaleri Cahaya. Setiap prajurit mengenakan zirah putih yang memancarkan pendaran suci, dan di tangan mereka tergenggam tombak panjang yang bilahnya terus bergetar dengan frekuensi tinggi. Pemimpin mereka, seorang pria dengan jubah perak panjang dan aura Manifestasi Dao Tahap Akhir, melayang turun dari kudanya.

"Xiao Fan," suara pemimpin itu terdengar seperti gesekan logam, dingin dan tanpa emosi. "Atas perintah Kaisar Perak, kau dinyatakan sebagai pencuri harta terlarang. Serahkan Mutiara itu dan murnikan jiwamu di bawah hukuman kami, atau benua ini akan menjadi pusaramu."

Chen Kai menyeringai tipis. Ia merentangkan tangannya, membiarkan energi hampa merambat di ujung jari-jarinya.

"Kaisar Perak mengirim anjing-anjingnya terlalu cepat," sahut Chen Kai. "Tapi aku khawatir, cahaya kalian tidak akan cukup terang untuk menyinari kegelapan yang aku bawa."

"Lancang! Serang!" raung pemimpin kavaleri tersebut.

Dua puluh tombak cahaya menusuk secara serentak. Serangan mereka tidak melalui ruang fisik; tombak-tombak itu membelah dimensi, muncul kembali hanya satu inci dari titik-titik meridian utama Chen Kai, Mo Yan, dan Ah-Gou.

"Hukum Gravitasi: Kubah Singularitas!"

Chen Kai menghentakkan kakinya ke lantai perak. Seketika, gravitasi di radius sepuluh meter di sekelilingnya melengkung secara ekstrem. Tombak-tombak cahaya yang seharusnya menusuk lurus, tiba-tiba membelok tajam ke arah tanah, menghantam lantai perak dengan ledakan energi yang memekakkan telinga.

BOOOM!

"Apa?!" Pemimpin kavaleri terbelalak. "Dia membelokkan Hukum Cahaya dengan berat murni?"

Chen Kai tidak memberikan mereka kesempatan untuk menyerang kedua kalinya. Ia melesat maju, kecepatannya kini melampaui persepsi indra spiritual mereka karena penyelarasan raga dewa-nya yang sudah mencapai 90%.

"Langkah Hampa: Tebasan Dimensi!"

Chen Kai mengayunkan Pedang Meteor Hitam-nya dalam gerakan melingkar. Bukannya tebasan fisik, yang muncul adalah retakan spasial berwarna kelabu yang meluas dengan cepat.

Tiga kavaleri cahaya yang berada paling dekat tidak sempat menghindar. Kuda cahaya mereka dan tubuh mereka terpotong rapi—bukan oleh pedang, tapi karena ruang yang mereka tempati telah dihapus. Mereka lenyap menjadi debu esensi dalam sekejap.

"Semua Unit! Formasi Matahari Terbit!" teriak pemimpin kavaleri panik.

Sisa-sisa kavaleri berkumpul di langit, menyatukan energi mereka membentuk bola cahaya raksasa yang suhunya mampu melelehkan kristal dewa. Mereka berniat membakar seluruh area tersebut.

Namun, di saat yang sama, badai di kaki Pegunungan Cermin Perak mulai mengamuk. Suara lolongan angin yang tajam terdengar mendekat. Itulah Badai Pemotong Jiwa.

"Mo Yan, Ah-Gou! Telan pilnya sekarang!" perintah Chen Kai.

Mo Yan dengan sigap melemparkan dua butir pil ke arah Chen Kai dan Ah-Gou, lalu menelan miliknya sendiri. Begitu pil itu meresap, sebuah lapisan energi berwarna biru kusam menyelimuti tubuh mereka.

Chen Kai menatap bola cahaya raksasa di atasnya, lalu menatap badai pemotong jiwa yang datang dari arah gunung. Sebuah rencana gila muncul di benaknya.

"Kalian ingin membakarku?" Chen Kai tertawa dingin. "Mari kita lihat seberapa kuat cahaya kalian melawan badai yang bisa mencabik jiwa."

Chen Kai mengangkat Pedang Meteor Hitam-nya ke arah bola cahaya itu.

"Hukum Gravitasi: Penarikan Badai!"

Bukannya menyerang kavaleri, Chen Kai justru menarik paksa pusaran Badai Pemotong Jiwa dari arah gunung menuju ke arahnya. Angin hitam yang penuh dengan niat pedang tajam itu tersedot dengan kecepatan mengerikan, bertabrakan langsung dengan formasi bola cahaya milik kavaleri.

KRAAAAAASSSHHH!

Bentrokan dua kekuatan alam itu menciptakan ledakan energi yang meluluhlantakkan dataran perak di bawahnya. Para prajurit kavaleri cahaya menjerit saat zirah suci mereka hancur dicabik-cabik oleh badai jiwa yang liar. Cahaya mereka redup, tertelan oleh kegelapan badai.

"Masuk ke gunung! Sekarang!" teriak Chen Kai.

Menggunakan kekacauan tersebut sebagai tirai, Chen Kai membawa Mo Yan dan Ah-Gou melompat masuk ke dalam celah badai yang paling dalam, menuju jantung Pegunungan Cermin Perak.

Di belakang mereka, pemimpin kavaleri cahaya yang terluka parah menatap ke arah gunung dengan ketakutan. Ia tahu, siapa pun yang masuk ke dalam badai itu tanpa izin Kaisar, jarang ada yang kembali dalam keadaan utuh.

"Laporkan pada istana..." desisnya sambil memuntahkan darah. "Buronan itu... dia telah masuk ke wilayah terlarang."

Sementara itu, di dalam badai, Chen Kai merasakan Mutiara Hitam di Dantiannya bergetar hebat. Resonansi dengan Cetakan Dao di Istana Hampa semakin kuat. Ia tahu, di balik badai ini, kekuatan sejatinya telah menunggu.

1
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
Cak Rokim Dakas
jangan lama² nyambungnya Thor ..
Dobi Papa Sejati
✔️
nyoman suta wirawan
mantap
Wahyu Roro Ireng.
aku suka banget alur ceritanya ,ya walau terkadang penulisan nama aktor keliru ,iru wajar..

dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Sibungas
mantab
MF
💪/Drowsy/💪💪💪💪💪
Dian Purnomo
tetap setia sampai akhir thor
Dian Purnomo
up.. lanjutkan thor semangat💪💪💪
Jojo Firdaus
💪💪💪
jaka saba jati
/Bomb//Bomb//Bomb/
Jeffie Firmansyah
hadeuhhh .... jd ikutan sesek bacanya... seolah q ,jd ikutan perang
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪
rosidi didi
keren
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Taklukkan 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽🔥🦀🔥🦑Hentooopz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
saniscara patriawuha.
gassssd...
Eka Haslinda
besok lagi.. 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!