NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 – Akhir dari Permulaan

Kegelapan itu akhirnya pudar, tapi rasa hampa yang ditinggalkan oleh pertempuran itu tidak serta merta hilang. Defit dan Maya berdiri di tengah-tengah dunia yang hancur, tempat yang dulu dipenuhi dengan ancaman dan bayangan kini hanya menyisakan kesunyian yang mendalam. Mereka berdua menatap sekeliling, perasaan yang campur aduk melingkupi jiwa mereka. Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka pilih?

Keputusan yang mereka ambil untuk bertahan, untuk mengendalikan kekuatan itu, telah mengubah mereka selamanya. Dunia di sekitar mereka mulai kembali, perlahan-lahan, menyusun potongan-potongan yang sempat hancur. Namun, tidak ada yang benar-benar sama. Takdir yang mereka pilih, meski tidak membawa kehancuran, tetap membawa perubahan besar perubahan yang harus mereka terima.

Maya menarik napas panjang, matanya menatap langit yang mulai cerah setelah berbulan-bulan gelap gulita. "Defit," katanya dengan suara yang penuh keraguan. "Apa yang telah kita lakukan? Kita kita melawan takdir, tapi apakah kita benar-benar tahu apa yang kita hadapi?"

Defit menatapnya dengan mata yang lelah, namun ada sesuatu dalam dirinya yang tetap tegas. "Kita tidak tahu segalanya, Maya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi kita memilih untuk bertarung. Kita memilih untuk melawan apa yang harus dilawan. Dan itu... itu sudah cukup bagi kita."

Maya menunduk, merasakan beban yang begitu besar di pundaknya. Semua yang terjadi, semua pilihan yang mereka buat, telah membawa mereka ke titik ini. "Tapi kita kehilangan begitu banyak. Banyak yang kita korbankan untuk sampai ke sini. Apakah itu sebanding dengan apa yang akan kita dapatkan, Defit?"

Defit mendekatinya, meraih tangannya. "Kita mungkin kehilangan banyak, Maya. Tapi kita juga mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga. Kita mendapatkan kebebasan untuk memilih. Kita mendapatkan kesempatan untuk menentukan takdir kita sendiri."

Namun, meskipun kata-kata itu keluar begitu lancar dari mulutnya, Defit merasakan ketidakpastian yang sama. Dunia mereka belum sepenuhnya pulih, dan takdir mereka masih sangat menggantung di udara, belum sepenuhnya terdefinisi. Apa yang akan mereka lakukan sekarang? Apakah mereka akan menemukan tempat mereka dalam dunia yang telah berubah ini?

Tiba-tiba, suara berat bergema lagi, menghentikan keraguan mereka. “Kalian telah mengalahkan bayangan itu, namun kekuatan yang kalian lepas tidak bisa begitu saja hilang. Dunia ini tidak akan pernah kembali seperti semula. Pilihan yang kalian buat pilihan itu telah menulis ulang sejarah.”

Defit dan Maya menoleh. Dari dalam kegelapan yang mulai menghilang, muncul sosok yang mereka kenal, namun kali ini dengan aura yang berbeda. Sosok itu adalah Wuras, yang kini berdiri dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

"Wuras," Maya berkata, suaranya mengandung ketegangan. "Apa yang kau katakan? Apa yang akan terjadi sekarang?"

Wuras menatap mereka, matanya penuh dengan sesuatu yang sulit diungkapkan. “Kalian telah membuat pilihan yang benar, meskipun begitu berat. Kalian memilih untuk menguasai kekuatan itu, untuk menghadapi takdir yang lebih besar daripada diri kalian. Dunia ini telah berada di ambang kehancuran selama ribuan tahun, dan kalian kalian adalah yang terakhir yang bisa menahannya.”

Defit dan Maya saling bertukar pandang. Tidak ada lagi kebingungannya, tidak ada lagi rasa takut yang mendalam. Yang ada kini adalah keberanian yang telah menguatkan hati mereka. “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang, Wuras?” tanya Defit. “Apa yang terjadi dengan dunia ini setelah kita memilih untuk bertahan?”

Wuras menarik napas panjang, seakan memberi mereka jawaban yang sudah lama tertunda. “Setelah apa yang kalian lakukan, dunia ini tidak akan pernah kembali ke keadaan semula. Namun, ada harapan. Kekuatan yang kalian kendalikan, meskipun berbahaya, bisa digunakan untuk membangun kembali dunia ini, untuk memberinya kehidupan baru. Namun itu bukan tugas yang mudah. Akan ada banyak ujian, banyak pengorbanan yang harus kalian hadapi, dan tidak semua orang akan mengerti keputusan kalian.”

Maya menundukkan kepala, pikirannya berpacu. Semua yang mereka lakukan kini terasa seperti sebuah titik balik yang tidak bisa dihindari. “Apa yang kita bangun nanti? Apakah itu dunia yang lebih baik, ataukah kita hanya menciptakan kehancuran baru?”

Wuras menghela napas, matanya berbinar dengan pemahaman yang dalam. “Yang kalian bangun nanti adalah dunia yang kalian pilih untuk ciptakan. Kekuatan itu ada di tangan kalian. Tapi ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya. Tidak ada jalan yang mulus, dan kalian tidak akan selalu dipahami.”

Ada keheningan yang panjang setelah kata-kata Wuras, sementara Defit dan Maya berdiri, merenungkan segala yang baru saja mereka dengar. Dunia yang akan mereka bangun tidak akan mudah, namun di dalam diri mereka, ada tekad yang tak tergoyahkan untuk memberikan dunia ini kesempatan kedua.

“Jadi, kita harus menjadi pencipta takdir kita sendiri,” kata Defit, dengan keyakinan yang semakin jelas. “Jika dunia ini hancur, maka kita yang akan membangunnya kembali. Dengan tangan kita sendiri.”

Maya mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Dengan tangan kita sendiri. Kita tidak bisa lagi bersembunyi dari kenyataan. Kita akan menulis kisah baru.”

Di tengah percakapan mereka, bayangan-bayangan yang sebelumnya mengancam dunia mulai menghilang sepenuhnya, meninggalkan tempat ini dalam kedamaian yang aneh, tetapi mengandung janji yang lebih besar. Dunia itu dunia mereka mungkin telah hancur, tetapi di balik kehancuran itu ada kesempatan untuk membangun sesuatu yang lebih baik. Mereka tahu jalan itu tidak akan mudah, dan banyak hal yang harus mereka hadapi. Namun mereka berdua, bersama dengan kekuatan yang baru mereka temukan, tahu bahwa mereka akan terus berjalan.

Dengan tangan yang saling menggenggam, Defit dan Maya melangkah maju, menuju dunia yang belum ditentukan, namun penuh dengan kemungkinan. Dunia baru yang akan mereka ciptakan bersama. Dunia yang, meskipun penuh dengan tantangan, akan selalu ada harapan selama mereka berjuang bersama.

Karena mereka tahu satu hal pasti: ini bukanlah akhir, tetapi hanya permulaan dari sebuah perjalanan baru yang penuh arti.

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!