NovelToon NovelToon
Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Harmoni Lembah Biru "Kazumi Flora"

Status: tamat
Genre:Romansa / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Satu Jam Kemudian di Perjalanan...

​Mobil hitam Kaelen melaju dengan tenang membelah jalanan menuju pinggiran kota. Aku duduk di sampingnya, mengenakan jaketnya yang masih wangi, sambil menatap pemandangan hijau yang mulai muncul di balik jendela.

​Sesampainya di depan pagar kayu yang dicat putih, aku melihat Ayah sedang berjongkok, sibuk dengan gunting rumputnya di antara tanaman krisan. Begitu ia melihat mobil asing berhenti, ia berdiri dan menyipitkan mata, mencoba mengenali siapa yang datang.

​"Ayah!" seruku saat keluar dari mobil.

​Ayah tampak terkejut, namun matanya segera tertuju pada pria jangkung yang keluar dari pintu kemudi. Kaelen berjalan memutar, membawa koperku di satu tangan, sementara tangan lainnya dengan protektif berada di belakang punggungku.

​"Selamat siang, Om," sapa Kaelen dengan suara berat dan sopan. "Saya Kaelen. Maaf mengganggu waktu berkebun Om."

​Ayah menatapku, lalu menatap Kaelen, dan akhirnya matanya terpaku pada kilauan biru di jari manisku. Dahinya berkerut, bibirnya mengulum senyum misterius yang membuatku berdebar.

​"Kaelen, ya?" Ayah meletakkan gunting rumputnya dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor terkena tanah. "Asisten dosen yang sering diceritakan Salsa itu? Mari, masuk dulu. Sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan di teras, terutama soal benda bersinar di jari putriku ini.

​Kaelen menoleh padaku, memberiku kedipan rahasia yang seolah berkata, 'Tenang saja, semuanya terkendali.'

Kami duduk di teras yang teduh, dikelilingi oleh pot-pot gantung dan wangi tanah yang lembap—tempat favoritku. Ibu keluar membawa nampan berisi teh melati hangat dan pisang goreng, matanya berbinar melihatku, namun segera berubah menjadi tatapan penuh selidik yang sama seperti Ayah saat melihat Kaelen.

​"Jadi," Ayah membuka suara setelah menyesap tehnya, suaranya terdengar santai namun berwibawa. "Kaelen. Kamu asisten dosen, tapi gayamu lebih mirip seseorang yang siap memimpin pasukan. Dan melihat caramu memegang tangan Kazumi sedari tadi... sepertinya kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu."

​Kaelen tidak melepaskan genggamannya padaku. Ia menatap Ayah dengan mata biru yang jernih dan jujur. "Betul, Om. Saya tidak pernah seyakin ini dalam hidup saya. Saya datang ke sini tidak hanya untuk mengantar Kazumi pulang karena ia rindu rumah, tapi juga untuk meminta restu secara resmi."

​"Cepat sekali," sahut Ayah sambil mengangkat satu alisnya. "Kazumi baru saja masuk kuliah. Apa tidak terlalu terburu-buru?"

​"Mungkin bagi dunia, ini terasa cepat, Om," jawab Kaelen dengan suara rendah yang mantap. "Tapi bagi saya, mencari seseorang seperti Kazumi adalah pencarian seumur hidup. Saya sudah mapan, saya memiliki apartemen sendiri, dan posisi saya di kampus stabil. Saya tidak ingin pacaran yang membuang waktu. Saya ingin menikahinya, menjaganya, dan memastikan ia memiliki taman bunganya sendiri di rumah kami nanti."

​Ayah terdiam, menatap Kaelen cukup lama. Aku menahan napas, jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba, Ayah beralih menatapku. "Kazumi, apa kamu juga menginginkan pria kaku ini jadi suamimu? Dia kelihatannya galak, lho."

​Aku tertawa kecil, melirik Kaelen yang wajahnya mendadak sedikit tegang karena sebutan "kaku" dari Ayah. "Dia memang galak kalau di depan mahasiswa lain, Yah. Tapi bagiku, dia adalah tempat paling aman. Aku sangat mencintainya."

​Ayah menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar. Ia menepuk bahu Kaelen dengan cukup keras. "Baiklah! Saya suka pria yang tidak bertele-tele. Kalau kamu bisa membuat putriku yang manja ini tetap tersenyum dan sehat, saya tidak punya alasan untuk menolak."

​"Terima kasih, Om," ucap Kaelen, dan aku bisa melihat bahunya yang tegang akhirnya sedikit rileks.

​"Eits, tapi ada satu syarat!" potong Ayah sambil menunjuk ke arah taman. "Sebelum kita bahas tanggal, bantu saya memindahkan pot-pot besar di belakang dan rapikan dahan mawar itu. Saya mau lihat seberapa tangguh asisten dosen ini kalau berurusan dengan tanah."

​Kaelen berdiri, langsung melepas jam tangan mahalnya dan menggulung lengan kemeja putihnya sampai ke siku. "Dengan senang hati, Om."

Aku memperhatikan Kaelen yang kini berlutut di tanah, tangannya yang terbiasa memegang pena dan mikroskop kini tanpa ragu menggali tanah di samping Ayah. Ia tampak sangat fokus, memindahkan pot-pot keramik yang berat seolah itu hanya seberat kapas. Ayah memperhatikannya dengan saksama, sesekali memberikan instruksi yang cukup sulit, namun Kaelen melakukannya dengan sempurna—bahkan ia memberikan beberapa tips tentang pH tanah yang membuat Ayah terdiam kagum.

"Wah, asisten dosen ini memang bukan sembarang gelar ya," gumam Ayah sambil menyeka keringat di dahinya, mulai merasa cocok dengan Kaelen.

Aku baru saja hendak membawakan air minum tambahan ke taman ketika Ibu merangkul bahuku dan mengajakku masuk ke dapur. Ibu menatapku dengan mata yang basah karena haru.

"Jadi, anak gadis Ibu benar-benar sudah menemukan pelabuhannya?" bisik Ibu sambil mengelus pipiku. "Ibu senang melihatnya, Zu. Dia terlihat sangat mencintaimu. Lihat saja, dia rela mengotori kemeja mahalnya hanya untuk menyenangkan ayahmu."

Aku tersenyum lebar, menatap ke arah jendela di mana Kaelen sedang tertawa tipis menanggapi candaan Ayah. "Dia selalu seperti itu, Bu. Selalu melakukan apa pun untukku."

Sore harinya, setelah sesi berkebun yang melelahkan namun berbuah restu yang makin kokoh, kami semua berkumpul di meja makan. Ayah sudah berganti pakaian dan tampak jauh lebih santai. Ia menatap kami berdua secara bergantian.

"Karena saya sudah melihat kesungguhanmu, Kaelen, dan saya tahu Kazumi tidak akan mau pulang ke asrama kalau hatinya sudah tertinggal di apartemenmu," canda Ayah yang membuatku tersedak sup. "Bagaimana kalau kita tentukan tanggalnya sekarang? Saya tidak suka urusan baik ditunda-tunda."

Kaelen meletakkan sendoknya, wajahnya kembali serius namun penuh binar kebahagiaan. "Saya setuju, Om. Libur semester depan, tiga bulan dari sekarang. Saya ingin mengadakan pernikahan yang tenang di tepi pantai, seperti keinginan Kazumi. Saya akan mengurus semuanya."

"Tiga bulan?" Ibu terkejut namun senang. "Wah, kita harus mulai menyiapkan undangan dan gaun!"

Kaelen meraih tanganku di bawah meja, meremasnya lembut. "Aku sudah menyiapkan rumah untuk kita, Kazumi. Di sana sudah ada lahan luas yang sengaja kusiapkan untuk taman bunga Han-mu. Setelah kita menikah, kamu tidak perlu lagi merasa rindu rumah, karena rumahmu adalah aku, dan aku akan membawakan seluruh duniamu ke sana."

Malam itu, di rumah masa kecilku, kami mulai menyusun rencana masa depan. Babak baru hidupku sebagai Nyonya Kaelen sudah di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!