NovelToon NovelToon
CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

CINTA DUA ALAM - Aku Menikahi Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Misteri
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.

Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.

Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.

Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?

Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?

Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ustadz yang Curiga

Tiga minggu berlalu sejak pertemuan pertama Arga dengan Safira. Tiga minggu yang mengubah hidupnya total.

Setiap malam mereka bertemu. Mengobrol di taman, di teras, kadang di ruang tamu dengan lampu redup. Safira menceritakan tentang masa hidupnya dulu, tentang Arjuna, tentang kebahagiaan yang sempat ia rasakan sebelum tragedi itu merenggutnya. Arga menceritakan tentang pekerjaannya, tentang kehidupannya di Jakarta, tentang lukanya yang perlahan mulai memudar.

Dan tanpa disadari, Arga mulai menunggu malam. Menunggu saat Safira muncul dengan senyum lembutnya. Menunggu suara merdu yang menenangkan hatinya yang lama terluka.

Siang hari ia habiskan dengan membereskan rumah, membaca buku-buku lama di perpustakaan nenek, atau sekadar duduk di taman sambil membayangkan percakapannya dengan Safira nanti malam. Ia bahkan mulai tersenyum sendiri. Tertawa kecil kalau mengingat sesuatu yang lucu yang Safira ceritakan.

Tapi ia tidak menyadari bahwa perubahan ini terlihat aneh di mata orang lain.

***

Bagas datang lagi hari itu. Dengan motornya yang berisik dan senyum lebar seperti biasa. Tapi kali ini ada seseorang yang duduk di belakangnya. Pria muda berjenggot rapi dengan peci putih dan gamis cokelat.

Arga yang sedang menyapu teras langsung menghentikan kegiatannya. "Bagas? Kenapa datang lagi? Kan baru seminggu yang lalu kesini?"

"Eh, gue kan kangen sama lo," Bagas turun dari motor, diikuti oleh pria yang dibawanya. "Ini, gue bawa temen. Namanya Ustadz Hasyim. Ustadz muda yang keren dan pinter banget soal... soal ilmu agama."

Ustadz Hasyim tersenyum ramah, mengulurkan tangan. "Assalamualaikum, Mas Arga. Saya Hasyim. Bagas teman saya sejak SMA."

"Waalaikumsalam," Arga menjabat tangan ustadz itu dengan sedikit ragu. Ada perasaan aneh di dadanya. "Silakan masuk."

Mereka bertiga masuk ke ruang tamu. Arga membuatkan teh manis untuk tamu. Tapi sepanjang waktu ia merasakan tatapan Ustadz Hasyim yang... yang aneh. Seperti sedang mengamati sesuatu.

"Jadi, Mas Arga sudah berapa lama tinggal di rumah ini?" Ustadz Hasyim membuka pembicaraan sambil menyesap tehnya.

"Hampir sebulan," jawab Arga.

"Dan... bagaimana? Nyaman?"

Arga mengangguk. "Sangat nyaman. Tenang. Damai."

Bagas yang duduk di sebelah Ustadz Hasyim menatap Arga dengan pandangan khawatir. "Lo... lo beneran baik-baik aja, Ga? Maksud gue, lo nggak ganggu atau... atau diganggu sesuatu?"

"Diganggu?" Arga mengernyit. "Maksudmu apa?"

"Ya... lo tau lah. Rumah ini kan... kan katanya ada penghuninya. Penghuni yang nggak keliatan."

Arga terdiam. Rahangnya mengeras. "Dia tidak menggangguku."

"Dia?" Ustadz Hasyim langsung tajam menangkap kata itu. "Siapa yang Mas maksud dengan 'dia'?"

Sial. Kenapa ia bilang 'dia'? Arga mengumpat dalam hati. Ia seharusnya lebih hati-hati.

"Bukan apa-apa," Arga mencoba menghindar. "Cuma... cuma istilah aja."

"Mas Arga," Ustadz Hasyim bersuara lebih serius sekarang. Ia meletakkan gelasnya, menatap Arga dengan tatapan yang dalam. "Boleh saya jujur?"

Arga menelan ludah. "Apa?"

"Sejak saya masuk ke rumah ini, saya merasakan aura yang sangat kuat. Aura yang... yang bukan dari dunia kita."

Bagas langsung pucat. "Serius, Ustadz?"

"Ya. Sangat kuat. Dan yang lebih aneh lagi..." Ustadz Hasyim tidak lepas menatap Arga. "Aura itu sangat dekat dengan Mas Arga. Seperti... seperti menempel. Mengikuti."

Arga merasakan jantungnya berdegup kencang. "Apa... apa maksud Ustadz?"

"Mas Arga, saya mau tanya dengan jujur. Apakah Mas pernah melihat sesuatu di rumah ini? Sosok yang bukan manusia?"

Hening.

Bagas menatap Arga dengan cemas. Ustadz Hasyim menunggu jawaban dengan sabar.

Dan Arga... Arga tidak tahu harus jawab apa. Kalau ia jujur, pasti mereka akan bilang ia harus pergi dari rumah ini. Akan bilang ia harus menjauh dari Safira. Tapi ia... ia tidak mau. Ia tidak mau meninggalkan Safira sendirian lagi.

"Iya," akhirnya Arga menjawab dengan suara pelan. "Aku pernah melihat."

"Sialan, gue tau!" Bagas berdiri, mondar-mandir dengan panik. "Gue tau lo liat sesuatu! Makanya lo berubah gitu! Lo sering senyum-senyum sendiri, ngomong sendiri! Gue pikir lo udah gila!"

"Aku tidak gila!" Arga membalas dengan nada keras. "Dia nyata! Safira itu nyata!"

"Safira?" Ustadz Hasyim terperanjat. "Mas kenal namanya?"

Arga menyadari ia sudah terlanjur bicara terlalu banyak. Tapi sudah terlambat untuk mundur. "Ya. Dia Safira. Jin muslimah yang sudah tinggal di rumah ini sejak lama."

Bagas menatap Arga dengan mulut terbuka. "Lo... lo ngobrol sama hantu? Serius, Ga?"

"Dia bukan hantu!" Arga berdiri, emosinya mulai naik. "Dia... dia roh yang terjebak di sini. Dia kesepian. Dia butuh teman. Dan aku... aku menemaninya. Apa salahnya?!"

Ustadz Hasyim bangkit, menghampiri Arga dengan wajah yang sangat serius. "Mas Arga, duduk dulu. Mari kita bicara dengan kepala dingin."

"Aku tidak mau kalian bilang aku harus pergi!" Arga bersikeras. "Aku tidak akan meninggalkan Safira!"

"Saya tidak akan bilang begitu," Ustadz Hasyim menjawab dengan tenang. Ia memegang bahu Arga, memandangnya dengan tatapan yang penuh pengertian. "Tapi Mas harus dengar saya dulu. Tolong."

Arga akhirnya duduk lagi, dadanya naik turun karena napas yang memburu.

Ustadz Hasyim duduk di depannya, tangan terlipat di atas paha. "Mas Arga, saya paham. Saya tahu Mas sedang terluka. Mas baru saja dikhianati oleh orang yang Mas cintai. Dan saat Mas sedang di titik terendah, muncul sosok yang memberikan Mas ketenangan, yang mendengarkan Mas, yang membuat Mas merasa tidak sendirian. Benar?"

Arga mengangguk pelan. Air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata.

"Tapi Mas harus tahu," Ustadz Hasyim melanjutkan dengan suara yang lembut tapi tegas. "Jin, meskipun muslimah, meskipun baik, tetap bukan makhluk yang seharusnya kita dekati terlalu dekat. Ada batas antara dunia kita dengan dunia mereka. Dan kalau batas itu dilanggar, konsekuensinya bisa sangat berat."

"Tapi dia tidak menyakitiku," Arga membela dengan suara bergetar. "Dia justru... justru membuatku merasa hidup lagi. Setelah berbulan-bulan aku merasa mati di dalam, Safira memberiku alasan untuk bangun pagi. Untuk menunggu malam. Untuk... untuk tersenyum lagi."

"Saya percaya itu, Mas," Ustadz Hasyim mengangguk. "Tapi apa Mas tidak merasa ada yang aneh? Apa Mas tidak merasa... terlalu terikat? Terlalu bergantung pada kehadirannya?"

Arga terdiam. Pertanyaan itu menohoknya tepat di hati.

Benar. Ia memang terlalu menunggu malam. Terlalu menanti kehadiran Safira. Bahkan siang hari ia tidak bisa fokus pada hal lain karena terus memikirkannya.

Tapi apa itu salah? Apa salah kalau ia merasa bahagia dengan kehadiran Safira?

"Ustadz," Arga bersuara pelan, matanya menatap lantai. "Kalau... kalau seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi menemukan sesuatu yang membuatnya merasa hidup, apa salah kalau dia berpegang pada itu?"

Ustadz Hasyim menghela napas panjang. "Tidak salah, Mas. Tapi... tapi kalau yang dia pegang itu adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunianya, maka itu berbahaya."

"Berbahaya gimana?" Bagas ikut bertanya, masih dengan wajah pucat.

Ustadz Hasyim menatap Arga dengan tatapan yang sangat serius. "Kedekatan antara manusia dengan jin bisa menciptakan ikatan. Ikatan yang tidak seharusnya ada. Dan kalau ikatan itu terbentuk... bisa jadi itu permulaan dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengubah takdir."

"Mengubah takdir?" Arga mengangkat wajahnya. "Maksud Ustadz?"

"Ada cerita-cerita lama, Mas. Tentang manusia yang jatuh cinta pada jin. Tentang ikatan yang terbentuk tanpa disadari. Dan ikatan itu... ikatan itu bisa menjadi nikah dua alam."

"Nikah dua alam?" Bagas terperanjat. "Itu... itu nyata?"

"Sangat nyata," Ustadz Hasyim mengangguk. "Kalau manusia dan jin terlalu dekat, saling mencintai, saling membutuhkan, maka bisa terjadi ikatan pernikahan secara spiritual. Tanpa ijab kabul di dunia manusia. Tanpa saksi manusia. Tapi disaksikan oleh makhluk dari alam lain."

Arga merasakan tubuhnya dingin. "Dan... dan apa konsekuensinya?"

"Manusia yang terikat dengan jin akan perlahan tersedot energi hidupnya. Ia akan sakit-sakitan. Mungkin mati muda. Atau... atau terpisah selamanya dari dunia manusia dan terjebak di alam gaib."

Hening.

Hening yang mencekam.

Bagas menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. "Ga... lo harus pergi dari sini. Lo harus ninggalin rumah ini sekarang juga."

"Tidak," Arga menggeleng cepat. "Aku tidak mau."

"Ga, lo bisa mati!"

"Aku tidak peduli!" Arga berteriak. "Aku tidak peduli kalau aku harus mati! Yang penting aku tidak sendirian lagi! Yang penting aku tidak merasa hampa seperti waktu Ratih meninggalkanku!"

"Tapi Safira itu bukan Ratih!" Bagas ikut berteriak dengan frustasi. "Dia bukan manusia! Dia jin! Lo nggak bisa hidup normal sama dia!"

"Aku tidak mau hidup normal!" Arga berdiri, air matanya mengalir deras. "Aku sudah coba hidup normal! Aku sudah coba punya istri, punya rumah, punya kehidupan! Dan semuanya hancur! Semuanya palsu! Tapi Safira... Safira tulus padaku. Dia mendengarkanku. Dia mengerti sakitku. Dia tidak pernah menghakimiku. Dia tidak pernah bilang aku tidak cukup!"

Ustadz Hasyim berdiri, memegang tangan Arga dengan lembut. "Mas Arga, saya mengerti. Sungguh saya mengerti. Tapi tolong dengarkan saya. Cinta yang tulus itu indah. Tapi cinta yang salah tempat bisa menghancurkan. Safira mungkin tulus. Tapi dia bukan jalan yang benar untuk Mas."

"Lalu apa jalan yang benar?!" Arga menatap ustadz itu dengan mata merah bengkak. "Kembali ke kota dan menghadapi semua orang yang menatapku dengan kasihan? Menghadapi Ratih yang sudah bahagia dengan Dimas? Hidup sendirian dalam keheningan yang memekakkan telinga?!"

"Tidak, Mas," Ustadz Hasyim menggeleng. "Jalan yang benar adalah menyembuhkan luka Mas dengan cara yang benar. Dengan waktu. Dengan doa. Dengan kembali pada Allah. Bukan dengan bersandar pada makhluk yang bukan dari dunia kita."

Arga melepaskan tangannya dari Ustadz Hasyim. Ia mundur selangkah, menggelengkan kepala. "Aku... aku tidak bisa. Aku sudah terlanjur... terlanjur..."

"Terlanjur apa, Ga?" Bagas bertanya dengan suara pelan.

Arga menatap mereka berdua dengan tatapan yang hancur. "Aku sudah terlanjur jatuh hati padanya."

Bagas menutup mulutnya dengan tangan. Ustadz Hasyim menutup matanya, menghela napas panjang dengan wajah yang prihatin.

"Astaghfirullahaladzim," bisik Ustadz Hasyim pelan. "Ini sudah terlalu jauh."

"Aku tahu ini gila," Arga berkata dengan suara yang pecah. "Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi aku tidak bisa menghentikan perasaan ini. Setiap kali aku lihat dia, dadaku terasa hangat. Setiap kali dia tersenyum, aku merasa hidup. Setiap kali dia menangis, aku ingin memeluknya dan bilang semuanya akan baik-baik saja."

"Tapi dia jin, Ga!" Bagas berteriak frustasi. "Dia bukan manusia! Lo nggak bisa nikah sama dia! Lo nggak bisa punya masa depan sama dia!"

"Aku tidak peduli masa depan!" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. "Yang aku peduli adalah sekarang! Dan sekarang, Safira satu-satunya yang membuatku merasa berharga!"

Ustadz Hasyim melangkah maju, menatap Arga dengan tatapan yang sangat serius. "Mas Arga, saya akan bilang ini sekali lagi dan tolong Mas ingat baik-baik. Kedekatan dengan makhluk gaib bisa berbahaya. Bisa jadi ini permulaan dari ikatan yang tidak seharusnya terjadi. Hati-hati, Mas. Jangan sampai terlanjur terikat. Karena kalau sudah terikat, lepasnya akan sangat, sangat sulit."

Arga menatap ustadz itu dengan mata yang sudah lelah menangis. "Dan kalau aku memang sudah terikat? Kalau aku memang sudah tidak bisa lepas?"

Ustadz Hasyim tidak menjawab. Ia hanya menatap Arga dengan tatapan yang penuh kesedihan.

Dan di sudut ruangan, tidak terlihat oleh Arga dan Bagas, tapi terlihat jelas oleh Ustadz Hasyim, sosok wanita bergaun putih berdiri dengan air mata mengalir di pipinya.

Safira mendengar semuanya.

Setiap kata. Setiap teriakan. Setiap pengakuan.

Dan hatinya yang sudah lama membeku merasakan kehangatan yang menyakitkan.

Arga jatuh cinta padanya.

Manusia yang ia tunggu selama lima puluh tahun ini... jatuh cinta padanya.

Tapi apakah ini berkah atau kutukan?

Safira tidak tahu.

Yang ia tahu, air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

1
Cimol krispy
wah mereka bisa sentuhan dong. bahkan pelukan
Cimol krispy
50 th berarti sejak sebelum nenek Sarinah tinggal di sana sudah ada kejadian itu ya.
Cimol krispy
Arga... ayo move on bareng mbak Kun
Leoruna: ngeri2 sedep klo Arga bisa berpaling sama mbak kun🤣
total 1 replies
Cimol krispy
Serem banget astaga. ini si Arga beneran bisa cepet move on sih kataku, dunianya langsung teralihkan sama mbak-mbak Kunti😅
Cimol krispy: iya lagi, ih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!