Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Kebahagiaan yang terinterupsi
Setelah menutup telepon, Dimas kembali menghampiri istrinya. Zora masih sibuk menggosok penggorengan yang gosong, sisa kegagalan masak tadi.
"Sayang, biarkan saja. Ayo istirahat, kamu terlihat sangat lelah," ucap Dimas sembari mematikan keran air secara sepihak.
"Ini sedikit lagi, Mas," balas Zora tanpa menoleh.
"Jangan membantah." Dimas tidak memberi ruang argumen. Ia langsung mengangkat tubuh Zora ke dalam gendongannya, membawa istrinya itu menuju kamar.
Sesampainya di sana, ia merebahkan Zora dengan hati-hati, lalu menarik selimut hingga sebatas dada. "Kamu butuh istirahat. Tidurlah," bisik Dimas lembut.
Zora mengangguk pelan. "Mas, maafkan aku ya. Tadi itu..."
"Sudahlah, aku yang salah," potong Dimas cepat. "Harusnya aku lebih peka. Bangun lebih awal dan membantumu di dapur."
"Bukan itu, Mas. Sarapanmu bagaimana?" tanya Zora cemas.
Dimas menatap mata istrinya dalam-dalam. "Keselamatanmu jauh lebih penting dari sekadar sarapan, Sayang."
Zora terdiam. Kalimat itu manis, namun ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. 'Harusnya aku bahagia mendengar ini, Mas. Tapi entah kenapa, hatiku masih diliputi gelisah yang tak kunjung usai,' bisik Zora dalam hati. Ia memejamkan mata, berharap saat bangun nanti, kecemasan ini ikut menguap.
Zora terbangun saat jarum jam menunjuk angka dua belas siang. Kamar terasa sunyi. Ia mengira Dimas sudah berangkat ke kampus. Dengan rambut yang digulung asal, ia bergegas keluar kamar.
Namun, di ruang tamu, ia justru mendapati Dimas tengah duduk tenang di depan laptopnya. Mendengar langkah kaki, Dimas menoleh dan tersenyum.
"Sudah bangun?" Dimas mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Zora mendekat.
"Kok Mas masih di rumah?" tanya Zora heran.
"Aku izin tidak mengajar hari ini," balas Dimas santai. "Sini, duduk di sini." Dimas menepuk pahanya sendiri.
"Malu, Mas. Kan, sedang Zoom," tolak Zora sungkan.
Tanpa ragu, Dimas mematikan fitur videonya. "Sudah. Kemarilah."
Zora akhirnya menurut, duduk di pangkuan pria yang juga merupakan dosennya itu. Di layar laptop, Zora mengenali beberapa wajah rekan dosen di kampusnya dulu. Senyumnya mengembang saat melihat seorang asisten dosen yang dulu satu fakultas dengannya kini telah resmi menjadi dosen tetap.
"Itu Arya. Kamu masih ingat?" tanya Dimas, suaranya tiba-tiba merendah.
Zora mengangguk antusias. "Kak Arya memang mahasiswa teladan dulu. Pantas saja dia langsung direkrut jadi dosen tetap di sana."
Cup.
Zora terbelalak. Sebuah kecupan mendarat telak di bibirnya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu berani memuji laki-laki lain di depan suamimu sendiri, Sayang?" bisik Dimas dengan nada posesif yang kental.
"Tapi memang benar, Kak Arya itu..."
Ump...
Kalimat Zora tertelan sepenuhnya. Dimas langsung melumat bibir istrinya, seolah tidak memberi celah bagi nama pria lain untuk keluar lagi dari sana. Zora tersentak, tangannya refleks mencengkeram kemeja Dimas saat tangan pria itu berpindah menahan tengkuknya, mengunci posisinya agar tak bisa menghindar.
Ciuman itu dalam dan menuntut, berlangsung cukup lama hingga keduanya kehabisan napas. Saat tautan itu terlepas, Dimas tidak menjauh. Ia justru menempelkan keningnya pada kening Zora, membiarkan deru napas mereka saling beradu.
"Jangan pernah menyebut nama pria lain atau memuji mereka saat sedang bersamaku, Zora. Aku sangat cemburu," bisik Dimas dengan suara rendah yang berbahaya.
Zora hanya mampu menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Mas..."
"Janji padaku?" pinta Dimas, matanya menatap tajam, menuntut kepatuhan.
"A-aku janji..." jawab Zora terbata.
"Good girl."
Dimas tersenyum tipis. Dengan ibu jarinya, ia menyeka sisa saliva di sudut bibir istrinya dengan gerakan yang sangat lembut namun posesif. Seolah tak terjadi apa-apa, ia kembali menghadap layar dan melanjutkan meeting Zoom-nya.
Setengah jam berlalu hingga bunyi bel rumah memecah keheningan.
"Oh, makanan kita sudah datang. Aku ke depan dulu, ya," ucap Dimas sambil beranjak.
Zora mengerjap, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya. "Lho, Mas pesan makanan?"
Dimas menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dengan tatapan yang sulit diartikan. "Iya. Hari ini kamu cukup melayaniku saja, tidak usah memasak."
Zora kembali menelan ludah mendengar penuturan suaminya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa di dalam otak pria ini hanya ada pikiran "itu" saja?
Tak lama kemudian, Dimas kembali membawa dua kantong kertas besar yang aromanya begitu gurih dan menggugah selera.
"Aku siapkan di meja makan, ya," ucap Dimas.
"Aku bantu, Mas," balas Zora yang langsung mengekor di belakang suaminya.
Zora mengambil beberapa piring dan mangkuk, sementara Dimas mulai mengeluarkan satu per satu menu yang ia pesan. Ada kepiting jumbo saus padang, gurame asam manis, dan udang windu. Meja makan yang tadinya sepi seketika tampak seperti pesta kecil.
"Kita tidak akan kolesterol, Mas, makan sebanyak ini?" tanya Zora dengan nada bercanda.
"Tentu saja tidak, Sayang. Ini, kan, sekali-kali," balas Dimas santai. "Duduklah, biar aku kupaskan daging kepitingnya untukmu."
Melihat perhatian dan kelembutan Dimas dalam melayaninya, perlahan pertahanan Zora luluh. Rasa curiga dan sesuatu yang mengganjal di hatinya tadi seolah menguap begitu saja.
'Tuhan, mungkin itu memang hanya masa lalu suamiku. Dan sekarang, masa depannya adalah aku,'bisik Zora, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Mas juga harus makan. Mau aku suapi?" tawar Zora.
"Aku mau ikan guramenya," jawab Dimas sambil menatap Zora hangat.
"Boleh."
Zora mencubit daging ikan yang lembut itu dan menyuapkannya ke mulut Dimas. Suasana di ruang makan itu pun berubah menjadi sangat hangat dan romantis, dipenuhi tawa kecil saat mereka saling menyuapi, seolah dunia di luar sana sedang berhenti berputar.
Keceriaan itu tiba-tiba buyar saat suara bel rumah berbunyi nyaring, memecah suasana hangat di antara mereka.
"Kamu lanjutkan makan saja, Sayang. Biar aku yang buka pintunya," ucap Dimas sembari beranjak dan mencuci tangannya.
"Mas, aku juga sudah selesai, kok," balas Zora.
"Ya sudah, aku ke depan dulu, ya." Dimas mengusap kepala Zora sekilas sebelum melangkah pergi.
Zora mengangguk. Ia segera membereskan sisa makanan ke dalam kulkas, lalu mencuci piring-piring kotor dengan cekatan. Namun, saat ia sedang mengeringkan tangannya, sayup-sayup terdengar suara tawa dari arah depan. Bukan hanya tawa Dimas, tapi ada suara lain yang terdengar begitu akrab.
Zora melangkah perlahan, mencoba memastikan pendengarannya. Namun, langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya terpaku dan kedua kakinya tiba-tiba gemetar hebat saat melihat pemandangan di ruang tamu.
Di sana, Dimas sedang mengangkat tinggi seorang gadis kecil berusia sekit 5 tahun ke dalam dekapannya. Gadis itu tertawa riang, seolah sudah sangat mengenal Dimas. Dan tepat di hadapan mereka, berdiri seorang wanita cantik dengan tatapan yang tenang,wajah yang sangat familiar bagi Zora.
Tangan Zora refleks mencengkeram ujung kursi di dekatnya agar tidak ambruk. Dunianya serasa berputar saat menyadari siapa wanita yang berdiri di sana bersama gadis kecil itu.
Dia adalah... Wulan.
Bersambung...
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍