NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Fantasi Wanita
Popularitas:105.1k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Pertanyaan untuk Sang Juragan

Pagi itu, ketenangan komplek elit di bilangan Jakarta Selatan terusik hebat. Bukan oleh sirine polisi, melainkan suara tabuhan rebana yang bertalu-talu di depan gerbang besi setinggi tiga meter milik keluarga Wibowo.

Warga sekitar yang biasanya cuek, mulai mengintip dari balik tirai jendela atau berpura-pura menyiram tanaman. Pasalnya, Suryo Wibowo bukan orang sembarangan.

Dia pengusaha yang sedang naik daun, calon pejabat teras yang sering wara-wiri di televisi.

Namun hari ini, di depan istananya yang megah, berdiri barisan keluarga sederhana dari kampung. Abah Kosasih Hidayat, pensiunan guru SD yang rambutnya sudah memutih semua, berdiri paling depan.

Wajahnya tenang tapi sorot matanya tajam, setajam arit yang biasa dipakainya untuk menyiangi rumput.

Di sebelahnya, Kinar berdiri memeluk putrinya, Sulastri. Bocah lima tahun itu tampak ringkih, kulitnya pucat pasi seolah tak punya darah.

Anehnya, setiap kali Lastri merengek lirih menahan sakit, tanaman monstera mahal yang berjejer di pagar rumah itu mendadak menunduk, daunnya menguning layu dalam hitungan detik.

Seolah-olah nyawa tanaman itu tersedot habis oleh penderitaan si bocah.

"Suryo Wibowo!" suara Abah Kosasih lantang, membelah udara pagi. "Keluar kau! Jangan cuma berani sama anakku!"

Di dalam rumah mewah yang dingin oleh AC sentral itu, kepanikan melanda.

"Bu! Itu si tua Kosasih bawa rombongan sirkus apa gimana sih? Malu-maluin banget!" Lilis, kakak ipar Suryo, mengintip ngeri dari balik gorden sutra.

"Kalau sampai masuk akun gosip Lambe, bisa hancur citra kita sebagai sosialita!"

Bu Darmi, ibunda Suryo, membanting cangkir tehnya ke tatakan. Wajah tuanya merah padam menahan amarah.

Dia merasa harga dirinya sebagai nyonya besar terinjak-injak oleh besan kampungnya itu.

"Dasar orang miskin nggak tahu diuntung! Sudah bagus anakku kasih pesangon, malah mau meras lebih!" Bu Darmi bangkit berdiri, menyibakkan kebaya mahalnya.

"Minggir! Biar Ibu yang usir gembel-gembel itu. Suryo nggak usah turun tangan, nanti wibawanya jatuh kalau meladeni orang rendahan."

Suryo yang duduk di sofa kulit Italia hanya memijat pelipisnya. Pikirannya kalut. Proyek besar sedang menantinya, tapi gangguan domestik ini bisa merusak segalanya.

"Bu, jangan kasar-kasar. Ingat, sekarang zamannya viral," pesan Suryo dingin. Tidak ada kekhawatiran soal anak istrinya di sana, hanya kekhawatiran soal reputasinya.

Bu Darmi mendengus, lalu melangkah lebar keluar diikuti menantu-menantunya yang berwajah jutek. Gerbang otomatis terbuka perlahan.

"Heh! Nggak punya otak ya kalian?!" Bu Darmi langsung menyalak begitu kakinya menginjak aspal. "Pagi buta bikin onar di rumah orang! Satpam mana satpam?!"

Suara rebana berhenti. Abah Kosasih mengangkat tangan, memberi isyarat rombongannya untuk diam.

"Bu Darmi," suara Abah berat dan berwibawa, membuat nyali Bu Darmi sedikit ciut. "Saya tidak butuh satpam. Saya butuh keadilan."

"Halah! Keadilan apa? Bilang saja mau duit!" cibir Bu Darmi. "Anakmu itu mandul! Enam tahun nikah nggak bisa kasih cucu laki-laki buat penerus marga Wibowo."

"Panteslah Suryo cari yang lain!"

Deg.

Hati Kinar mencelos. Ia makin erat memeluk Lastri.

Saat air mata Kinar menetes mengenai pipi Lastri, sebuah kejadian ganjil terjadi lagi. Rumput gajah mini yang diinjak Kinar, yang tadinya agak kering karena kemarau, mendadak menghijau segar.

Tunas-tunas baru menyeruak naik seolah memberi kekuatan pada sang ibu. Tapi tak ada yang sadar, semua mata tertuju pada drama manusia di sana.

"Dengar, Bu Darmi," Abah Kosasih maju selangkah. "Hari ini saya punya Tiga Pertanyaan."

"Kalau keluarga Wibowo bisa menjawabnya dengan hati nurani bersih di hadapan Tuhan, kami akan pulang dan sujud minta maaf."

Warga yang menonton mulai menahan napas. Suasana hening mencekam.

Abah mengacungkan satu jari.

"Pertanyaan Pertama: Selama menjadi istri dan menantu, pernahkah Kinar membantah kalian? Pernahkah dia melalaikan tugasnya mengurus rumah ini saat kalian sibuk pamer harta?"

Bu Darmi terdiam. Mulutnya terkunci. Mau berbohong pun susah, karena faktanya Kinarlah yang merawatnya saat sakit stroke ringan tahun lalu.

Sementara menantu lainnya sibuk liburan ke Singapura.

"Dia... ya, kalau ngelawan sih nggak. Tapi..." gumam Bu Darmi gelagapan.

"Tapi apa?!" potong Abah tegas, lalu mengangkat jari kedua.

"Pertanyaan Kedua: Kalian buang anak saya dengan alasan tidak memberi keturunan laki-laki. Sekarang saya tanya, tiga tahun ini Suryo ada di mana?"

"Dia sibuk keliling proyek, pulang ke rumah setahun paling cuma dua kali kayak Bang Toyib! Kalian menuntut cucu, tapi pernah kalian bawa Kinar ke Dokter Spesialis?"

"Pernah kalian peduli kesehatan rahimnya? Atau kalian cuma peduli untung rugi bisnis?"

Skakmat.

Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. "Iya juga ya, Pak Suryo kan jarang pulang." "Jahat banget sih mertuanya."

Bu Darmi wajahnya pucat. Ambar dan Lilis saling sikut, tak berani membela.

Abah Kosasih menarik napas panjang, menatap lurus ke arah balkon lantai dua di mana dia yakin Suryo sedang mengintip.

"Pertanyaan Ketiga: Ada pepatah, Habis manis sepah dibuang. Kinar menemani Suryo dari nol, dari dia cuma kontraktor kecil sampai jadi juragan besar."

"Kenapa saat dia sudah di puncak, balasannya adalah surat talak? Di mana hati nurani kalian sebagai manusia?!"

Suara Abah bergetar menahan emosi. "Kalau pertanyaan ini tidak bisa dijawab, demi Tuhan, saya akan tuntut Suryo ke Pengadilan!"

"Saya akan bongkar kebobrokan moral pejabat ini ke media massa!"

"Lancang kamu!" pekik Bu Darmi histeris, nyaris maju menjambak kalau tidak ditahan satpam. "Anakku itu pejabat terhormat! Berani-beraninya kamu ngancam!"

Tiba-tiba, pintu utama terbuka lagi.

Suryo Wibowo akhirnya keluar. Penampilannya necis dengan batik sutra licin. Ia berjalan angkuh, tapi matanya tak berani menatap Kinar.

"Cukup, Pak Kosasih," ujar Suryo datar. "Nggak usah bawa-bawa media. Kita selesaikan secara kekeluargaan."

"Kekeluargaan?" Abah tertawa getir. "Kamu sebut surat cerai sepihak yang memfitnah anakku pembawa sial itu 'kekeluargaan'?"

Suryo melirik Lastri. Anak itu menatapnya dengan mata bulat yang bening namun kosong. Entah kenapa, Suryo merinding.

Bunga melati di saku batiknya mendadak layu, kelopaknya rontok jatuh ke tanah. Energi di sekitar Suryo terasa berat, seolah keberuntungannya mulai menguap saat dia berniat jahat pada anak itu.

Suryo tahu, Abah Kosasih orangnya keras kepala dan jujur. Kalau skandal penelantaran istri ini meledak, karir politiknya tamat.

"Oke, saya salah," kata Suryo cepat, tanpa nada penyesalan yang tulus. "Saya akan tarik surat talak itu. Kita ganti jadi kesepakatan pisah baik-baik."

"Saya akan ubah statusnya jadi 'Cerai Gugat', biar Kinar yang menggugat saya, bukan saya membuang dia. Puas?"

Abah menatap mantan menantunya itu dengan tatapan jijik. "Camkan ini, Suryo. Harta dan jabatanmu itu titipan."

"Jangan sampai titipan itu diambil paksa karena kamu menzalimi anak istrimu."

Abah Kosasih menyipitkan matanya. Orang tua itu tak menyangka Suryo Wibowo akan berubah sikap secepat ini. Ia pikir mantan menantunya itu masih sama seperti dulu—seorang pemuda kampung yang lugu dan tak tahu apa-apa.

Ternyata, dia bukan tidak tahu, melainkan pura-pura bodoh.

Jika Abah memilih damai, keluarga Wibowo tentu akan tertawa lebar. Namun, jika ia memilih melawan demi harga diri anaknya, keluarga Wibowo hanya perlu menyerahkan apa yang memang menjadi hak Kinar.

Bagi mereka yang kini sudah jadi Orang Kaya Baru (OKB), kerugian itu tak seberapa.

"Karena Juragan Suryo sudah begitu 'bijaksana', keluarga Hidayat tak perlu banyak bicara lagi," Abah Kosasih membuka suara, nadanya tenang namun berwibawa.

"Tapi, putriku yang suci kau nikahi baik-baik, kini kau kembalikan dengan status janda cerai. Sakit hati ini mungkin bisa kutahan, tapi abangnya tidak."

1
Lili Aksara
Semangat, kakak Author. Wah, rasanya kalau baca novel ini tuh serasa jadi pembaca biasa, pengennya ada bab baru terus. Padahal, berkarya itu tidak mudah.
gina altira
selamatkan Tari
Tata Hayuningtyas
baru ketemu cerita ini....thor bisa aja kalo bikin. cerita 🤣🤣
Yusna Wati
up lagi dong Thor 🙏
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
bukan nya si Kinar lagi bangun rumah y!? ko bilang nya beli tanah supaya GK numpang di rumah ortunya🙄
Kusii Yaati
up lagi dong Thor 🥺
Wega Luna
kata di emong alam sumpah bikin merinding 🤗
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
semangat buat up thor 💪🏻💪🏻
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
pakai Toa GK tuh tuman/Grin/
░▒▓█►─═HeSideMySelf ═─◄█▓▒░
JANDA bukanlah AIB , kalo ngambil pasangan orang lain baru itu AIB🙄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus banget, aku rekomendasi kan bagi kalian yang suka cerita kayak gini
Wega Luna
om bertiga mukanya muka susah bukan muka penjahat🤣🤣🤣🤣🤣🤣 astaghfirullah tepat sasaran🤣🤣🤣🤣🤣 keliatan banget yh tari? antara pengen ngakak tapi tengah malam ntar di kira kesurupan dan ngempet ketawa habis lucu
Wega Luna
request tikus satu seperti abu satu pinter ,GK rakus, 🤭Thor kayak nya limited edition🤭🤭🤭🤭🤭
Queenza
Eh ini belum puasa aja udah lebaran aja disini🤭🤣
SENJA
jahat banget jadi bapak😤
gina altira
Kayaknya Tari lebih suka sama bang Jarot 🤭
Wega Luna
tari kamu pilih yg mana,,,, duda berpengalaman vs mantri klimis sok romantis 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
semangattt buat karya nya thor?
Teten Suryani
kok Abah panggilnya Lastri Thor, kan udah ganti jadi tari
Wega Luna
mati saja kau Suryo , kalo aku punya bapak seperti mu sudah ku racun 😤😤😈
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!