Ayu wulandari yang berusia dua puluh empat tahun ,ia sudah menikah dengan Aris seorang meneger disebuah perusahaan ,setiap bulan ia hanya mendapatkan nafkah 500 ribu untuk kebutuhan rumah tangganya dan itupun selalu Diungkit oleh suami dan mertuanya ,bagaimana Ayu berjuang untuk keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang luntur karena hinaan
Pagi menyapa dengan aroma embun yang biasanya membawa ketenangan, namun bagi Kirana, setiap fajar kini terasa seperti lonceng kematian bagi jiwanya.
Meski kejadian di kafe kemarin telah menghancurkan hatinya hingga menjadi debu, ada satu sisi kecil di sudut sanubarinya yang masih berbisik: Mungkin Mas Aris hanya khilaf. Mungkin jika aku melayaninya lebih baik lagi pagi ini, dia akan ingat bahwa aku adalah istrinya, ibu dari anaknya.
Itu adalah harapan yang bodoh, Kirana tahu itu. Namun, seorang wanita yang sudah mencintai dengan seluruh hidupnya sering kali menjadi buta demi sebuah kata "keutuhan rumah tangga".
Pukul empat subuh, Kirana sudah kembali dari pasar. Tubuhnya pegal luar biasa setelah memanggul dua karung kentang yang beratnya hampir separuh berat badannya sendiri. Namun, ia memaksakan diri untuk segera mandi dan memasak sarapan spesial. Ia menggunakan sisa uang simpanannya untuk membeli daging ayam—sesuatu yang sangat mewah untuk dapur mereka.
Ia memasak ayam goreng mentega kesukaan Aris. Baunya harum semerbak, memenuhi ruang makan yang biasanya hanya berbau tumis kangkung atau tempe goreng.
"Harum sekali, Ma," celetuk Gio yang baru bangun. Bocah itu tampak senang melihat paha ayam di atas meja.
"Iya, Sayang. Ini buat Papa. Gio juga makan ya," ujar Kirana sambil mengelus rambut putranya.
Tak lama, Aris keluar dari kamar. Ia sudah rapi dengan kemeja slim-fit berwarna biru muda. Namun, begitu melihat Kirana, wajahnya yang tadi tampak segar langsung berubah masam, seolah-olah ia baru saja melihat tumpukan sampah di tengah ruangan.
"Mas, aku masak ayam kesukaan kamu. Makan dulu ya sebelum berangkat?" Kirana menyapa dengan suara yang dibuat seceria mungkin. Ia mencoba menatap mata suaminya, mencari sisa-sisa kasih sayang di sana.
Aris mendekat ke meja makan. Ia melihat piring ayam itu, lalu beralih menatap Kirana dengan pandangan menyelidik.
"Dapat uang dari mana kamu beli ayam?" tanya Aris tajam. Bukannya berterima kasih, suaranya justru penuh curiga.
"Itu... aku hemat-hemat dari uang belanja kemarin, Mas," bohong Kirana pelan.
Aris mendengus kencang, lalu tertawa sinis. "Hemat? Oh, jadi selama ini kamu sengaja kasih saya makan tempe terus supaya bisa pamer sekarang? Atau jangan-jangan kamu mencuri uang di dompet saya?"
"Astaghfirullah, Mas! Aku nggak pernah mencuri!" Kirana terperanjat.
"Halah! Nggak usah sok suci. Orang desa kayak kamu itu, kalau nggak bisa kerja ya bisanya cuma nipu. Lagian, kamu pikir ayam goreng ini bisa bikin saya senang? Lihat tuh minyaknya! Kamu mau bikin saya kolesterol? Masakan kamu itu selalu saja kampungan, nggak ada kelasnya sama sekali!"
Aris menyentuh piring ayam itu dengan ujung jarinya, lalu dengan sengaja menyenggolnya hingga piring itu bergeser dan hampir jatuh. "Kasih saja ke anakmu itu. Biar dia jadi malas kayak ibunya. Saya ada janji sarapan di hotel sama rekan bisnis."
"Mas, sekali ini saja... aku masak ini dari subuh," lirih Kirana. Suaranya mulai bergetar.
Aris berhenti di depan pintu. Ia berbalik dan menatap Kirana dengan tatapan yang lebih dingin dari es.
"Kirana, dengerin ya. Mau kamu masak emas sekalipun, penampilan kamu yang dekil begini sudah bikin saya mual. Bau bawang, daster compang-camping, rambut kayak sapu ijuk. Kamu itu benar-benar nggak layak bersanding sama saya. Kalau bukan karena kasihan, sudah dari dulu kamu saya tendang ke hutan!"
Duar!
Harapan kecil yang tadi dipupuk Kirana seolah diledakkan tanpa sisa. Ia berdiri mematung di dekat meja makan. Kata-kata "tidak layak" dan "kasihan" itu bergema di telinganya, merobek sisa-sisa harga diri yang ia coba pertahankan.
Penderitaan Kirana belum berakhir. Pukul sepuluh pagi, saat ia sedang menjemur pakaian, Bu Widya datang. Kali ini mertuanya tidak datang sendiri. Ia membawa beberapa kantong belanjaan bermerek yang sepertinya milik wanita selingkuhan Aris semalam.
"Kirana! Sini kamu!" teriak Bu Widya dari ruang tamu.
Kirana mengelap tangannya yang basah dan segera menghampiri. "Iya, Bu?"
Bu Widya melemparkan sebuah gaun malam yang sangat tipis dan mewah ke arah wajah Kirana. Gaun itu berbahan sutra, berwarna merah menyala.
"Cuci ini. Pakai tangan! Jangan pakai mesin, nanti rusak. Ini punya calon menantu saya yang baru. Dia habis nginep di hotel sama Aris semalam, dan bajunya kotor kena tumpahan wine," ucap Bu Widya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Dunia seolah berputar bagi Kirana. "Calon... menantu, Bu? Tapi saya masih istri sah Mas Aris."
Bu Widya tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat jahat di telinga Kirana. "Istri sah? Kirana, sadarlah. Kamu itu cuma 'istri cadangan' yang tugasnya jagain rumah dan urus anak. Aris itu butuh wanita yang bisa diajak ke pesta, yang bisa bahasa Inggris, yang kulitnya putih mulus karena perawatan, bukan yang kulitnya kasar karena sering angkat jemuran kayak kamu."
Mertuanya itu mendekat, lalu mencengkeram dagu Kirana dengan kuat.
"Denger ya, perempuan udik. Harusnya kamu bersyukur masih dikasih tempat tinggal. Kalau kamu tahu diri, cuci baju ini sampai bersih. Kalau ada satu saja noda yang tertinggal, saya pastiin Aris bakal kasih nafkah kamu bulan depan cuma dua ratus ribu! Paham?!"
Kirana hanya bisa mengangguk pasrah. Ia memegang gaun merah itu dengan tangan gemetar. Bau parfum wanita lain yang sangat menyengat menusuk hidungnya. Parfum yang sama dengan yang ia cium di kemeja Aris beberapa hari lalu.
Di kamar mandi, sambil mengucek gaun mewah itu, air mata Kirana jatuh satu per satu ke dalam ember. Ia menangis tanpa suara. Setiap kucekan adalah ungkapan rasa sakitnya. Ia merasa sangat rendah, lebih rendah dari debu yang ia sapu setiap pagi.
Ya Allah, apakah aku sehina ini di mata mereka? tanyanya dalam hati. Apa salahku? Aku melayani, aku patuh, aku bekerja keras demi menutupi kekurangan suami. Tapi kenapa mereka memperlakukanku seperti binatang?
----
Sore harinya, Aris pulang lebih awal. Namun, suasana hatinya tampak sangat buruk. Ia membanting pintu dan langsung berteriak memanggil Kirana.
"Kirana! Mana kopi saya?!"
Kirana yang sedang menyuapi Gio segera berlari ke dapur. Ia membuatkan kopi dengan cepat. Namun, karena terburu-buru, ia lupa menambahkan gula.
Saat Aris meminumnya, ia langsung menyemburkan kopi panas itu ke arah daster Kirana.
"PANAS! PAHIT! KAMU MAU BUNUH SAYA?!" teriak Aris. Ia berdiri dan menjambak rambut Kirana hingga wanita itu terdongak.
"Mama!" Gio berteriak ketakutan dari kejauhan dan mulai menangis.
"Sakit, Mas... lepas..." rintih Kirana.
"Sakit? Hati saya lebih sakit punya istri sebodoh kamu! Bikin kopi saja nggak becus! Kamu itu memang cuma sampah desa yang nggak sengaja saya pungut. Harusnya kamu itu sadar diri! Lihat wanita-wanita di luar sana, mereka pintar, mereka cantik. Sedangkan kamu? Kamu cuma beban! Makan gaji buta lima ratus ribu sebulan saja sudah kebanyakan buat kamu!"
Aris mendorong kepala Kirana hingga terbentur tembok. "Besok, saya mau ada tamu penting datang ke rumah. Kamu jangan keluar kamar! Saya malu punya istri kayak kamu. Bilang sama siapa pun kalau kamu itu pembantu di sini. Mengerti?!"
Kirana terdiam. Kepalanya terasa pening, tapi hatinya jauh lebih sakit. Ia menatap Aris yang sedang merapikan kemejanya dengan sombong.
"Mas... apa kamu sudah nggak cinta lagi sama aku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Kirana yang pucat.
Aris menoleh, lalu tertawa mengejek. "Cinta? Kirana, sejak awal saya nggak pernah cinta sama kamu. Saya cuma butuh pelayan gratis yang bisa dihamili supaya Ibu berhenti nanya soal cucu. Sekarang Gio sudah ada, tugas kamu sudah selesai. Jadi, jangan harap lebih dari itu."
Aris melangkah pergi, meninggalkan Kirana yang luruh di lantai dapur yang dingin. Gio berlari memeluk ibunya, tangis bocah itu pecah melihat ibunya diperlakukan demikian.
"Mama... jangan nangis..." ucap Gio sambil mengusap air mata Kirana dengan tangan kecilnya.
Sentuhan tangan Gio adalah titik balik bagi Kirana. Dinginnya lantai dan panasnya bekas siraman kopi di dadanya seolah membekukan sisa-sisa harapannya.
Harapan yang tadi pagi masih ada, kini benar-benar telah membusuk dan mati.
Kirana menyadari bahwa Aris tidak akan pernah berubah. Bukan karena Aris khilaf, tapi karena Aris memang tidak menganggapnya sebagai manusia.
Kirana memeluk Gio erat-erat. Tatapannya kini kosong, namun di balik kekosongan itu, ada api yang mulai menyala. Api yang tidak lagi berwarna merah karena marah, melainkan putih karena tekad yang sudah bulat.
"Iya, Sayang. Mama nggak akan nangis lagi," bisik Kirana tepat di telinga Gio.
"Mulai besok, nggak akan ada lagi yang berani bikin Mama nangis. Kita akan pergi dari sini, Gio. Kita akan cari dunia yang lebih baik buat kita."
Malam itu, saat Aris tidur dengan nyenyak di atas kasur empuk,kasur yang juga dibersihkan oleh Kirana setiap hari,Kirana duduk di pojok kamar yang gelap. Ia tidak mengemas barang. Ia hanya menatap sebuah foto pernikahan mereka yang sudah retak kacanya.
Besok, tamu penting itu akan datang. Dan Kirana akan memastikan bahwa tamu itu menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh Mas Aris dan Ibu Mertuanya seumur hidup.
Kesabaran Kirana sudah habis. Dan saat kesabaran seorang wanita yang paling sabar telah habis, maka yang tersisa hanyalah kehancuran bagi mereka yang telah menzaliminya.