Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 – Menghadapi Bayangan Tak Terlihat
Cahaya kristal itu mulai memudar, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang semakin pekat. Namun, Defit dan Maya merasakan sesuatu yang lebih besar, lebih menekan dari sekadar kegelapan yang mengelilingi mereka. Sesuatu yang menyusup ke dalam jiwa mereka, menuntut mereka untuk menghadapi kenyataan yang tak bisa lagi dihindari.
Maya menarik napas panjang, tubuhnya terasa lelah, tetapi hatinya lebih berat. “Defit, aku—aku merasa seakan ada sesuatu yang menahan kita. Sesuatu yang lebih besar dari kekuatan yang kita hadapi. Seperti bayangan yang tak bisa kita lihat, tapi kita tahu itu ada, menunggu untuk melahap kita.”
Defit menatapnya, mencoba untuk memahami apa yang sedang dia rasakan. Tubuhnya juga lelah, lelah oleh pertempuran batin yang lebih dalam daripada yang dapat dilihat oleh mata. Namun, di balik kelelahan itu, ada dorongan yang lebih besar—keinginan untuk melindungi Maya dan dunia ini, apapun yang harus dia hadapi.
“Itu benar, Maya,” jawab Defit, suaranya penuh dengan keteguhan yang dia sendiri tidak sepenuhnya mengerti. “Kita tidak hanya melawan apa yang tampak. Kita melawan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang lebih mengerikan—sesuatu yang telah lama bersembunyi dalam kegelapan. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita harus melawan, apapun yang terjadi.”
Maya menggenggam tangan Defit, dan dalam genggaman itu, ia merasakan bahwa keberanian mereka saling menguatkan. Kekuatan yang mengalir di tubuh mereka masih terasa membebani, tetapi dalam setiap tarikan napas, mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Meskipun mereka tidak bisa melihat bayangan yang mengancam mereka, mereka tahu bahwa bayangan itu adalah bagian dari takdir yang harus mereka hadapi.
“Mungkin ini takdir kita, Defit,” Maya berkata pelan, matanya menatap jauh ke depan, seakan melihat sesuatu yang tak terlihat. “Kita dipilih bukan hanya untuk menyelamatkan dunia ini, tetapi untuk menghadapinya—untuk menembus bayangan yang telah lama menguasai dunia ini. Kita tidak hanya berjuang untuk dunia, kita berjuang untuk diri kita sendiri, untuk kebebasan kita.”
Defit mengangguk, meskipun hatinya dipenuhi kebingungan. “Aku tahu, Maya. Tapi terkadang aku merasa—aku merasa kita tidak cukup kuat. Apa yang terjadi jika kita gagal? Apa yang terjadi jika kita menjadi bagian dari kegelapan itu?”
Suasana sekeliling mereka seolah semakin menekan, suara angin yang berbisik di telinga mereka, membawa bisikan-bisikan gelap yang seolah datang dari kedalaman yang tak bisa dipahami. Namun di balik bisikan itu, mereka merasakan kehadiran lain—kehadiran yang jauh lebih besar, jauh lebih tua dari apa pun yang pernah mereka ketahui.
Tiba-tiba, bayangan besar muncul di depan mereka. Bayangan itu tidak berbentuk jelas, hanya gelap dan kabur, namun kehadirannya begitu kuat, begitu menakutkan. Ia bergerak perlahan, namun setiap langkahnya seakan mengguncang bumi di bawah kaki mereka.
“Defit… Maya…” suara itu datang dari bayangan yang bergerak, suara yang penuh dengan kebencian, namun juga dengan penyesalan yang mendalam. “Kalian telah membuka jalan yang tak seharusnya kalian masuki. Kekuatan yang kalian ambil bukanlah milik kalian. Dunia ini bukan untuk kalian. Kalian hanya terpilih untuk menjadi bagian dari kehancuran yang akan datang.”
Maya menggigil, namun ia tidak bisa berpaling. “Kita bukan bagian dari kehancuran,” jawabnya dengan suara yang gemetar. “Kita—kita akan melawan! Kami tidak akan membiarkan dunia ini hancur begitu saja.”
Bayangan itu tertawa, sebuah tawa yang mengerikan, penuh dengan kekejaman. “Melawan? Kalian hanya bagian dari takdir yang lebih besar, lebih tua. Tidak ada yang bisa melawan takdir, Maya. Tidak ada yang bisa menghentikan apa yang sudah dimulai.”
Defit merasakan tubuhnya semakin lemah, seakan kekuatan yang ada dalam dirinya mulai tergerus oleh kegelapan yang mengelilingi mereka. Namun, di balik kelemahan itu, ada sesuatu yang muncul—sebuah kekuatan yang datang dari dalam dirinya. Kekuatan yang berasal dari rasa cinta yang mendalam untuk Maya, untuk dunia ini.
“Kami tidak takut,” kata Defit dengan suara yang tegas. “Takdir kami bukan untuk menghancurkan dunia ini, tapi untuk menyelamatkannya. Kami memilih untuk bertahan. Kami memilih untuk berjuang!”
Dengan kata-kata itu, sebuah cahaya yang kuat muncul dari dalam diri mereka, menyilaukan, menembus kegelapan yang menekan. Cahaya itu mengalir ke dalam tubuh mereka, menyatukan mereka dengan kekuatan yang lebih besar, lebih murni dari kekuatan gelap yang mengancam mereka. Defit merasakan energi itu mengalir melalui dirinya, menguatkan setiap sendi tubuhnya, menyatukan setiap partikel dalam jiwanya. Maya merasakannya juga—kekuatan yang berasal dari pilihan mereka untuk melawan, untuk tetap teguh meskipun dunia ini seakan runtuh di sekeliling mereka.
Bayangan itu mencoba untuk bergerak lebih dekat, namun setiap kali itu mendekat, cahaya yang mengelilingi Defit dan Maya semakin menyilaukan, menepisnya jauh-jauh. Bayangan itu berteriak, sebuah teriakan yang penuh dengan amarah, namun juga dengan rasa takut yang mendalam.
“Kalian tidak tahu apa yang kalian hadapi!” teriak bayangan itu. “Kekuatan ini akan membakar kalian! Kalian tidak bisa melarikan diri dari takdir!”
“Tapi kami memilih jalan kami sendiri,” jawab Defit dengan tegas. “Kami tidak akan membiarkan dirimu atau takdir mengendalikan kami. Kami akan mengendalikan takdir kami sendiri!”
Dengan satu dorongan kekuatan terakhir, cahaya itu meledak, membelah kegelapan yang ada. Bayangan itu menghilang dalam kilatan cahaya, berteriak dalam kesakitan saat ia terhapus dari dunia ini. Kegelapan yang menyelimuti mereka perlahan menghilang, digantikan oleh cahaya yang lembut, memberi mereka ruang untuk bernafas.
Maya terengah-engah, matanya terbuka lebar, penuh dengan kelegaan. “Defit… kita—kita berhasil?”
Defit menatapnya dengan mata yang penuh kehangatan dan keyakinan. “Kita berhasil, Maya. Kita memilih untuk melawan, dan kita menang.”
Dunia mereka masih penuh dengan ketidakpastian, namun di saat itu, mereka tahu satu hal pasti: mereka tidak akan pernah lagi mundur. Mereka akan terus berjuang, apapun yang terjadi, untuk dunia ini, untuk takdir mereka, dan untuk kebebasan mereka.
terus menarik ceritanya 👍