Seorang Wanita Kuat-Amara. setelah hampir 15 th pernikahan ternyata suaminya ketahuan Selingkuh.
Semenjak itu Kehidupan Amara dan kehidupan rumah tangga nya berubah.
Masih Mencinta namun tak dapat bersama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Luna
Sabtu pagi di apartemen Amara terasa seperti udara sebelum badai. Matahari pagi yang cerah justru terasa menusuk, menyoroti setiap detail ruangan yang akan ditinggalkan. Koper besar sudah terbuka di tengah ruang tamu, sebagian berisi pakaian dan sebagian lagi masih kosong—seperti perasaan Amara sendiri.
Luna sedang duduk di lantai, memeluk Mr. Bubbles, boneka beruang coklatnya yang sudah usang. Dia mengenakan piyama bergambar kucing, rambutnya masih acak-acakan. Matanya mengikuti setiap gerakan Amara yang mondar-mandir memilah barang.
"Jadi... Mama akan tinggal di dekat gunung?" tanya Luna, suaranya kecil.
"Ya, Sayang. Di sebuah tempat bernama Merapi Arts Lab. Dekat Gunung Merapi," jawab Amara, berjongkok di depannya. Dia mencoba tersenyum.
"Nanti Mama kirim foto pemandangannya. Katanya pagi-pagi bisa lihat kabut turun dari gunung."
"Keren," gumam Luna, tapi tidak antusias. Jari-jarinya membelai telinga bonekanya.
"Tiga bulan... itu sampai kapan?"
"Sampai Luna ulang tahun yang ke-12," kata Amara, mencoba membuatnya terdengar seperti hadiah. "Nanti Mama pulang tepat untuk pesta ulang tahunmu."
Luna mengangguk pelan. "Tapi nggak bisa ikut persiapan... nggak bisa pilih tema sama-sama."
Dada Amara seperti diremas. "Kita bisa pilih tema dari jauh, kan? Video call. Mama lihat semua pilihan kue dan dekorasinya. Kita rencanakan bersama."
"Tapi nggak sama," desis Luna, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berbinar oleh air mata yang ditahan. "Semua temenku, mamanya selalu ada buat persiapan ulang tahun. Milih baju, bikin goodie bag..."
"Luna..." Amara menarik putrinya ke dalam pelukan. Dia mencium bau shampoo strawberry di rambutnya.
"Mama tahu ini sulit. Mama juga sedih harus ninggalin kamu. Tapi ini... ini penting buat Mama. Seperti waktu Luna ikut lomba lukis ke Bandung seminggu, kan? Walaupun sedih pisah, tapi Luna pengen banget ikut, karena itu penting."
"Tapi seminggu beda sama tiga bulan," tangis Luna pecah, akhirnya. Tangisannya tersedu-sedu di bahu Amara.
"Aku kangen Mama gimana? Kalau aku mimpi buruk? Kalau aku pengen cerita soal sekolah? Video call... beda. Nggak bisa peluk."
Setiap kata seperti pisau. Amara menahan tangisnya sendiri, membelai punggung Luna.
"Papa akan ada untukmu. Setiap saat. Dan Mama cuma satu telepon saja. Setiap malam, kita akan video call, cerita semua. Dan... setiap akhir pekan ketiga, Luna bisa naik pesawat ke Jogja, sama Papa atau tante Sari. Kita jalan-jalan di Malioboro, makan gudeg. Jadi kita tetap ketemu."
"Beneran?" Luna menarik diri, mengusap matanya dengan punggung tangan.
"Beneran. Janji Mama." Amara mengangkat telunjuknya. "Mama akan catat di kalender. Akhir pekan ketiga setiap bulan: 'JAM MAIN BERSAMA LUNA'."
Luna tersenyum kecil, meski air matanya masih mengalir. Dia mengaitkan telunjuknya dengan telunjuk Amara. "Janji?"
"Janji."
Mereka duduk pelukan beberapa saat lama. Kemudian Luna bertanya, "Mama nanti kesepian nggak di sana? Nggak kenal siapa-siapa."
"Mungkin sedikit," akui Amara.
"Tapi di sana ada banyak pelukis dan pemahat dari berbagai negara. Mama akan belajar dari mereka. Dan..." dia ragu, "Ada Om Edo yang kadang akan ke sana juga, lihat progres kerja Mama."
Luna memandangnya dengan mata yang tiba-tiba sangat dewasa. "Om Edo itu baik ya, Ma?"
"Ya, baik. Dia yang kasih Mama kesempatan ini."
"Papa bilang, Mama harus pergi karena ini kesempatan emas." Luna mengulangi kata-kata Rafa dengan serius.
"Papa bilang, aku harus dukung Mama seperti Mama dukung aku waktu lomba lukis."
Rasa terima kasih pada Rafa membanjiri Amara sekali lagi. "Papa benar. Dan Mama sangat beruntung punya Luna yang mengerti."
"Tapi aku tetep sedih," bisik Luna, memeluk Amara lagi. "Aku boleh sedih kan?"
"Boleh, Sayang. Mama juga sedih. Tapi kita sedih sama-sama, ya? Jadi nggak sendirian."
Bandara Soekarno-Hatta berisik seperti biasa, namun bagi Amara, semua suara seperti teredam. Dia seperti bergerak dalam sebuah film bisu. Kopernya sudah check-in. Sekarang dia berdiri di depan pintu masuk keberangkatan domestik, dikelilingi oleh orang-orang yang akan ditinggalkannya.
Rafa hadir, tepat seperti janjinya. Dia berdiri di samping Luna, sebuah tangan di pundak putri mereka. Ibu Marni juga datang, memberikan dukungan tak terduga dengan membawakan sebuah bingkisan berisi kue-kue kering.
"Untuk camilan di perjalanan, Amara," katanya, dengan senyum yang tulus kali ini. Sari hadir dengan karangan bunga leher yang norak dan lucu, membuat Luna tertawa kecil.
"Jangan lupa eksplor teknik baru!" seru Sari, memeluknya erat. "Dan jangan cuma kerja, jalan-jalan juga! Jogja itu jiwa!"
"Iya, Sar. Makasih untuk semuanya," bisik Amara.
Ibu Marni mendekat, ragu-ragu, lalu memeluknya juga—pelukan singkat dan kaku, tapi berarti. "Selamat jalan, nak. Luna akan baik-baik saja bersama kami."
Giliran Rafa. Mereka saling memandang, lalu Rafa mengulurkan tangan untuk jabat tangan. Tapi Amara, spontan, membuka pelukan. Rafa terkejut, lalu membalasnya—sebuah pelukan singkat, persaudaraan bagi amara, namun mungkin akan berbeda bagi Rafa, penuh dengan sejarah yang kompleks.
"Jaga Luna," bisik Amara di telinganya.
"Selalu. Kau jaga dirimu. Hasilkan karya yang bikin kami semua terpukau."
Dan akhirnya, Luna. Wajahnya sudah merah oleh tangisan yang ditahan sejak dari rumah. Dia melemparkan dirinya ke pelukan Amara, meraung.
"Mamaaaa jangan pergi! Aku nggak mau!" tangisnya, memecah semua komposisi kedewasaan yang dia coba tunjukkan pagi tadi.
Amara menangis juga, memeluk tubuh kecil itu erat-erat, menciumi rambut dan wajahnya.
"Sayangku... Mama cinta kamu. Mama cinta kamu lebih dari apapun. Ini cuma sementara. Sebentar saja. Mama akan telepon nanti malam, ya? Kita nonton film bareng lewat video call."
"Janji?" isak Luna, memandangnya dengan mata yang bengkak.
"Janji Mama." Amara mengeluarkan sebuah kalung rantai perak tipis dari sakunya, dengan liontin berbentuk setengah hati. "Ini untuk Luna. Mama punya yang setengahnya lagi."
Dia menunjukkan liontin serupa di lehernya sendiri. "Kalau kangen, pegang ini. Artinya Mama juga sedang memegangnya di Jogja, dan hati kita masih satu."
Luna memegang liontin itu erat-erat, lalu mengangguk, mencoba menjadi kuat. "Aku sayang Mama."
"Aku sayang Luna lebih banyak."
Setelah pelukan dan ciuman yang terakhir, dengan hati yang terasa tercabik, Amara berbalik dan berjalan melalui pintu keberangkatan. Dia tidak berani menoleh.
Kalau menoleh dan melihat Luna menangis di pelukan Rafa, dia tahu dirinya akan berbalik dan membatalkan segalanya.
Pesawat mendarat di Yogyakarta saat senja mulai menyapu langit. Udara yang hangat dan lembap, beraroma tanah dan vegetasi, menyambutnya saat keluar dari bandara.
Mobil dari Merapi Arts Lab sudah menunggu.
Perjalanan menuju kompleks residensi di kaki Gunung Merapi gelap dan berliku. Desa-desa kecil terlampaui, sawah-sawah yang terlihat keperakan dalam cahaya bulan. Semakin tinggi, udara semakin sejuk, dan kesepian mulai merayap masuk, menggantikan kesibukan keberangkatan.
Kompleks Arts Lab adalah sekumpulan bangunan joglo modern yang tersebar di antara kebun dan pepohonan. Studio Amara adalah sebuah bangunan kayu dengan dinding kaca besar menghadap ke arah gunung—yang sekarang hanya terlihat sebagai siluet hitam raksasa di bawah taburan bintang.
Ruangannya luas, hampir kosong kecuali sebuah tempat tidur tunggal, meja kerja besar, dan rak-rak kosong. Ada sebuah dapur kecil dan kamar mandi. Kesederhanaan yang disengaja. Meja untuk menciptakan, dan ranjang untuk beristirahat. Tidak lebih.
Setelah menata barang-barangnya secara cepat, Amara duduk di lantai kayu yang dingin, memandang keluar jendela.
Keheningan di sini sangat berbeda dengan keheningan apartemennya di Jakarta. Ini adalah keheningan yang hidup—diterangi oleh koor jangkrik, desau angin melalui daun, dan kadang suara hewan malam yang tidak dikenali. Keheningan yang menekan.
Dia meraih ponselnya. Pukul 20.17. Waktunya video call janjian dengan Luna.
Sambungan terhubung. Layar menunjukkan ruang keluarga di apartemen Rafa. Luna sudah duduk di sofa, dengan Mr. Bubbles dan liontin setengah hati tergenggam di tangannya. Wajahnya masih terlihat sedih.
"Ma!" serunya, wajahnya langsung mendekat ke kamera.
"Halo, Sayang! Mama sudah sampai. Lihat nih, studionya." Amara memutar kamera, menunjukkan ruangan kosong dan jendela besar yang gelap.
"Gede banget... tapi kosong," komentar Luna.
"Iya, nanti Mama isi dengan karya. Lagi apa kamu?"
"Abis makan malam. Papa masak mie goreng, tapi keasinan," keluh Luna, membuat Amara tersenyum. Rafa yang dulu tidak pernah menyentuh dapur, sekarang belajar memasak untuk putrinya.
"Bisa liat gunungnya nggak, Ma?"
"Masih gelap. Besok pagi Mama foto ya."
Percakapan mereka berlanjut sekitar setengah jam. Luna bercerita tentang teman sekolah, tentang rencana ulang tahunnya yang sudah mulai dia pikirkan, tentang betapa dia merindukan bonekanya yang tertinggal di apartemen Amara. Setiap kata biasa terasa berharga.
"Sekarang Luna mau tidur," kata Rafa, muncul di belakang Luna. "Sudah waktunya."
"Oke. Mama cinta kamu, Luna. Mimpi indah."
"Mama juga mimpi indah. Jangan kesepian ya." Luna mengirimkan ciuman melalui kamera sebelum layar gelap.
Dan tiba-tiba, studio yang besar itu terasa sepuluh kali lebih kosong.
Kesepian itu bukan hanya fisik. Ia adalah sebuah kehadiran yang nyata, menggantung di udara, menyusup ke sela-sela tulang rusuk Amara. Dia merindukan suara Luna tertawa, beratnya tubuh kecil itu di pangkuannya, bahkan keributannya yang biasa.
Dia menarik koper, mengeluarkan gulungan kain putih yang dia bawa dari Jakarta, dan menggantungnya di dinding kosong. Lalu, dia mengambil arang dan mulai membuat goresan pertama.
Bukan sketsa yang direncanakan. Hanya garis-garis liar, panjang, seperti teriakan dalam keheningan.
Karya barunya mulai lahir dari rasa rindu. Dia tidak menggambar gunung atau pemandangan. Dia menggambar jarak.
Garis-garis yang memanjang, lalu terputus. Titik-titik yang saling berjauhan. Sebuah bentuk seperti jantung di satu sisi, dan bentuk serupa tapi tidak lengkap di sisi lain, dihubungkan oleh benang-benang imajiner yang tipis dan nyaris putus.
Dia bekerja hingga larut, hingga tangannya pegal dan matanya perih. Saat dia berhenti, di dinding telah terbentang sebuah sketsa besar yang gelap dan emosional. Sebuah permulaan.
Dia mandi air dingin, lalu berbaring di tempat tidur yang asing. Melalui jendela, dia bisa melihat bintang-bintang yang lebih banyak dan terang daripada yang pernah dia lihat di Jakarta. Tapi keindahan itu terasa hampa tanpa ada yang untuk dibagikan.
Dia memegang liontin setengah hati di dadanya, berharap Luna melakukan hal yang sama di Jakarta.
"Tiga bulan," bisiknya pada langit-langit kayu.
"Kita bisa melewati ini."
Tapi di sudut hatinya, di balik tekad dan antusiasme profesional, ada seorang ibu yang meragukan segalanya, bertanya apakah seni dan pengakuan itu sebanding dengan tiga bulan tanpa pelukan putri tercintanya. Malam pertama di Yogyakarta pun berlalu, dalam gelisah dan kerinduan yang dalam, sementara gunung di luar diam-diam menjaga, menunggu untuk melihat apa yang akan lahir dari kesepian ini.
sambil ☕ thor
Penulisnya sukses mengaduk emosi jiwa seperti naik roller-coaster dan yang buat salut hampir tidak ada typo dalam tiap bab cerita yang disuguhkan. Semoga kisah di novel ini bisa diangkat ke film,karena asli bagus jalan cerita dan penokohan serta konflik yang ada benar-benar membuat cerita ini hidup.
Terimakasih buat penulis dan sukses selalu.