Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Darah Sektor 7
Hujan asam turun serupa ribuan jarum yang mencoba menembus zirah baja putih milik Li Wei. Di ufuk utara Sektor 7, langit tidak lagi berwarna biru, melainkan ungu lebam akibat polusi energi yang terus-menerus dimuntahkan oleh pabrik-pabrik Naga Laut. Li Wei berlutut di balik sisa-sisa tembok beton yang hancur, mengatur napasnya yang mulai terasa berat di dalam helm Neuro-Sync.
"Sersan Han, laporkan status unit," bisik Li Wei. Suaranya terdengar mekanis melalui radio internal, namun ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan oleh filter suara.
"Sektor kanan bersih, Komandan. Tapi radar saya menangkap pergerakan masif di bawah parit. Mereka bukan prajurit, mereka... sepertinya warga sipil yang terjepit," jawab Han dari balik tumpukan kotak amunisi yang hangus.
Li Wei menajamkan sensor optiknya. Di kejauhan, ia melihat sosok kecil yang merangkak di antara genangan lumpur hitam. Seorang anak kecil, memeluk boneka kain yang sudah kehilangan satu matanya, tampak membeku di tengah desingan peluru pulsa yang membelah udara.
"Abaikan sipil, Li Wei. Fokus pada penghancuran pusat kendali. Itu perintah langsung," suara Jenderal Zhao Kun mendadak masuk ke saluran pribadinya, dingin dan absolut.
"Jenderal, ada anak kecil di jalur tembak. Jika kita meledakkan tangki uap itu sekarang, mereka akan terpanggang hidup-hidup," balas Li Wei, jemarinya mengepal pada gagang Bailong-Jian.
"Martabat klanmu bergantung pada keberhasilan misi ini, bukan pada nyawa segelintir umpan. Lakukan tugasmu, atau kau akan dianggap cacat dalam catatan militer."
Li Wei terdiam. Saraf di pangkal lehernya berdenyut kencang, menandakan sistem Neuro-Sync miliknya sedang memproses gejolak emosi yang ekstrem. Ia menoleh ke arah Han yang sedang menunggu instruksinya dengan senapan siap tembak.
"Han, kau dengar perintah Jenderal tadi?" tanya Li Wei dengan nada rendah.
"Saya dengar, Komandan. Tapi... anak itu..."
"Berapa sisa granat asapmu?" potong Li Wei cepat.
"Hanya dua, Komandan. Kenapa?"
"Berikan padaku. Aku akan maju ke depan. Jangan tembak sampai aku memberikan sinyal frekuensi biru," perintah Li Wei sambil merayap keluar dari zona aman.
"Tapi itu bunuh diri! Radar menunjukkan faksi Naga Laut sudah mengunci koordinat ini!" seru Han dengan suara tertahan.
Li Wei tidak menjawab. Ia mengaktifkan Neural Overclock. Seketika, dunianya melambat. Tetesan hujan asam seolah menggantung diam di udara, dan suara ledakan berubah menjadi dengung rendah yang jauh. Ia berlari melewati parit, gerakannya begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan putih di mata prajurit musuh.
"Berhenti di sana!" teriak seorang prajurit Naga Laut yang muncul dari balik parit, mengarahkan senapan pulsa tepat ke dada Li Wei.
Li Wei tidak berhenti. Dengan satu putaran tubuh, Bailong-Jian terhunus. Bilah pedang yang bergetar frekuensi tinggi itu membelah laras senapan lawan sebelum prajurit itu sempat menarik picu. Tanpa membunuh, Li Wei menghantamkan hulu pedangnya ke tengkuk lawan hingga jatuh pingsan.
"Komandan, gas hijau mulai menyebar! Itu bukan gas saraf musuh, itu dari arah markas kita!" suara Han terdengar panik di telinganya.
Li Wei tersentak. Ia melihat kabut hijau pekat mulai merayap dari arah belakang garis tempur mereka sendiri. Pengkhianatan. Zhao Kun tidak hanya ingin menghancurkan musuh, dia ingin melenyapkan semua bukti di sektor ini, termasuk pasukannya sendiri.
"Siapa kau? Jangan sakiti aku!" anak kecil di depannya menjerit, memeluk boneka kainnya semakin erat.
Li Wei mendarat di depan anak itu, membelakangi arah datangnya gas. "Ambil ini," ucapnya sambil memberikan masker filter cadangan dari sabuk taktisnya.
"Kenapa kau membantuku? Paman berbaju putih biasanya menembak kami," tanya anak itu dengan mata bulat yang dipenuhi air mata.
"Aku bukan pamanmu. Cepat pakai dan lari ke arah terowongan di bawah sana," perintah Li Wei tegas, meski hatinya terasa seperti diremas.
"Tapi bonekaku... kakinya tersangkut di kabel itu!"
Li Wei melihat ke bawah. Benar saja, kabel pemicu ranjau sensorik melilit kaki boneka itu. Jika ditarik sedikit saja, seluruh parit ini akan meledak. Ia melihat ke langit, satelit orbital mulai memancarkan pendar putih—tanda bahwa penguncian koordinat telah selesai.
"Han! Ledakkan tangki uap di sektor B-4 sekarang!" teriak Li Wei melalui radio.
"Tapi Komandan, Anda masih di sana! Uap itu akan mengaburkan sensor navigasimu!"
"Lakukan saja! Itu satu-satunya cara menutupi jejak sipil dari deteksi drone!"
Ledakan hebat mengguncang tanah. Uap panas menyembur, menutupi pandangan satelit di atas. Di tengah kabut putih dan hijau yang mematikan, Li Wei dengan hati-hati memotong kabel pemicu ranjau dengan ujung Bailong-Jian yang presisi.
"Lari sekarang! Jangan pernah menoleh ke belakang!" teriak Li Wei pada anak itu.
Anak itu berlari sekuat tenaga, meninggalkan Li Wei yang kini berdiri sendirian di tengah kepungan asap. Ia merasa bahu kirinya perih, sebuah serpihan ledakan menembus zirah tipisnya. Darah segar mulai mengalir, terasa hangat di tengah dinginnya hujan asam.
"Li Wei, kau masih hidup?" suara Zhao Kun kembali masuk, kali ini dengan nada yang sedikit terkejut.
"Saya masih di sini, Jenderal. Target telah diamankan," jawab Li Wei dingin.
"Bagus. Tapi kenapa laporan sensor visualmu terganggu oleh uap? Apa kau mencoba menyembunyikan sesuatu?"
"Hanya malfungsi sistem akibat gas saraf, Jenderal. Saya akan melakukan pembersihan akhir."
Li Wei mematikan saluran komunikasi. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding parit yang licin. Di depannya, boneka kain anak tadi tertinggal di lumpur, matanya yang tersisa seolah menatapnya dengan penuh pengadilan. Ia memungut boneka itu, menatapnya sejenak sebelum memasukkannya ke dalam saku taktisnya.
"Komandan, kita harus pergi. Area ini akan segera diratakan," Han muncul dari balik kabut uap, napasnya tersengal-sengal.
"Kau benar, Han. Tapi tidak ke arah markas pusat," ucap Li Wei sambil menatap ke arah barat.
"Lalu ke mana? Kita akan dianggap desersi jika tidak kembali untuk dekontaminasi."
Li Wei menunjuk ke arah Menara Sinyal yang berdiri miring di kejauhan. "Lihat ke sana. Radar sarafku menangkap frekuensi ganjil. Seseorang sedang menyabotase jalur komunikasi satelit dari sana. Jika kita ingin selamat dari tembakan orbital berikutnya, kita harus menemukan siapa yang berada di puncak menara itu."
"Tapi itu wilayah Naga Laut, Komandan! Kita akan terjepit di antara dua api!"
"Kita sudah terjepit sejak gas hijau itu dilepaskan, Han. Pilihannya hanya mati sebagai pion yang dibuang, atau mencari cara untuk membalikkan keadaan."
Han menatap wajah Li Wei di balik visor yang retak. "Saya akan mengikuti Anda, Komandan. Selalu."
Mereka mulai bergerak di bawah bayang-bayang kehancuran. Li Wei merasakan denyut di otaknya semakin kuat, efek samping dari penggunaan Overclock yang terlalu lama. Pemandangannya mulai berbayang, namun ia tetap memaksakan kakinya untuk melangkah.
Langkah kaki Li Wei terasa berat, seolah lumpur hitam Sektor 7 memiliki jemari yang menariknya masuk ke dalam inti bumi. Di sampingnya, Han terus memindai area dengan senapan yang bergetar. Udara semakin tipis; saringan oksigen pada zirah mereka mengeluarkan bunyi mendesis yang tidak sehat, tanda bahwa residu gas hijau mulai menyumbat katup sirkulasi.
"Komandan, sensor panas menunjukkan ada unit pengejar di belakang kita. Mereka menggunakan frekuensi kode hitam. Itu bukan pasukan Naga Laut," Han berbisik, suaranya tercekat oleh batuk kering yang mulai menyerang paru-parunya.
Li Wei berhenti sejenak, menyentuh luka di bahunya yang terasa berdenyut selaras dengan detak jantungnya. "Itu Unit Penegak disiplin dari markas pusat. Zhao Kun tidak mau mengambil risiko ada saksi mata yang tersisa dari kegagalan gas saraf ini. Mereka datang untuk memastikan pembersihan total."
"Jadi kita benar-benar dibuang?" Han tertawa pahit, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam di tengah sunyinya parit. "Setelah semua yang kita berikan untuk Kekaisaran? Setelah klan Anda hancur demi membela perbatasan ini?"
"Jangan bicara lagi, Han. Simpan oksigenmu," potong Li Wei tajam. Ia menarik Bailong-Jian dari sarungnya. Pendar biru pada bilah pedang itu tampak redup, bereaksi terhadap ketidakstabilan energi Neuro-Sync dalam tubuh Li Wei. "Kita harus mencapai kaki menara dalam lima menit atau cahaya dari langit itu akan menemukan kita di tempat terbuka."
Mereka merayap melewati tumpukan rongsokan robot pemanen yang telah hancur. Bau logam terbakar dan daging hangus menyerang indra penciuman mereka begitu filter udara mencapai batas saturasi. Di depan mereka, sebuah kawah besar bekas hantaman artileri menghalangi jalur utama.
"Komandan, lihat langit!" seru Han sambil menunjuk ke atas.
Awan jelaga yang menggantung rendah tiba-tiba tersibak oleh lingkaran cahaya putih yang sangat terang. Itu adalah Ion-Cannon dari satelit orbital yang sedang melakukan kalibrasi akhir. Suara dengung statis di udara membuat rambut-rambut di tengkuk Li Wei berdiri. Tekanan atmosfer di sekitar mereka meningkat drastis, menandakan serangan akan jatuh dalam hitungan detik.
"Lompat ke dalam kawah!" teriak Li Wei.
Ia mendorong tubuh Han masuk ke dalam lubang sedalam tiga meter tepat saat pilar cahaya murni menghantam tanah beberapa puluh meter di belakang mereka. Gelombang kejutnya melemparkan tubuh Li Wei hingga menghantam dinding beton. Pandangannya seketika memutih. Telinganya berdenging hebat, menggantikan semua suara badai dengan kesunyian yang menyakitkan.
"Komandan! Li Wei! Bangun!"
Li Wei merasakan guncangan di bahunya. Ia membuka mata dan melihat Han sedang berusaha menyeretnya ke bagian kawah yang lebih dalam. Visor helmnya retak parah, menyisakan celah sempit yang membuat udara beracun masuk tanpa filter.
"Aku... aku tidak apa-apa," desis Li Wei, meskipun rasa mual hebat mengaduk perutnya. Ia memaksakan diri untuk duduk, merasakan cairan hangat merembes dari telinganya. "Status menara?"
"Kita sudah di kakinya. Tapi lihat ke atas sana," Han menunjuk ke puncak Menara Sinyal yang menjulang miring di atas mereka.
Li Wei menyesuaikan fokus optik pada matanya yang mulai kabur. Di puncak menara yang terbungkus badai petir statis, ia melihat sosok itu lagi. Seorang wanita, berdiri dengan tenang di tengah terpaan angin kencang yang sanggup menggulingkan kendaraan lapis baja. Wanita itu memegang sebuah perangkat yang memancarkan gelombang ungu—frekuensi jammer yang membuat radar satelit kehilangan kunci presisi pada posisi mereka.
"Dia yang mengacaukan bidikan satelit itu," bisik Li Wei. "Tanpa sabotase darinya, kita sudah menjadi debu di kawah tadi."
"Dia musuh, Komandan. Lihat lambang di jubahnya. Dia dari Naga Laut," Han mengokang senjatanya dengan tangan gemetar.
Li Wei menahan laras senapan Han. "Jika dia musuh yang ingin kita mati, dia cukup membiarkan radar itu tetap aktif. Dia sedang melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang faksi. Dia mengkhianati perintahnya sendiri, sama seperti aku hari ini."
"Lalu apa rencana kita? Menunggu di sini sampai Unit Penegak menemukan kita?"
Li Wei berdiri dengan susah payah, menggunakan Bailong-Jian sebagai tongkat. Ia menatap boneka kain yang menyembul dari saku taktisnya, lalu menatap ke puncak menara. "Aku akan naik ke sana. Aku harus tahu siapa dia dan kenapa dia melakukan ini."
"Saya ikut," tegas Han.
"Tidak. Kau tetap di sini, amankan pintu masuk bawah. Jika Unit Penegak datang, gunakan granat asap terakhirmu untuk memancing mereka ke arah parit timur. Jangan terlibat kontak fisik, kau tidak akan menang melawan Neuro-Sync Level 3 mereka."
"Tapi Komandan—"
"Ini perintah, Sersan. Jika aku tidak turun dalam sepuluh menit, larilah ke zona netral. Jangan kembali ke markas. Jangan pernah," Li Wei menatap mata Han dalam-dalam, sebuah tatapan yang menyampaikan perpisahan lebih jelas daripada kata-kata.
Li Wei mulai mendaki tangga darurat menara yang sudah berkarat. Setiap gerakan mengirimkan rasa sakit ke bahunya, namun ia terus memacu sarafnya. Di bawah sana, ia bisa mendengar suara mesin pendorong Unit Penegak yang mulai mendekat. Dunia di bawahnya perlahan mengecil, digantikan oleh hamparan kabut hijau yang menutupi ribuan nyawa yang baru saja dikorbankan.
Ketika ia mencapai platform utama, angin menderu seperti suara ribuan hantu yang berteriak. Di hadapannya, wanita itu berbalik. Rambut gelapnya berkibar, menyingkap wajah yang dingin namun memiliki sepasang mata yang memancarkan kecerdasan tajam. Di tangannya, sebuah pedang melengkung dengan pendar ungu bersinar menantang kegelapan.
"Kau bertahan hidup lebih lama dari yang kuprediksi, Perwira Kekaisaran," ucap wanita itu. Suaranya terdengar jernih di tengah badai, seolah angin tunduk pada kehadirannya.
Li Wei mengangkat pedangnya, meskipun lengannya terasa seberat timah. "Siapa kau? Dan kenapa kau menyabotase radar faksimu sendiri?"
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mengandung kehangatan. "Namaku adalah sesuatu yang tidak perlu kau ketahui sebelum kau memutuskan apakah kau masih seorang prajurit atau hanya mayat yang berjalan. Tapi satu hal yang pasti, langit sedang mengawasimu, Li Wei."
Tepat saat itu, alarm pada zirah Li Wei berbunyi nyaring. Penguncian orbital kedua telah dimulai. Kali ini, tidak akan ada asap uap yang bisa menyembunyikan mereka.
Li Wei menatap wanita itu, lalu menatap pedangnya. Di puncak menara yang miring ini, di tengah pengkhianatan dan kehancuran, ia menyadari bahwa perang yang selama ini ia jalani hanyalah sebuah salinan yang salah dari kebenaran yang lebih gelap.