Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan di Atas Laut
Lima hari telah berlalu sejak Going Merry diperbaiki dan kami meninggalkan pulau kecil tempat pertarungan dengan Mr. 1. Lima hari yang kugunakan untuk berlatih tanpa henti.
Setiap pagi, aku bangun sebelum matahari terbit. Setiap pagi, aku berlatih di dek kapal—menembakkan jaring, mengembangkan teknik baru, mencoba merasakan sesuatu yang lebih dalam dari Spider Sense.
Haki.
Aku tahu Haki ada. Aku tahu aku punya potensinya. Tapi bagaimana cara mengaktifkannya?
Pagi ini, aku berdiri di dek depan dengan mata tertutup. Napas ku teratur. Konsentrasi penuh.
"Observation Haki," gumamku pelan. "Kemampuan untuk merasakan kehadiran orang lain, niat mereka, bahkan memprediksi gerakan mereka."
Spider Sense ku sudah mirip dengan Observation Haki tingkat dasar. Tapi itu bukan Haki yang sesungguhnya—itu hanya instink bahaya dari Spider Fruit.
"Aku harus melampaui Spider Sense," pikirku sambil fokus. "Aku harus merasakan lebih dari sekedar bahaya. Aku harus merasakan... keberadaan."
Aku merentangkan kesadaranku, mencoba merasakan lingkungan sekitar tanpa menggunakan mata atau telinga.
Di kabin, aku merasakan... sesuatu. Kehadiran yang hangat. Luffy. Dia sedang tidur.
Di dapur, kehadiran lain. Sanji. Dia sedang menyiapkan sarapan.
Di ruang latihan, kehadiran yang tajam dan intens. Zoro. Dia sedang latihan pedang.
"Aku... aku bisa merasakan mereka," gumamku dengan excitement. "Ini... ini langkah pertama Observation Haki!"
Tapi saat aku membuka mata, sensasi itu hilang. Aku hanya bisa merasakannya saat mata tertutup dan konsentrasi penuh.
"Belum cukup," gumamku sambil mengepalkan tangan. "Aku harus bisa menggunakannya dalam pertarungan, bukan hanya saat konsentrasi."
"Berlatih Haki?"
Aku menoleh dan melihat Zoro berjalan mendekat dengan handuk di leher—dia habis latihan.
"Ya," jawabku sambil mengangguk. "Aku mencoba mengaktifkan Observation Haki. Aku bisa merasakan kehadiran kalian saat konsentrasi penuh, tapi begitu aku buka mata atau ada distraksi, sensasinya hilang."
Zoro tersenyum. "Itu sudah bagus untuk pemula. Haki butuh latihan konstan. Semakin sering kau menggunakannya, semakin natural jadinya."
"Kau sudah bisa pakai Haki?" tanyaku penasaran.
"Belum sepenuhnya," jawab Zoro sambil menatap pedangnya. "Tapi aku mulai merasakan sesuatu. Saat bertarung dengan Mr. 1, ada momen di mana aku bisa merasakan 'napas' dari baja—seperti ada irama dalam setiap material. Aku belum bisa memotong baja, tapi aku tahu aku di jalur yang benar."
"Napas dari material..." gumamku sambil menatap tanganku. "Menarik. Kalau aku bisa merasakan 'napas' dari jaring ku, mungkin aku bisa membuatnya lebih kuat."
"Coba saja," kata Zoro sambil duduk bersandar di railing. "Tapi jangan terlalu memaksakan diri. Haki itu seperti otot—kalau kau latih terlalu keras tanpa istirahat, kau malah cedera."
Sebelum aku bisa menjawab, suara teriakan Luffy terdengar dari kabin.
"SANJI! MAKANAN! AKU LAPAR!"
"SABAR, BODOH! MAKANANNYA BELUM SIAP!" Sanji berteriak balik dari dapur.
Kami berdua tersenyum mendengar interaksi khas mereka.
"Ayo sarapan," kata Zoro sambil berdiri. "Kau sudah latihan dari subuh. Tubuhmu butuh energi."
"Kau benar," jawabku sambil mengikuti Zoro ke ruang makan.
Di ruang makan, semua orang sudah berkumpul. Sanji menyajikan sarapan—telur, roti, daging, dan buah segar. Luffy langsung melahap makanan dengan kecepatan luar biasa.
"LUFFY! JANGAN MAKAN SERAKAH!" Nami menggebrak kepala Luffy.
"Tapi aku lapar~" Luffy cemberut sambil tetap mengunyah dengan mulut penuh.
Usopp menceritakan kisah heroiknya yang jelas dibuat-buat. Vivi tersenyum tipis—meskipun kekhawatirannya tentang Alabasta masih terlihat jelas. Robin duduk di sudut dengan secangkir kopi, membaca buku seperti biasa.
Aku duduk di samping Zoro dan mulai makan.
"Kenji," Nami tiba-tiba memanggil ku. "Bagaimana latihanmu? Aku melihatmu berlatih setiap pagi sejak lima hari lalu."
"Berkembang," jawabku sambil tersenyum. "Aku mulai bisa merasakan Observation Haki tingkat dasar. Tapi masih jauh dari sempurna."
"Observation Haki?" Usopp mata berbinar. "Itu kemampuan untuk melihat masa depan kan?!"
"Bukan melihat masa depan," koreksi Zoro. "Itu level advanced. Observation Haki tingkat dasar hanya bisa merasakan kehadiran dan niat orang lain."
"Ohh..." Usopp mengangguk seperti mengerti—meskipun jelas dia tidak sepenuhnya mengerti.
Vivi menatapku dengan serius. "Kenji-san, apa kau... apa kau benar-benar yakin ingin bertarung melawan Crocodile? Dia Shichibukai. Bahkan dengan Haki, dia tetap musuh yang sangat berbahaya."
"Aku tahu," jawabku sambil menatap balik dengan tekad. "Tapi aku tidak akan mundur. Kalian semua adalah nakama ku. Dan aku akan melindungi nakama ku, tidak peduli seberapa kuat musuhnya."
Vivi tersenyum—senyuman yang campur sedih dan lega. "Terima kasih, Kenji-san. Kalian semua... kalian terlalu baik padaku."
"Jangan bilang begitu, Vivi-chan!" Sanji langsung di sampingnya dengan mata hati. "Kami melakukan ini bukan karena baik hati—kami melakukan ini karena kau adalah nakama kami!"
"Sanji benar," Luffy tersenyum lebar. "Kau nakama kami, Vivi. Dan aku akan hajar Crocodile untuk mu!"
Vivi tidak bisa menahan air mata lagi. Dia menangis—tapi kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan dan rasa syukur.
Nami memeluknya, menghibur dengan lembut.
Aku tersenyum melihat pemandangan ini. Ini adalah Kru Topi Jerami—kacau, tidak teratur, tapi punya ikatan yang lebih kuat dari apapun.
Setelah sarapan, aku kembali ke dek untuk melanjutkan latihan. Kali ini, aku fokus pada aspek lain—Armament Haki.
"Armament Haki," gumamku sambil menatap tanganku. "Kemampuan untuk memperkuat tubuh atau senjata, membuatnya sekeras baja, bahkan bisa menyentuh pengguna Logia."
Dalam cerita asli, Armament Haki digambarkan sebagai "armor tak terlihat" yang melapisi tubuh atau senjata. Saat digunakan dengan intensitas tinggi, warnanya berubah hitam—disebut "Hardening".
"Kalau aku bisa melapisi jaring ku dengan Armament Haki..." pikirku dengan excitement. "Jaring ku akan menjadi tidak terpotong. Bahkan bisa melukai Logia seperti Crocodile!"
Tapi bagaimana cara mengaktifkannya?
Aku mencoba mengingat penjelasan dari manga dan anime. Armament Haki berasal dari "keinginan kuat untuk melindungi atau menyerang". Itu seperti kekuatan kehendak yang dimanifestasikan menjadi kekuatan fisik.
Aku menutup mata dan berkonsentrasi. Aku membayangkan jaring ku—membayangkan mereka menjadi lebih kuat, lebih keras, tidak dapat dihancurkan.
Aku menembakkan jaring ke tiang kapal.
Jaring itu terlihat... sama seperti biasa. Tidak ada perubahan warna, tidak ada perubahan kekuatan.
"Tidak berhasil," gumamku dengan frustrasi.
Aku mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Sejam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Tidak ada perubahan.
"Sial!" aku meninju railing kapal dengan frustrasi. "Kenapa tidak bisa?! Aku sudah mencoba berkonsentrasi, membayangkan jaring yang lebih kuat, tapi tidak ada yang terjadi!"
"Karena kau terlalu berpikir."
Aku menoleh dan melihat Robin berdiri di belakangku dengan buku di tangan.
"Robin," aku menyapanya. "Maksudmu?"
Robin berjalan mendekat dan berdiri di sampingku, menatap laut. "Haki bukan tentang berpikir, Kenji-kun. Haki tentang merasakan. Kau tidak bisa memaksa Haki keluar dengan konsentrasi atau imajinasi. Kau harus merasakannya—merasakan aliran energi dalam tubuhmu, lalu mengarahkannya."
"Merasakan aliran energi..." gumamku sambil merenungkan kata-katanya.
"Coba ini," Robin menatapku. "Tutup matamu. Jangan berpikir tentang jaring atau Haki. Hanya rasakan tubuhmu. Rasakan darah yang mengalir, jantung yang berdetak, napas yang masuk dan keluar. Rasakan energi hidup dalam dirimu."
Aku mengikuti instruksinya. Menutup mata. Bernapas teratur.
Dan aku merasakan... sesuatu.
Seperti aliran hangat di dalam tubuhku. Mengalir dari jantung ke seluruh tubuh. Energi vital yang selalu ada tapi tidak pernah kusadari.
"Aku... aku merasakannya," bisikku.
"Bagus," kata Robin dengan lembut. "Sekarang, tanpa membuka mata, tanpa berpikir—arahkan energi itu ke tanganmu. Jangan paksa, biarkan dia mengalir dengan natural."
Aku mencoba mengarahkan aliran hangat itu ke tanganku.
Perlahan, sangat perlahan, aku merasakan energi itu bergerak. Dari jantung, ke bahu, ke lengan, ke tangan.
Dan tiba-tiba—
Tanganku terasa... berbeda. Lebih berat. Lebih kuat. Seperti ada lapisan tak terlihat yang melapisinya.
"Buka matamu," kata Robin.
Aku membuka mata dan melihat—
Tanganku dilapisi warna hitam tipis! Hanya sesaat, lalu menghilang. Tapi itu ada!
"AKU BERHASIL!" teriakku dengan excitement. "Aku berhasil mengaktifkan Armament Haki!"
Robin tersenyum. "Hanya sekilas, dan masih sangat lemah. Tapi itu langkah pertama. Terus latih sampai kau bisa mengaktifkannya tanpa harus konsentrasi penuh."
"Terima kasih, Robin!" aku menatapnya dengan mata berbinar. "Tanpamu, aku tidak akan menemukan caranya!"
"Sama-sama, Kenji-kun," Robin tersenyum lembut—senyuman yang jarang terlihat di wajahnya yang biasanya dingin.
Aku langsung kembali berlatih dengan semangat baru. Kali ini, aku tahu caranya. Aku hanya perlu melatihnya sampai menjadi natural.
Aku mencoba lagi—menutup mata, merasakan aliran energi, mengarahkannya ke tanganku.
Warna hitam muncul lagi di tanganku—kali ini sedikit lebih lama, sekitar dua detik, sebelum menghilang.
"Lebih baik!" gumamku. "Terus latih!"
Aku terus berlatih. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali, durasi Hardening sedikit lebih lama. Setiap kali, warnanya sedikit lebih gelap.
Saat matahari mulai terbenam, aku sudah bisa mempertahankan Armament Haki di tanganku selama sepuluh detik.
"Sepuluh detik," gumamku sambil tersenyum puas. "Masih jauh dari sempurna, tapi... ini progress yang luar biasa."
Luffy tiba-tiba muncul di sampingku dengan mata berbinar. "KENJI! APA ITU?! TANGANMU JADI HITAM!"
"Armament Haki," jawabku sambil tersenyum. "Aku baru belajar mengaktifkannya."
"SUGOIIII!" Luffy berteriak excited. "AJARI AKU JUGA!"
Aku tertawa. "Baiklah, tapi kau harus sabar. Ini butuh konsentrasi dan latihan yang banyak."
"Oke!" Luffy langsung duduk dengan pose serius—yang langka untuknya.
Aku mengajari Luffy cara yang diajarkan Robin padaku. Merasakan aliran energi, mengarahkannya, membiarkannya mengalir natural.
Tapi Luffy... Luffy tidak bisa diam. Dia terus bergerak, terus bicara, tidak bisa fokus.
"LUFFY! KAU HARUS DIAM DAN KONSENTRASI!" teriakku dengan frustrasi.
"Tapi aku tidak bisa diam~" Luffy cemberut.
Aku menghela napas. "Baiklah, mungkin metode yang berbeda untuk mu..."
Malam turun. Kami semua berkumpul di ruang makan untuk makan malam. Suasana hangat dan ceria—Luffy masih berusaha mengaktifkan Haki meskipun gagal terus, Usopp menceritakan kisah heroik lagi, Sanji memasak dengan passion.
Tapi di tengah kegembiraan itu, Nami tiba-tiba berdiri dengan wajah serius.
"Semua, dengarkan," katanya sambil memegang Eternal Pose. "Menurut perhitunganku, besok sore kita akan tiba di perairan Alabasta. Dan besok malam, kita akan berlabuh di Nanohana—kota pelabuhan di Alabasta."
Semuanya langsung hening.
Alabasta.
Tempat di mana Crocodile menunggu.
Tempat di mana perang sipil sudah di ambang pintu.
Tempat di mana pertarungan terbesar kami akan dimulai.
Vivi menunduk dengan tangan gemetar. "Akhirnya... akhirnya aku pulang..."
Luffy berdiri dan menaruh tangannya di bahu Vivi. "Jangan khawatir, Vivi. Kami akan menghentikan perang. Kami akan hajar Crocodile. Dan kami akan menyelamatkan Alabasta. Aku janji."
Vivi menatap Luffy dengan mata berkaca-kaca, lalu mengangguk dengan tekad. "Ya. Mari kita selamatkan negaraku."
Kami semua saling pandang—Luffy, Zoro, Sanji, Nami, Usopp, aku, dan Robin yang duduk di sudut.
Ini adalah saat yang menentukan.
Besok, kami akan memasuki Alabasta.
Dan pertarungan sesungguhnya akan dimulai.