NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Satu atap dengan pak Dosen

Pintu ruang perawatan terbuka dengan sentakan pelan. Dimas masuk dengan napas memburu, wajahnya yang biasanya tenang kini diliputi kecemasan yang nyata. Namun, langkah tegapnya mendadak terkunci di lantai rumah sakit yang dingin saat pandangannya jatuh pada ranjang di samping ibunya.

"Zora?" gumam Dimas. Suaranya rendah, antara tidak percaya dan terkejut.

Zora, yang sedang bersandar lemah dengan kaki terbalut gips putih yang kontras dengan kulitnya, ikut terpaku. "Pak... Dimas?"

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Tatapan mereka bertemu,satu penuh kekhawatiran yang asing, satu lagi penuh kebingungan.

"Kalian... sudah saling kenal?" tanya Bu Lastri, memecah kesunyian. Matanya yang cerdik beralih dari wajah putranya yang tampak kaku ke arah Zora yang mendadak salah tingkah.

Dimas berdehem, mencoba menguasai diri dan kembali ke mode 'Dosen Dingin'-nya. Ia mendekat ke ranjang ibunya terlebih dahulu, memeriksa memar di kaki Bu Lastri, namun matanya tak bisa berhenti melirik ke arah Zora.

"Dia pernah jadi mahasiswi saya , Bu. Kenapa... kenapa dia bisa ada di sini dengan kondisi seperti itu?" tanya Dimas, nada bicaranya mencoba datar namun ada getaran protektif yang tak bisa ia sembunyikan.

"Gadis luar biasa ini yang menyelamatkan nyawa Ibu, Dim!" seru Bu Lastri dengan suara emosional. "Kalau bukan karena Zora yang menerjang motor itu, mungkin kamu sudah melihat Ibu di kamar jenazah sekarang."

Dimas mematung. Ia menoleh perlahan ke arah Zora. Gadis yang beberapa hari lalu ia kagumi ketajaman bisnisnya, kini terbaring tak berdaya karena menyelamatkan nyawa orang paling berharga dalam hidupnya. Ada sesuatu yang bergejolak di dada Dimas,rasa bersalah, kagum, dan sebuah getaran aneh yang belum pernah ia rasakan bahkan untuk Kanaya sekalipun.

Zora tersenyum canggung, mencoba merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Saya hanya kebetulan lewat, Pak. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama."

"Tidak semua orang berani mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing, Zora," balas Dimas lembut, suaranya kini melunak, selembut beludru. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke ranjang Zora, menatap gips di kakinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Bu Lastri terdiam, memperhatikan interaksi itu dengan senyum yang disembunyikan di balik raut wajah letihnya. Ia menangkap kilat yang berbeda di mata putranya,tatapan yang jauh lebih "hidup" daripada saat Dimas menceritakan tentang Kanaya.

Dosen dan mahasiswi? Penyelamat nyawa ibunya? Bu Lastri membatin. Benang merah ini terlalu sempurna untuk dilewatkan.

"Dimas, urus pendaftaran dan obat Zora. Jangan sampai ada satu pun yang terlewat. Dia luka gara-gara Ibu," perintah Bu Lastri dengan nada mutlak.

"Tanpa Ibu suruh pun, saya akan melakukannya," jawab Dimas cepat. Terlalu cepat, hingga ia sendiri terkejut dengan reaksinya.

Zora tertunduk, menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya. Sementara itu, Bu Lastri bersandar di bantalnya, memandangi langit-langit rumah sakit dengan rencana yang mulai tersusun rapi di kepalanya.

Tunggu saja, Dimas. Ibu akan membuatmu menyadari bahwa jodohmu tidak jauh-jauh dari depan mata. Kali ini, Ibu tidak akan membiarkanmu melepaskan berlian seperti dia.

***

Keputusan sudah bulat. Dengan dalih tanggung jawab penuh dan perintah mutlak Bu Lastri yang tak bisa dibantah, Zora akhirnya "dievakuasi" ke rumah pribadi Dimas. Zora sempat menolak, namun kalimat Bu Lastri telanjur mengunci harga dirinya: "Ibu tidak akan bisa tidur tenang kalau penyelamat nyawa Ibu telantar di kosan sendirian dengan kaki patah."

Dimas memindahkan Zora ke kamar tamu yang letaknya tepat di sebelah kamarnya. Kamar yang selama bertahun-tahun kosong dan dingin, kini mendadak terasa hidup karena aroma shampoo mawar milik Zora yang samar-samar tercium hingga ke koridor.

Malam itu, hujan turun membasahi bumi. Bu Lastri tersenyum misterius di balik pintu kamarnya. Ia sengaja mengeluh sakit pinggang dan meminta Dimas untuk mengantarkan susu hangat serta kompres untuk Zora.

"Dim, Zora belum minum obat malamnya. Ibu sudah tidak kuat berdiri. Tolong, ya?" pinta Bu Lastri dengan akting yang sempurna.

Dimas menghela napas, membawa nampan kayu itu dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Ia mengetuk pintu kamar Zora pelan. Tak ada jawaban. Dengan ragu, ia memutar kenop pintu.

Di dalam, Zora tampak sedang berjuang. Ia berusaha meraih tongkat penyangganya yang terjatuh di lantai, namun keseimbangannya goyah. Tubuh Zora miring ke depan, hampir saja mencium lantai jika Dimas tidak bergerak secepat kilat.

Sret!

Dimas menangkap pinggang Zora dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menahan berat tubuh gadis itu agar tidak menghantam sisi tempat tidur. Jarak mereka kini hilang. Napas Dimas yang hangat menerpa kening Zora, dan jemari Zora secara refleks meremas kemeja Dimas untuk mencari pegangan.

Waktu seolah membeku. Dimas bisa melihat pantulan dirinya di manik mata Zora yang jernih dan sedikit ketakutan. Untuk pertama kalinya, Dimas tidak melihat Zora sebagai mahasiswi yang tekun, melainkan sebagai seorang wanita yang sangat rapuh namun cantik.

"Hati-hati," bisik Dimas. Suaranya serak, memenuhi ruang sempit di antara mereka.

Tangan Dimas masih melingkar protektif di pinggang Zora, seolah enggan melepaskan. Sementara Zora, entah mengapa, merasa jantungnya berpacu lebih cepat dari kecepatan motor yang menabraknya tadi siang.

Tepat saat suasana berubah menjadi sangat intim dan menyesakkan...

"ASTAGA! Dimas! Zora!"

Suara pekikan Bu Lastri yang tiba-tiba muncul di ambang pintu membuat keduanya tersentak hebat.

Dimas langsung menarik tangannya, namun karena gerakan yang terlalu mendadak, ia justru tersandung kaki gips Zora. Tubuhnya oleng ke depan, dan dalam sepersekian detik, Dimas jatuh menindih Zora di atas ranjang dengan posisi yang jauh lebih memalukan.

Bu Lastri menutup mulut dengan kedua tangan, matanya membelalak lebar,namun jika diperhatikan lebih dekat, ada binar kemenangan di sana.

"I-Ibu! Ini tidak seperti yang Ibu lihat!" seru Dimas panik, wajahnya memerah hingga ke telinga.

"Ibu tidak melihat apa-apa! Ibu cuma melihat kalian... sudah sangat akrab!" sahut Bu Lastri sambil buru-buru menutup pintu kembali. "Lanjutkan saja! Ibu tidak akan mengganggu calon menantu!"

BRAK!

Pintu tertutup rapat. Di dalam kamar, Dimas masih terdiam di atas tubuh Zora, hidung mereka nyaris bersentuhan. Zora memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya terasa ingin melompat keluar.

Apa yang akan bu Lastri lakukan lagi agar Dimas dan Zora makin dekat?"tunggu bab berikutnya ya.

Jangan lupa suscribe,like,komentdar dan share.

1
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
suryani duriah
ceritanya baguuus👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!