Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biaya Pengobatan
Setelah para preman itu satu per satu dimuat ke dalam mobil polisi, dengan tangan diborgol dan wajah penuh ketakutan, Tito Sulistyo berdiri di samping kendaraan dinas sambil menatap Fauzan Arfariza dengan sorot mata penuh tanda tanya. Deru mesin masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma besi panas dan debu jalanan yang belum sepenuhnya mengendap.
“Kapten Fatimah,” ucap Tito Sulistyo akhirnya, suaranya ditahan agar tetap formal, “pria ini… sebenarnya siapa bagi Anda?”
Fauzan Arfariza menjawab ringan, seolah pertanyaan itu hanyalah angin lalu yang singgah sesaat. “Oh, aku kakeknya.”
Ucapan itu jatuh seperti batu ke permukaan air tenang. Karaeng Fatimah yang berdiri tak jauh dari sana langsung memelototinya dengan tajam. Sorot matanya dingin, mengandung peringatan yang tak perlu diterjemahkan dengan kata-kata. Fauzan tahu betul, ia baru saja kembali “memanfaatkan” situasi, dan perempuan itu tidak menyukainya.
“Mobil saya hancur,” kata Karaeng Fatimah dengan suara tegas dan dingin, “dan ada begitu banyak orang yang harus diproses hari ini. Kau bisa kembali sendiri.”
Nada suaranya bukan sekadar perintah, melainkan penutup yang tak memberi ruang untuk tawar-menawar.
“Baiklah,” jawab Fauzan singkat.
Ia membuka pintu mobil yang ringsek di satu sisi, lalu mengeluarkan barang-barangnya satu per satu: panci, wajan, tas kain berisi peralatan pengobatan, dan beberapa bungkusan obat herbal. Gerakannya tenang, tanpa keluhan, seolah dunia di sekelilingnya hanyalah latar yang tak penting.
Fauzan tidak berniat tinggal lebih lama di dekat Karaeng Fatimah. Ia sadar, bila perempuan itu sampai menyadari bahwa para preman tadi sebenarnya mengincarnya, maka badai yang datang setelah ini bisa jauh lebih berbahaya. Dengan langkah mantap, ia berjalan menjauh, menuju arah sekolah, punggungnya tegak meski bahunya memikul beban yang tak ringan.
Di dalam sebuah SUV hitam yang terparkir tak jauh dari lokasi, Romy Tampubolon duduk kaku di kursi penumpang. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek. Adegan barusan benar-benar berada di luar bayangannya. Polisi memang datang, tetapi bukan untuk menangkap Fauzan Arfariza, melainkan justru menyeret semua orang yang telah ia sewa dengan uang besar.
Pria bertubuh besar yang dijuluki Cobra menghantam sandaran kursi dengan kepalan tangan. “Romy Tampubolon!” teriaknya marah. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sepupumu malah menangkap semua anak buahku?”
Romy tergagap, kata-katanya tersendat seperti roda yang terjebak lumpur. “Aku… aku juga tidak tahu. Ini… ini tidak sesuai rencana.”
Cobra mencondongkan tubuhnya ke depan, wajahnya merah padam. “Aku beri tahu kau, Romy. Kalau hari ini juga anak buahku tidak keluar dari kantor polisi, urusanku denganmu belum selesai!”
Saat Cobra masih meluapkan amarahnya, Karaeng Fatimah menoleh sekilas ke arah SUV itu. Tatapannya hanya sepersekian detik, namun cukup untuk membuat darah Cobra terasa membeku di pembuluhnya.
Begitu ia mengenali wajah perempuan itu, jantungnya nyaris berhenti berdetak. Karaeng Fatimah. Wakil Kapten Tim Polisi Kriminal. Putri dari Keluarga Karaeng yang namanya di Kota Jakarta bagaikan gunung yang menjulang, tak tersentuh dan menakutkan.
Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun. Ia baru saja membiarkan anak buahnya mengepung Nona Muda Keluarga Karaeng. Itu bukan lagi kesalahan biasa, melainkan kesalahan yang bisa menghabisi seluruh hidupnya. Di Kota Jakarta, Keluarga Karaeng mampu menghancurkan seseorang hanya dengan satu isyarat.
Seandainya ia tahu sejak awal, jangankan dua ratus juta Rupiah, bahkan dua triliun pun tak akan cukup untuk membuatnya menerima pekerjaan ini. Uang tak ada artinya jika nyawa tak lagi bisa dipertahankan.
Amarah Cobra memuncak, berubah menjadi kegilaan. Ia mencengkeram kerah baju Romy Tampubolon dengan kasar. “Dasar kau tak berguna! Beraninya kau menyeretku ke masalah sebesar ini? Kau tahu tidak siapa perempuan itu? Kau hampir membuatku mati!”
Romy berusaha melepaskan cengkeraman itu, wajahnya memucat. “Aku benar-benar tidak tahu, Kak. Siapa sangka Nona Muda Keluarga Karaeng akan berkeliling dengan mobil tua yang rusak?”
“Aku tidak peduli!” Cobra membentak. “Semua ini berawal darimu. Kau harus mengeluarkan semua anak buahku hari ini juga, dan kau harus memberiku sepuluh miliar Rupiah sebagai kompensasi.”
“Sepuluh miliar?” Romy terperangah. Meski keluarganya berada, angka itu tetap terasa menyesakkan. “Bukankah itu terlalu banyak?”
Tangan Cobra melayang, menampar wajah Romy tanpa ampun. “Terlalu banyak? Omong kosong! Aku telah menyinggung Keluarga Karaeng. Sepuluh miliar bahkan mungkin tidak cukup. Kalau kurang satu Rupiah pun, aku akan memastikan kau menyesal seumur hidup.”
Mengingat reputasi kejam Cobra, Romy segera mengangguk panik. “Baik… baik. Aku akan berikan. Pasti.”
Dalam hati, kebenciannya pada Fauzan Arfariza membara. Ia tak habis pikir, keberuntungan macam apa yang dimiliki pria itu hingga bisa terlibat begitu dalam dengan Keluarga Karaeng.
Sementara itu, di kediaman Keluarga Karaeng, suasana jauh lebih tenang, namun sarat dengan perhitungan. Setelah Sanro Maega meninggalkan rumah itu, Karaeng Araba menatap ayahnya, Karaeng Galesong, dengan raut berpikir.
“Ayah,” katanya pelan, “hari ini kita lupa satu hal. Kita belum memberikan biaya konsultasi kepada Dokter Fauzan.”
Karaeng Galesong tersenyum tipis. “Ayahmu belum setua itu hingga mudah lupa.”
“Lalu maksud Ayah?”
Karaeng Galesong menatap jauh ke depan, seolah menembus dinding dan melihat masa depan. “Sepanjang hidupku, aku bertemu banyak orang. Namun orang seperti Fauzan Arfariza… jarang. Dia akan mencapai hal-hal besar. Menyelamatkan nyawaku hari ini bukan sekadar peristiwa, melainkan kesempatan bagi Keluarga Karaeng.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara mantap. “Jika kita hanya memberinya uang, itu terlalu dangkal. Kita harus memberi sesuatu yang membuatnya merasakan ketulusan kita. Biaya konsultasi ini harus berbeda.”
Karaeng Araba mengangguk, mulai memahami. “Apa yang Ayah sarankan?”
“Hadiah adalah seni,” jawab Karaeng Galesong. “Berikan apa yang paling ia butuhkan. Itu baru bermakna.”
“Baik, Ayah. Aku akan menyelidikinya.”
Di sisi lain kota, Fauzan Arfariza sama sekali tidak mengetahui percakapan itu. Ia merasa hari masih terlalu awal untuk kembali ke asrama. Dengan peralatan memasak dan obat herbal di tangannya, ia melangkah menuju sebuah hotel bintang lima. Tempat itu lebih tenang, lebih cocok untuk meracik Obat Herbal yang membutuhkan konsentrasi dan Energi Vital yang stabil.
Ia baru saja memasuki kamar ketika ponselnya berdering. Nomor asing, berakhiran tiga delapan.
“Siapa ini?” tanyanya.
“Aku Natasya Dermawan.”
Nama itu membuat jantung Fauzan berdegup kencang. “Natasya? Di mana kau? Kenapa kau menghilang?”
Nada di seberang sana dingin, tanpa kehangatan yang ia kenal. “Kau tidak perlu tahu. Aku menelepon untuk mengatakan bahwa kita putus.”
Kata-kata itu bagai hujan es menghantam dadanya. “Kenapa? Bukankah harus ada alasan?”
“Tentu ada,” jawab Natasya sinis. “Lihat nomor ini? Ponsel baru, nomor cantik. Ir. Herlambang Supriadi yang memberikannya. Kau tahu berapa harganya?”
Fauzan terdiam.
“Aku sudah bersamanya tiga bulan,” lanjut Natasya. “Parfum Chanel, sepatu Prada, tas LV. Seratus juta Rupiah lebih ia habiskan untukku. Apa yang pernah kau berikan?”
“Jadi… ini semua soal uang?” suara Fauzan lirih.
“Benar,” jawabnya tanpa ragu. “Mulai hari ini, jangan pernah mencariku lagi.”
Sambungan terputus. Fauzan berdiri mematung, kamar hotel terasa hampa. Di dadanya, amarah dan luka bercampur, berputar seperti badai yang belum menemukan jalan keluar. Namun di balik itu semua, Energi Vital dalam dirinya bergetar pelan, seolah menandai awal dari perubahan besar yang akan datang.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT