NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Untuk Masa Depan

Sementara itu, Mardi mampir ke Toko Mas 'Binar Jaya'.

Ia membeli sepasang suweng kecil.

Sisa uangnya ia belikan nasi padang lauk rendang, makanan mewah yang jarang ia bawa pulang.

Mardi berlari tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah panggung kayu itu.

Napasnya memburu.

Bapak dan Ibunya, Pak Mujiono dan Bu Mujiati, menatapnya dengan pandangan dingin.

"Pak, Bu, tolonglah percaya sama Mardi sekali ini aja. Sumpah, Pak, kali ini Mardi nggak bohong! Demi Allah!" Mardi memohon dengan wajah memelas, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Marni, istrinya, keluar dari dapur membawa bakul nasi.

Ia meletakkan piring seng dan sendok di depan Mardi tanpa menoleh sedikit pun.

Wajahnya datar, seolah Mardi hanyalah angin lalu. Di sebelahnya, Melati, putri kecil mereka, makan dengan tenang, meski matanya sesekali melirik takut-takut ke arah bapaknya.

Mardi mengambil sendok, tapi ia tak menyentuh nasinya.

Ia justru menegakkan punggung, menatap keluarganya dengan serius.

"Pak, Bu, Marni... dengerin aku dulu. Di Kota Kabupaten, ada dukun cilik... eh, maksudku anak kecil yang sakti mandraguna. Ramalannya cespleng banget."

Mardi mulai menceritakan pengalamannya di pasar kota hari ini.

Awalnya, Pak Mujiono, Bu Mujiati, dan Marni tak acuh.

Namun, saat Mardi bercerita bahwa si "Dewi Kecil" itu menolak meramalnya, perhatian mereka mulai teralihkan.

"Waktu itu aku kesel banget. Mikirnya, mumpung ada orang pinter, masa nggak dimanfaatin? Kalau nggak boleh nanya nomer buntut, ya nanya nasib dagang lah. Aku maksa minta diramal. Kalian tahu apa kata anak kecil itu?"

Suara Mardi bergetar, mengingat momen itu.

Bulu kuduknya meremang.

Marni akhirnya mengangkat wajah, menatap suaminya.

"Dia bilang apa?"

Mardi tersenyum kecut, matanya berkaca-kaca.

"Dia bilang dompetku bolong. Bocor alus. Kalau aku terus-terusan kepala batu, aku bakal melarat sampai nggak punya celana. Dan dia bilang... kamu, Marni. Kamu itu jarum sama benangnya. Kamu yang bisa nambal dompetku. Kalau aku nurut sama kamu, rezeki kita bakal ngalir deres. Dik, Mas ngaku salah. Mas selama ini bajingan. Mas janji mulai sekarang bakal berubah. Mas bakal nurut sama kamu."

Mata Marni memanas.

Hatinya perih sekaligus rindu.

Tapi ia bukan wanita bodoh yang luluh hanya dengan sebaris kata manis. Ia meletakkan sendoknya, menatap Mardi tajam.

"Mas, lambe itu nggak bertulang. Gampang diolak-alik. Kamu bilang mau nurut hari ini, besok bangun tidur lupa lagi. Mas, aku ngomong jujur ya. Kalau Mas nggak berubah juga, mending kita udahan aja. Pulangkan aku ke rumah orang tuaku."

Wajah Mardi pucat pasi, seputih kertas.

"Ti! Jangan ngomong gitu, Ti! Astaghfirullah!"

Pak Mujiono dan Bu Mujiati terkesiap.

Di desa ini, perceraian adalah aib besar.

Tapi melihat kelakuan anak mereka, mereka hanya bisa menghela napas panjang. Tak sampai hati membela.

Anak mereka memang otak bisnisnya jalan, tapi gila judi.

Kalau bukan karena Marni yang pintar mengatur uang belanja dan sabar, mungkin mereka sudah mati kelaparan.

Sawah pusaka hampir saja tergadai kalau Marni tidak menyembunyikan surat tanahnya.

"Kalau Mas mau aku percaya, tanda tangani surat ini."

Marni mengeluarkan secarik kertas segel dari balik kebayanya.

Itu bukan gertakan sambal.

Ia sudah memikirkannya matang-matang. Tadi pagi, saat Mardi nekat pergi ke kota meski sudah dilarang, Marni pergi ke rumah Pak Carik minta dibuatkan surat gugatan cerai di bawah tangan.

Ia tak menyangka Mardi pulang membawa makanan, bukan membawa hutang, dan malah bercerita soal ramalan.

Hati Marni sedikit goyah, tapi luka di hatinya sudah terlalu banyak.

Ini kesempatan terakhir.

Mardi tak menyangka istrinya senekat itu.

Kakinya lemas.

Ternyata ramalan Tari—si bocah sakti itu—benar adanya. Kalau dia tidak berubah, dia akan kehilangan segalanya.

Bruk!

Mardi menjatuhkan dirinya berlutut di lantai papan.

Ia menampar pipinya sendiri dua kali.

Plak! Plak!

"Ti, kasih Mas kesempatan satu kali ini lagi. Mas janji, Ti. Mas nggak bakal nyentuh kartu remi atau dadu lagi. Kita bangun rumah tangga ini bener-bener."

Mardi menoleh ke orang tuanya.

"Pak, Bu, tolong bilangin Marni..."

Tapi orang tuanya memalingkan muka.

"Cap jempol di situ, Mas," suara Marni terdengar dingin namun bergetar.

"Kalau Mas ingkar janji, aku bawa Melati pergi. Aku nggak minta harta gono-gini. Aku cuma mau anakku. Daripada nanti kamu jual dia buat bayar utang judi kayak kata peramal itu, mending aku bawa lari sekarang."

Tangan Marni mengepal kuat di bawah meja.

"Iya... iya, aku cap jempol. Aku cap!"

Sambil menangis sesenggukan, Mardi menekan jempolnya ke bantalan tinta hitam, lalu menempelkannya di atas materai.

Tangannya gemetar hebat saat menyerahkan kertas itu kembali ke Marni.

Marni menerimanya, melipatnya rapi, dan memasukkannya kembali ke balik kebaya.

Wajahnya tetap tenang.

"Udah, bangun. Makan dulu."

Mardi bangkit, menghapus air matanya dengan lengan baju.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan bungkusan kecil berisi kalung emas imitasi yang ia beli di pasar, dan kantong uang hasil dagangannya hari ini.

"Ti, ini... buat kamu. Mas beliin tadi. Terus ini uang modal sama untung hari ini. Kamu yang pegang. Mas nggak usah pegang duit sepeser pun. Kalau Mas macem-macem, Mas bentak kamu, kamu pukul aja Mas. Sadarkan Mas!"

Mardi menyerahkan kantong uang itu.

Dadanya sesak menyerahkan "nyawanya" itu, tapi bayangan hidup menggelandang sendirian tanpa anak istri jauh lebih mengerikan.

Dia ingin punya anak lagi sama Marni. Dia ingin hidup benar.

"Nduk, Marni... percayalah sama suamimu sekali ini lagi ya," bujuk Bu Mujiati akhirnya, suaranya lembut.

Marni menerima kantong uang itu.

Di depan mata Mardi yang penuh harap, ia berkata datar,

"Aku simpan kepercayaan Mas. Kalau Mas mau usaha apa, ngomong sama aku, nanti aku pertimbangkan. Tapi ingat, surat ini ada di tanganku. Sekali Mas melenceng, aku angkat kaki."

Mardi mengangguk cepat seperti ayam mematuk beras.

Keringat dingin membasahi punggungnya.

Untunglah... untunglah hari ini dia mendengarkan nasihat Tari.

Malam itu, Mardi makan dengan perasaan lega yang luar biasa.

Ia mengambilkan sepotong Sate Baso Ikan Goreng—jajanan yang sedang viral di kota—ke piring Marni.

"Makan, Ti. Ini Sate Baso Ikan buatan Mbak Kinar yang lagi laku keras itu. Pedes manis, enak banget."

Ia menyendokkan lauk untuk Melati, lalu untuk Bapak dan Ibunya.

Pak Mujiono menatap anaknya lekat-lekat.

"Mardi, ingat pepatah. Kapok lombok. Pedesnya cuma sebentar, abis itu dimakan lagi. Bapak harap tobatmu bukan tobat sambel."

Mardi mengangguk mantap.

Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.

Sementara itu, di rumah keluarga Hidayat.

Langit sudah mulai gelap, suara jangkrik mulai bersahutan.

Kinar, Mira, dan Kang Jaka baru saja tiba di rumah.

Melihat keluarga Hidayat sudah membagi tugas dengan rapi—ada yang mencuci peralatan, ada yang membersihkan halaman—Kinar merasa tenang.

Ia langsung menuju dapur untuk mengolah daging sapi murah yang ia beli di pasar tadi.

Daging tetelan yang sedikit alot tapi murah meriah.

Sri Lestari, atau yang akrab dipanggil Tari, duduk di bangku kecil (dingklik) sambil memakan beberapa butir anggur.

Melihat Ibunya sibuk mengiris tipis daging itu, Tari tersenyum.

"Bu, kalau dikasih gula merah sama ketumbar agak banyak, rasanya bakal lebih enak nggak? Kayak... manis-manis gurih gitu?"

Kinar menoleh dan tersenyum lembut.

"Nduk, Tari penasaran ya? Gampang, nanti Ibu cobain resepnya. Kita eksperimen."

Kinar memang tipe yang tidak takut mencoba.

Resep Sate Baso Ikan Goreng buatannya pun hasil dari coba-coba, mencampur tepung kanji dengan ikan sungai, lalu membuat dua varian bumbu: bumbu kacang pedas dan bumbu kecap gurih.

Ternyata yang pedas malah jadi rebutan.

"Asyik! Ibu emang paling jago masak sedunia!" seru Tari riang.

Kemudian berlari pergi keluar main dengan teman-temannya.

Matahari mulai terbenam sepenuhnya, digantikan cahaya lampu patromak yang mulai dinyalakan di beranda rumah.

Mira mengajak Tari masuk.

"Ayo Nduk, udah Maghrib. Pamali main di luar. Cuci kaki terus masuk."

Anak-anak lain melambaikan tangan dan berlarian pulang ke rumah masing-masing.

Begitu masuk ke dapur, hidung Tari langsung disambut aroma gurih daging yang sedang disangrai.

"Wah, wangi banget!" Tari langsung berlari ke dekat tungku kayu bakar.

Kinar sedang membuat serundeng daging.

Daging yang sudah dibumbui dan diungkep, kini disangrai bersama parutan kelapa agar awet.

Ini inovasi baru Kinar untuk memaksimalkan daging murah yang ia beli. Sementara itu, adonan baso ikan sudah siap untuk digoreng besok pagi.

Kinar melihat putrinya menelan ludah di samping wajan.

Ia tak tega.

Diambilnya sedikit suwiran daging yang masih panas, ditiupnya sebentar, lalu disuapkan ke mulut Tari.

"Ayo, Nduk, dicicipin. Bismillah."

Tari mengunyah dengan semangat.

Rasa manis gula merah, gurih ketumbar, dan wangi kelapa meledak di mulutnya.

"Enak, Bu! Pedes dikit tapi enak! Cuma..." Tari memegang pipinya. "Agak capek ngunyahnya. Dagingnya nyelip di gigi."

Kinar termenung sejenak.

"Iya ya, Nduk. Dagingnya emang agak alot karena murah. Kasihan kalau buat orang tua atau anak kecil."

Kinar mencatat dalam hati.

Harus cari cara biar lebih empuk.

Malam itu, menu makan malam mereka jauh lebih mewah dari biasanya.

Ada sisa dendeng ragi yang gagal bentuk (terlalu hancur) di piring.

"Lho, Nar, ini kan buat dijual? Kok dimakan?" tanya Mak Sari, ibunda Kinar, merasa sayang.

Baginya, makanan enak itu uang.

"Nggak apa-apa, Mak. Ini belum sempurna. Kalau dijual takut ngecewain pelanggan. Lagian, sebulan lagi kan panen raya. Kang Jaka butuh tenaga ekstra. Anggap aja gizi tambahan," jawab Kinar sambil menyendokkan nasi untuk ayahnya, Abah Kosasih.

Abah Kosasih yang baru pulang dari langgar tersenyum bangga.

"Alhamdulillah. Rezeki anak solehah. Makasih ya, Nar."

Kang Jaka menyeringai lebar.

"Wah, makasih Dik. Kalau makannya gini terus, Kang Jaka bisa nyangkul satu hektar sendirian ini mah!"

Suasana makan malam itu begitu hangat.

Dinding bilik bambu dan lantai tanah yang dipadatkan terasa seperti istana karena kebersamaan mereka.

Setelah makan dan membereskan dapur, Kinar kembali bereksperimen dengan resepnya dalam diam.

Ia tidak takut resepnya dicuri.

Orang bisa meniru bentuk baso ikannya, tapi racikan bumbu rahasia yang ia buat dengan insting tajam seorang ibu, tidak akan bisa ditiru sembarang orang.

Ditambah lagi, setiap pagi sebelum berangkat jualan, Tari selalu memberikan "energinya" yang secara ajaib membuat dagangan mereka selalu habis diserbu pembeli.

Malam semakin larut.

Kinar masuk ke kamar, melihat Tari sudah terlelap di kasur kapuk.

Kinar membuka laci lemari kayu tua, mengambil botol obat Tari.

Ia mengguncangnya pelan.

Bunyinya nyaring, tanda isinya tinggal sedikit.

Obat herbal khusus untuk menjaga stamina Tari—yang energinya sering drop mendadak—harganya selangit.

Satu botol biasanya cukup untuk tiga bulan.

Tapi sejak mereka kabur dari rumah Gedong keluarga Wibowo, kondisi Tari sempat drop parah, jadi obatnya lebih cepat habis.

Kinar mengambil kaleng bekas biskuit Khong Guan dari bawah kolong tempat tidur.

Ia membukanya.

Aroma uang kertas menyeruak. Di dalamnya tersusun rapi uang ribuan, lima ribuan, dan beberapa lembar sepuluh ribuan.

Rencananya, kalau usaha ini makin maju, Kinar mau mengajak para tetangga—terutama ibu-ibu yang menganggur—untuk bantu memproduksi baso ikan.

Ia ingin membuat sistem upah borongan.

Dengan begitu, tetangga dapat rezeki, Kinar bisa fokus jualan dan pengembangan produk.

Dan tabungan di kaleng Khong Guan ini... tidak akan ia sentuh kecuali darurat.

Ini untuk masa depan Tari.

Untuk sekolah Tari nanti, atau bahkan... untuk membeli tanah sendiri suatu hari nanti agar tidak menumpang terus di rumah Abah.

Kinar merapikan uang-uang itu, menutup kalengnya rapat-rapat, dan menyelipkannya kembali ke tempat persembunyian.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!