NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawabannya

"Ternyata perubahan lo juga bisa menarik salah satu Pangeran Sekolah juga ya. Gue salut, ternyata kecantikan lo selama ini nggak abal-abal."

Lynie Lafildhiver Aglaizka, teman sebangku Shahinaz tertawa kecil seolah sedang meledeknya. Sampai kapanpun, mereka sepertinya tidak akan pernah berteman baik. Mereka seolah sedang mengibarkan bendera permusuhan masing-masing, dan belum ada tanda-tanda akan ada yang mengalah diantara mereka.

Sedangkan Shahinaz menatap Lynie dengan tajam, menyadari bahwa komentar tersebut hanyalah bentuk sindiran. "Lynie, gue tau lo cuma berusaha bikin gue semakin nggak nyaman dengan gosip yang beredar. Tapi jujur aja, gue nggak peduli sama pendapat lo."

"Wow, perubahan lo bener-bener nggak main-main ya, sampai sekarang gue masih nggak nyangka. Btw, lo kemarin nggak masuk kenapa?" tanya Lynie sambil mengambil salah satu buku dari dalam laci.

"Kepo lo kayak dora, gue udah bilang kan anak kecil dilarang kepo. Lagian apa untungnya kalau lo tau?" Shahinaz memang kesannya sedang ingin mengajak perang orang lain.

Lynie tersenyum sinis, menatap Shahinaz dengan tatapan seolah ingin mencakar wajahnya saat ini juga, "Oh, gue cuma penasaran aja sih, nggak ada maksud apa-apa. Lagipula, kalau lo mau jadi bagian dari dunia yang lebih besar, lo harus siap dengan semua perhatiannya. Termasuk dari gue."

Secara tidak tersirat Lynie mengatakan bahwa jika Shahinaz ingin menjadi bagian dari mereka, Shahinaz harus siap dengan segala bentuk respon, perhatian, dan kritikan dari orang lain bukan? Tapi itu bukan mau Shahinaz. Dari awal, Shahinaz sudah berusaha menjauh dari konflik cerita bukan? Konfliknya saja yang terus mendekatinya tanpa beban.

Shahinaz menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, "Gue nggak berharap jadi perhatian siapapun. Gue juga nggak nyangka, ngobrol sama dia doang bisa jadi trending topik seluruh sekolah."

Lynie tertawa kecil, tampak puas dengan tanggapan Shahinaz, "Gue rasa itu tandanya lo udah masuk dalam radar mereka, Shahinaz. Hidup lo nggak bakal tenang lagi, dan sebentar lagi lo pasti bakalan jadi santapan empuk para pembully sekolah. Hahaha."

"Udah nggak ada yang mau lo omongin kan? Lagian apapun yang terjadi ke depannya nanti, gue nggak akan pernah menganggap itu sebagai masalah besar. Gue santai, nggak peduli mereka mau menindas gue dengan cara apa." balas Shahinaz sambil meluap lebar. Sedari tadi dia sedang menunggu Guru Matematika datang, tapi kenapa batang hidung Guru itu belum terlihat juga?

Shahinaz sudah sangat bosan menanggapi bacotan teman sebangkunya!

Lynie memiringkan kepala, masih dengan senyuman sinis di wajahnya, "Kalau lo santai sih, itu urusan lo. Tapi gue cuma mau mengingatkan, dunia sekolah ini sering kali lebih kejam daripada yang lo kira."

Shahinaz merasa frustasi dengan sikap Lynie yang terus-menerus mengganggu. Dia memilih untuk tidak menanggapi lebih lanjut dan malah membuka buku pelajaran matematika yang ada di meja. Dia akan membacanya dengan teliti, barangkali tiba-tiba diadakan ulangan dadakan. Jadi Shahinaz bisa dikatakan sudah belajar, tidak seperti yang lain yang masih sibuk obralan candaannya.

"Sha, kalau lo deket dengan Kak Keandra Adzan Latucie, berarti besar kemungkinan lo deket sama Kak Dreven Veir Kingsley dong?" tanya Lynie yang tiba-tiba berbisik di telinganya.

Shahinaz menggerutu, apakah penting dia dekat dengan siapa dan seperti apa orangnya. "Lo kenapa nanya sampai bisik-bisik begitu, lo takut sama mereka? Lagian hidup mereka sama kok kayak kita, apa yang harus ditakutkan?"

Lynie melirik Shahinaz dengan tatapan tajam, jelas merasa terpojok dengan pertanyaan balik Shahinaz. Lagipun dia tau, kalau mereka bukan para penguasa yang harus dia hadapi. Sebisa mungkin, dia harus menghindar orang-orang penting itu.

Lynie bersedekap dada dan menyandarkan punggungnya di kursi miliknya, "Gue cuma penasaran aja, Sha. Lagipula, kalau lo udah bergaul dengan orang-orang seperti mereka, berarti ada sesuatu yang lo tau yang mungkin kita semua nggak tau kan? Gue penasaran."

Shahinaz menutup bukunya dengan agak keras, memberikan sinyal jelas bahwa dia sudah lelah dengan percakapan ini. "Gue ulang sekali lagi, Lynie. Gue nggak punya kewajiban untuk ngejelasin siapa pun ke lo atau siapa pun. Lo bukan temen gue, dan lo juga bukan orang terdekat gue, jadi buat apa gue ngejelasin semuanya ke lo? Nggak ada gunanya bukan?"

Lynie tampak sedikit tersinggung, tetapi tetap berusaha menjaga kesan tenang, "Oke fine, gue diem, gue nggak akan nanya-nanya lagi. Lagian lo lagi PMS ya? Sinis mulu lo sama gue."

Shahinaz hendak membalas, tapi tepat pada saat itu, Guru Matematika yang ditunggu oleh mereka akhirnya datang juga. Perseteruan diantara mereka mereka? Lagian hidup mereka sama kok kayak kita, apa yang harus ditakutkan?"

Lynie melirik Shahinaz dengan tatapan tajam, jelas merasa terpojok dengan pertanyaan balik Shahinaz. Lagipun dia tau, kalau mereka bukan para penguasa yang harus dia hadapi. Sebisa mungkin, dia harus menghindar orang-orang penting itu.

Lynie bersedekap dada dan menyandarkan punggungnya di kursi miliknya, "Gue cuma penasaran aja, Sha. Lagipula, kalau lo udah bergaul dengan orang-orang seperti mereka, berarti ada sesuatu yang lo tau yang mungkin kita semua nggak tau kan? Gue penasaran."

Shahinaz menutup bukunya dengan agak keras, memberikan sinyal jelas bahwa dia sudah lelah dengan percakapan ini. "Gue ulang sekali lagi, Lynie. Gue nggak punya kewajiban untuk ngejelasin siapa pun ke lo atau siapa pun. Lo bukan temen gue, dan lo juga bukan orang terdekat gue, jadi buat apa gue ngejelasin semuanya ke lo? Nggak ada gunanya bukan?"

Lynie tampak sedikit tersinggung, tetapi tetap berusaha menjaga kesan tenang, "Oke fine, gue diem, gue nggak akan nanya-nanya lagi. Lagian lo lagi PMS ya? Sinis mulu lo sama gue."

Shahinaz hendak membalas, tapi tepat pada saat itu, Guru Matematika yang ditunggu oleh mereka akhirnya datang juga. Perseteruan diantara mereka juga mulai memudar, Shahinaz memilih untuk menghembuskan nafasnya panjang dan tidak menggubris perkataan Lynie sama sekali.

"Maaf ya Ibu telat ke kelas. Sudah siap kan ulangan kita hari ini? Sepertinya Ibu sudah memberi banyak waktu kepada kalian untuk belajar tadi. Ayo siapkan dua lembar kertas dan alat tulis di atas meja. Buku paket dan buku tulisnya di kumpulin ke depan ya." kata Ibu Resti, Guru Matematika yang terkenal dengan lemah lembutnya.

Kelas yang sejak tadi berisik itu mendadak sunyi. Sedangkan Shahinaz menatap Ibu Resti dengan rasa lega, beruntung tadi dia sempat membaca bab yang sedang dipelajari. Disisi lain, ingatan masa lalu soal bab ini juga masih terlihat jelas diotaknya. Jadi dia tidak terlalu ambil pusing dengan masalah ulangan dadakan itu.

Persetan dengan anak lain yang sibuk bernegosiasi untuk mengundurkan ulangan dadakan itu. Shahinaz dengan segenap jiwanya menyiapkan dua lembar kertas dan alat tulis. Meskipun tanpa persiapan matang, dia yakin masih mendapatkan nilai bagus. Berbeda dengan teman sebangkunya, yang terlihat cemas dan pucat pasi.

"Hayooo, dapet telur ceplok rasain. Takut ya dek ya!" ledek Shahinaz yang akhirnya bisa membalikkan keadaan juga.

Lynie menatap Shahinaz dengan tatapan tajam, tampak jelas bahwa ledekan Shahinaz membuatnya semakin tidak nyaman. Meskipun Lynie mencoba untuk tetap tenang, cemasnya terlihat jelas di wajahnya.

"Saya percaya, kelas 11-IPA 1 terkenal dengan anak-anak cerdas. Kalian pasti bisa mengerjakan ulangan ini tanpa belajar, dan saya sangat yakin dengan itu. Atau mau review materi terlebih dahulu?" tanya Ibu Resti membuka suaranya.

"Review materi dulu Bu." koor mereka serempak.

"Kalau begitu, siapa di sini yang mau review materi kemarin? Jika ada yang berani, saya akan memberikan nilai sempurna dan saya bebaskan dari ulangan dadakan ini." lanjut Ibu Resti lagi.

Shahinaz mengetikkan jari-jarinya di atas meja, memikirkan tawaran menarik itu untuk sejenak. Meskipun sepertinya tidak adil jika dia mengambil kesempatan ini, tapi dia merasa jika tawaran tersebut cukup menggiurkan untuk diabaikan.

Dengan keyakinan, Shahinaz mengangkat tangannya, membuat beberapa siswa di sekelilingnya menoleh.

"Ibu, saya mau coba," ujar Shahinaz dengan percaya diri.

Ibu Resti tersenyum dan mengangguk, "Bagus, siapa namamu? Sepertinya saya baru melihatmu menunjukkan potensi yang ada dalam diri kamu. Ayo maju ke depan dan coba review materi yang telah kita pelajari minggu kemarin."

"Saya Shahinaz Zerrin Johara Bu." jawab Shahinaz sambil memamerkan senyum ramahnya. Lynie yang melihatnya hanya bisa mencebikkan wajahnya kesal, padahal sejak tadi Shahinaz menampilkan wajah judes kepada dirinya.

Shahinaz berdiri dan berjalan menuju meja di depan kelas dengan langkah mantap. Dia mengambil spidol dari meja Ibu Resti dan mulai menulis di papan tulis yang telah disiapkan. Matanya memindai kelas sebentar, memastikan bahwa semua orang sudah memperhatikannya dengan baik-baik.

"Baiklah, kemarin kita membahas tentang sistem persamaan linear dan cara menyelesaikannya," Shahinaz memulai penjelasan dengan suara yang jelas. "Untuk menyelesaikan sistem persamaan linear, kita dapat menggunakan metode substitusi, eliminasi, atau grafik."

Shahinaz menulis contoh di papan tulis sambil menjelaskan langkah-langkahnya. "Pertama, untuk metode substitusi, kita isolasi salah satu variabel dari satu persamaan, lalu substitusi nilai variabel tersebut ke persamaan lainnya. Setelah itu, kita selesaikan untuk variabel yang tersisa."

Shahinaz mengerjakan contoh soal sederhana dengan metode substitusi, menjelaskan langkah-langkahnya dengan rinci. Dia menunjukkan bagaimana mengisolasi variabel, substitusi, dan akhirnya menemukan solusi.

"Untuk metode eliminasi," Shahinaz melanjutkan, "kita tambahkan atau kurangkan persamaan untuk menghilangkan salah satu variabel. Setelah mendapatkan satu variabel, kita substitusi kembali untuk mendapatkan variabel yang lain."

Shahinaz melakukan hal yang sama dengan contoh lain, menunjukkan cara mengeliminasi variabel dan menemukan solusi. Dia kemudian menjelaskan metode grafik, di mana dia menggambar grafik dari masing-masing persamaan dan menunjukkan bagaimana titik potongnya adalah solusi dari sistem persamaan.

Selama penjelasan Shahinaz, suasana di kelas semakin tenang, dan beberapa siswa tampak terkesan dengan keahlian dan kejelasan penjelasannya. Lynie juga terlihat terpana di tempat duduknya, sementara beberapa teman sekelas Shahinaz tampak lebih tenang karena penjelasan yang diberikan Shahinaz cukup mudah untuk dimengerti.

"Terakhir, untuk memeriksa solusi, kita dapat memasukkan nilai-nilai yang diperoleh ke dalam kedua persamaan untuk memastikan bahwa kedua persamaan tersebut konsisten," Shahinaz menyimpulkan.

Ibu Resti tersenyum bangga dan bertepuk tangan lembut, "Terima kasih, Shahinaz. Penjelasan yang sangat baik. Karena Shahinaz telah membantu kita dengan review materi, kalian berarti sudah siap melanjutkan ulangan bukan? Dan Shahinaz, saya bebaskan kamu dari ulangan ini dengan mendapat nilai sempurna. Kamu bisa bebas kemana saja sampai jam saya selesai."

Shahinaz merasa lega dan senang mendengar pengumuman Ibu Resti. Senyumnya semakin lebar ketika dia melihat ekspresi terkejut dan iri dari beberapa teman sekelasnya, termasuk Lynie. Tingkat kepercayaannya tentu saja naik berkali-kali lipat!

"Saya mau pergi ke perpustakaan saja Bu. Tapi sebelum itu saya mau mengambil ponsel dan uang terlebih dahulu." balas Shahinaz dengan ramah.

"Baiklah, silahkan melakukan apapun yang kamu mau. Dan untuk yang lain, kita akan memulai ulangan sekarang juga. Cepat ambil kertas dan alat tulis kalian, lalu kumpulkan buku tulis dan buku paketnya di depan meja saya sekarang juga."

Shahinaz mengangguk, setelah dirasa semuanya terbawa di dalam saku roknya, dia melangkah keluar dari kelas dengan langkah ringan. Merasakan angin segar dari kebebasan yang baru dia capai sekarang. Beberapa teman sekelas yang sedang mengerjakan ulangan menatapnya dengan rasa kagum yang semakin berlipat-lipat.

Apalagi trending topik tadi pagi, dengan foto cantik Shahinaz yang tersebar diseluruh penjuru sekolah, membuat mereka semakin mengidam-idamkan sosok Shahinaz Zerrin Johara secara diam-diam. Mereka bersyukur berada di kelas yang sama dengan Shahinaz sekarang!

"Trending topik seperti apa yang Lynie maksudkan tadi? Gue harus cari tau trending topik itu dimana? Twitter, instagram, atau forum sekolah?" tanya Shahinaz ketika dia berjalan di lorong sepi, banyak yang menatapnya secara diam-diam.

Shahinaz memutuskan untuk mengecek ponselnya. Barangkali ada aplikasi mencurigakan yang bisa Shahinaz cek isinya, Shahinaz cukup penasaran mereka mendapatkan informasi dari mana.

"Shahinaz, gue mau ngajak lo ngomong. Boleh?" tanya seseorang yang dengan cepat, Shahinaz mengangkat wajahnya dan mencari tau siapa yang berani mendekatinya.

Auretheil Verya Roswyn, yang katanya sahabat dari pemilik tubuh sebelumnya, entah kenapa sedang menatapnya dengan tatapan permusuhan. Auretheil memang sedang tersenyum sekarang, tapi Shahinaz paham jika senyum itu hanyalah senyum palsu, apalagi Shahinaz melihat kepalan tangan Auretheil secara sekilas.

Apa Auretheil tidak suka dengan kepopuleran dadakannya itu? Melihat Auretheil yang terlihat tak sabaran dan menyeretnya tanpa pikir panjang, Shahinaz juga sudah tau dengan apa jawabannya!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!