Adara hamil, sialnya ia tidak tahu ia hamil anak siapa. Yang ia ingat terakhir kali hanyalah dirinya terbangun dalam keadaan telanjang bulat bersama dengan empat sahabat laki laki nya yang juga tidak mengenakan pakaian apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theshittyqueen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ENAM
Aaron berdiri di depan rumah megah kediaman Adara, Aaron sudah membulatkan tekadnya bahwa ia tidak akan meninggalkan Adara sendirian.
Aaron menekan bel rumah tersebut, seorang security mendatangi nya.
“Adara ada di dalam, Pak?”
Security tersebut menganggukkan kepalanya dan membukakan pintu gerbang, “Silahkan masuk Mas, Nona Adara ada di dalam.”
***
Markus mengerutkan alisnya tidak senang, dari jendela kamarnya ia melihat seorang laki laki berkunjung ke rumah Adara.
Markus tau siapa laki laki tersebut, laki laki tersebut adalah laki laki yang terlibat dengan skandal kehamilan Adara.
Markus merasa tidak aman, Markus merasa bahwa rencana nya akan berantakan, Markus merasakan bahwa laki laki tersebut bisa menjadi ancaman baginya.
***
Aaron mengetuk pintu kamar Adara, Aaron di persilahkan untuk mendatangi Adara langsung oleh pelayan, mereka bilang Adara memintanya untuk masuk.
“Masuk.”
Aaron memasuki kamar Adara dan mendapati Adara yang terduduk lesu di lantai, Adara terlihat sangat berantakan sekali.
“Adara, kau baik baik saja?”
Adara menoleh kearah Aaron dan menggelengkan kepalanya, ia tidak baik baik saja. Sejak pagi ia terus muntah muntah, belum ada makanan yang berhasil masuk ke dalam perutnya sejak pagi.
“Kenapa kau kemari, kau tidak kuliah?”
Aaron menghela nafas berat, ia mengambil posisi duduk di sebelah Adara. “Bagaimana bisa aku pergi kuliah sementara sahabat ku menderita sendirian disini.”
Adara tertawa kecil dengan mata berkaca kaca, “Kalau kau bisa bersimpati kepada ku lalu kenapa yang lain tidak?”
“Jangan terlalu memikirkan semuanya Adara, jangan hiraukan mereka. Kau masih punya aku disini.”
Adara menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mau semuanya jadi hancur seperti ini Ron, semuanya hancur karena anak ini. Aku tidak ingin hamil.”
Aaron menangkup pipi Adara dengan kedua tangannya, ia menatap mata berair Adara lamat lamat. “Dengar Adara, anak itu tidak salah apa apa. Dia juga tidak pernah mengharapkan dirinya untuk ada dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa menyalahkannya. Ini semua karena kecerobohan kita dan kita harus menerima resiko dari kecerobohan kita itu suka tidak suka.”
“Tapi bagaimana aku bisa membesarkan anak ini sendirian Aaron?! Aku tidak tahu siapa Ayah dari anak ini!”
“Aku.. aku Ayahnya. Aku juga terlibat dalam kejadian malam itu, meski ternyata anak tersebut bukan lah anak ku melainkan anak dari Rome, Hans ataupun
Geo. Tidak masalah.”
“Ma-maksud mu?”
“Katakan lah kepada orang tua mu bahwa aku Ayah dari anak yang kau kandung, kau bisa mengatakan bahwa aku menjebak mu malam itu.”
Adara menggelengkan kepalanya, “Kau gila Aaron? Kau mau aku menjadikan mu sebagai sasaran dari amukan keluarga ku? Kau juga korban disini Ron, kita semua tidak tahu kalau hal seperti akan terjadi.”
“Lalu kau mau seperti apa? Dituduh sebagai wanita nakal yang menjebak teman sendiri? Dengan kehamilan mu saja itu sudah berat untuk mu, aku tidak akan mungkin membiarkan kau juga yang menerima hinaan hinaan itu.”
Adara menggelengkan kepalanya, ia melepaskan tangan Aaron dari pipinya. “Tapi aku—”
“Tidak usah pikirkan aku, cukup pikirkan dirimu dan janin yang berada di dalam perut mu itu. Aku akan baik baik saja, aku akan menerima semua nya dengan tangan terbuka. Jika Ayah mu akan memukuli ku sampai mati aku tidak akan mempermasalahkannya.”
Adara kembali meneteskan air matanya, “Aaron..”
Aaron terkekeh dan membawa Adara kedalam pelukannya. “Menangislah, menangis lah sepuas mu hari ini. Tapi aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi kedepannya, aku akan menjaga mu.”
Adara menganggukkan kepalanya, “Kau memang sahabat terbaik ku Aaron, terima kasih karna tidak pergi dari sisi ku.”
***
Dugaan Markus benar, laki laki tersebut adalah ancaman bagi dirinya.
Markus bisa mendengar pertengkaran di rumah Adara dari teras rumahnya.
Suara tangisan Adara dan amukan Damian yang mencaci maki laki laki tersebut.
“Bajingan kau! Kau pikir kau bisa lari dari tanggung jawab mu!”
“Maafkan saya om, saya berjanji saya akan bertanggung jawab.”
Markus mengepalkan tangannya, kesal.
Sial.
Semuanya kacau, semuanya jadi hancur karna sikap sok pahlawan laki laki tersebut.
Markus benar benar tidak bisa tinggal diam, ia harus memikirkan rencana lain.
Atau haruskah Markus menyingkirkan laki laki tersebut?
Terbesit sebuah ide di kepala Markus.
Baiklah, jika laki laki tersebut ingin bertanggung jawab atas kehamilan Adara.
Tapi Markus akan tetap pada rencananya, jika bukan dirinya yang kabur dari acara pernikahannya dengan Adara tidak apa apa.
Markus bisa membuat laki laki tersebut tidak akan pernah datang di acara pernikahannya dengan Adara, mempermalukan Adara dan keluarganya di depan semua orang.
Semua itu hal yang mudah, Markus bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
sukses
semangat
mksh