Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anda Pantas Mendapatkannya
Beberapa hari kemudian, tenggat waktu pengerjaan modul semakin dekat. Karena materi medis yang disusun Narendra dan metode pengajaran milik Kanaya harus disinkronkan secara presisi, Ketua Departemen memutuskan agar mereka bekerja intensif selama satu hari penuh.
Tempat yang dipilih adalah ruang diskusi kecil di lantai dua Perpustakaan Pusat, sebuah ruangan kedap suara dengan dinding kaca buram yang memberikan privasi cukup bagi mereka.
"Saya sudah merevisi bagian patofisiologi sesuai permintaan anda," ucap Narendra sambil membuka laptopnya dan duduk tepat di sebelah Kanaya, aroma sandalwood yang tenang kembali menyeruak, memenuhi ruang sempit itu.
"Tidak ada lagi istilah teknis yang rumit, semuanya sudah saya ubah menjadi bahasa monster kecil," lanjutnya.
Kanaya menahan senyum, "Bagus, sekarang kita perlu menyusun urutan narasinya. Aku ingin anak-anak merasa mereka sedang ikut dalam sebuah misi penyelamatan, bukan sedang dihukum karena tidak mandi," ucap Kanaya.
Narendra mengangguk, jari-jarinya yang panjang dan ramping bergerak lincah di atas keyboard. Selama tiga jam berikutnya, dunia luar seolah menghilang. Mereka berdua tenggelam dalam tumpukan kertas, draf digital dan perdebatan kecil yang kini terasa lebih seperti diskusi hangat daripada konfrontasi.
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip dan padam hingga membuat seluruh perpustakaan mendadak gelap gulita karena pemadaman listrik bergilir yang memang dijadwalkan di area kampus sore itu.
"Ah!" teriak Kanaya dan refleks mencengkeram lengan kemeja Narendra karena terkejut.
Keheningan seketika menyelimuti, satu-satunya cahaya hanya berasal dari layar laptop Narendra yang masih menyala dengan daya baterai, memberikan pendaran biru yang redup di wajah mereka. Kanaya segera menyadari tangannya masih mencengkeram lengan Narendra dan ia buru-buru melepaskannya.
"Maaf, aku kaget," ucap Kanaya pelan dan wajahnya terasa panas meski di kegelapan.
Narendra tidak segera menjauh, ia justru memutar kursinya menghadap Kanaya. Dalam cahaya remang itu, mata abu-abunya tampak lebih dalam dan tidak terlalu mengintimidasi.
"Mendekatlah," ucap Narendra.
"Gapapa disini aja," ucap Kanaya.
Tanpa basa basi, Narendra pun menarik tangan Kanaya hingga Kanaya semakin dekat padanya bahkan tangan Kanaya menabrak dada bidang Narendra dan hal itu berhasil membuat detak jantung Kanaya berpacu lebih cepat.
'Aku gak mau mendekat karena aku tahu jantungku pasti bakal gak aman,' batin Kanaya.
Narendra bergerak sedikit lebih dekat, jarak mereka kini hanya terpaut beberapa inci. Di tengah kesunyian perpustakaan yang gelap, Kanaya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar. Narendra seolah ingin mengatakan sesuatu yang lebih jauh, tangannya bergerak seolah ingin menyentuh helai rambut Kanaya yang berantakan.
Namun, tepat saat itu, lampu kembali menyala dengan terang. Cahaya putih yang tiba-tiba membuat mereka berdua refleks berkedip dan menjauh satu sama lain, suasana magis tadi lenyap seketika digantikan oleh kecanggungan yang nyata.
Narendra berdehem, kembali memperbaiki posisi duduknya dan membuka laptopnya sepenuhnya. "Listriknya sudah menyala, ayo kita selesaikan bagian terakhir agar anda bisa pulang sebelum hujan turun," ucap Narendra.
Kanaya mengangguk kaku dan mencoba memfokuskan matanya pada layar yang buram, Kanaya tahu jika momen di kegelapan tadi adalah sebuah keajaiban singkat yang mungkin tidak akan terulang.
'Tadi aku sama Narendra mau c**m*n kan ya atau cuma gak sengaja aja soalnya Narendra kan gak bisa lihat dimana aku,' batin Kanaya.
.
Satu Minggu kemudian, hari yang menentukan itu tiba. Auditorium Utama Universitas A dipenuhi oleh jajaran dekan, perwakilan dinas kesehatan, serta mahasiswa dari berbagai fakultas.
Suasana tegang menyelimuti area belakang panggung, Kanaya meremas ujung kemejanya yang rapi, sementara di sampingnya, Narendra berdiri dengan tenang, mengenakan jas almamater Kedokteran yang membuatnya tampak sangat berwibawa.
Sesuai rencana Narendra, Kanaya yang memimpin presentasi dan memaparkan metodologi pengajaran dengan antusiasme. Ia menggunakan boneka tangan Monster Kotoran yang lucu dan Pahlawan Brokoli yang gagah, menjelaskan bagaimana kisah-kisah sederhana dapat mengubah perilaku anak-anak secara permanen, ia berbicara dari hati dan audiens, yang biasanya kaku pun terpesona.
Saat sesi data, Narendra mengambil alih. Dalam tempo bicara yang cepat namun terstruktur, ia menyajikan statistik awal tentang penurunan kasus penyakit ringan di komunitas percontohan, menghubungkannya dengan efektivitas modul yang dibuat oleh Kanaya. Kombinasi antara pesona tulus Kanaya dan data tak terbantahkan Narendra terbukti mematikan.
Setelah presentasi selesai, ruangan dipenuhi tepuk tangan dan rektor secara pribadi memberikan pujian yang hangat.
"Kolaborasi yang luar biasa, Saudara Narendra dan Saudari Kanaya," ujar Rektor, menjabat tangan mereka bergantian.
"Ini membuktikan bahwa perbedaan latar belakang dan jurusan justru bisa menghasilkan solusi yang paling manusiawi," lanjutnya.
Narendra hanya mengangguk, menerima pujian itu dengan martabat yang tenang.
"Terima kasih atas penyampaian anda, Saudari Kanaya," kata seorang anggota Senat.
Kanaya tersenyum lega, ini adalah kesuksesan terbesarnya di kampus. Kanaya berhasil menunjukkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah disiplin yang serius dan penting.
Saat kerumunan mulai bubar, Narendra menoleh pada Kanaya. "Anda melakukannya dengan sangat baik, penuh semangat dan argumen anda kuat," ucap Narendra.
"Kamu memberikan data yang membuat argumenku tidak terbantahkan, terima kasih telah memberikanku panggung," ucap Kanaya.
"Anda pantas mendapatkannya," jawab Narendra.
Perpisahan formal pun terjadi cepat setelah itu, Narendra yang kini dikelilingi oleh para donatur dan dosen pembimbingnya hanya sempat memberikan anggukan singkat dari kejauhan sebelum ia dibawa pergi oleh rombongan Fakultas Kedokteran, proyek sudah selesai dan jembatan antara mereka kembali terputus.
Sejak hari presentasi itu, Narendra nyaris menghilang dari pandangan Kanaya. Jadwalnya dipenuhi dengan ujian akhir Kedokteran yang sangat ketat, persiapan untuk ujian negara dan pertemuan-pertemuan penting keluarga terkait masa depannya.
Kanaya masih di kampus, menyelesaikan tugas akhir dan mempersiapkan dirinya untuk kelulusan. Kanaya sesekali melihat Narendra di perpustakaan, tidak lagi di meja biasa melainkan di lantai Kedokteran yang eksklusif.
Beberapa hari sebelum ujian negara Narendra, Kanaya melihatnya di taman kampus, duduk sendirian di bangku yang sama tempat ia biasa mengamati Narendra. Narendra tidak sedang belajar, ia hanya duduk diam, menatap pepohonan.
Kanaya ragu-ragu, ia ingin mendekat hanya untuk mengucapkan semoga sukses dan memberinya dukungan. Namun, kakinya terpaku, kehadiran Narendra yang tenang dan tertutup tampak seperti peringatan.
Lista yang datang dari belakang pun menyenggol lengan Kanaya. "Itu dia sang Ice Prince, kenapa kamu gak coba nyapa dia? Dia terlihat seperti perlu istirahat dari kekayaan dan kejeniusannya," tanya Lista.
"Apaan sih Lista, kelulusan sudah di depan mata dan interaksi aku sama Narendra sudah selesai. Aku gak mau terlihat seperti mencari perhatian atau mengharapkan sesuatu yang lebih," ucap Kanaya.
Kanaya tahu, jika ia mendekat sekarang, Narendra mungkin akan melihatnya sebagai gangguan. Kanaya ingin Narendra mengingatnya sebagai rekan kerja yang kompeten, bukan sebagai gadis yang mengemis perhatian sebelum mereka berpisah selamanya.
Kanaya memilih untuk memutar jalan, ia berjalan menjauhi Narendra, membiarkan punggung pria itu menjadi pemandangan terakhirnya dari kejauhan.
.
.
.
Bersambung.....