"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 12
BAB 12 — Percakapan di Balkon
Pintu kaca balkon tertutup rapat, memisahkan dua dunia. Di dalam, pesta masih berlanjut dengan kemewahan yang memuakkan. Di luar, angin malam Jakarta membawa aroma hujan dan knalpot.
Rio sudah pergi. Dia melompat pagar balkon ke teras sebelah dengan ketangkasan kucing liar, meninggalkan tawa mengejek yang masih terngiang di telinga Vino.
Vino berdiri sendirian di pinggir pagar pembatas. Tangannya mencengkeram besi dingin itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, tidak beraturan.
Tenang. Hitung probabilitas. Rio cuma menggertak.
Vino mencoba mengaktifkan mode logikanya, tapi gagal. Adrenalinnya terlalu tinggi. Bayangan masa lalu—skandal keluarga, anak haram, perebutan warisan—berputar di kepalanya seperti film rusak.
Dia butuh penenang.
Tangannya merogoh saku jas bagian dalam. Mengeluarkan kotak rokok perak yang sebenarnya bukan miliknya—itu barang sitaan dari Rio yang tertinggal di meja tadi.
Vino tidak merokok. Dia benci baunya. Dia atlet renang. Kapasitas paru-paru adalah aset.
Tapi malam ini, dia tidak peduli aset.
Dia menyalakan pemantik. Api kecil menyala, bergoyang tertiup angin. Dia mendekatkan rokok itu ke bibir. Menghisapnya dalam-dalam.
Uhuk!
Asap tajam memenuhi tenggorokannya. Dia terbatuk keras. Matanya berair. Rasanya pahit, panas, dan menjijikkan. Tapi rasa sakit di paru-paru itu mengalihkan rasa sakit di kepalanya.
Dia menghisap lagi. Kali ini lebih pelan. Menghembuskan asap putih ke udara malam.
Di sudut gelap dekat pintu kaca, ada pergerakan.
Mayang belum masuk sepenuhnya. Dia berdiri di sana, separuh tubuhnya tersembunyi di balik tirai tebal. Dia melihat semuanya. Pertengkaran Vino dengan Rio. Kepergian Rio. Dan sekarang, Vino yang gemetar sambil merokok dengan kaku.
Mayang ragu. Haruskah dia pergi? Vino tadi membentaknya, menyuruhnya masuk.
Tapi kaki Mayang menolak bergerak. Dia melihat kerapuhan pada punggung tegap itu. Punggung yang selalu terlihat kuat menopang beban satu sekolah, kini terlihat rapuh, siap patah kapan saja.
Mayang melangkah keluar lagi. Pelan. Suara sepatu haknya diredam oleh suara angin.
Dia berjalan mendekat, berhenti dua meter di belakang Vino.
Vino tidak menoleh. Dia tahu ada orang di sana. Instingnya tajam.
“Berisik,” kata Vino. Suaranya serak, rendah, dan tajam.
Mayang berhenti. Dia pikir suara langkah kakinya, atau napasnya, mengganggu Vino.
“Maaf, Kak. Saya pergi,” kata Mayang pelan, berbalik badan.
“Bukan kau,” potong Vino cepat.
Vino membalikkan badan, bersandar pada pagar balkon. Rokok masih menyala di jari telunjuk dan tengahnya. Dia menatap pintu kaca di belakang Mayang, tembus ke dalam ballroom.
Di dalam sana, terlihat kerumunan orang sedang tertawa. Vivie sedang memotong kue. Orang tua Vino sedang bersulang dengan kolega bisnis. Musik DJ berdentum bass-nya sampai menggetarkan kaca.
“Mereka,” kata Vino, menunjuk ke arah pesta dengan dagunya. “Berisik. Suara kepalsuan mereka bikin telinga gue sakit.”
Mayang mengikuti arah pandang Vino. Melihat pesta itu dari luar, seperti menonton film bisu yang penuh warna tapi hampa.
“Kakak nggak suka pesta?” tanya Mayang. Dia kembali memutar tubuh menghadap Vino.
“Gue benci keramaian yang tidak produktif. Kumpulan orang yang bicara tanpa makna, ketawa tanpa alasan lucu, cuma buat menuhin kuota sosial.”
Vino menghisap rokoknya lagi. Kali ini dia tidak batuk, tapi wajahnya mengernyit tidak suka.
Mayang memberanikan diri mendekat. Dia berdiri di samping Vino, ikut bersandar di pagar. Jarak mereka hanya satu jengkal.
“Kakak nggak bisa ngerokok,” kata Mayang. Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan fakta.
“Sotoy lo,” elak Vino.
“Cara pegangnya salah. Kakak jepit di ujung kuku, bukan di pangkal jari. Itu cara pegang pulpen, bukan rokok.”
Vino mendengus. Dia melihat tangannya sendiri. Benar. Kebiasaan akademisnya terbawa bahkan saat mencoba jadi berandalan.
“Gue lagi belajar jadi manusia nggak berguna. Biar cocok sama lingkungan,” kata Vino sarkas.
“Jangan dipaksa, Kak. Nanti paru-parunya kaget. Sayang, Kakak kan atlet renang sekolah. Napas panjang itu mahal.”
Vino menatap Mayang. Gadis ini... barusan dimaki-maki oleh saudaranya, dihina oleh Vivie, tapi sekarang malah mengkhawatirkan kapasitas paru-paru Vino.
Vino mematikan rokok yang baru setengah itu di pagar besi. Menekannya sampai baranya mati, lalu membuang puntungnya ke pot bunga.
“Lo kenapa nggak masuk? Di dalem ada Zuppa Soup mahal. Mumpung gratis.”
“Saya nggak laper.”
“Bohong. Tadi perut lo bunyi pas deket panggung.”
Mayang tersenyum malu. “Iya sih. Tapi rasanya kenyang liat orang-orang itu. Kenyang makan hati.”
Vino tertawa pelan. Tawa yang tulus, bukan tawa sinis.
“Selamat datang di dunia gue, Mayang Sari. Dunia di mana 'makan hati' adalah menu pembuka setiap hari.”
Hening sejenak. Angin malam menerbangkan ujung syal hitam Mayang, menyentuh lengan jas Vino.
“Cowok tadi...” Mayang memulai topik berbahaya. “Dia mirip Kakak.”
Vino menegang lagi. Tapi kali ini dia tidak meledak. Mungkin karena nikotin, atau mungkin karena kehadiran Mayang yang anehnya menenangkan.
“Namanya Rio. Kakak tiri gue. Satu ayah, beda ibu.”
Vino menatap langit Jakarta yang mendung. Tidak ada bintang. Hanya polusi cahaya.
“Bokap gue punya 'kesalahan' di masa lalu. Rio itu hasilnya. Dia dibuang, disembunyiin. Gue yang 'sah', gue yang dipajang di etalase. Gue harus jadi sempurna buat nutupin cacat nama keluarga.”
Kalimat itu meluncur begitu saja. Iceberg yang mencair. Vino tidak pernah cerita ini pada siapa pun, bahkan pada Naufal.
“Berat ya, Kak?” tanya Mayang.
“Apa?”
“Jadi pajangan etalase. Harus senyum terus, nggak boleh berdebu, nggak boleh retak. Padahal di dalem kaca itu panas.”
Vino menoleh, menatap mata Mayang lekat-lekat. Analogi gadis ini selalu sederhana tapi tepat sasaran.
“Lebih berat mana sama dorong gerobak bubur tiap subuh?” tanya Vino balik.
“Beda, Kak. Kalau gerobak berat, saya bisa berhenti, istirahat minum es teh. Kalau Kakak... kayaknya Kakak nggak boleh berhenti sedetik pun.”
Vino terdiam. Tenggorokannya tercekat. Benar. Dia tidak boleh berhenti. Nilai turun sedikit, Ayahnya marah. Penampilan berantakan sedikit, Ibunya komplain.
“Lo tahu, May,” suara Vino merendah. “Kadang gue iri sama lo.”
“Iri sama saya? Kakak bercanda. Saya miskin, yatim piatu, dibully.”
“Lo bebas. Lo miskin, tapi lo punya kendali penuh atas hidup lo. Lo mau jualan, lo jualan. Lo mau belajar, lo belajar. Nggak ada yang nuntut lo jadi patung sempurna.”
Vino mencengkeram pagar lagi.
“Gue punya segalanya. Kartu kredit unlimited, mobil, akses VIP. Tapi gue nggak punya satu hal: Pilihan. Jurusan kuliah gue udah dipilih sejak gue TK. Jodoh gue udah disiapin. Bahkan hobi gue—renang—itu dipilih Bokap biar postur gue bagus.”
Mayang melihat kepedihan di mata Vino. Kepedihan anak emas yang terkurung dalam sangkar emas.
Tanpa sadar, tangan Mayang bergerak. Dia menyentuh punggung tangan Vino yang mencengkeram pagar.
Kulit Vino dingin. Kulit Mayang hangat.
Vino tersentak sedikit, tapi tidak menarik tangannya.
“Kak,” kata Mayang lembut. “Hidup itu bukan soal kartu yang kita dapet. Tapi gimana kita maininnya. Kakak jenius matematika, kan? Kakak pasti bisa nemuin rumus buat mecahin masalah ini.”
“Variabelnya terlalu banyak, May. Konstanta-nya orang tua. Sulit diubah.”
“Kalau nggak bisa diubah, eliminasi. Atau substitusi.”
Vino menatap Mayang, lalu tersenyum miring.
“Substitusi? Maksud lo, gue ganti orang tua gue sama Budhe lo?”
Mayang tertawa. “Boleh aja. Tapi Budhe galak lho kalau Kakak males bangun subuh.”
Tawa mereka pecah bersamaan. Suara tawa yang lepas, terbang ke udara malam, mengalahkan suara musik bising di dalam sana.
Untuk pertama kalinya malam itu, Vino merasa... ringan.
Dia memutar tubuhnya, menghadap Mayang sepenuhnya. Dia memperhatikan gadis itu. Gaun hitam kuno, kalung mutiara kecil, dan syal sutra miliknya.
Mayang terlihat cantik. Bukan cantik karena make-up mahal, tapi cantik karena dia nyata.
“May,” panggil Vino.
“Ya?”
“Syal itu...”
Mayang buru-buru memegang lehernya. “Eh, iya. Maaf Kak, lupa balikin. Saya lepas sekarang ya?”
Mayang mulai membuka simpulnya.
“Jangan,” cegah Vino. Dia menahan tangan Mayang.
Jari-jari mereka bersentuhan lagi. Lama.
“Pake aja. Di dalem AC-nya dingin. Baju lo tipis.”
“Tapi ini mahal, Kak. Nanti kotor kena keringat saya.”
“Kalau kotor dicuci. Kalau rusak beli lagi. Benda mati bisa diganti, May. Kesehatan lo nggak bisa.”
Vino melepaskan tangan Mayang, tapi tatapannya masih terkunci.
“Dan satu lagi...”
“Apa?”
“Mulai sekarang, berhenti panggil gue 'Kak' kalau lagi berdua gini. Kita seangkatan. Panggil Vino aja.”
Mayang terbelalak. “Tapi Kakak Wakil Ketua OSIS. Saya cuma...”
“Berisik,” potong Vino, mengulangi kata pertamanya tadi. Tapi kali ini nadanya lembut. “Itu perintah atasan. Patuhi.”
Mayang menunduk, menyembunyikan senyumnya yang merekah.
“Baik... Vino.”
Rasanya aneh menyebut nama itu tanpa embel-embel. Terasa lebih dekat. Lebih intim.
Vino melihat jam tangannya.
“Sepuluh menit habis. Gue harus balik ke dalam. Bokap pasti nyariin.”
Realita kembali memanggil.
“Lo mau pulang?” tanya Vino.
“Iya. Naufal udah pergi kayaknya. Saya pesen ojek aja.”
“Jangan ojek. Bahaya malem-malem pake baju gini.” Vino mengetik sesuatu di ponselnya.
“Pak Ujang stand by di lobi bawah. Dia bakal anter lo pulang.”
“Terus Vino pulang naik apa?”
“Gue nebeng mobil Bokap. Udah, jangan ngebantah. Pak Ujang seneng kok, katanya lo sering kasih bubur gratis.”
Vino memasukkan ponselnya ke saku. Dia merapikan jasnya, memasang kembali topeng "Pangeran Sempurna"-nya. Wajahnya kembali datar dan dingin.
“Pergilah, Mayang Sari. Sebelum Vivie liat lo di sini dan bikin drama lagi.”
“Makasih... Vino.”
Mayang berbalik, berjalan menuju pintu samping (bukan pintu kaca utama, ada tangga darurat di ujung balkon yang langsung ke lobi).
Sebelum Mayang menghilang di tangga, Vino berseru pelan.
“May!”
Mayang menoleh.
“Besok Minggu. Libur kan?”
“Iya. Kenapa?”
“Gue mau riset pasar lagi. Siapin bubur yang enak. Jangan yang hambar kayak kemarin.”
Mayang tersenyum lebar.
“Siap, Bos!”
Mayang menuruni tangga dengan hati berbunga-bunga.
Vino berdiri sendirian lagi di balkon. Dia melihat punggung Mayang menghilang.
Dia tidak lagi merasa sesak. Dia tidak lagi merasa butuh rokok.
Dia punya oksigen baru.
Vino berbalik, mendorong pintu kaca, dan melangkah masuk kembali ke dalam pesta dengan langkah mantap.
Di dalam, Vivie langsung menghampirinya.
“Vino! Dari mana aja? Tadi aku cariin lho. Clarissa juga nanyain.”
Vino menatap Vivie. Dia melihat betapa palsunya senyum gadis itu dibandingkan tawa Mayang di balkon tadi.
“Cari angin, Vie,” jawab Vino singkat. “Di sini terlalu banyak karbon dioksida.”
Vino berjalan melewati Vivie, mengambil gelas jus jeruk, dan tersenyum pada dirinya sendiri.
Permainan baru saja menjadi jauh lebih menarik.
Keesokan Harinya. Minggu Pagi.
Warung Bubur Ayam Barokah lebih ramai dari biasanya. Mayang sibuk melayani pelanggan yang antre usai Car Free Day.
Sebuah mobil mewah berhenti. Tapi bukan Land Rover hitam. Kali ini sebuah sedan sport merah. Ferrari.
Semua orang menoleh. Tukang parkir sampai melongo.
Pintu mobil terbuka. Vino keluar.
Dia tidak memakai jas. Dia memakai kaos polo putih santai dan celana pendek selutut, lengkap dengan kacamata hitam. Santai tapi tetap memancarkan aura "uang".
Dia berjalan menuju tenda Mayang.
Pelanggan lain minggir, memberi jalan karena segan.
“Pagi, Bu Bos,” sapa Vino, membuka kacamata hitamnya.
Mayang yang sedang menuang kuah hampir menumpahkan sendok sayurnya.
“Vi... Vino?”
“Satu porsi. Spesial. Pake ati, ampela, telor ayam kampung dua. Kerupuknya yang banyak.”
Mayang bengong. “Tumben? Kemarin katanya harus polos buat riset rasa asli?”
Vino duduk di bangku plastik reyot tanpa ragu, di sebelah bapak-bapak tukang becak.
“Hari ini risetnya beda,” kata Vino sambil menatap Mayang intens. “Hari ini gue mau riset... seberapa manis hidup lo kalau dikasih sedikit topping.”
Wajah Mayang memerah semerah cabai rawit di meja.
Di seberang jalan, dari balik pohon, Naufal melihat pemandangan itu dengan tangan terkepal. Dia datang membawa bunga mawar (niat minta maaf soal pesta semalam), tapi dia terlambat.
Tempat duduk di depan Mayang sudah diisi oleh Vino.
Dan kali ini, Vino tidak terlihat seperti sedang main-main.
Bersambung......