Jian Yi secara tak terduga memperoleh sebuah pedang aneh yang mampu berbicara. Dari pedang itulah ia mempelajari teknik pedang kuno dan jalan kultivasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Saat kekuatannya dianggap cukup, pedang tersebut memerintahkannya untuk mengembara—mencari cara agar sang roh pedang dapat memperoleh wujud fisik.
Maka dimulailah perjalanan Jian Yi sebagai seorang pengembara, melangkah di antara bahaya, rahasia, dan takdir yang perlahan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Harga Sebuah Amarah
Aula utama Keluarga Yuan bukan lagi tempat pesta yang megah, melainkan sebuah arena penjagalan yang sunyi.
Jian Yi melangkah masuk, langkahnya yang tenang bergema di lantai marmer putih yang kini ternoda jejak kaki berdarah.
Di ujung aula, tiga sosok tua berdiri dengan aura yang menyesakkan—tiga Tetua Agung Keluarga Yuan, semuanya adalah Pendekar Master tingkat puncak.
"Bocah sombong," desis salah satu tetua yang memegang tongkat berkepala naga. "Kau pikir dengan membantai sekumpulan semut di halaman, kau bisa mengguncang fondasi kami?"
Jian Yi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat Ling'er, yang kini bersinar ungu pekat.
"Mati!" teriak ketiga tetua itu secara bersamaan.
Mereka tidak menyerang dengan hormat; mereka menyerang dengan niat membunuh yang murni.
Ketiga Master tingkat puncak ini tahu bahwa Jian Yi berada di ranah Grand Master, sehingga mereka menggunakan Formasi Pengunci Langit.
Tiga arus energi Qi yang berbeda—Elemen Api, Logam, dan Angin—mengepung Jian Yi dari tiga sudut.
BOOM!
Pertempuran itu pecah dalam sekejap. Jian Yi bergerak secepat kilat, namun para tetua ini memiliki pengalaman tempur selama puluhan tahun.
Mereka menutupi celah satu sama lain. Saat Jian Yi menebas tetua berelemen Logam, tetua Api melepaskan pukulan jarak jauh yang membakar udara, memaksanya untuk menangkis.
"Jian Yi, awas! Mereka mencoba menguras tenagamu!" teriak Ling'er di batinnya.
"Aku tahu!"
Jian Yi berputar, melepaskan gelombang energi Grand Master untuk memukul mundur mereka.
Namun, tetua ketiga, si pengguna Angin, menggunakan teknik terlarang: Jarum Bayangan Beracun.
Ribuan jarum mikroskopis yang terbuat dari Qi beracun melesat di sela-sela serangan kedua rekannya.
Jian Yi berhasil menepis sebagian besar jarum itu, tapi formasi tiga lawan satu ini terlalu menekan.
Tetua Logam tiba-tiba menerjang, membiarkan dirinya terkena sabetan Ling'er demi memberikan celah bagi dua rekannya.
"Sekarang!" teriak sang tetua.
Sebuah serangan gabungan mendarat tepat di punggung dan dada Jian Yi.
Pukulan api membara menghantam dada kiri, sementara bilah angin raksasa menyayat punggungnya hingga ke tulang.
CRAAACK!
Jian Yi terpental, menabrak pilar marmer hingga hancur berkeping-keping.
Darah segar menyembur dari mulutnya. Namun yang lebih mengerikan, luka di dadanya tidak tertutup.
Energi api hitam milik keluarga Yuan merambat masuk ke dalam garis darahnya, menghitamkan daging dan menghalangi regenerasi alami seorang Grand Master.
"Jian Yi! Luka itu... itu adalah racun korosif tingkat tinggi! Qi-mu tidak bisa menutupnya!" Ling'er panik, pedangnya bergetar hebat di tangan Jian Yi yang mulai melemah.
Jian Yi bangkit dengan tertatih. Nafasnya berat, dadanya terasa seperti terbakar oleh bara api yang tak bisa padam.
Luka itu permanen; sebuah luka fatal yang merusak fondasi kultivasinya. Kulitnya di sekitar luka mulai mengeriput dan menghitam.
"Hahaha! Itu adalah Api Terlarang Pemakan Jiwa," tetua api tertawa dengan wajah bengis. "Tidak ada tabib di dunia ini yang bisa menyembuhkannya. Kau akan mati perlahan saat jantungmu membusuk, Bocah!"
Jian Yi menatap luka di dadanya, lalu menatap ketiga musuhnya.
Rasa sakit yang luar biasa menusuk sarafnya, namun di balik rasa sakit itu, amarahnya justru mendingin menjadi es yang mematikan.
"Luka ini..." Jian Yi bergumam, suaranya serak. "...hanya akan mengingatkanku bahwa aku harus menghabisi kalian lebih cepat."
Ia memaksakan sisa Qi-nya meledak. Rambut hitamnya berkibar liar, dan mata Jian Yi berubah menjadi ungu gelap sepenuhnya. Ia mengabaikan rasa sakit yang menghancurkan tubuhnya.
"Ling'er, berikan aku semua kekuatanmu. Tidak peduli jika tubuhku hancur." perintah Jian Yi dingin.
"Tapi kau bisa mati, Jian Yi! Jika kau memaksakan teknik itu dengan kondisi luka seperti ini, kau tidak akan pernah bisa sembuh!"
"Lakukan saja!"
Pedang Ling'er mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.
Bilah pedang yang tadinya berkarat kini mulai terkelupas, menunjukkan baja putih bersih di baliknya yang memancarkan aura kehancuran.
Jian Yi bersiap untuk serangan terakhir, meskipun ia tahu, mulai saat ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.