Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Indonesia Dari Mata Orang Asing
Yanto selalu merasa paling jujur ketika berbicara dengan orang yang tidak punya kepentingan.
Bukan karena orang asing selalu objektif, tapi karena mereka tidak punya sejarah emosional dengan tempat ini. Mereka tidak tumbuh dengan janji-janji yang sama. Tidak mewarisi narasi yang sudah dipoles sejak sekolah. Mereka datang dengan pertanyaan yang kadang terdengar bodoh, kadang terasa tajam justru karena tidak dibungkus sopan santun.
Pagi itu, Yanto menunggu di lobi kecil sebuah penginapan di Ubud. Rambut bergelombangnya diikat asal, jaket hoodie hijau kebesaran menutupi kaos tipis di dalam. Ia memegang secangkir teh tawar yang sudah hampir dingin, menunggu dua turis Jepang yang akan ia pandu hari itu.
Pasangan itu datang tepat waktu. Seorang pria paruh baya dan perempuan yang lebih muda, mungkin anak atau keponakannya. Keduanya membungkuk sopan, memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris yang rapi. Yanto membalas dengan senyum kecil, lalu membawa mereka menuju mobil.
Perjalanan dimulai tanpa banyak percakapan. Pemandangan sawah, jalan sempit, motor berlalu-lalang. Semua seperti biasa.
Percakapan baru benar-benar dimulai ketika mereka melewati sebuah desa kecil dan melihat spanduk besar di pinggir jalan: “Menuju Desa Digital Terintegrasi.”
Perempuan itu menunjuk ke arah spanduk. “What does that mean?” tanyanya.
Yanto melirik spanduk itu sebentar. Ia tahu artinya. Ia juga tahu tidak ada jawaban singkat yang jujur.
“Digital village,” katanya akhirnya. “Integrated services.”
“Oh,” perempuan itu mengangguk. “Like smart city?”
“Something like that,” jawab Yanto.
Pria paruh baya di kursi belakang ikut menyahut, nadanya penasaran. “Is it new?”
Yanto menarik napas pelan. “Relatively.”
Ia menunggu reaksi. Biasanya, setelah itu, turis akan bertanya tentang teknologi, aplikasi, kemudahan hidup. Tapi kali ini, pertanyaan berikutnya datang dari arah yang tidak ia duga.
“Does everyone agree with it?” tanya pria itu.
Pertanyaan itu sederhana. Tidak menuduh. Tidak menghakimi.
Dan justru karena itu, Yanto merasa tenggorokannya mengeras.
Ia tertawa kecil, refleks. “Agreement is… complicated,” katanya.
Perempuan itu tersenyum tipis. “In Japan, when something is ‘complicated’, it usually means someone is unhappy.”
Yanto tidak langsung menjawab. Ia memarkir mobil sebentar di pinggir jalan kecil, memberi jalan pada iring-iringan motor. Hatinya berdegup pelan, bukan karena takut, tapi karena merasa tertangkap basah.
“Yeah,” katanya akhirnya. “That’s not wrong.”
Perjalanan berlanjut. Mereka berbicara tentang budaya, tentang ritual, tentang sejarah Bali. Yanto kembali ke mode profesionalnya… menjelaskan, bercanda ringan, menjaga suasana tetap nyaman.
Namun di kepalanya, pertanyaan itu terus bergema.
Does everyone agree with it?
Siang hari, mereka berhenti di sebuah warung kecil. Makan siang sederhana. Nasi, sayur, ayam goreng. Yanto memesan soto ayam untuk dirinya sendiri, seperti kebiasaannya.
Sambil makan, pria paruh baya itu membuka ponselnya, menunjukkan sebuah artikel berita internasional.
“It mentions your country,” katanya, menunjuk layar. “About digital identity integration.”
Yanto melirik cepat. Judulnya netral, ditulis dengan gaya analisis kebijakan. Tidak sensasional. Tidak menuduh.
“Is it really happening?” tanya pria itu lagi.
Yanto meletakkan sendoknya. Ia bisa saja menjawab dengan versi aman. Ia bisa mengatakan bahwa ini demi kemajuan, demi efisiensi, demi masa depan. Kalimat-kalimat itu sudah siap di kepalanya.
Tapi hari itu, entah kenapa, ia lelah dengan jawaban yang aman.
“It is,” katanya. “But not everyone feels included.”
Perempuan itu mengernyit sedikit. “Included how?”
Yanto tersenyum tipis. “You know how systems work. They’re designed for an average person. If you’re slightly outside that average…”
Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.
Pria itu mengangguk pelan. “In Japan, we call that ‘the quiet ones’.”
Yanto tertawa kecil, getir. “Here too. We just don’t have a name for it.”
Percakapan itu tidak berlanjut ke debat. Mereka tidak mengkritik. Tidak memberi saran. Mereka hanya mendengarkan. Dan bagi Yanto, itu justru yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Karena mendengarkan berarti mengakui.
Sore hari, setelah tur selesai, Yanto mengantar mereka kembali ke penginapan. Sebelum turun, perempuan itu berkata pelan, hampir seperti catatan pribadi.
“You love your country,” katanya. Bukan pertanyaan.
Yanto mengangguk. “I do.”
Perempuan itu tersenyum, “That makes your answers heavier,” jawabnya.
Setelah mereka pergi, Yanto duduk lama di dalam mobil. Mesin mati. Jendela terbuka. Suara alam Bali masuk tanpa filter.
Ia membuka ponsel, masuk ke Random. Tidak ada pesan baru. Tapi ia merasa perlu menulis sesuatu, seperti menumpahkan beban yang tidak bisa ia bawa sendirian.
Yanto:
Hari ini ada turis nanya,
“apa semua orang setuju?”
Dan gue nggak bisa jawab dengan jujur
tanpa bikin negara ini kelihatan rapuh.
Ia menekan kirim, lalu menutup ponsel.
Yanto sadar, selama ini ia sering mengkritik dari dalam… agama, sistem, narasi. Tapi mendengar pertanyaan yang sama dari luar membuat segalanya terasa berbeda. Lebih telanjang. Lebih sulit disangkal.
Ia menyalakan mesin mobil, melaju pelan menyusuri jalan pulang. Di kiri-kanan, Bali tetap indah. Ritual tetap berjalan. Wisata tetap hidup.
Dan di balik semua itu, Yanto membawa satu kesadaran baru yang tidak bisa ia lepaskan:
…bahwa suatu hari nanti, pertanyaan tentang negeri ini tidak lagi datang dari dalam, melainkan dari luar… dan saat itu tiba, jawaban yang rapi tidak akan cukup.
Malam turun di Bali tanpa suara pengumuman.
Lampu-lampu jalan menyala pelan, restoran mulai ramai, musik akustik terdengar dari kejauhan. Yanto duduk di teras rumah kontrakannya, hoodie hijau kebesaran masih melekat di tubuh, secangkir teh tawar di tangan. Ia tidak menyalakan lampu teras. Ia ingin gelap menemani pikirannya.
Percakapan siang tadi tidak meninggalkannya.
Bukan karena pertanyaannya sulit, tapi karena ia tahu betul: pertanyaan itu akan terus datang.
Ia teringat wajah pria paruh baya itu ketika bertanya, Does everyone agree with it?
Tidak ada niat menguji. Tidak ada agenda. Hanya rasa ingin tahu dari seseorang yang tidak hidup di dalam sistem itu.
Dan justru karena itulah, Yanto merasa telanjang.
Ia membuka ponsel, membaca ulang artikel internasional yang tadi ditunjukkan turis itu. Bahasanya rapi, netral, seperti laporan akademik. Tidak ada kata “krisis”. Tidak ada istilah yang mengundang emosi. Tapi di antara baris-barisnya, ia melihat sesuatu yang familiar: jarak.
Artikel itu membicarakan negaranya seperti objek studi. Seperti peta. Seperti eksperimen kebijakan. Tidak salah. Bahkan mungkin perlu dibuat begitu.
Tapi Yanto tahu, jarak semacam itu sering membuat penderitaan terasa abstrak.
Ia menggulir komentar di bawah artikel itu. Sebagian besar datang dari orang-orang yang tidak tinggal di sini.
“Seems efficient.”
“A necessary step.”
“Every country will go this way.”
Yanto mematikan layar.
Ia tahu, di mata dunia, Indonesia sedang “maju”. Teratur. Stabil. Kooperatif. Tidak ribut. Tidak gaduh. Tidak membuat masalah.
Dan ia juga tahu, betapa mahal harga citra itu.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Random. Dari Wijaya.
Wijaya:
To,
orang luar biasanya nanya hal yang kita udah berhenti nanya.
Itu bukan kebetulan.
Yanto membaca pesan itu lama. Ia membalas singkat.
Yanto:
Masalahnya, Jay,
kalau kita jawab jujur ke orang luar,
kesannya kayak ngebuka aib sendiri.
Balasan datang cepat.
Wijaya:
Atau kayak ngerawat luka sebelum infeksi.
Yanto tersenyum tipis. Ia menyimpan ponsel, menatap gelap. Kata-kata Wijaya tidak menghibur, tapi terasa tepat.
Keesokan harinya, Yanto mendapat jadwal tur baru. Kali ini, rombongan kecil dari Eropa… tiga orang, usia beragam, penuh rasa ingin tahu. Mereka ramah, banyak bertanya, mudah tertawa.
Di tengah perjalanan, salah satu dari mereka, seorang perempuan dengan rambut pirang pendek… bertanya soal kehidupan sehari-hari.
“Is it easy to live here?” tanyanya sambil tersenyum.
Yanto hampir menjawab dengan kalimat otomatis: It depends.
Ia sudah sering mengatakannya.
Tapi hari itu, ia berhenti sejenak.
“Easy for whom?” katanya balik, tanpa nada menantang.
Perempuan itu terkejut sebentar, lalu tertawa kecil. “Fair question.”
Percakapan berlanjut. Mereka bicara soal biaya hidup, soal akses kesehatan, soal teknologi yang mulai masuk ke desa-desa. Pertanyaan demi pertanyaan datang, semuanya terdengar polos.
Dan untuk pertama kalinya, Yanto merasakan dorongan aneh: keinginan untuk tidak memperhalus apa pun.
“Some things are getting easier,” katanya akhirnya. “Some are getting more complicated. Especially if you don’t fit the system perfectly.”
Salah satu pria dalam rombongan itu mengangguk. “That happens everywhere.”
“Yes,” Yanto menjawab. “But when systems become the only gate, being ‘almost fitting’ is not enough.”
Ia tahu kalimat itu akan terdengar politis. Ia tahu itu bisa disalahartikan. Tapi ia juga tahu, menghindarinya akan membuatnya kembali ke posisi lama, pengamat yang aman.
Perjalanan hari itu selesai tanpa insiden. Rombongan itu tetap ramah. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang menegur. Bahkan sebelum turun, perempuan berambut pirang itu berkata pelan, “Thank you for being honest.”
Kalimat itu menghantam Yanto lebih keras dari kritik apa pun.
Setelah tur selesai, Yanto duduk di mobilnya lama. Ia tidak langsung pulang. Ia menatap setir, merasakan jari-jarinya dingin.
Ia sadar sesuatu yang selama ini ia hindari: selama bertahun-tahun, ia merasa aman karena selalu berdiri di posisi antara.
Tidak sepenuhnya membela.
Tidak sepenuhnya melawan.
Posisi itu nyaman. Fleksibel. Terlihat dewasa.
Tapi sekarang, posisi itu mulai terasa seperti pengkhianatan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Ia membuka Random, mengetik pesan panjang, lalu berhenti. Ia menghapusnya. Mengetik ulang dengan lebih pendek.
Yanto:
Gue mulai ngerasa,
jawaban paling berbahaya itu bukan yang salah,
tapi yang terlalu aman
buat didenger siapa pun.
Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan langsung. Tapi Yanto tahu, pesan seperti itu tidak perlu dijawab segera.
Malam itu, ia bertemu beberapa teman lama di warung kecil. Mereka minum bir beralkohol rendah, bercanda, mengeluh soal kerjaan. Percakapan mengalir ringan sampai salah satu dari mereka menyebut soal kebijakan digital baru.
“Sebenernya bagus,” kata seseorang. “Biar rapi.”
Yanto mengangguk pelan. “Bisa jadi.”
“Tapi?” tanya temannya, mengenali jeda.
“Tapi rapi buat siapa?”
Kalimat itu membuat meja sedikit sunyi. Tidak lama. Seseorang tertawa, mengganti topik. Obrolan berlanjut.
Namun Yanto tahu, ia baru saja melakukan sesuatu yang dulu jarang ia lakukan: ia membiarkan pertanyaan itu menggantung.
Pulang ke rumah, ia membuka laptop, menulis catatan singkat… bukan untuk dibagikan, bukan untuk dipublikasikan.
Suatu hari, orang luar akan berhenti bertanya.
Saat itu, berarti mereka sudah tahu jawabannya.
Ia menyimpan catatan itu, menutup laptop.
Bali segera mengganti harinya.
Dengan seorang lelaki yang tidak lagi merasa aman bersembunyi di balik citra negerinya, dan mulai memahami bahwa mencintai tempat lahirnya bukan berarti melindunginya dari pertanyaan, melainkan berani membiarkan pertanyaan itu terdengar, bahkan ketika jawabannya membuat segalanya tampak rapuh.
Dan sejak hari itu, setiap kali Yanto memperkenalkan Indonesia kepada orang asing, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri terlebih dahulu:
Apakah yang aku jaga ini martabat… atau hanya ketenangan yang terlalu lama dipelihara?