NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Kak

Ambil Saja Suamiku, Kak

Status: tamat
Genre:Dokter / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Puji170

Riana pikir kakaknya Liliana tidak akan pernah menyukai suaminya, Septian. Namun, kecurigaan demi kecurigaan membawanya pada fakta bahwa sang kakak mencintai Septian.

Tak ingin berebut cinta karena Septian sendiri sudah lama memendam Rasa pada Liliana dengan cara menikahinya. Riana akhirnya merelakan 5 tahun pernikahan dan pergi menjadi relawan di sorong.

"Kenapa aku harus berebut cinta yang tak mungkin menjadi milikku? Bagaimanapun aku bukan burung dalam sangkar, aku berhak bahagia." —Riana

Bagaimana kisah selanjutnya, akankah Riana menemukan cinta sejati diatas luka pernikahan yang ingin ia kubur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

“Ma... mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu,” sahut Alif dengan nada gugup. Tangannya refleks mengusap tengkuk saat tatapan Riana tak juga beralih darinya.

“Sudah malam. Kamu tidur dulu, ya. Besok kita ke rumah nenekku,” ucap Alif akhirnya, mencoba terdengar tenang meski jantungnya masih berdebar.

Riana menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan tak ada kebohongan di balik kata-katanya. “Aa, serius kan kali ini?” tanyanya pelan, tapi penuh ragu.

“Iya, Riana. Udah, tidur dulu, ya,” jawab Alif lembut, kali ini dengan senyum kecil yang berusaha menenangkan.

Riana akhirnya mengangguk patuh, lalu melangkah kembali ke kamar tamu. Sudah dua minggu ia tinggal di rumah Alif. Kadang ada rasa tak enak di hatinya, apalagi dengan omongan tetangga yang mulai berbisik di belakang. Tapi karena Alif selalu meyakinkannya, dan juga jarang pulang karena pekerjaan, Riana memilih untuk tidak ambil pusing.

Begitu memastikan Riana sudah benar-benar masuk, Alif menarik napas panjang lalu mengambil ponselnya. Ia menatap layar sejenak sebelum menekan nama Nenek Sekar di daftar kontak. Hanya butuh beberapa dering sebelum suara khas sang nenek terdengar dari seberang.

“Cucu kurang ajar! Kamu tahu ini jam berapa?” suara Sekar terdengar kesal, tapi ada nada khawatir yang terselip di sana.

“Nenek, ini penting banget,” ujar Alif buru-buru.

“Penting? Kamu mau menikah? Kalau iya, nenek maafin kamu,” sahut Sekar setengah menggoda, tapi jelas masih sebal.

Alif mengembuskan napas panjang. “Aku bisa nikah atau nggaknya sekarang tergantung nenek.”

“Hah? Maksudmu apa, Al?”

“Sebenarnya aku udah bilang ke Riana kalau nenek sakit parah,” ucap Alif pelan, sedikit menunduk meski tahu neneknya tak bisa melihat.

“Astaga, Alif! Kamu ini benar-benar cucu durhaka!” bentak Sekar di seberang sana.

“Gimana lagi, Nek... kalau nggak gitu calon cucu mantumu bisa kabur,” jawab Alif, berusaha terdengar santai padahal wajahnya menegang.

Beberapa detik hening. Lalu suara Sekar terdengar lagi, lebih lembut kali ini. “Ya sudah. Besok bawa dia ke mari. Nenek ingin lihat seperti apa gadis yang bisa bikin cucu nenek sampai segitu nekatnya.”

Alif terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Iya, Nek. Terima kasih.”

***

Esok harinya, Riana sudah siap dengan gaun sederhana berwarna krem lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai natural, sedikit berombak di ujung. Di depan cermin, ia menarik napas panjang sambil merapikan kerah bajunya untuk kesekian kali.

“Ya ampun, Riana... apa yang kamu lakukan sih?” gumamnya pelan pada bayangan sendiri. “Ini cuma akting, cuma buat balas budi ke Alif. Bukan sungguhan.”

Ia menunduk, berusaha meyakinkan dirinya, tapi hatinya justru semakin berdebar. Harusnya ia cemas kalau aktingnya nanti malah membuat Alif terbebani, tapi yang ia rasakan justru berbeda, ia takut nenek Alif tidak menyukainya.

“Sadar, Riana!” katanya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri pelan, mencoba menepis rasa gugup yang semakin menjadi.

Ketukan lembut di pintu memecah lamunannya.

“Riana, udah siap?” suara Alif terdengar dari luar, tenang tapi terdengar menunggu.

“Iya, bentar, Aa!” jawabnya cepat. Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi, memastikan semuanya rapi sebelum akhirnya membuka pintu.

Begitu pintu terbuka, Alif berdiri di ambang dengan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku. Pandangannya sempat tertahan, tak bisa segera berkata apa-apa.

“Cantik,” ucapnya akhirnya, singkat tapi tulus.

Riana mengerjap bingung. “Apa?”

Alif cepat-cepat mengalihkan pandangan dan berdehem kecil. “Ah... nggak. Aku cuma bilang, matahari hari ini... cantik banget. Cerah.”

Riana menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum samar. “Iya, mataharinya memang cerah, Aa.”

Keduanya tampak canggung, namun akhirnya mereka berjalan beriringan keluar rumah dan masuk ke mobil. Perjalanan berlangsung dalam diam yang sesekali diisi dengan helaan napas pelan dari Riana.

Butuh hampir dua jam sebelum mobil yang dikendarai Alif berhenti di depan sebuah rumah besar bergaya lama, rumah milik Nenek Sekar.

Alif menoleh sekilas, melihat Riana yang tampak lelah setelah duduk terlalu lama.

“Capek?” tanyanya lembut.

Riana menggeleng pelan sambil memandang ke arah rumah itu. “Enggak, ini rumah nenek, ya?”

Alif mengangguk, senyum tipis muncul di bibirnya. “Iya.”

Riana menggigit bibir bawahnya, lalu menatap Alif penuh ragu. “Aa... kalau nanti nenek tahu kita cuma sandiwara, gimana?” tanyanya polos, tapi jelas ada nada cemas di suaranya.

Alif menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Kalau ketahuan, kita bilang aja... kita akan mulai dari nol.”

Riana tertegun. Jantungnya berdebar tak karuan, dan entah kenapa, kata-kata sederhana itu justru membuat pipinya memanas. Dulu bersama Septian tidak ada kata-kata yang membuatnya tenang sedikitpun yang ada hanya beban. Namun, bersama Alif, ia merasa ada sedikit rasa dihargai, mungkin karena itu kini ia mulai sedikit melupakan masa lalu yang belum benar-benar usai itu.

Begitu turun dari mobil, Riana langsung menggenggam tas kecilnya erat-erat. Pandangannya berkeliling, mencermati halaman yang rapi dengan pot-pot bunga warna-warni.

Namun sebelum sempat melangkah, suara panik terdengar dari dalam rumah.

“Cepat panggilkan dokter! Dada saya... aduh, dada saya... napas saya tinggal setengah!”

Riana sontak menoleh pada Alif dengan wajah pucat. “Aa! Nenekmu kenapa?! Kok nggak bilang kalau separah ini?”

Alif langsung kaku di tempat, matanya membesar. “Eh... i-itu—”

Belum sempat ia mencari alasan, dua orang pria berseragam putih keluar tergesa dari rumah sambil membawa kotak peralatan medis.

“Tekanannya tinggi, detak jantung cepat, pasiennya menolak mendapatkan penanganan sebelum bertemu cucunya,” lapor salah satu dokter sambil melirik curiga ke arah Alif.

Riana langsung tercengang dengan laporan dokter itu, “Ya Tuhan, kita masuk aja, Aa, cepat!”

Alif cuma bisa mengangguk kaku sambil dalam hati berteriak, Nenek, tolong jangan keterusan aktingnya...

Saat masuk ke dalam kamar Nenek Sekar, bola mata Riana langsung membulat lebar.

Ruangan itu penuh sesak, ada dua perawat mondar-mandir, alat tensi dan stetoskop tergeletak di meja, dan Nenek Sekar berbaring di ranjang dengan selimut tebal, lengkap dengan botol infus mainan anak-anak yang tergantung di sisi tempat tidur. Bahkan ada aroma minyak kayu putih yang menyeruak begitu kuat sampai-sampai membuat mata Riana sedikit perih.

Riana menyenggol Alif, yang kini meraup wajahnya frustasi.

"Nenek, hentikan. Riana seorang dokter, kalau mau akting harusnya lebih realistis sedikit,” desis Alif pelan sambil menahan napas panjang, setengah malu, setengah putus asa.

Namun bukannya berhenti, Nenek Sekar malah membuka mata dengan dramatis, lalu menatap ke arah cucunya dan Riana yang berdiri di ambang pintu. “Oh... jadi ini Riana?” katanya pelan, suaranya serak dibuat-buat. “Nenek... akhirnya bisa melihat calon cucu mantu Nenek sebelum... waktunya tiba...”

Riana sontak menahan napas. “Ya Tuhan, Nenek jangan ngomong gitu!” serunya panik sambil melangkah cepat ke sisi ranjang. Ia langsung memeriksa denyut nadi Sekar dengan sigap. “Nadinya stabil, detak jantung normal... tekanan darah pun—” Riana menatap alat tensi yang sudah terbuka tapi tak terpasang di tangan siapa pun, “—malah belum dipakai!”

Sekar pura-pura terkejut. “Oh, jadi aku belum diperiksa, Nak Dokter?” katanya dengan nada lemah, matanya mencuri pandang ke arah Alif.

Alif hanya bisa menggeleng pasrah. “Nenek...”

1
evi carolin
beraninya keroyokan si Septi,banci lo,klo mo nyakitin KK nya ya silahkan kan pilihan lo jg dr awal bersikap spt itu knp ga terima , dasar bocil lu bisanya tantrum aja klo pengen sesuatu, dah gt ga berani sendirian ngajak org lain segala
Titien Prawiro
Sebel baca novel ini, sdh janda juga
Titien Prawiro
provokasi ke Septian kalau pernikahan sama Alif gagal, Riana kembali sama Septian, dia mau deketi Alif
Titien Prawiro
Kupikir Riana terlalu lemah dan bodoh. Dokter kok bodoh ya. lembek.
Titien Prawiro
Septian kamu jadi lelaki dan suami tidak tegas menya menye gitu.
Lala lala
cerai talak tiga berarti dia islam y.
jika mau cerai tdk perlu dokjmem mjnta tnd tangan dong..kan blm ajukan gugatan ke PA daftar dl bayar uang admin 1 jutaan dgn syarat buku nikah kk , ga ada pun gakpp, bs dpt copy dr KUA.. tgu surat panggilan sidang msg².. sekitar 2 mingguan krna antrian cerai banyak..jika sdh talak 3 tdk ada mediasi 3 x sidang...cukup 1 x sdh syah
Lala lala
ipar dikasi gepokan duit dan perhatian.
bini sndiri dikasi jutaan kecil utk makan dll
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
ampun deh Liana ini sok²an polos padahal asli nya licik emang dasar ulat bulu ,liat aja pasti kalian bakal membusuk bersama ketika Riana udah menceraikan si gila itu 🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
gila ya si Septian lama² Riana itu istri mu bukan pembantuuuuu mu,lebih baik Riana segera cerai aja dari laki² gila ini 🙄
Kukun Sabarno
namanya pengantin baru dengan pasangan berbeda tetap saja ada deg dan canggung, 😄
Rina
benar pergi lebih baik ..pikirkan diri sendiri ..💪
Kukun Sabarno
selamat untuk alif dan riana semoga bahagia dunia akhirat. aamiin
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
seperti di film-film ya emang iPar adalah maut 🤭
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
Liliana adalah tipe orang yang sifat munafik nya langsung bisa keliatan dari muka pas²an nya😇👊👊
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
yesss akhirnya Riana bisa bangkit ,siap² aja kalo Riana cerai sama kamu pasti hidup mu bakal gak tenang sama ulet bulu itu 🤣🤣🤣
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
apakah dr Alif ini jodoh nya Riana yang sebenarnya karna si Riana langsung dag Dig dug pas dideketin 🤭
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok makin lama gemes ya aku sama Riana kan kamu udah disakiti dari belakang berkali² loh sama Septian masihh aja ngeyel pengen bertahan sama Septian 🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kalo emang sakit tuh jangan ditahan dong Riana lebih baik kamu lepaskan saja Septian untuk Liliana biarin aja mereka membusuk bersama🙄
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
biar apa coba keluar pakai baju kayak gitu 🙄,ternyata baru nyadar Septian sama Liliana itu sama sama² bermuka dua 🤣🤣
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
cocok lah binatang sama setan disatukan aja,ayo Riana lebih baik kamu pergi dari rumah itu aja daripada tersiksa Mulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!