Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 5
Dengan hati yang kacau, Miranda membersihkan serpihan gelas pecah itu satu per satu. Miranda adalah orang yang teliti, apalagi terhadap pecahan kaca, takut nanti ada yang menginjaknya dan terluka. Jemarinya bergerak perlahan, matanya mengamati lantai dengan saksama, memastikan tak ada satu pun serpihan tertinggal.
Setelah selesai, Miranda mengambil piring dan gelas bekas makan, lalu mencucinya dengan air mengalir. Busa sabun menutupi tangannya, pikirannya melayang entah ke mana. Setelah semuanya bersih, dia menata piring di rak, kemudian kembali ke ruang makan dan mengelap meja yang masih basah oleh sisa air teh.
“Miranda, ayah olahraga dulu,” ucap Ayah Anton yang sudah mengenakan baju training.
“Bukannya ayah sedang sakit, Yah, istirahatlah,” ujar Miranda penuh perhatian.
“Ayah bosan di kamar terus, ayah ingin berjalan jalan sebentar, titip Amora ya,” kata Ayah Anton, lalu pergi meninggalkan Miranda.
Setelah mengelap meja, Miranda hendak melihat Amora, takut bayi itu terbangun. Baru beberapa langkah, suara Ayah Anton kembali terdengar.
“Mir, tolong bersihkan kamar ayah.”
Miranda membalikkan badan. Anton sudah berdiri di pintu utama, sepertinya dia kembali hanya untuk mengatakan itu.
“Baik, Yah,” jawab Miranda patuh.
Anton pun kembali keluar rumah. Miranda melanjutkan langkah ke kamar Amora. Bayi itu masih tidur nyenyak, wajahnya tenang, napasnya teratur.
“Kenapa kamu enggak mirip Kak Wina ya,” gumam Miranda pelan. “Kenapa mirip Saras.”
Buru buru dia menepis pikiran itu. “Sudah jelas aku yang menemani Kak Wina sejak hamil besar dan melahirkan, tentu saja ini anak Kak Raka dan Kak Wina, tidak mungkin ana,” ucapnya terputus.
Lagi lagi Miranda menggelengkan kepala. “Mungkin aku terlalu curiga, ini tidak mungkin anak Saras, dia belum menikah, mana mungkin dia punya anak.”
Miranda mencoba berpikir konservatif, padahal di luar sana banyak wanita melahirkan tanpa suami dan tanpa ikatan pernikahan. Paham kebebasan semakin menjangkit, ikatan pernikahan dianggap pengekangan, sedangkan memiliki anak adalah keinginan. Hamil lalu melahirkan tanpa memikirkan pernikahan bukan lagi hal aneh.
Miranda mencium kening Amora, lalu melangkah ke kamar Ayah Anton.
Dia membuka pintu kamar dengan perlahan. Bau balsam dan minyak angin menyeruak. Seprai tampak berantakan. “Dia selalu marah kalau aku enggak rapi, padahal kamar dia sendiri berantakan sekali,” gumam Miranda.
Dengan telaten Miranda membereskan tempat tidur, melipat selimut, lalu membersihkan meja yang penuh buku. Saat menggeser beberapa buku, matanya terpaku pada sebuah foto.
Sebuah foto wanita dengan pakaian longgar transparan, mengekspose bagian dada.
Miranda mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Dia mendekatkan wajahnya, menatap lebih saksama.
Bibir Miranda bergetar. “Saras,” gumamnya lirih.
Dahinya berkerut, pertanyaan langsung menyeruak.
“Kenapa ada foto Saras dengan pose menantang di kamar ayah?”
“Apa ayah suka pada keponakannya sendiri?”
“Apa jangan jangan ayah yang semalam ada di kamar Saras?”
Tangan Miranda semakin gemetar memegang foto itu. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tersengal.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari luar kamar.
Miranda tersentak. Dengan gugup dia buru buru menyelipkan foto itu kembali ke dalam buku. Dia takut jika Ayah Anton tiba tiba masuk dan memergokinya, pasti dia akan dimarahi.
Setelah keluar kamar, ternyata di ruang tengah tidak ada seorang pun. Miranda merasa sedikit lega, dadanya yang sejak tadi sesak perlahan mengendur.
Miranda melangkah keluar kamar. Terdengar suara gemericik air dari arah dapur. Dia menoleh ke pintu utama dan mendapati pintu itu terbuka.
“Ayah mertua ceroboh sekali, keluar rumah tanpa menutup pintu, andaikan aku yang melakukan hal itu pasti aku dimarahi,” gumam Miranda lirih.
Dengan langkah hati hati Miranda mengendap ke dapur. Tampak sosok pria tinggi sekitar seratus tujuh puluh dua sentimeter, memakai baju serba hitam, berdiri di dekat kompor. Lampu belum menyala. Waktu masih pagi dan cuaca mendung, sehingga Miranda tidak bisa menebak dengan jelas siapa lelaki yang ada di dapur.
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Miranda meraih sapu yang bersandar di dinding, menggenggamnya erat, lalu melangkah mendekat dengan napas tertahan. Tanpa berpikir panjang, dia mengayunkan sapu sekuat tenaga.
“Buk.”
“Arghhh,” teriak lelaki itu kesakitan.
“Siapa kamu ha,” teriak Miranda panik. “Maling ya.”
“Astagfirullah, Bu, saya ini Mang Narno,” ucap lelaki itu meringis sambil memegang lengannya.
Miranda buru buru meraba saklar dan menyalakan lampu. Cahaya terang langsung memenuhi dapur. Benar saja, yang berdiri di depannya adalah Mang Narno.
“Main pukul pukul aja sih, Bu,” gerutu Mang Narno kesal.
“Lagian kamu kenapa bikin kopi enggak nyalain lampu,” balas Miranda dengan nada masih emosi.
“Sudah siang, ngapain juga nyala lampu, ibu ini ada ada saja,” jawab Mang Narno sambil menggeleng.
Miranda tertegun. “Akhir akhir ini aku terlalu waspada,” gumamnya dalam hati.
Mang Narno hendak pergi ke halaman belakang, namun langkahnya terhenti oleh suara Miranda.
“Mang, kok enggak ke kantor,?” tanya Miranda penasaran.
“Lah, kemarin Pak Rizki bilang pagi ini saya disuruh bawa mobil Rubicon,” jelas Mang Narno santai.
Miranda terdiam.
“Tumben ya pakai Rubicon, emangnya mau ke mana,” tanya Miranda lagi.
“Mau ke Puncak katanya sore ini, ada pertemuan dengan investor dari Dubai.”
Investor dari Dubai, pertemuan di Puncak. Setahu Miranda, para sultan Arab biasanya ke Puncak untuk liburan, bukan untuk berbisnis.
“Kemarin ke mana saja,?” tanya Miranda, suaranya pelan tapi tajam.
Mang Narno tampak berpikir sejenak, seperti mengingat kembali atau mungkin merangkai kalimat.
“Saya ke kantor, jam makan siang ke Sarinah ngantar Pak Rizki makan bareng Ibu Saras, balik lagi ke kantor, jam lima pulang, ngantar Pak Rizki dan Ibu Saras ke mal Senayan sampai jam delapan malam, lalu saya disuruh pulang,” jawab Mang Narno panjang lebar.
Raut wajahnya tidak menunjukkan kebohongan. Urutannya rapi dan detail. Tempat tempat yang disebutkan penuh kamera pengawas. Jika Mang Narno berbohong, semuanya mudah dicek.
“Tidak ada agenda ke Purwakarta,??” tanya Miranda lagi.
“Enggak ada, Bu, kemarin seharian saya di dalam kota,” jawab Mang Narno santai. “Ibu nanya sudah kayak istri saya.”
Miranda mengernyit. “Maksud kamu.?”
“Istri saya sekarang nanya detail banget, sejak saya ketahuan selingkuh. Kalau pulang ke rumah itu ditanya ke mana saja kamu hari ini, makanya sekarang saya selalu mencatat ke mana saja saya pergi,” jelas Mang Narno sambil terkekeh kecil.
Miranda terdiam. Hatinya semakin yakin kalau ucapan Mang Narno benar.
Berarti Mas Rizki bohong.
Katanya kemarin mengecek proyek galian tanah di Purwakarta, tapi menurut Mang Narno seharian di dalam kota. Berpisah jam delapan malam, sekali jalan ke Purwakarta saja dua jam lebih, pulang pergi bisa empat jam. Tapi jam dua belas malam Rizki sudah ada di rumah, dengan mobil masih bersih.
Kemarin juga pulang akan pulang besok nyatanya jam 12 malam ada di rumah, setidaknya kalau meninjau lokasi harus seharian apalagi kalau ada masalah.
Pikiran Miranda berputar liar, pertanyaan demi pertanyaan menyesaki kepalanya.
“Halo, Bu, kok bengong,” panggil Mang Narno.
Suara itu membuyarkan lamunan Miranda.
“Sudahlah, sana ngopi,” ucap Miranda pelan, berusaha tersenyum, meski dadanya kembali terasa sesak oleh kecurigaan yang kian tumbuh.