Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Naluri untuk Bertahan
Malam itu, Yura tidak bisa tidur.
Setiap suara kecil membuat tubuhnya menegang.
Bunyi langkah di luar, deru motor lewat, bahkan getaran ponsel di meja membuat jantungnya berdegup terlalu cepat. Bayangan wajah Arkan terus muncul di kepalanya.
Tatapan dingin itu.Nada suaranya yang tenang namun mengancam. Ciuman paksa itu.
Yura memeluk lututnya di atas kasur, menarik napas pendek-pendek. Dadanya sesak.
Dia tidak normal…
Dia berbahaya…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yura merasa tidak aman di dunia yang sebelumnya ia kenal.
Bukan ketakutan biasa. Ini naluri.
Naluri yang berteriak agar ia menjauh.
Yura bangkit, berjalan ke jendela, memastikan gorden tertutup rapat. Ia mengunci pintu sekali lagi meski tahu tadi sudah terkunci.
Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.
Ia membuka kontak. Nama Arkan ada di sana.
Tanpa ragu, Yura memblokirnya.
Satu nama. Satu keputusan.
"Aku tidak akan menjadi mainanmu," bisiknya pelan pada diri sendiri.
Ia tahu pria itu tidak terbiasa ditolak.
Ia tahu Arkan akan marah, mungkin akan mencari. Dan justru karena itulah… Yura harus benar-benar menghilang dari jangkauannya.
Langkah-Langkah Kecil untuk Bertahan
Ia menulis daftar kecil di catatan ponsel:
✓ Ganti nomor
✓ Pulang lebih awal
✓ Jangan sendirian malam hari
✓ Fokus toko
✓ Hindari tempat-tempat yang mungkin ia datangi
Setiap poin bukan rencana besar. Tapi langkah kecil untuk bertahan. Yura merebahkan diri kembali, memejamkan mata dengan susah payah. Air mata mengalir pelan bukan karena rindu, bukan karena cinta.
Karena ia baru saja sadar: Ada orang di dunia ini yang tidak bisa disembuhkan dengan kebaikan.
Dan Arkan… adalah salah satunya.
Yura menggenggam selimutnya erat. Dalam hati, ia bersumpah Apa pun yang terjadi, aku tidak akan kembali ke dunia itu.
Aku akan melindungi diriku sendiri.
Di luar sana, kota tetap hidup seperti biasa.
Namun bagi Yura, hidupnya baru saja berubah arah.
Dan bahaya itu… belum benar-benar pergi.
Arkan menatap layar ponselnya.
Satu centang. Tidak terkirim.
Ia mencoba lagi. Hasilnya sama.
Rahangnya mengeras.
"Dia memblokir saya," katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Asistennya yang berdiri tak jauh darinya menegang. "Pak… mungkin Nona Yura hanya butuh waktu."
Arkan mengangkat kepala. Tatapan matanya dingin tidak fokus, tidak tenang.
"Aku tidak memberi izin untuk menghilang."
Ia bangkit dari kursinya, langkahnya cepat dan gelisah. Untuk pertama kalinya, ruang kantor luas itu terasa sempit.
Yura tidak menjawab. Tidak muncul. Tidak bisa dijangkau.
Dan itu membuat sesuatu di dalam dirinya retak.
Ia melempar ponselnya ke meja. Bukan marah yang meledak melainkan kemarahan yang ditekan terlalu lama.
"Aku sudah menunggu," gumamnya. "Aku sudah menahan diri."
Ia membuka laptop. Layar menyala.
Semua yang berhubungan dengan Yura kembali muncul alamat rumah, tempat kerja, rute harian, kebiasaan. Namun satu hal membuatnya berhenti.
Nomor ponselnya tidak aktif lagi.
Arkan tertawa kecil. Pendek. Kosong.
"Dia benar-benar memotong semua kontak," ucapnya lirih.
Itu bukan penolakan biasa. Itu keputusan.
Dan Arkan… tidak siap menerimanya.
Tangannya mengepal. Bukan karena sakit hati melainkan karena kehilangan kendali.
"Cari dia," perintahnya dingin pada asisten. "Tanpa mengganggunya. Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja."
Asistennya ragu. "Pak… mungkin ini tidak.."
"Sekarang." Satu kata. Tidak bisa dibantah.
Saat ruangan kembali sunyi, Arkan duduk sendiri. Tatapannya kosong, namun pikirannya penuh.
Kenapa harus dia?
Kenapa satu-satunya yang tidak bisa kumiliki justru yang paling ingin kulekatkan?
Ia menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arkan merasakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada kehilangan bisnis. Ketergantungan.
Beberapa Hari Kemudian Arkan Mengamati dari Jauh
Arkan tidak datang langsung.
Ia tidak kirim pesan.
Ia tidak paksa Yura kembali.
Tapi… ia tidak bisa berhenti.
Hari Pertama
Mobil hitam itu parkir di seberang jalan, beberapa blok dari toko kue Yura. Arkan duduk di kursi belakang, menatap melalui jendela. Ia melihat Yura melayani pelanggan dengan senyum ramah senyum yang tidak pernah ia tunjukkan padanya.
Ia melihat Yura tertawa kecil saat seorang anak menunjuk kue cokelat.
Ia melihat Yura hidup… tanpa dirinya.
Dan itu menyakitkan.
"Pak… kita sudah di sini hampir dua jam," kata Bagas pelan.
Arkan tidak menjawab. Ia hanya terus menatap.
"Pulang," ucapnya akhirnya. "Tapi besok kita kembali."
Hari Ketiga
Kali ini Arkan datang lebih awal.
Ia melihat Yura membuka toko sendirian. Membersihkan etalase. Menata kue dengan hati-hati.
Ia ingin turun. Ingin bicara. Ingin menjelaskan
Tapi ia tahu.
Kalau ia muncul sekarang, Yura akan lari lebih jauh.
Jadi ia diam.
Hanya menatap.
Seperti bayangan yang tidak terlihat.
Hari Kelima
Arkan mulai hafal rutinitas Yura.
Pukul 07.00 - Buka toko
Pukul 12.00 - Istirahat makan siang
Pukul 18.30 - Tutup toko
Pukil 19.00 - Pulang naik bus
Ia tahu Yura sekarang selalu pulang sebelum gelap.
Ia tahu Yura tidak pernah sendirian di malam hari.
Ia tahu Yura sedang berjaga.
Berjaga dari dirinya.
Dan itu membuatnya sakit.
Tapi juga… semakin terikat.
Hari Ketujuh
Sore itu, Yura hampir terlambat naik bus.
Ia berlari kecil, tas tergantung di bahu.
Arkan melihatnya dari dalam mobil. Tangannya nyaris membuka pintu ingin turun, ingin membantu.
Tapi ia tahan.
Yura berhasil naik bus tepat waktu.
Arkan menatap bus itu menjauh, lalu menutup matanya.
"Aku tidak bisa seperti ini terus," gumamnya pada diri sendiri.
Bagas melirik dari kaca spion. "Pak… mungkin sudah saatnya… melepaskan?"
Arkan membuka matanya. Tatapannya gelap.
"Tidak."
Satu kata. Tegas. Final.
"Aku hanya butuh cara yang tepat."
Malam Itu Yura Merasa Diawasi
Yura duduk di apartemennya, menatap jendela yang tertutup gorden.
Entah kenapa, beberapa hari ini ia merasa… diawasi.
Bukan paranoia biasa.
Tapi naluri.
Naluri yang sama yang membuatnya kabur dari Arkan.
Ia bangkit, mengintip sedikit dari celah gorden.
Jalanan sepi. Tidak ada mobil mencurigakan.
Tapi perasaan itu tetap ada.
"Aku terlalu overthinking," gumamnya, lalu menutup gorden rapat.
Ia tidak tahu
Di seberang jalan, mobil hitam itu sudah pergi lima menit yang lalu.
Dan Arkan… sudah pulang ke kantornya dengan satu keputusan baru di kepala:
Ia tidak akan memaksa lagi.
Tapi ia juga tidak akan menjauh.
Ia akan menunggu.
Sampai Yura sendiri yang kembali.
Atau sampai ia menemukan cara untuk membuat Yura… tidak bisa menolak lagi.