Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Meskipun kisah kuliah mereka sedang berjalan manis, takdir terkadang membawa kita kembali ke tempat semuanya dimulai untuk menyelesaikan apa yang belum tuntas. Siang itu, mereka berempat—Jenny, Angga, Romeo, dan Lisa—memutuskan untuk mampir ke SMA Garuda karena ada keperluan legalisir ijazah untuk keperluan beasiswa dan magang.
Langkah kaki mereka menggema di koridor sekolah yang kini terasa lebih kecil dibanding ingatan mereka. Namun, suasana nostalgia itu seketika pecah saat mereka melewati deretan loker lama di dekat lab Biologi.
Di sana, berdiri seorang wanita dengan pakaian yang terlihat kusam dan wajah yang sangat lelah. Ia sedang membawa tumpukan brosur kursus singkat. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi kini diikat asal-asalan. Saat wanita itu mendongak, matanya bertemu dengan rombongan Jenny.
Itu Claudia.
Melihat wajah itu, tubuh Jenny seketika menegang. Memori tentang pengkhianatan di apartemen, rok pemandu sorak yang digunting, dan tangisannya di balkon kamar seolah terputar kembali seperti film rusak. Tanpa sadar, Jenny mundur selangkah dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Angga. Tangannya mencengkeram erat jaket almamater Angga, tubuhnya sedikit gemetar.
"Jen? Kamu kenapa?" Angga langsung menyadari perubahan sikap pacarnya. Ia menoleh ke depan dan matanya langsung menajam saat melihat siapa yang berdiri di sana.
"Loh, itu kan si Ular?" desis Lisa, matanya memicing penuh kebencian.
Claudia mematung di tempatnya. Brosur di tangannya hampir saja jatuh. Ia melihat Jenny yang bersembunyi di balik Angga—sebuah pemandangan yang sangat kontras dengan lima tahun lalu saat ia merasa telah menang atas Jenny.
"Jenny..." suara Claudia serak, tidak ada lagi nada angkuh atau licik di sana.
Angga berdiri tegak, memosisikan dirinya sebagai perisai hidup bagi Jenny. Ia menatap Claudia dengan tatapan yang sangat dingin, tatapan yang sanggup membuat siapa pun merasa kerdil.
"Mau apa lagi lo di sini?" tanya Angga dengan nada rendah yang penuh ancaman. "Belum cukup lo hancurin masa SMA Jenny? Sekarang lo mau muncul lagi di depannya?"
Claudia menggeleng cepat, air mata mulai menggenang di matanya yang sayu. "Enggak... aku cuma lagi kerja... aku nggak tahu kalian bakal ada di sini."
Romeo melangkah maju, berdiri di samping Angga dengan tangan masuk ke saku celana. "Kerja? Bagus deh kalau lo udah tahu rasanya cari duit susah. Jadi lo nggak punya waktu lagi buat mikirin cara nikung cowok orang, kan?"
"Romeo, cukup," bisik Lisa, meski ia sendiri masih merasa muak melihat Claudia.
Claudia menatap kaki Jenny yang terlihat di balik punggung Angga. "Jen... aku tahu maaf aku nggak akan pernah cukup. Tapi aku beneran menyesal. Gara-gara kejadian itu, aku kehilangan segalanya. Papa aku malu, aku nggak bisa kuliah di tempat yang bagus, dan setiap malam aku dihantui rasa bersalah karena udah ngerusak persahabatan kita."
Mendengar suara isakan Claudia yang terdengar sangat menderita, Jenny perlahan mengintip dari balik bahu Angga. Ia melihat sosok di depannya bukan lagi "Claudia sang saingan", melainkan hanya seorang wanita yang sudah dihancurkan oleh pilihannya sendiri.
Jenny melepaskan cengkeramannya pada jaket Angga dan berdiri di samping kekasihnya, meski masih memegang lengan Angga dengan erat.
"Gue udah maafin lo, Clau. Bukan karena lo pantes dimaafin, tapi karena gue nggak mau bawa beban benci ini selamanya," ucap Jenny dengan suara yang mulai stabil. "Tapi jangan harap kita bisa jadi temen lagi. Luka itu mungkin udah sembuh, tapi bekasnya masih ada di sini." Jenny menunjuk dadanya sendiri.
Claudia menunduk dalam, air matanya jatuh ke lantai koridor. "Makasih, Jen. Makasih udah nggak sebar foto atau video itu dulu... kalau kamu lakuin itu, mungkin aku udah nggak ada di dunia ini sekarang."
Angga merasakan ketegangan di tubuh Jenny mulai mengendur. Ia merangkul bahu Jenny, memberikan kehangatan yang membuat Jenny merasa sepenuhnya aman.
"Udah, kan? Kita urus keperluan kita sekarang," ajak Angga.
Saat mereka melewati Claudia, Lisa sempat berhenti sebentar. Ia mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan meletakkannya di atas tumpukan brosur Claudia. "Beli minum gih, muka lo pucet banget. Anggap aja ini sedekah dari mantan temen lo yang lo khianatin dulu."
Mereka berempat berjalan menjauh, meninggalkan Claudia yang berdiri sendirian di koridor yang sunyi. Jenny tidak menoleh lagi ke belakang. Ia terus berjalan dengan kepala tegak, menggenggam tangan Angga yang hangat.
Di gerbang sekolah, Jenny menghirup udara dalam-dalam. "Ternyata bener ya, Ngga. Balas dendam terbaik itu bukan dengan menghancurkan mereka balik, tapi dengan hidup jauh lebih bahagia sampai mereka nggak punya tempat lagi di hidup kita."
Angga tersenyum, mengecup dahi Jenny dengan penuh kasih. "Dan lo udah menang telak, Sayang. Ayo, kita makan es krim. Aku yang traktir!"
Romeo berteriak dari motornya, "Woi! Gue sama Lisa juga ditraktir dong! Kan gue tadi ikutan jadi satpam pelindung!"
Gelak tawa pun pecah di antara mereka berempat. Masa lalu benar-benar telah menjadi sejarah. SMA Garuda kini hanya menjadi saksi bahwa di balik setiap luka, selalu ada penyembuhan, dan di balik setiap pengkhianatan, selalu ada cinta sejati yang menunggu untuk ditemukan.