Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 : Intinya
"Intinya, mereka menikmati hasil dari ritual pujon bayi. Dulu, kekayaan tiga keluarga itu tidak sejaya sekarang. Inur, aku tahu kamu belum bisa menerima, dan masih belajar mencerna. Semua dikarenakan … Warti mencampur minuman herbal yang kata dia berkhasiat untuk daya tahan tubuh dengan sedikit darah menstruasinya _”
“Apa?!” Ainur sampai duduk tegak, napasnya tersengal-sengal. "Hal gila apalagi ini?”
“Sejak umurmu empat tahun, setelah dipijat pertama kali oleh ki Ageng. Setiap Warti datang bulan, dia mencolek sedikit darahnya lalu dilarutkan dalam teh – hal itu ampuh membuatmu layaknya Kerbau dicucuk hidungnya. Berdiri dibelakang Dayanti, mengikuti persis seperti seorang pelayan. Pun, kinerja otakmu juga sudah dilemahkan dengan ramuan herbal mematikan. Menyerang tepat di titik-titik saraf, serta dipengaruhi oleh ilmu hitam. Dengan kata lain, lebih mudah untuk dipahami – kamu dijadikan alat demi memenuhi ambisi mereka.” Kinasih mengetuk-ngetuk meja menggunakan jari telunjuknya.
“Lantas, apa bayi-bayiku sudah benar-benar tiada? Mereka perempuan atau laki-laki?” ia hampir tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Memikirkan nasib anak yang bahkan belum sempat dia lihat itu membuat hatinya kebas.
“Kedua putrimu masih dalam cengkraman tangan ki Ageng. Diperalat untuk memperdalam ilmu hitam, kekebalan, serta dijadikan makhluk jahat, diperintahkan mencelakai para pengikutnya yang mulai membelot. Itulah tujuannya menawarkan pertolongan, demi keuntungan pribadinya juga _”
"Suara minta tolong, lalu anak kecil menjilati punggung tanganku di gua itu, putriku?!” Ainur histeris, berdiri mau berlari mencari lagi keberadaan lorong gelap seperti dalam mimpi.
Kinasih mencegah langkahnya dengan suara tegas, membeberkan fakta demi fakta. “Apa yang kamu lihat, hanya fatamorgana. Aku sengaja mempermainkan alam bawah sadarmu, memberi petunjuk karena sudah tiba waktunya menghentikan kejahatan mereka sebelum semuanya terlambat. Ainur … kutukan itu bisa hilang jika sudah terlahir tiga putra keturunan Wara.”
“Tolong jelaskan yang sejelas-jelasnya, Kinasih!” Ainur memekik, dia kehilangan rasa sabar. Pun, sudah diambang murka.
Kinasih juga berdiri menyamping, menatap tegas netra basah Ainur. “Ki Ageng – memindahkan janin kembar tiga milikmu yang mana semuanya berjenis kelamin laki-laki ke rahim Kamila, Dayanti, dan Citranti. Jika mereka berhasil dilahirkan dengan selamat ke dunia ini, kutukan sang Macan kumbang tak lagi berlaku. Dan, mereka bisa hidup lebih makmur, semena-mena lebih dari yang telah dilakukan.”
Intonasi Kinasih sedikit meninggi. “Memperalat siapa saja yang dikehendaki. Kebal hukum karena memiliki uang, kuasa, serta perlindungan dari dukun sakti yang sebenarnya juga keturunan campuran siluman. Selama ini kamu ditipu, mata batin ditutup rapat sehingga tidak dapat merasakan, melihat banyaknya kejanggalan. Ingatanmu dikacaukan. Sudut pandangmu dipersempit, kamu hidup dalam lingkungan palsu, sengaja diasingkan dari dunia luar _”
“Tapi aku juga anak kandungnya Sugianto? Istri sahnya Daryo. Mengapa mereka tetap ingin membuatku seperti orang gila? Bayi-bayiku di curi, apa karena ibu kandungku seorang pelayan?!” Ainur mengepalkan tangan, wajah yang tadi pucat kini merah padam.
“Kata siapa kamu dinikahi, Inur? Bukan, kamu hanya dijadikan Gundik nya Aryo. Satu-satunya istri sahnya cuma Kamila. Tercatat di pencatatan sipil, dan diketahui oleh warga desa. Kamu dibohongi, diperalat. Semua yang dirimu lihat hanya buah dari pikiran sesat sengaja dijejalkan ke dalam otakmu. Mereka berhasil merusak kinerja saraf otakmu dengan ramu-ramuan mematikan. Perlahan-lahan merenggut akal sehat, membuatmu tak lagi bisa membedakan mana nyata dan halusinasi.”
Belakang lutut Ainur menabrak bangku akar kayu. Dia tidak bisa mencerna, menerima semua ini. “Aku … dia _ kami. Selama ini berzina?"
"Ya benar. Daryo tak pernah menikahimu. Dia bersikap manis karena dirimu masih berguna, belum saatnya dilenyapkan seperti Larasani, dan para wanita lainnya yang dijadikan wadal bagi janin hendak ditumbalkan!" Kinasih melihat jelas perubahan ekspresi Ainur.
"Para lelaki dari keluarga biadab itu – menggauli gadis-gadis polos maupun wanita tak lagi bersuami. Dijadikan pelayan, hidup dalam satu atap agar bisa dikendalikan. Ki Ageng menggunakan kekuatannya, mempengaruhi pola pikir, mempermainkan alam bawah sadar, yang membuat para korban tidak menyadari telah diperdaya, tak kuasa melawan, cuma bisa menuruti semua titah," ucapnya lugas.
"Para pelayan baik laki-laki maupun perempuan, dalam pengaruh ilmu hitam ki Ageng, dan juga sudah minum ramuan melemahkan daya ingat. Mereka sangat setia bukan karena suka, tapi terpaksa, tak memiliki jalan lain. Jiwa-jiwa tidak bersalah itu sudah terikat oleh ilmu jahat."
"Aku termasuk salah satunya? Karenanya sering merasa seperti orang linglung. Kehilangan sesuatu tapi ndak tahu apa, seperti pernah mengalami, bingung mengungkapkan." Ainur terduduk, sekarang dia paham kenapa sulit membedakan antara nyata dan delusi.
"Kamu sudah dipersiapkan sedari baru saja terlahir. Semua telah dirancang sedemikian rupa demi terlihat sempurna agar dirimu tak curiga. Bahkan bila tiba waktunya kamu lenyap dari dunia ini – tak ada satupun orang diluar sana merasa kehilangan. Karena dirimu layaknya bayangan, tak terlihat, sengaja disembunyikan dari dunia luar," Kinasih berkata kejam dan memang faktanya.
Akhhh!
Ainur tidak sanggup lagi menerima, kepalanya langsung berdenyut-denyut, bahkan darah keluar dari hidung. Dia menjerit sejadi-jadinya. Menjambak rambut, giginya bergemeretak.
Seseorang masuk, mengeluarkan tabung bambu kecil dari saku celana.
Kinasih menunduk dalam, mengambil wadah obat ramuan mujarab. Penawar racun yang mulai menyatu dengan darah Ainur.
Tubuh kurus itu bergetar, pandangan mata buram, setiap benda ditangkap oleh mata, membayang.
Kinasih berdiri tepat di samping Ainur, tangan kanannya mencengkram tengkuk, mendongakkan wajah berkeringat, pucat, dan sebelahnya lagi memasukkan pil bulat berwarna kecoklatan.
Sosok tadi memberikan air dalam gelas, dan diterima Kinasih.
Ainur meneguk pelan-pelan, baru sampai kerongkongan dia muntah-muntah.
Bukan cairan bening maupun apa yang telah dia konsumsi. Darah lendir menciprat ke lantai, mengenai kaki Ainur dan Kinasih.
“Darah ...?” tanyanya tak percaya.
“Hal wajar, ketika racun dan penawarannya saling bertabrakan,” jelas Kinasih, “Apa masih berdenyut-denyut kepalamu?”
Ainur diam sejenak, merasai, mencari sumber sakit tadi. “Masih, tapi jauh lebih ringan dari yang tadi.”
Dia mengangkat dagu, menyela bibir dengan punggung tangan. Baru setelahnya menoleh saat merasa ada sosok lain di ruangan ini.
Dwipangga – berdiri bersedekap tangan, berjarak setengah meter dari Ainur yang terkejut.
“Mata itu memang sangat mirip hewan yang mengejarku,” gumamnya pelan sekali, tapi bagi Kinasih dan Dwipa yang memiliki pendengaran tajam, dapat mendengarnya.
“Itu memang Raden Dwipangga.”
“Yang kulihat di gua apa lorong itu adalah hewan hitam, Kinasih,” ia masih belum paham.
Belum sempat Ainur mengedip, pria beraura mistis tadi sudah berubah wujud sama persis seperti yang dia lihat di gua.
Ainur menarik napas panjang, lupa caranya membuang karbondioksida. “Dia, makhluk jadi-jadian kah ...?”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??