Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tidak Ingin Diulang
Sejak malam di mata air itu, Lein merasa dirinya berubah.
Perubahannya tidak mencolok. Tidak ada pengumuman, tidak ada sumpah besar. Hanya kebiasaan kecil yang berbeda, pilihan-pilihan yang ia ambil tanpa disadari orang lain.
Ia berhenti memetik bunga, bahkan yang digunakan untuk latihan ramuan. Ia memilih daun yang gugur sendiri. Saat kelas praktik sihir alam, ia menahan mana agar pertumbuhan tanaman tidak dipaksa, membiarkannya bergerak sesuai ritme alami.
Instruktur menyebutnya “Lein, kamu terlalu berhati-hati”
Di taman Academy, Lein sering duduk lebih lama dari biasanya, hanya untuk mengamati. Cara akar mendorong tanah. Cara serangga sihir kecil menari mengikuti aliran cahaya. Cara mana mengalir tanpa perlu diperintah.
Semua itu terasa asing baginya.
Dulu, Raksha tidak mengenal hal-hal kecil seperti ini.
Ia mengenal perintah dan hasil.
Ia mengenal sihir sebagai alat untuk menaklukkan dunia, membengkokkan dimensi, memusnahkan kerajaan.
Kenangan lama datang tanpa diundang.
Lingkaran ritual raksasa yang memerah oleh darah. Tanah tandus yang tidak lagi mau ditumbuhi apa pun. Makhluk sihir yang dijinakkan hingga kehilangan kehendaknya sendiri.
Penyihir kuno bengis.
Itulah dirinya.
Lein menggenggam tangannya hingga bergetar.
“Aku tidak ingin kembali menjadi diriku itu lagi,” bisiknya pelan.
Perubahan terasa menyakitkan.
Setiap kali ia menahan diri untuk tidak mematahkan cabang yang menghalangi jalan, Raksha merasakan gema masa lalu, kekuatan yang dulu begitu mudah digunakan, kini dikunci oleh kesadaran baru.
Di kelas sihir serangan, Lein memilih duduk di belakang. Saat diminta mempraktikkan mantra penghancur dasar, ia hanya mengeluarkan versi terlemahnya. Cukup untuk lulus, cukup untuk tidak melukai apa pun.
Beberapa murid mengejek.
"Lihat gadis menyedihkan itu, dia tidak lebih penyihir rendahan."
“Dasar penyihir taman,” kata seseorang berbisik, mengejeknya.
Lein tidak membalasnya.
Ia sudah terlalu lama membalas segalanya dengan kehancuran.
Grack memperhatikannya. Suatu sore, ia duduk di samping Lein di taman.
“Apa yang membuatmu berubah, Lein.” katanya langsung.
Lein menatap kolam kecil di depan mereka. “Apakah itu buruk?”
Grack menggeleng. “Tidak. Hanya saja terasa berbeda. Seperti kamu sedang menebus sesuatu.”
"Aku hanya tidak ingin menyakiti lebih dari yang kuperlu”
Grack tersenyum kecil. “Itu alasan yang cukup menarik.”
Malam itu, Lein bermimpi.
Ia berdiri di hadapan dirinya yang lama, Raksha Lozarthat dalam jubah hitam pekat, mata penuh amarah dan kekuasaan.
“Lemah,” kata bayangan itu. “Kau menahan diri karena takut.”
Lein menjawab dengan suara tenang, meski gemetar. “Tidak. Aku menahan diri karena aku tahu akibatnya.”
Bayangan itu memudar, meninggalkan kehampaan yang tidak lagi menakutkan.
Lein terbangun dengan napas berat, namun dadanya terasa lebih ringan.
Perubahan tidak menghapus masa lalu.
Namun ia bisa mengubah arah.
Keesokan paginya, Lein berjalan melewati taman Academy. Sebuah tunas kecil tumbuh di sela batu... rapuh, namun bertahan.
Ia tersenyum tipis.
“Teruslah hidup, teman tanaman.” bisiknya.
***
Pagi di Academy Magica biasanya dimulai dengan lonceng kristal dan langkah tergesa murid-murid menuju ruang kelas.
Bagi Lein, pagi itu dimulai dengan tatapan.
Ia duduk di ruang baca terbuka, membuka buku teori sihir dasar tingkat lanjut, bukan karena ia membutuhkannya, melainkan karena ia ingin terlihat biasa. Namun rencana itu gagal sejak seseorang duduk di hadapannya.
“Aku datang terlambat,” katanya ringan. “Sepertinya semua meja lain sudah penuh.”
Lein mengangguk kecil, tak banyak bicara.
Masalahnya bukan Reyd.
Masalahnya adalah bagaimana ruang baca yang tadinya sunyi berubah menjadi penuh bisikan hanya karena mereka duduk berhadapan.
“Pangeran Risvela.”
“Gadis itu lagi…”
“Mereka dekat lagi, ya?”
"Dasar tidak tahu malu"
Mereka belajar bersama, Reyd bertanya soal formasi sihir berlapis, Lein menjawab singkat dan tepat. Tidak ada sentuhan, tidak ada tawa berlebihan.
Namun ketika mereka bangkit bersamaan, beberapa murid berhenti berpura-pura membaca.
Desas-desus menyebar lebih cepat daripada mantra komunikasi.
Di kelas siang, Lein merasakan hal yang sama. Duduk berdekatan dengan Reyd karena pengaturan tempat, ia kembali menjadi pusat perhatian. Beberapa murid perempuan menatapnya tajam, yang lain berbisik tanpa berusaha merendahkan suara.
Lein menundukkan kepalanya, fokus pada papan tulis.
Dia hanya ingin belajar saja.
Saat istirahat, Grack menyusulnya di lorong.
"Apa kamu sadar, Lein?” katanya sambil tersenyum kaku.
“Sadar apa?” tanya Lein.
“Kamu dan Reyd. Kalian lagi-lagi menjadi topik hangat.”
Lein berhenti berjalan. “Kami hanya belajar bersama.”
“Academy tidak pernah peduli pada ‘hanya’,” jawab Grack tenang tapi menatap menatap punggung Lein dengan sendu.
Lein menghela napas panjangnya, lalu berlalu tanpa menoleh kearah belakang.
Masalah-masalah ini kecil. Tidak berbahaya. Tidak mengancam nyawa. Namun justru itulah yang melelahkan baginya.
Seperti tidak ada mantra untuk menghapus bisikan.
Juga tidak ada kutukan untuk bisa menenangkan tatapan.
Sore itu, Lein duduk sendirian di taman, menatap kolam yang tenang. Ia melemparkan kerikil kecil... riak air menyebar, lalu menghilang.
“Aku pernah hidup dikelilingi ketakutan,” gumamnya pelan. “Sekarang, kenapa aku tidak bisa hidup dengan tenang?”
Dia hampir tertawa getir.
Dulu dirinya dikejar musuh.
Sekarang dikejar perhatian.
Reyd muncul tak lama kemudian, berdiri agak jauh darinya.
“Aku minta maaf, Lein, ” katanya. “Sepertinya keberadaanku membuatmu tidak nyaman.”
Lein menoleh cepat. “Bukan itu. Ini hanya kebisingan saja.”
Reyd tersenyum hangat. “Jika kamu mau, lain kali aku bisa menjaga jarak”
Lein terdiam. Lalu menggeleng pelan. “Tidak perlu. Aku hanya perlu belajar terbiasa.”
Ia bangkit berdiri.
Perubahan besar memang sulit.
Namun perubahan kecil, justru yang paling menguras tenaga.
Lein melangkah kembali ke asrama, membawa satu keluhan kecil yang tidak bisa ia ucapkan pada siapa pun: termasuk dirinya sendiri.