Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUKUNGAN PAMAN
Lucian menarik tangan Leo, membawanya sedikit menjauh ke bawah pohon besar agar tidak terdengar oleh telinga tajam Pangeran Lucius yang mungkin saja masih mengintip dari jendela.
"Leo, dengerin Kakak," ucap Lucian dengan wajah yang sangat serius, persis seperti orang dewasa.
"Kenapa sih, Kak? Tadi Leo kan cuma mau kasih lihat kalau Leo hebat, kakek pasti senang, kalau tahu Leo bisa bikin api," ucap Leo, cemberut.
"Leo, Kakek dan Paman Lucius itu orang hebat, tapi mereka belum tahu kalau Ayah masih hidup. Ibu merahasiakan ini karena ibu mau melindungi kita semua," ucap Lucian memegang kedua bahu adiknya.
"Melindungi dari apa?" tanya Leo polos.
"Kalau kakek Raja tahu ayah masih hidup dan disekap musuh, kakek pasti bakal kirim pasukan besar, tapi musuh kita itu licik, Leo," jawab Lucian, menghela nafas panjang, seperti orang dewasa.
"Kalau mereka lihat prajurit kerajaan datang, mereka bisa saja melukai Ayah sebelum kita sampai di sana," lanjut Leo, menjelaskan.
"Ibu mau kita jadi pasukan rahasia, pasukan rahasia itu nggak boleh pamer, Leo," ucap Lucian, lagi.
Mereka memang kembar, dan sama-sama hebat, tapi dari segi pemikiran, Lucian lebih dewasa dari pada Leo.
Lucian itu benar-benar foto copyan dari ayah nya, mulai dari garis wajah sampai ke sifat nya, sama seperti Duke Lucas.
"Jadi kalau Leo pamer, Ayah jadi bahaya ya?" tanya Leo menunduk, menatap ujung sepatunya.
"Iya," awab Lucian mengangguk.
"Dan satu lagi, paman Lucius itu jenderal perang, dia pintar banget, kalau dia tahu kita punya kekuatan serigala dan api, dia bakal tanya-tanya terus, kita bisa bikin rahasia Nenek dan Paman Mark ketahuan," lanjut Lucian, memberikan pengertian pada adik nya.
Leo langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, dengan mata membelalak lucu.
"Oh tidak! Leo nggak mau paman Mark ditangkap!" seru Leo, menggeleng kan kepala nya, panik.
"Pintar. Jadi, selama kakek dan paman di sini, kita harus jadi anak-anak biasa saja, jangan lari terlalu cepat, jangan dengerin suara jauh-jauh, dan yang paling penting, jangan keluarin api dari tangan kamu, ya?" ucap Lucia tersenyum samar, melihat adiknya mulai mengerti.
"Tapi kalau Leo nggak sengaja gimana? Kadang apinya keluar sendiri kalau Leo semangat," bisik Leo khawatir.
"Makanya, Leo harus terus pegang tangan Kakak atau tangan Ibu, jadi nanti kalau Leo merasa panas, Leo remas tangan Kakak kuat-kuat, nanti Kakak kasih tahu ibu," jawab Lucian sambil memberikan senyum menenangkan.
"Leo paham, Leo janji bakal jadi anak manis yang nggak punya sihir depan kakek Raja, Leo mau Ayah pulang," ucap Leo, memeluk Lucian.
Lucian mengusap punggung adiknya, di dalam hatinya, dia sendiri juga merasa berat harus pura-pura lemah, tapi dia tahu ini demi keberhasilan rencana Ibu mereka.
Tanpa disadari oleh kedua bocah itu, di balik batang pohon yang besar, Pangeran Lucius berdiri mematung.
Niatnya tadi ingin membujuk keponakannya masuk untuk makan malam, tapi langkahnya terhenti saat mendengar bisikan serius Lucian.
Wajah Pangeran Lucius yang biasanya kaku seperti batu, kini tampak pucat, dengan jantung yang berdegup kencang.
"Ayah masih hidup..."
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Selama lima tahun ini, dia dan Raja Reifan berduka karena mengira Lucas telah gugur dalam peperangan waktu itu, tapi sekarang, mendengar keponakannya yang baru berumur lima tahun bicara dengan nada sepahit itu, Pangeran Lucius merasa dunianya berputar.
"Jadi, Jasmine membohongi kami semua?" bisik Pangeran Lucius sangat pelan, hampir tak terdengar.
"Lucian, Leo," panggil Pangeran Lucius keluar dari balik pohon.
Deg
Kedua bocah itu tersentak kaget, bahkan Leo hampir saja menjerit, sementara Lucian langsung berdiri pasang badan di depan adiknya.
Wajah Lucian pucat pasi, dia tahu rahasia mereka baru saja bocor ke telinga orang yang paling berbahaya.
"P-paman Lucius..." ucap Lucian, dengan suara bergetar.
Pangeran Lucius tidak marah, sebaliknya, dia berlutut di depan keponakan nya itu, matanya yang biasanya tajam dan dingin kini tampak berkaca-kaca.
Pangeran Lucius memegang bahu Lucian dengan tangan yang gemetar.
"Katakan pada Paman, apa yang kalian maksud tadi? Siapa yang masih hidup? Siapa yang sedang dikurung musuh?" tanya Pangeran Lucius, pelan.
Leo, yang tidak bisa menahan beban rahasia itu sendirian, langsung menangis dan memeluk leher Pangeran Lucius.
Grep
"Paman...huwa...."
"Jangan marahi Ibu! Ibu cuma mau jemput Ayah! Ayah dikurung di tempat gelap dan Ibu nangis terus setiap malam!" ucap Leo, sambil menangis di pelukan Paman nya.
Deg.
Pangeran Lucius memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan emosi yang meluap.
Kemarahan karena dibohongi kalah jauh oleh rasa sedih dan kaget yang luar biasa.
"Lucian, jujur pada Paman. Ayah kalian, Lucas? Dia masih hidup?" tanya Pangeran Lucius, menatap Lucian, meminta kepastian.
Lucian menunduk, air matanya akhi nya jatuh membasahi pipi gembul nya, Lucia tahu tidak ada gunanya lagi berbohong.
"Iya, Paman, ayah dikurung di benteng hitam," jawab Lucian, dengan bibir bergetar.
"Ibu bilang, kalau Paman atau Kakek Raja tahu, kalian akan kirim pasukan besar dan ayah bakal dibunuh oleh musuh karena mereka ketakutan, makanya ibu latihan sendiri sama Paman Mark dan bikin benda-benda meledak itu," lanjut Lucian, menceritakan semua nya.
Pangeran Lucius terdiam lama sekali, dia memeluk kedua keponakannya itu dengan sangat erat, di dalam kepalanya, dia membayangkan betapa beratnya beban yang dipikul Jasmine sendirian selama ini.
Adiknya yang dia kira sedang depresi ternyata sedang membangun pasukan kecil untuk menyerbu neraka demi suaminya.
"Adikku yang bodoh..." gumam Lucius pelan.
"Kenapa dia harus menanggung ini sendirian?" gumam Pangeran Lucius, menghela nafas panjang.
Setelah cukup lama, Pangeran Lucius melepaskan pelukannya, tangan terangkat, menghapus air mata Leo dan Lucian.
"Dengar, jangan beri tahu ibu kalian, kalau Paman sudah tahu, Paman akan pura-pura tidak tahu di depan Kakek, tapi Paman janji satu hal pada kalian," ucap Pangeran Lucius berdiri, aura jenderalnya kembali, tapi kali ini jauh lebih hangat.
"Paman tidak akan membiarkan ibu kalian pergi sendirian ke tempat berbahaya itu, Paman akan menjaganya dari belakang!" lanjut Pangeran Lucius, tegas.
"Paman nggak akan lapor ke Kakek?" tanya Lucian menatap pamannya dengan binar harapan.
"Tidak untuk sekarang," jawab Lucius, singkat.
"Kalau Kakek tahu, dia akan menghentikan ibu kalian, karena terlalu berbahaya, tapi Paman akan jadi pasukan rahasia tambahan untuk kalian," lanjut Pangeran Lucius, mengusap lembut kepala Leo dan Lucian.
"Berarti Paman tim kita?" tanya Leo, tersenyum lebar, meski matanya masih sembap.
"Ya, Leo. Paman tim kalian," jawab Pangeran Lucius tersenyum miring, senyum khas jenderal perang.