NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 5] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Pagi pertama di mansion Carlous diawali dengan suasana yang jauh dari kata tenang bagi Anisa.

Di dalam kamar mandi utama, guyuran air dingin membasahi seluruh tubuh Oscar. Pria itu sempat berdiri terdiam di bawah shower, memikirkan banyak hal tentang pernikahan dadakan ini dan perubahan besar dalam hidupnya. Bagi Oscar, kehadiran Anisa adalah variabel baru yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya.

Setelah selesai, Oscar memutar kran dan meraih satu-satunya handuk yang tersisa di sana—handuk berukuran cukup kecil yang biasa ia pakai hanya untuk mengeringkan rambut. Tanpa pikir panjang, ia melingkarkan handuk minim itu di pinggangnya dan melangkah keluar begitu saja dengan dada bertelanjang.

Namun, begitu pintu kamar mandi terbuka—

Anisa, yang baru saja selesai merapikan sudut meja dan berniat berbalik, seketika membeku di tempatnya.

Mata Anisa membelalak sempurna dari balik cadarnya. Di depannya, sang suami berdiri santai dengan tetesan air yang masih mengalir di dada bidangnya. Lebih parahnya lagi, handuk kecil yang terikat longgar di pinggang pria itu tampak begitu riskan dan seolah bisa melorot kapan saja hanya dengan satu pergerakan ceroboh.

Wajah Anisa seketika memerah padam di balik kain penutupnya. Rasa terkejut dan panik bercampur menjadi satu, membuatnya marah sekaligus terbata-bata.

"A-Anda... K-kenapa keluar dengan keadaan seperti itu?!" pekik Anisa pelan, buru-burung memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah dinding. tangannya terangkat menutupi pandangan. "Tolong pakai pakaian Anda dengan benar! Handuk itu... handuk itu hampir jatuh!"

Oscar yang tadinya hendak meraih kemeja, menghentikan langkahnya. Bukannya merasa bersalah atau canggung, sebuah senyum tipis yang penuh kejahilan justru terbit di bibirnya melihat reaksi panik sang istri.

Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Anisa yang masih menempel di tembok dengan tubuh kaku.

"Kau harusnya bersyukur aku masih ingat memakai handuk ini," sahut Oscar santai, nadanya begitu ringan tanpa beban. "Kalau aku sendirian di rumah ini, aku bisa saja keluar tanpa sehelai benang pun. Karena ada kau di sini, aku terpaksa memakainya. Lagipula, cuma handuk ini yang ada di dalam."

Anisa menyerap kalimat itu dengan tatapan tak percaya. Bingung harus merespons apa atas ketidaktahuannya yang luar biasa itu, Anisa hanya bisa mengepalkan tangannya di balik mukena. "Tapi ini... ini tidak sopan!"

Melihat Anisa yang begitu emosional namun tak berdaya untuk menatapnya, jiwa usil Oscar semakin meronta. Pria itu melangkah maju. Langkah kakinya yang tanpa alas suara bergerak mendekati Anisa hingga jarak di antara mereka terkikis habis.

Aroma kesegaran sabun dan uap hangat dari tubuh Oscar mendadak menyeruak tepat di hadapan Anisa.

Anisa menahan napasnya. Kedekatan ini terlalu intens. Saat ia memberanikan diri melirik sedikit, ia menemukan wajah Oscar hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Pria itu menunduk menatapnya, lalu dengan sengaja menaik-turunkan sebelah alisnya—sebuah ejekan terang-terangan yang sangat mengesalkan.

Dada Anisa berdesir hebat antara rasa muak, kesal, dan deg-degan yang tak terkendali. Ia ingin mendorong pria ini menjauh, tetapi seluruh kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Sebelum Anisa sempat protes lebih jauh, Oscar mencondongkan tubuhnya sedikit lagi. Sorot matanya yang tajam mendadak berubah sedikit redup, mengisyaratkan ketenangan yang dingin.

"Tenang saja, Istriku," bisik Oscar dengan suara baritonnya yang dalam dan tenang. "Semuanya berjalan sesuai kontrak. Dan kamu akan tetap aman sampai kontrak ini selesai."

Tatapan Oscar seolah mengunci Anisa, menegaskan bahwa wanita muda itu tidak perlu takut dirinya akan lepas kendali—atau sebaliknya.

"Jangan menatap saya seperti itu!"

"Seperti apa?"

"Seperti sedang mengejek!"

"Aku memang sedang mengejek mu"balas sungkan dari Oscar

"..."

Lalu, seolah belum cukup membuat jantung Anisa nyaris melompat keluar, Oscar mengikis sisa jarak di antara mereka, membisikkan satu kalimat terakhir tepat di samping telinganya.

"Yah... tapi kalau kau memang mau, jangan takut untuk melangkah. Lagipula aku bersih... dan mungkin, kau bisa jadi yang pertama untukku."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Oscar, diakhiri dengan satu kedipan mata penuh godaan sebelum pria itu berbalik santai menuju lemari pakaian.

Anisa berdiri terpaku di tempatnya, menempel pada dinding dengan napas yang memburu dan wajah yang terasa membakar. Pria itu benar-benar menguji imannya di hari pertama pernikahan mereka!

Sekitar tiga puluh menit kemudian, suasana ruang makan Mansion Carlous jauh lebih tenang.

Oscar sudah berpakaian rapi dengan setelan kerja berwarna gelap. Wajahnya kembali serius seperti biasanya.

Ia duduk di ujung meja panjang sambil membaca beberapa dokumen.Sementara Anisa duduk beberapa kursi di seberangnya.

Diam.

Sangat diam.

Terlalu diam.

Sejak kejadian di kamar tadi, wanita itu bahkan tidak berani mengangkat wajah.

Oscar meliriknya dari balik dokumen.

Anisa sedang berusaha mengoleskan selai pada roti.Tangannya terlihat sedikit gemetar.

Sret.

Selainya justru melebar sampai ke ujung roti.

Anisa mengerutkan kening.Ia mencoba memperbaikinya.

Sret.

Kini semakin berantakan.

Oscar menahan senyum."Kau sedang sarapan atau sedang melukis?"

Anisa langsung mendongak.

"Sa-saya bisa sendiri"

"Aku tidak bilang kau tidak bisa."

"Wajah Anda mengatakan sebaliknya."Anisa benar benar kesal melihat Pria itu namun sekali lagi ia mengurungkan niatnya.

Oscar terdiam.

Kemudian kembali membaca dokumen.

"Baiklah."

Anisa menggigit bibir.

Beberapa detik kemudian, ia mengambil gelas susu.Tangannya masih sedikit gugup.Dan entah karena pikirannya masih teringat kejadian tadi—

Gelas itu malah meleset dari genggaman.

"Ah!"

Oscar refleks mengulurkan tangan.

Terlambat.

Gelas itu jatuh tepat ke arah dokumen yang sedang dibacanya.

Byur!

Susu tumpah membasahi beberapa lembar dokumen.

Ruang makan mendadak sunyi.

Anisa membeku.Oscar menatap kertas-kertas itu.Kemudian menatap Anisa.

Anisa menelan ludah.

"S-saya..."

Ia buru-buru berdiri."Maaf! Saya tidak sengaja!"

Tangannya mencari kain untuk membersihkan meja.Namun karena terlalu panik, siku Anisa justru menyenggol piring.

Prang!

Oscar memejamkan mata sesaat.

Anisa semakin pucat.

"Maaf!"Ia hendak mengambil pecahan kecil di lantai.

"Jangan."Suara Oscar menghentikannya.

Anisa menatapnya.Oscar menghela napas.

"Biar pelayan yang membersihkan."Oscar berseru tak ingin ambil pusing saat ada yang terluka

"Tapi dokumen Anda—"

Oscar berusaha menenangkan nya Seraya berkata"Tenang bisa dicetak ulang."

Anisa terdiam.

Oscar mengambil dokumen yang basah itu, melihatnya sekilas, lalu meletakkannya ke samping.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada bentakan.

Hanya tatapan datar yang membuat Anisa semakin merasa bersalah.

"Saya benar-benar minta maaf..."

Oscar menyandarkan tubuhnya pada kursi."Kalau kau terus meminta maaf seperti itu, aku yang akan merasa bersalah."

Anisa berkedip."Kenapa?"katanya bertanya

"Karena aku membuatmu gugup."balas Oscar

Wajah Anisa seketika memerah.

"Itu bukan karena Anda!"

"Oh?"Oscar tak mengerti ia malah semakin bingung.

"Bukan!"

Oscar tersenyum kecil setelahnya

"Baiklah."

Anisa kembali duduk dengan wajah tertunduk.Namun beberapa detik kemudian, tanpa sadar, ia mencuri pandang ke arah Oscar.

Pria itu sedang membereskan dokumennya.

Tatapan Anisa berhenti cukup lama.Oscar tiba-tiba mengangkat wajah.

Mata mereka bertemu.

Anisa langsung memalingkan wajahnya, sementara Oscar menahan tawa.

"Kalau mau melihat, lihat saja."

"Saya tidak melihat!"balasan malu dari Anisa

"Kau baru saja melihat."ucap Oscar membinar tak bisa lagi menahan gelak tawa kecil nya itu.

"Saya melihat... meja!"

Oscar melirik meja.

"Mejanya ada di sebelah sana."

Anisa terdiam.

"..."

Oscar akhirnya tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya pagi itu, ketegangan di antara mereka sedikit mencair.Namun tanpa mereka sadari, jarak yang awalnya terasa begitu jauh mulai perlahan menyusut.

Pernikahan ini memang hanya sebuah kontrak.

Setidaknya, itulah yang mereka yakini.

Namun pagi pertama mereka telah menyisakan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak mana pun.

Sebuah kedekatan.

Kecanggungan.

Dan detak jantung yang mulai sulit diabaikan.

Oscar melirik jam tangannya.Ia berdiri dan merapikan jas.

"Aku berangkat."

Anisa ikut berdiri.

"Hati-hati di jalan."

Oscar berhenti sesaat.Tatapannya jatuh pada wanita di hadapannya.Entah mengapa, kalimat sederhana itu terdengar berbeda kali ini.

"Hmm."

Ia berjalan menuju pintu.

Sebelum benar-benar pergi, Oscar menoleh.

"Dan Anisa?"

"Ya?"

"Besok jangan terlalu gugup."

Anisa mengernyit.

"Kenapa?"

Senyum jahil kembali muncul di wajah Oscar.

"Aku takut sarapan kita besok bukan cuma susunya yang tumpah."

"Haduh tuan Oscar!"

Tawa rendah pria itu terdengar sebelum pintu mansion tertutup.

Anisa berdiri mematung.Kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Allah... kenapa aku menikah dengan pria seperti itu...?"

Di luar sana, Oscar berjalan menuju mobilnya dengan langkah santai.

Namun tanpa ia sadari dan tanpa anisa tahu—Ia tersenyum sepanjang perjalanan menuju perusahaan nya

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!