NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANGKAP LABA-LABA RACUN

Suara gesekan kaki bergerigi yang menggema dari balik kabut kelabu perlahan berubah ritme. Dari yang semula terdengar seperti langkah satu entitas raksasa, perlahan memecah menjadi ratusan suara ketukan kecil yang merayap cepat menyusuri tanah beku dan dahan-dahan pohon mati di Hutan Bayangan Kematian.

Kabut yang semula hanya sebatas lutut kini membumbung tinggi, menelan pandangan hingga jarak lima langkah di depan terasa seperti dinding kelabu yang solid.

"Mereka tidak menyerang secara acak," Desis Ah Xiu dengan dahi berkerut tajam, tali busurnya ditarik separuh, siap dilepaskan kapan saja. "Mereka sengaja menumbalkan barisan depan untuk menghentikan langkah kita, lalu menggiring kita ke titik ini."

"Kabut ini juga bukan kabut alami," Tambah Lu Chen sambil memutar belatinya, mengiris udara kelabu di depannya.

Ujung belati pemuda bangsawan itu meninggalkan jejak lengket berwarna hitam pekat. Bau asam yang menyengat langsung menusuk hidung mereka. Laba-Laba Malam tidak hanya berburu menggunakan taring dan sabit kaki; dalam kelompok besar, mereka memuntahkan uap bisa ke udara untuk membutakan mangsa dan memperlambat pergerakan musuh.

"Tahan napas kalian sebanyak yang kalian bisa! Jangan biarkan uap ini masuk ke paru-paru terlalu banyak, atau otot kalian akan kaku," Perintah Lin Yuan datar, matanya yang sekelam malam bergerak lincah menembus ketebalan kabut.

Di dalam lautan jiwanya, insting Kera Putih memberikan pemetaan spasial yang luar biasa. Meski matanya terhalang, telinga dan pori-pori kulit Lin Yuan menangkap setiap getaran udara, suhu, dan arah niat membunuh yang mengepung mereka.

"Dari atas dan sisi kiri! Enam ekor!" Teriak Lin Yuan memberi aba-aba.

BAM!

Tanpa menunggu konfirmasi, Shi Tou menghantamkan perisai besinya ke depan, menyambut dua ekor Laba-Laba Malam yang menerjang dari balik kabut. Benturan itu begitu keras hingga kaki Shi Tou terseret mundur beberapa jengkal di atas tanah es, meninggalkan jejak parit kecil.

"Mati kalian, Serangga Sialan!" Raung Shi Tou seraya menusukkan tombaknya dari celah perisai, menembus perut salah satu monster hingga cairan hijau memuncrat membasahi pelindung dadanya.

Di sisi kiri, Lu Chen bergerak bagai hantu. Pemuda itu tidak mengandalkan kekuatan murni seperti Shi Tou. Ia meluncur di bawah perut laba-laba yang melompat, menyilangkan kedua belatinya ke atas, dan membelah perut monster itu dalam satu gerakan mulus yang mematikan. Hujan darah beracun turun, namun Lu Chen sudah berputar menghindar ke samping sebelum setetes pun mengenai sutra kusamnya.

SWUSH! JLEB! JLEB!

Dua anak panah Ah Xiu menembus kegelapan, bersarang tepat di kepala dua laba-laba yang mencoba menyergap Lu Chen dari arah titik buta. Tembakan pemanah wanita itu sangat presisi, murni mengandalkan pendengaran di tengah kabut tebal.

Namun, jumlah musuh tidak berkurang. Suara kertakan rahang justru semakin riuh.

SREEEET!

Sebuah jaring raksasa berwarna hitam legam tiba-tiba jatuh dari langit-langit pepohonan, menutupi area seluas sepuluh meter persegi tepat di atas formasi Unit 9. Jaring itu tidak hanya tebal, tetapi juga meneteskan cairan asam pembusuk.

"Menghindar!" Teriak Lin Yuan.

Keempat prajurit buangan itu melompat berpencar untuk menghindari jatuhnya jaring raksasa tersebut. Jaring beracun itu menghantam tanah beku di tengah-tengah formasi mereka, melelehkan es dan tanah hingga mengeluarkan asap putih pekat yang membutakan.

"Formasi kita pecah!" Teriak Shi Tou panik dari balik asap tebal. Ia memukul mundur seekor laba-laba, tapi posisinya kini terisolasi dari rekan-rekannya.

Laba-Laba Malam adalah pemburu yang sangat cerdas. Mereka mengorbankan jaring raksasa itu bukan untuk menangkap, melainkan untuk memisahkan formasi Unit 9. Begitu formasi berlian mereka terpecah, puluhan laba-laba kelas rendah langsung membanjiri area tersebut, menyerang secara acak dan membuat kekacauan visual.

"Jangan panik! Tetap bergerak melingkar ke arah suaraku!" Perintah Lin Yuan, suaranya memotong kepanikan seperti bilah pedang.

Lin Yuan tidak memegang pedang pendeknya lagi. Di tengah kepungan monster berkarapas keras dengan ruang gerak sempit, senjata pendek justru membatasi momentum. Ia memusatkan aliran *qi* peraknya ke kedua kepalan tangannya. Aura Kera Putih membalut tulang-tulangnya, menciptakan siluet cakar samar di punggung tangannya.

Seekor Laba-Laba Malam berukuran sebesar beruang kecil menerjang dari kabut, mengarahkan sabit kakinya lurus ke dada Lin Yuan.

Lin Yuan melangkah maju alih-alih mundur. Ia menyusup ke bawah jangkauan sabit monster itu, meraih salah satu kakinya yang berduri tajam, dan memutarnya dengan kekuatan fisik yang brutal.

KRAK!

Terdengar suara sendi yang patah paksa. Lin Yuan menggunakan tubuh monster itu sebagai senjata raksasa, mengayunkannya satu lingkaran penuh untuk menghantam tiga laba-laba lain yang mencoba mendekati posisi Ah Xiu.

"Pemuda itu... tenaganya benar-benar tidak masuk akal," Gumam Lu Chen yang sempat melihat aksi Lin Yuan dari sudut matanya, sambil menangkis serangan laba-laba lain dengan belatinya.

Namun, kegelapan di sekitar mereka mendadak menjadi absolut. Kabut kelabu berubah menjadi hitam pekat. Cahaya bulan yang sebelumnya masih menembus samar dari sela-sela dahan raksasa kini sepenuhnya lenyap.

"Mereka menutup jalur atas!" Teriak Ah Xiu, wajahnya menegang melihat ke arah langit-langit hutan.

Ribuan Laba-Laba Malam bekerja sama menyulam jaring tebal di atas dahan-dahan Hutan Bayangan Kematian, menciptakan sebuah kubah raksasa yang mengurung Unit 9 di dalamnya. Jaring pelindung itu tidak hanya menahan cahaya, tetapi juga memerangkap udara beracun agar tidak menguap keluar. Suhu di dalam kubah mendadak turun drastis, sementara bau asam semakin mencekik kerongkongan.

"Ini bukan taktik monster biasa," Ucap Lu Chen seraya berdiri membelakangi Ah Xiu, napasnya mulai berat. "Ada monster kelas tiga atau kelas empat yang memimpin koloni ini. Kita masuk ke sarang utama mereka."

Benar saja, suara gesekan raksasa yang sempat terdengar di awal tadi kembali muncul. Kali ini, suaranya tidak berada di kejauhan, melainkan tepat di atas mereka.

Dari jaring hitam pekat yang menutupi langit-langit kubah, sesosok bayangan turun perlahan menggunakan untaian benang sutra tebal. Bayangan itu besarnya menyerupai sebuah kereta kuda. Cangkang di punggungnya tidak berwarna hitam, melainkan merah kelam dengan corak tengkorak manusia yang terbentuk dari tonjolan tulang. Delapan matanya yang besar menyala merah terang, memancarkan niat membunuh yang sangat menekan.

"Ratu Laba-Laba Bayangan," Desis Ah Xiu, tangannya yang memegang busur sedikit gemetar. "Kelas tiga tingkat puncak. Cangkangnya tidak bisa ditembus oleh panah perak biasa, dan racunnya bisa melelehkan tulang dalam hitungan detik."

Monster raksasa itu tidak membuang waktu mengaum atau menunjukkan dominasinya. Ia tahu mangsanya sudah terkurung. Begitu kakinya menyentuh tanah, Ratu Laba-Laba itu membuka rahangnya lebar-lebar.

SROOOT!

Sebuah tembakan cairan hijau pekat menyembur dengan kecepatan panah silang, mengarah lurus ke titik terlemah dari pertahanan mereka: punggung Shi Tou yang sedang sibuk menahan dua laba-laba kecil di depannya.

"Shi Tou! Menunduk!" Teriak Lin Yuan.

Shi Tou menoleh, namun gerakannya terlalu lambat akibat hawa dingin dan kelelahan. Mata pria bertato itu membelalak ngeri melihat gumpalan cairan asam maut yang melesat ke arah wajahnya. Ia bahkan tidak sempat mengangkat perisainya. Kematian terasa begitu dekat, membuat ototnya membeku seketika.

Di saat yang bersamaan, Ah Xiu yang berdiri paling dekat dengan Shi Tou menghentakkan kakinya. Alih-alih melompat mundur untuk menyelamatkan dirinya sendiri, gadis pemanah itu justru menerjang ke depan, berniat mendorong tubuh besar Shi Tou menjauh dari lintasan mematikan tersebut.

Namun racun itu meluncur lebih cepat dari perhitungan siapa pun, mengancam untuk menelan keduanya dalam satu hantaman maut di tengah kegelapan absolut.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!