Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Satu yang Ikut Pulang
Dua pria bertongkat itu masih pingsan ketika Jian Chen dan teman-temannya mengikat tangan mereka dengan tali rami dan menyeret mereka ke bawah altar. Dao meninggalkan satu catatan di dada masing-masing, ditulis dengan arang di sobekan kain: Ini penculik anak. Serahkan ke penjaga kota. Lalu mereka membawa sebelas anak keluar dari kuil melalui pintu belakang, sebelum Paman Abu atau siapa pun sempat kembali.
"Kita mau ke mana?" tanya anak perempuan berkepang dua itu. Namanya Xiao Lan, ia tiga belas tahun, dan sejak pagi ia berjalan paling belakang untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal.
"Ke tempat yang aman," jawab Lin Xue. "Aku sudah menanyakan penjual ramuan di pasar tadi malam. Ada rumah singgah di dekat bengkel lampion yang dikelola perkumpulan pengrajin. Mereka menampung anak-anak yatim dan memberi pekerjaan ringan."
"Kau tahu semua itu dari mana?" tanya Dao.
"Aku bertanya. Itu yang dilakukan orang yang tidak ingin mati bodoh."
Rumah singgah itu berupa bangunan kayu dua lantai di belakang deretan bengkel pembuat lampion, dengan halaman kecil penuh bambu yang dijemur. Seorang wanita berusia setengah baya bernama Nyonya Hua, berbadan gemuk dan bersuara keras, menerima mereka di pintu sambil mengelap tangan di celemek. Ia menatap sebelas anak yang berdiri di belakang empat orang asing itu dengan alis terangkat.
"Sebelas?" katanya. "Sekaligus?"
"Mereka dari kuil tua di ujung gang," kata Jian Chen. "Ada orang yang mencoba membawa mereka dengan janji palsu. Aku tidak bisa membawa mereka ke sekte. Tapi aku bisa menitipkan mereka di sini, kalau Nyonya bersedia."
"Siapa yang membayar makanannya?"
"Aku." Jian Chen mengeluarkan kantung kecil berisi seluruh poin yang bisa ia tukar menjadi perak di kantor Paviliun siang tadi, ditambah sumbangan dari Dao, Lin Xue, dan Tan Fu. "Dua bulan pertama. Setelah itu aku akan mengirim lagi lewat Pak Tong di gudang Paviliun Tungku Hitam."
Nyonya Hua menimbang kantung itu di tangan, menghitungnya dengan jari, lalu menatap Jian Chen dengan mata yang mulai berubah. "Murid sekte yang membayar sendiri untuk anak yatim. Aku belum pernah lihat."
"Aku juga belum pernah melakukannya."
"Kau jujur." Nyonya Hua mendengus. "Baik. Aku terima. Tapi dengar dulu: kalau ada lelaki jubah abu-abu datang menanyakan anak-anak ini, aku akan menutup pintu dan memanggil penjaga. Tidak ada orang yang bisa memaksaku."
"Itu yang kuharapkan."
"Dan kau," kata Nyonya Hua sambil menatap Ye Ran. "Kau tidak ikut mereka?"
Ye Ran menunduk. Ia memegang ujung baju Jian Chen lagi. "Paman itu menyebut namaku. Dia tahu aku punya koin. Kalau aku tinggal di sini..."
"Dia akan mencarimu di sini," kata Jian Chen pelan. Ia berlutut di depan Ye Ran, menatap matanya. "Kau benar. Itu sebabnya aku ingin kau ikut aku. Ke Sekte Pedang Fajar."
"Aku bukan murid."
"Kau tidak harus jadi murid. Kau bisa jadi pelayan di pondok pengobatan. Membantu Lin Xue, menyapu, menyiapkan obat. Ada tempat tidur, makan tiga kali sehari. Bukan rumah besar di gunung, tapi nyata."
"Dan kalau Paman itu datang ke sekte?"
"Dia tidak akan masuk tanpa dihadang." Jian Chen menahan nada suaranya tetap tenang. "Aku berjanji."
Ye Ran menatap Lin Xue. Lin Xue mengangguk sedikit. "Aku butuh orang yang bisa mengelap lumpang tanpa menjatuhkannya," katanya. "Kau punya tangan yang rapi. Aku lihat sewaktu kau memegang bakpao."
"Bakpao itu penting," kata Ye Ran dengan nada sungguh-sungguh.
"Aku tahu."
Ye Ran menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Aku ikut."
Sebelum mereka berangkat, Xiao Lan menghampiri Ye Ran di pintu rumah singgah. Ia menyerahkan sebuah lampion kertas kecil sebesar kepalan tangan, dilukis kuning dengan satu garis hitam di tengah. "Aku membuatnya semalam dari sisa bengkel," katanya. "Supaya kau ingat kami."
"Aku tidak akan lupa," kata Ye Ran, matanya berkaca.
"Jangan menangis. Nanti lampionnya basah."
Perjalanan pulang berlangsung tiga hari, dan Ye Ran berjalan di sebelah gerobak yang kini kosong dengan langkah kecil dan cepat, membawa lampion itu di kedua tangan. Ia tidak banyak bicara pada hari pertama. Pada hari kedua ia mulai bertanya: kenapa Dao punya otot sebesar itu, apakah Tan Fu benar-benar makan lima bakpao sehari, apakah sekte punya kolam ikan. Pada hari ketiga ia sudah memanggil Lin Xue Kakak Tabib dan Dao Kakak Palu.
Jian Chen mendengarkan semuanya dari jarak beberapa langkah. Ia tidak ikut menjawab. Kadang ia memperhatikan koin perak itu di telapak tangannya, yang sekarang ia pegang sendiri setelah Ye Ran menyerahkannya dengan ragu. Dalam kehidupan pertama, anak ini masuk sekte sebagai murid Jian Chen setelah dikuasai Segel Kepatuhan, dengan mata yang selalu kosong dan jawaban yang selalu patuh. Sekarang ia menggoda Tan Fu dan tertawa untuk pertama kalinya.
"Kau terus menatapnya," kata Lin Xue pelan di samping Jian Chen pada malam ketiga, saat mereka berkemah di tepi hutan pinus.
"Aku hanya mengawasi."
"Kau menatapnya seperti orang yang takut dia menghilang."
Jian Chen tidak membantah.
"Siapa dia sebenarnya bagimu?" tanya Lin Xue. Suaranya rendah, bukan menuntut.
"Seseorang yang tidak ditolong waktu dulu."
"Dulu kapan?"
"Dulu," jawab Jian Chen. Lalu, ketika Lin Xue terus menatapnya, ia menambahkan dengan jujur, "Aku belum bisa bercerita. Tetapi aku tidak berbohong."
Lin Xue memandang api unggun lama sekali. "Aku tidak menuntut," katanya akhirnya. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku bisa menunggu."
Mereka tiba di gerbang sekte menjelang senja. Lu Gang sudah menunggu di depan gerbang pemisah dengan wajah tegang, dan ia langsung menghampiri begitu melihat mereka.
"Kalian pulang lebih cepat dari rencana," katanya. "Siapa anak ini?"
"Ye Ran," kata Jian Chen. "Pelayan baru untuk pondok pengobatan. Lin Xue menjadi penjaminnya."
Lu Gang menatap Ye Ran, lalu Lin Xue, lalu Jian Chen. "Kau membawa orang baru tanpa izin."
"Aku akan menanggung akibatnya."
"Kau sudah menanggung terlalu banyak." Lu Gang mendesah. "Baik. Aku akan menuliskannya sebagai pelayan pondok pengobatan." Ia berhenti, lalu menurunkan suara. "Dan Jian Chen. Ada kabar dari luar yang harus kauketahui."
"Kabar apa?"
"Desa Sungai Hitam mengirim utusan tadi pagi. Mereka melaporkan banyak warga yang jatuh sakit, demam tinggi dengan bercak kehitaman di kulit." Lu Gang menatapnya tajam. "Aula pengobatan belum memutuskan apa pun. Tapi tabib-tabib sudah bersiap."
Jian Chen merasakan darah di wajahnya surut. Sungai Hitam. Wabah. Ia sudah menunggu waktu ini, tetapi mendengarnya diucapkan membuat lututnya lemas.
Di sampingnya, Lin Xue sudah menegakkan bahu. "Aku ikut," katanya. "Kalau aula mengirim tabib, aku ikut."
"Aku juga," kata Jian Chen.
"Kau bukan tabib," ujar Lu Gang.
"Aku tahu cara menolong."
Lu Gang tidak membantah lagi. Di belakang mereka, Ye Ran memegang ujung baju Jian Chen dan menatap ke arah gunung yang mulai gelap, tidak mengerti apa yang baru saja berubah, tetapi tahu bahwa sesuatu sedang bergerak.