Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 7
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut ibunya sendiri, dunia di sekitar Galang seolah melambat. Kata "cacat", "aib", dan "membuat malu" yang diucapkan dengan begitu enteng oleh Bu Ratna menghantam ulu hatinya lebih keras dari apa pun.
Tangan Galang yang berada di dalam saku mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya mengeras, menahan badai emosi yang siap meledak.
"Cukup, Bu," potong Galang. Suaranya tidak tinggi, namun begitu dingin dan sarat akan penegasan yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Cantika bukan cacat. Dia anakku. Dan dia sama sekali bukan aib."
Tanpa memedulikan tatapan syok dari ibunya, Galang berjalan menuju loket administrasi. Dia menggesek kartu debitnya hanya untuk membayar uang muka jaminan agar Kevin bisa segera ditangani. Setelah slip transaksi keluar, dia meletakkannya di atas meja begitu saja di hadapan Bu Ratna.
"Ini yang terakhir, Bu. Setelah ini, biarkan Mas Bayu yang bertanggung jawab atas anaknya sendiri. Aku harus pergi menemui tanggung jawabku yang sebenarnya," ujar Galang datar.
Dia langsung berbalik, melangkah lebar meninggalkan koridor rumah sakit tanpa menoleh lagi, mengabaikan seruan ibunya yang memanggil namanya dengan penuh amarah. Sementara itu, sebuah mobil SUV putih milik Pak Ghani membelah jalanan kota menuju sebuah yayasan pusat terapi dan sekolah khusus. Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Farrel dan Cantika sibuk bercanda di kursi tengah, sementara Aulia sesekali menoleh ke belakang dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Begitu sampai di lokasi, suasana riuh anak-anak berkebutuhan khusus dengan berbagai karakteristik langsung menyambut mereka. Hari ini adalah jadwal latihan terakhir sekaligus gladi bersih mandiri sebelum acara panggung besar esok hari.
Cantika dan Farrel memiliki program terapi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu:
Sesi Terapi Wicara Cantika (Fokus: Artikulasi & Komunikasi Ekspresif)
Aulia mengantar Cantika ke sebuah ruangan bernuansa pastel dengan cermin besar di dindingnya. Di sana, seorang terapis bernama Kak Nina sudah menyambut dengan ramah. Cantika didiagnosis mengalami Speech Delay (keterlambatan bicara) fungsional yang memerlukan stimulasi intensif pada otot motorik mulut (oral motor) dan kelancaran artikulasi.
Latihan Motorik Mulut. Kak Nina mengajak Cantika meniup peluit kertas berwujud naga dan meniup balon sabun untuk memperkuat otot pipi dan bibirnya. Cantika melakukannya dengan riang, matanya berbinar setiap kali balon sabun pecah di udara.
Terapi Cermin, Di depan cermin besar, Kak Nina mencontohkan bentuk bibir yang benar untuk mengucapkan vokal dan konsonan yang selama ini sulit bagi Cantika.
"Ikuti Kak Nina ya, Cantika... Paaa-paaa... Maaa-maaa..."
"Ikuti Kak Nina ya, Cantika... Paaa-paaa... Maaa-maaa..."
Hasil Latihan, Dengan penuh konsentrasi, Cantika memperhatikan gerakan bibir terapisnya. "Pa... pa... Ma... ma..." ucapnya dengan artikulasi yang jauh lebih jelas dari biasanya, membuat Aulia yang mengintip dari balik kaca jendela menahan napas haru.
Sesi Terapi Okupasi & Perilaku Farrel (Fokus: Regulasi Diri & Motorik Kasar)
Di ruangan lain yang lebih luas dan dipenuhi oleh matras, trampolin, serta bola-bola besar, Farrel sedang menjalani sesi bersama terapisnya. Farrel memiliki kecenderungan hiperaktif dan gangguan integrasi sensorik, yang membuatnya kesulitan fokus dan sering kali bergerak tanpa kendali jika energinya tidak disalurkan dengan benar.
Latihan Trampolin & Keseimbangan, Farrel diminta melompat di atas trampolin sambil menangkap bola yang dilemparkan oleh terapis. Ini berfungsi untuk melatih fokus, koordinasi mata-tangan, serta meregulasi energi tubuhnya yang berlebih.
Sensory Bin (Wadah Sensorik), Setelah energinya sedikit tersalurkan, Farrel diarahkan untuk duduk menghadapi wadah besar berisi kacang-kacangan hidrogel. Dia harus mencari mainan-mainan kecil yang disembunyikan di dalamnya. Latihan ini berguna untuk menenangkan sistem sarafnya dan melatih kesabaran.
Pak Ghani mengawasi dari sudut ruangan dengan senyum sabar. Dia tahu, ketenangan Farrel saat menyapa Cantika di warung tadi adalah hasil dari konsistensi terapi yang panjang ini.
Dua jam berlalu dengan cepat. Setelah sesi terapi individu selesai, kedua anak itu dipertemukan kembali di aula utama untuk latihan gabungan drama musikal singkat yang akan dipentaskan besok.
Cantika akan menjadi penari utama di bagian depan, sedangkan Farrel bertugas memukul perkusi kecil di bagian latar. Saat musik instrumental bernada ceria diputar, Cantika langsung mengambil posisinya. Dia menggerakkan tangan kecilnya ke atas dan ke bawah dengan gemulai, menari dengan ingatan yang kuat akan setiap ketukan tariannya. Di belakang, Farrel memukul perkusinya dengan ritme yang pas, melompat kecil penuh semangat namun tetap berada di posisinya tanpa merusak barisan.
Aulia dan Pak Ghani berdiri berdampingan di tepi aula, menyaksikan anak-anak mereka berproses.
"Lihat Cantika, Mbak. Dia sangat berbakat di seni tari. Gerakannya natural sekali," puji Ghani tulus.
"Terima kasih, Pak Ghani. Dia memang selalu bersemangat kalau sudah mendengar musik," sahut Aulia, matanya berkaca-kaca menatap Cantika yang sedang tersenyum lebar di tengah panggung latihan, menunjukkan jempolnya ke udara seperti yang dia lakukan di warung tadi.
Di tempat lain, begitu mobil milik Galang keluar dari area rumah sakit, Galang menepikan kendaraannya di sebuah halte bus yang agak sepi. Pintu penumpang depan terbuka, dan seorang wanita dengan pakaian kerja yang modis serta riasan wajah yang rapi langsung masuk ke dalam.
"Lama banget sih, Sayang? Aku hampir lumutan nungguin kamu di halte," keluh Belinda manja sambil membenahi posisi duduknya dan menaruh tas jinjing mahalnya di dasbor.
Galang menghela napas panjang, lalu kembali melajukan mobilnya.
"Maaf, tadi harus mampir ke rumah sakit dulu. Urusan keluarga."
Belinda mendengus kesal, lalu melirik Galang dengan senyum tipis yang sarat akan tuntutan.
"Urusan keluarga terus. Oh ya, gimana soal rencana kita makan malam di restoran hotel bintang lima nanti malam dan rencana besok jalan-jalan. Kamu sudah janji minggu ini adalah minggu untukku? Kamu sudah pesan tempat, kan? Jangan lupa, kamu janji mau temani aku belanja besok!"
Mendengar rentetan kalimat Belinda, jemari Galang yang mencengkeram kemudi mendadak kaku. Dompetnya berdenyut tipis. Di dalam rekeningnya, sisa saldo pasca membayar uang muka jaminan keponakannya tadi sudah menipis.
Inilah rahasia gelap yang selama ini dia sembunyikan rapat-raapat dari Aulia. Alasan sebenarnya mengapa uang bulanan rumah tangga mereka belum cair, mengapa jatah sekolah dan biaya terapi Cantika bulan ini sengaja dia tunda hingga dapur rumahnya kosong melompong. Bukan karena gajinya terlambat, melainkan karena sebagian besar penghasilannya telah mengalir untuk membiayai gaya hidup Belinda selama beberapa bulan terakhir ini. Bersama Belinda, Galang merasa egonya sebagai pria sukses terpenuhi, sesuatu yang tidak dia dapatkan di rumah yang selalu selalu bertengkar dengan Aulia masalah Cantika yang tak ada habisnya.
"Galang? Kok malah melamun?" Belinda menyentuh lengan Galang, membuyarkan lamunannya.
"Kamu ada uangnya, kan? Jangan bilang kamu mau batalin janji lagi."
Galang menelan ludah yang terasa getir. Rasa bersalah kepada Aulia dan Cantika sempat melintas di benaknya saat mengingat sepiring nasi goreng putih hambar tadi pagi. Namun, melihat tatapan menuntut dari wanita di sampingnya, ego Galang kembali kalah. Dia tidak ingin terlihat lemah atau tidak punya uang di depan selingkuhannya.
"Ada. Tenang saja, semuanya aman," dusta Galang sambil memaksakan sebuah senyuman. "Kita pergi ke kantor dulu, sekarang."
Sementara Galang memilih menuruti ego dan hubungan terlarangnya bersama Belinda, di sudut lain kota, di dalam aula yayasan yang hangat, Cantika sedang tertawa riang. Tanpa tahu bahwa ayahnya baru saja memutar arah mobil demi wanita lain, anak perempuan kecil itu melompat kecil dan menunjukkan jempolnya ke udara, berlatih keras demi panggung impiannya esok hari. Dengan harapan sang ayah akan melihat penampilannya dan juga mengetahui berapa banyak prestasi yang dia raih selama ini dan akan di umumkan saat acara besok.