Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokator Angela
Masih berada di dalam dekapan erat Javier, Yoselin kali ini memilih untuk diam saja. Tubuhnya dibiarkan pasrah berada di dada bidang sang CEO. Ia merasa terlalu lelah untuk memberontak, menyadari bahwa seberapa keras pun ia melawan, tenaganya pasti akan selalu kalah oleh dominasi pria raksasa ini.
Merasakan ketenangan wanita di pelukannya, Javier menundukkan kepalanya sedikit. "Mengapa kamu menghindari ku?" tanya Javier dengan nada suara yang sengaja dibuat manja, kontras dengan posturnya yang gagah.
Yoselin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tetap bungkam tanpa niat menjawab.
Javier menunggu beberapa detik, namun hening masih menyelimuti mereka. "Kamu bahkan tidak menjawab aku!" cetus Javier sebal saat mendapati Yoselin terus memilih diam.
"Yoselin..." panggil Javier pelan, melonggarkan pelukannya dan menangkup kedua bahu Yoselin agar mereka bisa saling berhadapan. Sepasang mata abu-abunya menatap tajam ke dalam manik mata cokelat bening wanita itu.
Yoselin menarik napas panjang, menatap Javier dengan raut wajah datar. "Ada apa?" tanyanya pada akhirnya.
"Tidak ada, aku ngambek!" balas Javier dengan wajah ditekuk kesal, memalingkan pandangannya bak anak kecil yang tidak diberi mainan.
Mendengar pengakuan konyol dari sosok CEO V. Corp yang ditakuti dunia bisnis itu, Yoselin seketika melongo. Rasa heran bercampur tak percaya memenuhi kepalanya.
"Memangnya aku peduli!" ketus Yoselin tajam.
Tanpa membuang waktu lagi, Yoselin memutar badannya dan melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun.
Brak!
Javier yang ditinggalkan begitu saja melepaskan emosinya dengan menonjolkan tangannya ke dinding ruangan.
Bugh!
Pria tampan itu mengusap jemarinya yang memerah, mendesah berat seraya merutuki dirinya sendiri. Ia merasa harga dirinya sebagai pria dominan sudah tidak ada sisa-sisanya lagi setiap kali berhadapan dengan wanita bernama Yoselin itu. Namun sayangnya, rasa cinta dan obsesi di dadanya sudah terlalu dalam, hingga ia sama sekali tidak berani bertindak kasar padanya.
"Untung kamu Yoselin, kalau tidak sudah kubuang!" ucap Javier tajam seraya menatap pintu kaca yang baru saja ditutup rapat oleh Yoselin.
Javier menyunggingkan senyuman miring penuh pesona, membasahi bibir bawahnya. "Kamu membuatku semakin gila, Sayang..." bisiknya pelan pada keheningan ruangan.
Sementara itu, Yoselin melangkah cepat menyusuri lorong lobi lantai atas menuju area lift. Ia ingin segera keluar dari gedung ini dan menghirup udara segar. Namun, begitu ia sampai di depan pintu lift dan menekan tombol turun, sosok Angela mendadak melangkah keluar dari sudut dinding dan langsung menghadang jalannya.
Angela berdiri bersedekap dada dengan senyuman miring yang penuh dengan nada cemoohan.
"Wah wahhh... Lihat siapa ini?" sindir Angela dengan suara nyaring yang sengaja dibuat-buat.
"Setelah tidak mendapatkan Edward, sekarang kamu berniat menggoda Tuan Javier, ya?"
Yoselin menghentikan langkahnya, menatap Angela dengan pandangan dingin tanpa minat untuk berdebat.
"Maaf, Nona Angela," balas Yoselin datar dan tenang.
"Saya pikir Anda terlalu banyak bicara. Kita tidak sedekat itu hanya untuk sekadar berbasa-basi."
Pintu lift berdentang halus dan terbuka lebar. Yoselin segera melangkah masuk ke dalam kabin lift tanpa memedulikan raut wajah Angela yang mulai memerah akibat ditolak mentah-mentah.
"Aku belum selesai bicara, Yoselin!" teriak Angela kesal. Wanita itu langsung menerobos masuk melintasi ambang pintu sebelum lift sempat tertutup, berdiri tepat di samping Yoselin.
Pintu lift tertutup rapat, mulai bergerak turun perlahan membawa mereka berdua dalam ruang tertutup.
Angela memutar tubuhnya menghadap Yoselin, menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa benci dan hinaan.
"Kamu benar-benar wanita yang tidak tahu diri ya, Yoselin!" cetus Angela memulai serangannya, suaranya menggema di dalam kabin lift yang sepi.
"Saat Edward sedang terbaring sakit di rumah sakit dengan tangan patah, dan kamu dengan santainya malah berjalan-jalan di kantor V. Corp, masuk ke ruang kerja Tuan Javier secara pribadi! Apa kamu tidak punya malu?"
Yoselin tetap berdiri tegak, memandang lurus ke arah pintu lift yang tertutup. Ia memilih diam rapat, tidak sudi meladeni celotehan wanita di sebelahnya.
Melihat Yoselin yang mengabaikannya, amarah Angela kian menyala.
"Jawab aku, Yoselin! Jangan berlagak sok suci!" cecar Angela dengan nada mengintimidasi.
"Kamu itu cuma wanita gagal yang tidak bisa menjaga suaminya sendiri! Edward itu berpaling padaku karena kamu tidak memuaskan dan membosankan sebagai istri! Lalu sekarang, setelah dibuang oleh Edward, kamu mau mengincar Tuan Javier? Pria terpandang seperti Tuan Javier mana mungkin mau dengan wanita bekas dan gagal seperti kamu!"
Yoselin menghela napas panjang secara perlahan. Jemari tangannya yang menggenggam tali tas sedikit mengetat, namun ia tetap memilih membisu. Ia mengingat betul komitmennya untuk selalu profesional dan tidak mengotori tangannya dengan drama tidak bermutu.
"Kamu pikir aku tidak tahu?" lanjut Angela dengan nada ejekan yang makin pedas.
"Kamu tega menceraikan Edward saat dia sedang terpuruk hanya karena kamu sudah menemukan batu loncatan baru, kan?! Tuan Javier itu jauh di atas levelmu, Yoselin! Jangan bermimpi tinggi-tinggi nanti jatuhnya sakit!"
Angela melangkah satu tapak lebih dekat, menundukkan kepalanya seraya berbisik tajam di samping telinga Yoselin.
"Edward sekarang milikku sepenuhnya. Dia memberikan semua kasih sayang dan uangnya padaku, hal yang tidak pernah kamu dapatkan selama dua tahun menikah dengannya. Jadi sadar diri, Yoselin. Kamu itu cuma sampah yang ditinggalkan."
Keheningan kembali menyergap. Di dalam lift yang terus bergerak turun, Yoselin sama sekali tidak membalas sepatah kata pun. Wajah cantiknya tetap tenang, matanya menatap lurus, dan ekspresinya begitu datar seolah-olah suara Angela hanyalah dengungan nyamuk yang tidak berarti.
Sikap diam Yoselin yang begitu tenang dan anggun justru menjadi pukulan telak bagi Angela. Bukannya merasa menang, Angela malah merasa sangat marah dan dihina karena semua makian berapi-apinya dianggap angin lalu oleh Yoselin.
"Heh! Kenapa kamu diam saja?!" bentak Angela histeris, mukanya memerah padam menahan kekesalan.
"Bisa bicara tidak?! Kamu pikir diam seperti ini membuatmu terlihat elegan, hah?! Jawab aku, Yoselin!"
Ting!
Suara bel penanda lift tiba di lantai dasar lobi menggema lembut. Pintu kargo kaca itu terbuka secara otomatis.
Yoselin merapikan posisi tas di bahunya, lalu memutar kepalanya sedikit menatap Angela. Dengan sebuah senyuman tipis yang sangat tenang namun amat meremehkan, Yoselin menatap mata Angela yang berapi-api.
"Permisi, Nona Angela. Hari saya terlalu berharga untuk dilayani," ucap Yoselin dengan nada suara yang sangat halus dan sopan.
Tanpa menunggu balasan, Yoselin melangkah anggun keluar dari dalam lift, menyusuri lobi dengan percaya diri dan meninggalkan Angela yang berdiri mematung di dalam kabin lift, menghentakkan kakinya histeris akibat puncak kemarahan yang tidak tersalurkan.
Bersambung...