NovelToon NovelToon
Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Dua Pewaris Rahasia Keluarga Vasillo

Status: tamat
Genre:Mafia / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.7M
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.

Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.

Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.

Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.

“Daddy!”

"Hah?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Begitu pintu mobil tertutup, mobil hitam itu langsung melaju meninggalkan halaman Ocean Blue.

Di dalam mobil, suasana langsung kacau.

“Turunkan aku!” Tasya terus memberontak di kursi penumpang. Tangannya mencoba membuka pintu, namun pintu mobil sudah terkunci otomatis.

“Tuan Alex! Kamu dengar aku tidak?!”

Namun, pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu. Alex menyetir dengan tenang, satu tangan di setir. Seolah-olah tidak ada wanita yang sedang mengamuk di sampingnya.

“Berhenti memberontak.” Ucapnya datar.

“Aku akan menurunkanmu di rumah nanti,”

“Tapi aku tidak mau ikut denganmu!” Balas Tasya kesal.

Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Alex. Tetapi, tanpa ia sadari tangan kirinya sudah dipegang oleh Alex.

Pria itu tetap menyetir dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan Tasya agar ia tidak membuka pintu atau melakukan hal lain yang berbahaya.

Tasya semakin kesal. “Lepaskan!”

Alex tetap diam, tidak ada jawaban. Seolah semua teriakannya hanya angin lewat. Beberapa detik kemudian Tasya menyadari satu hal Alex tidak akan mendengarkannya.

Wajahnya langsung mengeras. Tasya langsung menunduk dan menggigit tangan Alex dengan kuat.

“Ah—” Alex sedikit terkejut.

Mobil sempat sedikit oleng sebelum kembali lurus. Bekas gigitan itu cukup kuat. Namun, reaksi Alex justru tidak seperti yang Tasya bayangkan.

Pria itu tidak marah, tidak berteriak dan tidak menarik tangannya. Alex hanya menoleh pelan ke arah Tasya. Tatapannya datar tanpa ekspresi. Benar-benar kosong, seolah gigitan itu tidak berarti apa pun.

Justru tatapan itu yang membuat Tasya langsung terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada sesuatu di mata pria itu yang sulit ia jelaskan. Tasya yang tadi penuh amarah tiba-tiba merasa canggung. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela.

Menghindari tatapan Alex. Beberapa detik mobil hanya diisi suara mesin yang berjalan. Lalu, Alex akhirnya berkata dengan suara rendah,

“Sudah puas?”

Tasya tidak menjawab, dia masih menatap keluar jendela. Namun, Alex kembali melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.

“Kalau sudah … duduk yang benar.” Tangannya akhirnya melepaskan pergelangan Tasya.

“Kalau kamu membuat mobil ini celaka…”

Alex berhenti sebentar.

“Anak-anakmu akan kehilangan dua orang sekaligus.”

Kalimat itu membuat Tasya langsung menoleh.

“Dua orang?”

Alex kembali menatap jalan, jawabannya sederhana.

“Kamu … dan aku.”

Mau tidak mau, Tasya akhirnya memilih diam. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap keluar jendela, menahan semua kekesalan yang sejak tadi ingin meledak.

Di sampingnya, Alex menyetir dengan tenang.

Seolah apa yang terjadi beberapa menit lalu hanyalah hal biasa. Mobil itu melaju membelah jalan kota. Beberapa menit berlalu. Ketika mobil akhirnya berhenti Tasya langsung mengerutkan kening. Ia menoleh ke luar jendela. Bukan rumah kakeknya. Bukan juga jalan menuju rumah kecil itu.

Di depan mereka berdiri gedung penthouse mewah dengan penjagaan ketat. Tasya langsung menoleh tajam ke arah Alex.

“Ini bukan rumahku,"

Alex mematikan mesin mobil dengan santai.

“Aku tahu," Jawabannya singkat.

Detik itu juga Tasya sadar.

“Kamu benar-benar menculikku?”

Alex membuka sabuk pengamannya.

“Kamu terlalu banyak bicara.”

Lalu ia menoleh padanya.

“Turun," nada suaranya tenang, tetapi seperti perintah.

Tasya langsung menggeleng.

“Aku tidak mau!”

Ia bahkan memeluk tasnya dengan kesal.

“Aku ingin pulang.”

Alex menatapnya beberapa detik, tatapan itu dingin dan kemudian ia berkata pelan,

“Baik,"

Tasya mengira ia menang. Tetapi, kalimat berikutnya membuat tubuhnya menegang.

“Kamu mau turun sendiri…” Alex membuka pintu mobilnya dan keluar.

"Atau aku yang memaksamu?”

Ia berdiri di samping mobil dan menatap Tasya melalui pintu yang masih tertutup. Tatapan itu membuat Tasya tahu satu hal. Alex tidak sedang bercanda. Ia benar-benar bisa saja mengangkatnya lagi seperti tadi. Tasya menggertakkan giginya kesal. Ia benar-benar ingin memaki pria itu sepuasnya. Namun, di saat yang sama ia tahu Alex tidak akan peduli. Dengan napas berat, Tasya akhirnya membuka pintu mobil.

Ia turun dengan wajah kesal.

“Aku belum pernah bertemu pria sekeras kepalamu.”

Alex hanya menutup pintu mobilnya.

“Sekarang kamu sudah bertemu.” Jawabnya datar.

Tasya menatapnya tajam.

“Apa yang kamu inginkan dariku?”

Alex berjalan melewati Tasya menuju pintu masuk gedung. Namun, sebelum masuk ia berkata tanpa menoleh,

“Kita perlu bicara,” Ia berhenti sebentar.

“Kali ini…” Alex akhirnya meliriknya.

"Tanpa Dion.”

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam gedung, suasana langsung berubah. Beberapa pengawal yang berjaga di pintu langsung menundukkan kepala.

“Selamat sore, Tuan.”

Alex hanya berjalan melewati mereka tanpa berhenti. Langkahnya tenang namun penuh wibawa. Tasya berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan wajah masih kesal. Ia menatap sekeliling dengan perasaan tidak nyaman.

Tempat itu terlalu mewah.

Lobi penthouse itu luas dengan lantai marmer mengkilap dan lampu kristal besar menggantung di langit-langit.

Seorang pelayan segera mendekat dengan sikap sopan.

“Selamat datang, Tuan.” Ia menunduk sedikit.

“Apa ada yang Tuan butuhkan?”

Alex bahkan tidak berhenti berjalan.

“Tidak.” Jawabnya singkat.

Lalu ia menoleh sedikit ke arah Tasya.

“Ayo,” Ia berjalan menuju tangga besar yang mengarah ke lantai atas. Namu, Tasya berhenti di tempatnya.

“Aku tidak akan naik.”

Alex berhenti di anak tangga pertama, dia menoleh perlahan.

“Kamu yakin?”

Tasya mengangkat dagunya sedikit.

“Aku tidak punya urusan denganmu.”

Beberapa pelayan yang berdiri di kejauhan mulai saling melirik.

Alex memperhatikan itu, lalu ia berkata dengan tenang,

“Baik.” Ia melirik sekeliling ruangan yang luas itu.

“Kalau begitu kita bicara di sini saja.” Alex menyandarkan satu tangan di pagar tangga.

“Dengan semua orang akan mendengarkannya.”

Kalimat itu langsung membuat Tasya menegang. Beberapa pelayan memang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Jika mereka berbicara tentang anak-anak di sini semuanya akan tahu.

Tasya menggertakkan giginya kesal. Alex sudah berbalik menaiki tangga. Tidak lagi menunggunya, beberapa detik Tasya berdiri diam. Namun, akhirnya dengan wajah kesal ia ikut menaiki tangga di belakangnya.

Beberapa pelayan yang tadi diam mulai berbisik pelan.

“Apakah aku salah lihat?”

“Wanita itu masuk bersama Tuan Alex.”

“Selama ini tidak pernah ada wanita yang datang ke sini.”

Salah satu pelayan yang sudah lama bekerja di sana bahkan berkata dengan suara pelan,

“Itu pertama kalinya.”

Yang lain langsung menoleh.

“Maksudmu?”

Pelayan itu menggeleng pelan.

“Selama bertahun-tahun…”

“Tuan Alex tidak pernah membawa wanita ke tempat ini.”

Ia melirik ke arah tangga tempat mereka tadi naik.

“Dan sekarang…”

pelayan itu berbisik pelan,

“Dia bahkan membawanya langsung ke ruang kerja di lantai atas.”

"Sepertinya itu calon Nyonya rumah ini," lanjut yang lain.

1
lenny sukmasari
Luar biasa
Yani Suryani
dulu yg penasaran Kenzo dengan Alex dan Kenzi tidak mempercayai, tapi justru sekarang setelah mengetahui kalau Alex ayahnya justru Kenzi yg paling bersemangat
Iis Kurniasih
Walaupun baca novelnya sudah tamat dr pembuatan n tudak mengikuti pd saat membuat episode ² nya ...aq acungin jempol 2 is the best pokoknya karya Mba Aisyah Alfatih ... sukses selalu Mba ttp semangat n jaga kwalitas pembuatan novel nya
kookie
lah si tasya kok diam aja dion bilang sikembar bukan anak alex, lah kamu emang tidur sama siapa aja tasya dudul
e²n
suka sama Kenzi 😍
e²n
keluarga vasillo dan rockhi di adu domba
evana gusani
baru mampir
Yani Suryani
Alex kamu ingin menguasai,lah perusahaan mu aja dibajak anak kecil aja langsung keos sok berlagak dibuat bangkrut baru nyahok lo
Yani Suryani
Tasya kenapa gak cerita detailnya sama kakeknya , kalau dia dijual terus melarikan diri
Munas Tuti
akhirnya mereja semua bahagia....selamat mbak author 👍👍
Yani Suryani
menyebalkan sekali lagi baca iklan Shopee selalu nongol berulang ulang sangat menggangu sekali, kadang sampai maki" karena geregetan,baca satu bab tapi iklan Shopee nya datang berulang ulang 😤😡
Aisyah Alfatih: 😭😭😭😭 iyakah? jadikan VIP akunnya kak, biar bebas iklan...
total 1 replies
Yani Suryani
aneh kalau tanya hal pribadi langsung didepan banyak orang itu seperti tidak proporsional dan terlalu gegabah, sedikit songong sih😁
Yani Suryani
kalau kerja dirumah sakit ya mentingin pasien tapi aneh menejernya 😁, dokter lagi menangani pasien darurat kok suruh keluar untuk penyambutan 🤦, sebenarnya bukan cerita komedi tapi menggelikan
Kenzo keberanian mu luar biasa 👍
Kenzi muka datar tapi nyalinya sedikit menciut karena perhitungan dan menyelamatkan saudaranya biar tidak kena masalah
bocil kembar yg saling melengkapi dan melindungi 😁👍
Yani Suryani
keceriaan Kenzo seperti mamanya tapi instingnya seperti Daddy nya, Kenzi muka datar dan misterius seperti Daddy nya tapi kecerdasannya seperti mamanya, bahkan membobol keamanan Daddy nya sendiri 🤭😀 biar tau rasa karena sombong beraninya meremehkan mamanya
Yani Suryani
Kenzo ini memiliki kemirip Daddy nya kalau kenzi seperti ibunya yg memiliki kemampuan yg sama juga, jadi keduanya saling melengkapi
Iis Kurniasih
is the best
Iis Kurniasih
Jalan cerita tidak bertele² ...msh enak bt dibaca n lebih mudah dimengertinya......
Munas Tuti
benernya culik balik Jessi...buang jauh2
Munas Tuti
daaah Alex jangan curiga ke mana2
Dorkas Lara
wow menegangkan 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!