Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Begitu pintu mobil tertutup, mobil hitam itu langsung melaju meninggalkan halaman Ocean Blue.
Di dalam mobil, suasana langsung kacau.
“Turunkan aku!” Tasya terus memberontak di kursi penumpang. Tangannya mencoba membuka pintu, namun pintu mobil sudah terkunci otomatis.
“Tuan Alex! Kamu dengar aku tidak?!”
Namun, pria itu sama sekali tidak terlihat terganggu. Alex menyetir dengan tenang, satu tangan di setir. Seolah-olah tidak ada wanita yang sedang mengamuk di sampingnya.
“Berhenti memberontak.” Ucapnya datar.
“Aku akan menurunkanmu di rumah nanti,”
“Tapi aku tidak mau ikut denganmu!” Balas Tasya kesal.
Ia mencoba menarik tangannya dari genggaman Alex. Tetapi, tanpa ia sadari tangan kirinya sudah dipegang oleh Alex.
Pria itu tetap menyetir dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan Tasya agar ia tidak membuka pintu atau melakukan hal lain yang berbahaya.
Tasya semakin kesal. “Lepaskan!”
Alex tetap diam, tidak ada jawaban. Seolah semua teriakannya hanya angin lewat. Beberapa detik kemudian Tasya menyadari satu hal Alex tidak akan mendengarkannya.
Wajahnya langsung mengeras. Tasya langsung menunduk dan menggigit tangan Alex dengan kuat.
“Ah—” Alex sedikit terkejut.
Mobil sempat sedikit oleng sebelum kembali lurus. Bekas gigitan itu cukup kuat. Namun, reaksi Alex justru tidak seperti yang Tasya bayangkan.
Pria itu tidak marah, tidak berteriak dan tidak menarik tangannya. Alex hanya menoleh pelan ke arah Tasya. Tatapannya datar tanpa ekspresi. Benar-benar kosong, seolah gigitan itu tidak berarti apa pun.
Justru tatapan itu yang membuat Tasya langsung terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ada sesuatu di mata pria itu yang sulit ia jelaskan. Tasya yang tadi penuh amarah tiba-tiba merasa canggung. Ia segera memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Menghindari tatapan Alex. Beberapa detik mobil hanya diisi suara mesin yang berjalan. Lalu, Alex akhirnya berkata dengan suara rendah,
“Sudah puas?”
Tasya tidak menjawab, dia masih menatap keluar jendela. Namun, Alex kembali melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
“Kalau sudah … duduk yang benar.” Tangannya akhirnya melepaskan pergelangan Tasya.
“Kalau kamu membuat mobil ini celaka…”
Alex berhenti sebentar.
“Anak-anakmu akan kehilangan dua orang sekaligus.”
Kalimat itu membuat Tasya langsung menoleh.
“Dua orang?”
Alex kembali menatap jalan, jawabannya sederhana.
“Kamu … dan aku.”
Mau tidak mau, Tasya akhirnya memilih diam. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap keluar jendela, menahan semua kekesalan yang sejak tadi ingin meledak.
Di sampingnya, Alex menyetir dengan tenang.
Seolah apa yang terjadi beberapa menit lalu hanyalah hal biasa. Mobil itu melaju membelah jalan kota. Beberapa menit berlalu. Ketika mobil akhirnya berhenti Tasya langsung mengerutkan kening. Ia menoleh ke luar jendela. Bukan rumah kakeknya. Bukan juga jalan menuju rumah kecil itu.
Di depan mereka berdiri gedung penthouse mewah dengan penjagaan ketat. Tasya langsung menoleh tajam ke arah Alex.
“Ini bukan rumahku,"
Alex mematikan mesin mobil dengan santai.
“Aku tahu," Jawabannya singkat.
Detik itu juga Tasya sadar.
“Kamu benar-benar menculikku?”
Alex membuka sabuk pengamannya.
“Kamu terlalu banyak bicara.”
Lalu ia menoleh padanya.
“Turun," nada suaranya tenang, tetapi seperti perintah.
Tasya langsung menggeleng.
“Aku tidak mau!”
Ia bahkan memeluk tasnya dengan kesal.
“Aku ingin pulang.”
Alex menatapnya beberapa detik, tatapan itu dingin dan kemudian ia berkata pelan,
“Baik,"
Tasya mengira ia menang. Tetapi, kalimat berikutnya membuat tubuhnya menegang.
“Kamu mau turun sendiri…” Alex membuka pintu mobilnya dan keluar.
"Atau aku yang memaksamu?”
Ia berdiri di samping mobil dan menatap Tasya melalui pintu yang masih tertutup. Tatapan itu membuat Tasya tahu satu hal. Alex tidak sedang bercanda. Ia benar-benar bisa saja mengangkatnya lagi seperti tadi. Tasya menggertakkan giginya kesal. Ia benar-benar ingin memaki pria itu sepuasnya. Namun, di saat yang sama ia tahu Alex tidak akan peduli. Dengan napas berat, Tasya akhirnya membuka pintu mobil.
Ia turun dengan wajah kesal.
“Aku belum pernah bertemu pria sekeras kepalamu.”
Alex hanya menutup pintu mobilnya.
“Sekarang kamu sudah bertemu.” Jawabnya datar.
Tasya menatapnya tajam.
“Apa yang kamu inginkan dariku?”
Alex berjalan melewati Tasya menuju pintu masuk gedung. Namun, sebelum masuk ia berkata tanpa menoleh,
“Kita perlu bicara,” Ia berhenti sebentar.
“Kali ini…” Alex akhirnya meliriknya.
"Tanpa Dion.”
Begitu mereka melangkah masuk ke dalam gedung, suasana langsung berubah. Beberapa pengawal yang berjaga di pintu langsung menundukkan kepala.
“Selamat sore, Tuan.”
Alex hanya berjalan melewati mereka tanpa berhenti. Langkahnya tenang namun penuh wibawa. Tasya berjalan beberapa langkah di belakangnya dengan wajah masih kesal. Ia menatap sekeliling dengan perasaan tidak nyaman.
Tempat itu terlalu mewah.
Lobi penthouse itu luas dengan lantai marmer mengkilap dan lampu kristal besar menggantung di langit-langit.
Seorang pelayan segera mendekat dengan sikap sopan.
“Selamat datang, Tuan.” Ia menunduk sedikit.
“Apa ada yang Tuan butuhkan?”
Alex bahkan tidak berhenti berjalan.
“Tidak.” Jawabnya singkat.
Lalu ia menoleh sedikit ke arah Tasya.
“Ayo,” Ia berjalan menuju tangga besar yang mengarah ke lantai atas. Namu, Tasya berhenti di tempatnya.
“Aku tidak akan naik.”
Alex berhenti di anak tangga pertama, dia menoleh perlahan.
“Kamu yakin?”
Tasya mengangkat dagunya sedikit.
“Aku tidak punya urusan denganmu.”
Beberapa pelayan yang berdiri di kejauhan mulai saling melirik.
Alex memperhatikan itu, lalu ia berkata dengan tenang,
“Baik.” Ia melirik sekeliling ruangan yang luas itu.
“Kalau begitu kita bicara di sini saja.” Alex menyandarkan satu tangan di pagar tangga.
“Dengan semua orang akan mendengarkannya.”
Kalimat itu langsung membuat Tasya menegang. Beberapa pelayan memang sedang berdiri tidak jauh dari mereka. Jika mereka berbicara tentang anak-anak di sini semuanya akan tahu.
Tasya menggertakkan giginya kesal. Alex sudah berbalik menaiki tangga. Tidak lagi menunggunya, beberapa detik Tasya berdiri diam. Namun, akhirnya dengan wajah kesal ia ikut menaiki tangga di belakangnya.
Beberapa pelayan yang tadi diam mulai berbisik pelan.
“Apakah aku salah lihat?”
“Wanita itu masuk bersama Tuan Alex.”
“Selama ini tidak pernah ada wanita yang datang ke sini.”
Salah satu pelayan yang sudah lama bekerja di sana bahkan berkata dengan suara pelan,
“Itu pertama kalinya.”
Yang lain langsung menoleh.
“Maksudmu?”
Pelayan itu menggeleng pelan.
“Selama bertahun-tahun…”
“Tuan Alex tidak pernah membawa wanita ke tempat ini.”
Ia melirik ke arah tangga tempat mereka tadi naik.
“Dan sekarang…”
pelayan itu berbisik pelan,
“Dia bahkan membawanya langsung ke ruang kerja di lantai atas.”
"Sepertinya itu calon Nyonya rumah ini," lanjut yang lain.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal