NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 4

Napas Qin Mu serasa diremas oleh tangan kasat mata. Udara di Ngarai Angin Patah mendadak menjadi sangat kental, seolah kabut putih yang menggulung di sekitar tandu hitam itu adalah rawa pekat yang menenggelamkan paru-parunya.

Keempat pembawa tandu itu berdiri diam. Melalui pengamatannya, Qin Mu menyadari hal yang membuat perutnya mual mata keempat pria pucat itu sepenuhnya putih, tanpa pupil. Mereka bahkan tidak bernapas. Itu bukan manusia, melainkan mayat hidup.

Di sampingnya, Gu Shanyin tertawa pelan. Tawa yang kering, serak, dan penuh dengan rasa muak yang mendalam.

"Dua belas tahun berlalu, dan seleramu tetap menjijikkan, Mo Tu," suara Gu Shanyin memecah tekanan di udara. Ia membuka sumbat labu araknya, menenggak isinya dengan santai, sebelum membuang sisa arak itu ke tanah berlumpur. "Aku mengira luka tebasan di dadamu waktu itu cukup untuk membuatmu sembunyi di lubang tikus seumur hidup."

Dari balik tirai tandu, terdengar dengusan dingin yang menggetarkan kerikil di sekitar kaki Qin Mu.

"Luka itu membakar meridianku setiap kali bulan purnama, Gu Tua," suara berkarat itu terdengar lebih keras, dipenuhi kebencian yang telah mengendap bertahun-tahun. "Tapi surga masih berbaik hati. Kudengar fondasimu hancur setelah insiden di Lembah Duka. Kau bukan lagi pendekar pedang jenius yang sombong itu. Kau hanyalah anjing tua yang menunggu mati!"

BAM!

Tirai tandu hitam itu meledak hancur berkeping-keping.

Sebuah tangan kurus pucat yang dibungkus kabut merah darah melesat keluar. Di saat yang sama, kabut di ngarai bergejolak ganas, berkumpul membentuk sebuah cakar raksasa berwarna merah gelap sebesar batu kilangan, langsung menyambar dari atas ke arah Gu Shanyin dan Qin Mu.

Angin yang dibawa cakar itu mencabut pepohonan kecil dari akarnya.

Qin Mu terlempar ke belakang hanya karena hempasan anginnya. Tulang-tulangnya bergemeretak ngilu, kulit di wajahnya terasa seperti disayat ribuan pisau kecil. Ia tidak bisa bergerak. Qi yang dipancarkan sosok bernama Mo Tu itu puluhan kali lebih mengerikan daripada pemimpin perampok semalam.

"Mundur, Bocah!" bentak Gu Shanyin.

Lelaki tua itu tidak menghindar. Ia berdiri tegak, merentangkan tangan kanannya yang kosong. Tidak ada pedang kayu, tidak ada ranting pinus. Namun, di mata Qin Mu, sesaat Gu Shanyin tampak berubah menjadi sebilah pedang raksasa yang menembus langit.

"Fondasi yang retak sudah cukup untuk membunuh cacing sepertimu!"

Gu Shanyin mengayunkan tangannya dari bawah ke atas. Sebuah cahaya putih keperakan Niat Pedang murni meledak dari jari telunjuk dan tengahnya. Cahaya itu membelah udara dengan suara lengkingan yang memekakkan telinga, menyambut cakar darah raksasa itu di udara.

BOOM!

Bentrokan dua kekuatan itu menciptakan gelombang kejut yang menghancurkan tebing batu di kedua sisi ngarai. Bongkahan batu sebesar kereta kuda berjatuhan. Qin Mu menggulung tubuhnya di balik sebuah batu besar, menutupi kepala saat puing-puing menghujani sekitarnya.

Dada kirinya kembali terasa panas. Cincin Giok Retak berdenyut liar, seolah bereaksi terhadap Qi murni yang bertabrakan di luar, mencoba menyerap sisa-sisa energi yang memancar. Qin Mu menggigit bibirnya hingga berdarah, memaksa dirinya tetap sadar agar tidak pingsan karena tekanan Qi.

Ketika debu sedikit menipis, Qin Mu memaksakan matanya terbuka.

Di tengah jalan setapak yang kini hancur lebur, cakar darah itu telah terbelah dua dan menguap menjadi asap berbau amis. Di ujung lain, seorang pria tua berjubah merah gelap berdiri melayang beberapa jengkal di atas tanah. Tubuhnya kurus kering seperti tengkorak hidup, namun matanya memancarkan cahaya merah yang mengerikan.

Sedangkan Gu Shanyin...

Lelaki tua itu masih berdiri di posisinya, namun wajahnya sepucat kertas. Tangan kanannya yang tadi menembakkan Niat Pedang kini bergetar hebat. Setetes darah hitam menetes dari sudut bibirnya.

"Hahahaha!" Mo Tu tertawa pongah, melihat darah di bibir Gu Shanyin. "Satu serangan biasa dan meridianmu sudah hampir hancur! Berapa kali lagi kau bisa mengayunkan pedangmu, Gu Shanyin? Tiga kali? Dua kali? Hari ini, aku akan memenggal kepalamu dan menjadikannya hiasan di pintu sekteku!"

Mo Tu merapatkan kedua telapak tangannya. Kabut darah yang lebih pekat dan busuk mulai menyelimuti seluruh ngarai. Keempat mayat hidup yang tadinya berdiri diam kini mengeluarkan geraman rendah, kuku mereka memanjang menjadi bilah hitam, bersiap menerkam.

Gu Shanyin tidak menjawab. Ia menoleh perlahan ke arah Qin Mu yang bersembunyi di balik batu. Mata elang yang biasanya menyembunyikan kemalasan itu kini memancarkan pesan yang sangat jelas: Bersiaplah untuk lari.

Qin Mu mengerti. Tubuhnya tegang seperti busur yang ditarik maksimal.

Gu Shanyin kembali menatap Mo Tu. Lelaki tua itu menghela napas panjang, seolah melepaskan sebuah segel di dalam dadanya. Udara di sekitarnya mendadak menjadi sedingin es. Rambut ubannya yang diikat asal-asalan terlepas, berkibar liar tertiup angin yang entah datang dari mana.

"Mo Tu," suara Gu Shanyin berubah datar, tanpa emosi sama sekali. "Kau tahu kenapa aku dipanggil Pedang Hantu?"

Mo Tu tersentak mundur, insting bertahannya tiba-tiba berteriak panik saat melihat perubahan aura Gu Shanyin.

"Karena ketika pedangku benar-benar dihunus..." Gu Shanyin melangkah maju. Satu langkahnya membuat tanah di bawahnya retak berbentuk jaring laba-laba. "...hanya hantu yang bisa melihat bayangannya."

Sring!

Dunia di mata Qin Mu kehilangan warna selama satu detik. Tidak ada suara, tidak ada angin. Yang ada hanya sebuah garis lurus keperakan yang membentang membelah ngarai, melintasi jarak puluhan tombak dalam sekejap mata.

Garis itu menembus kabut darah, memotong tubuh keempat mayat hidup menjadi serpihan debu, dan terus melaju hingga menghantam sesuatu yang keras.

TRANG! CRASH!

Warna dan suara kembali dengan ledakan dahsyat. Qin Mu melihat Mo Tu terlempar belasan tombak ke belakang, menabrak tebing batu hingga hancur. Sebuah perisai artefak berbentuk tempurung kura-kura di depan dada pria berjubah merah itu terbelah menjadi dua belas bagian, kehilangan cahayanya.

Mo Tu memuntahkan darah segar dalam jumlah besar. Dada kirinya robek panjang, memperlihatkan tulang rusuknya. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang luar biasa. Jika artefak pelindung level Core Formation miliknya tidak aktif otomatis, ia sudah terbelah dua.

"Orang gila! Kau membakar sisa umurmu!" jerit Mo Tu panik. Ia tidak berani membalas. Tanpa mempedulikan lukanya, pria itu meremas sebuah jimat kuning, mengubah dirinya menjadi seberkas cahaya darah yang melarikan diri ke langit, menghilang di balik awan mendung.

Ngarai kembali hening, menyisakan reruntuhan batu dan bau belerang.

"Kakek!" Qin Mu bergegas keluar dari balik batu, berlari mendekat.

Namun sebelum ia mencapai Gu Shanyin, lelaki tua itu jatuh berlutut. Darah hitam pekat menyembur dari mulutnya, membasahi tanah berlumpur. Tubuhnya yang tadi memancarkan aura dewa perang, kini menyusut kembali menjadi pria tua yang rapuh. Niat pedangnya lenyap tak berbekas.

"Kek, bertahanlah!" Qin Mu menahan tubuh Gu Shanyin agar tidak ambruk sepenuhnya. Tangannya gemetar merasakan betapa dinginnya kulit lelaki tua itu.

"Jangan... banyak bicara..." Gu Shanyin terengah-engah, mencengkeram erat bahu Qin Mu dengan sisa tenaganya. Matanya berjuang untuk tetap terbuka. "Anjing itu... akan sadar aku sudah kehabisan tenaga... dan dia akan kembali membawa bantuan."

"Kita ke mana? Kita kembali ke desa?" tanya Qin Mu panik, mencoba menggendong Gu Shanyin.

"Tidak... desa sudah mati bagi kita," bisik Gu Shanyin menahan sakit. Ia menunjuk ke arah celah tebing yang mengarah ke bagian dalam Pegunungan Qingluo Area Terlarang tempat binatang buas tingkat tinggi berkeliaran. "Masuk ke wilayah dalam pegunungan... ikuti sungai merah... cari Gua Akar Naga..."

"Tapi Kek, di dalam sana banyak monster..."

"Lebih baik dimakan monster... daripada jatuh ke tangan mereka," Gu Shanyin batuk hebat, kesadarannya mulai meredup. Tangannya yang mencengkeram bahu Qin Mu perlahan mengendur. "Bocah... ingat... jangan pernah percayai siapa pun... yang tersenyum padamu..."

Mata Gu Shanyin tertutup rapat, dan kepalanya terkulai lemah di pundak Qin Mu. Napasnya menjadi sangat tipis, nyaris tak terasa.

"Kakek? Kakek!" Qin Mu mengguncang pelan tubuh itu, namun tidak ada jawaban.

Angin ngarai bertiup dingin, membawa sisa-sisa bau darah. Qin Mu berlutut di tanah berlumpur, memangku tubuh satu-satunya keluarga yang ia miliki. Di sekelilingnya adalah puing-puing tebing dan bayangan hutan yang mulai menggelap.

Untuk pertama kalinya sejak ia ditinggalkan pada malam hujan sepuluh tahun lalu, Qin Mu benar-benar merasa sendirian. Ia menatap ke arah celah tebing gelap yang ditunjuk Gu Shanyin, lalu menunduk menatap tangannya sendiri yang masih lemah.

Ketakutan sempat melintas, namun dengan cepat dibakar oleh kemarahan dan tekad yang mengeras. Ia tidak akan membiarkan lelaki tua ini mati.

Dengan susah payah, pemuda berusia empat belas tahun itu memapah tubuh Gu Shanyin ke punggungnya. Ia memperbaiki letak pisau buru di pinggangnya, mengertakkan gigi, dan melangkah masuk ke dalam kegelapan rimba Pegunungan Qingluo.

1
Liang Hou
pake Sreettt aja tor kalo ranting, sring! lebih cocok suara besi 🙏
Sang_Imajinasi: siap terimakasih sarannya
total 1 replies
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!