Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.
Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.
Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.
Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.
Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Telpon dari Nomor Asing
Pagi itu, Gang Mawar masih diselimuti kabut tipis dan sisa embun yang menetes dari atap-atap seng. Suara hisap kran air tua dari kamar mandi umum mengalun monoton, mengiringi Valeska yang sedang berdiri di depan kompor minyak kecil milik kontrakan.
Di atas wajan kusam, dua potong tempe garit yang dibumbui garam seadanya berdesis pelan dalam minyak panas. Valeska menatap bolak-balik permukaan tempe itu dengan capit kayu, memastikan warnanya kecokelatan sempurna agar tidak gosong.
Tidak ada lagi bayangan aroma bacon panggang, croissant hangat, atau segelas susu almond yang biasa disajikan Asisten Rumah Tangga di meja makan dulu. Kini, meja makannya hanya selembar kain sarung yang dilipat di atas lantai semen, dengan se piring nasi hangat dan tempe goreng sebagai penopang hidupnya.
"Gorengnya pelan-pelan aja, Val... biar minyaknya hemat," gumam Valeska lirih pada dirinya sendiri.
Pikirannya melayang pada ingatan kemarin sore di ruang kunjungan tahanan. Tatapan penuh rasa bersalah namun hangat dari Papanya masih terekam jelas di benaknya. Janji yang dia buat di depan sang Papa bukan sekadar ucapan manis untuk menenangkan hati pria tua itu, melainkan sebuah patok baru dalam hidupnya.
Selesai makan, Valeska mencuci piring plastiknya di gayung air, lalu merapikan seragam SMA Nusantara yang kini sudah agak longgar di badannya. Dia menyisir rambut panjangnya yang halus, menguncirnya kuda dengan karet gelang hitam, lalu mengoleskan sedikit pelembab bibir agar tidak kelihatan pecah-pecah.
Dia meraih tas sekolahnya yang sudah kusam di sudut ruangan, menyangkutkannya di bahu kanan, lalu berdiri sebentar melintasi cermin retak yang menempel di dinding semen.
Bayangan cewek di dalam cermin itu bukan lagi Ratu Sekolah yang memandang orang lain dari atas takhta keangkuhan, bukan juga cewek menyedihkan yang menangis histeris di bawah guyuran hujan lebat. Di sana berdiri seorang Valeska yang matanya tenang, fokus, dan siap menjalani harinya dengan kepala tegak tanpa mengharapkan keajaiban dari siapa pun.
"Gue pasti bisa," bisik Valeska mantap pada bayangannya sendiri, lalu memutar kunci pintu dan melangkah keluar menyongsong dinginnya angin pagi.
Langkah kaki Valeska menyusuri trotoar menuju sekolah terasa jauh lebih ringan pagi ini. Luka di tumit kakinya mulai mengering, dan meski badannya belum pulih seratus persen, dia memaksakan diri menikmati derap langkahnya sendiri. Jalanan masih agak lengang, hanya dilewati beberapa angkutan umum dan pengendara motor yang terburu-buru.
Bzz... Bzz... Bzz...
Ponsel di dalam saku seragamnya mendadak bergetar hebat. Valeska menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon peneduh di tepi jalan. Dia merogoh sakunya, menarik ponsel kusam berlayar retak itu keluar.
Alisnya berkerut dalam. Di layar hitam-putih yang redup itu, tertera sebuah nomor asing yang cukup panjang dengan kode area di depannya.
+65 8123xxxx
"+65?" gumam Valeska heran, suaranya tenggelam di antara deru mesin kendaraan yang melintas. "Nomor luar negeri? Siapa..."
Sensasi aneh mendadak menjalar dari tengkuk hingga ke dadanya. Jantung Valeska berdegup agak kencang. Setahunya, keluarga Papanya yang dulu kaya raya sudah memutus semua akses komunikasi sejak aset-aset disita. Teman-teman sosialitanya pun tidak ada yang menggunakan nomor Singapura.
Siapa yang meneleponnya sepagi ini dari luar negeri?
Dering ponsel itu terus berulang, seolah memanggilnya dengan sangat mendesak. Jemari Valeska yang kasar gemetaran di atas tombol hijau. Ada ketakutan kecil bahwa ini adalah penagih utang baru atau wartawan yang ingin mengorek informasi soal kasus Papanya. Namun, ada juga desakan halus dari dalam dirinya yang penasaran.
Valeska membuang napas panjang, menempelkan ponsel tua itu ke telinganya, lalu menekan tombol hijau.
"Halo?" sapa Valeska datar dan waspada.
Hening sejenak di seberang saluran. Hanya terdengar suara kresek-kresek gelombang udara dan desah napas yang sangat berat.
"Valeska...?" suara seorang wanita di seberang sana memanggil pelan, bergetar, dan dipenuhi kecemasan yang amat sangat.
Deg.
Suara itu, suara yang sangat familiar.
"Mama...?" bisik Valeska, tenggorokannya mendadak serasa disumbat batu besar.
Isak tangis yang teramat pilu seketika meledak dari seberang saluran. Suara kresek-kresek gelombang telepon luar negeri itu dipenuhi oleh deru napas Ibunya yang tersengal-sengal menahan sesak.
"Valeska... Anak Mama... Ini Mama, Nak..." ratap Ibunya dengan suara serak, terputus-putus oleh tangis yang tak lagi bisa ditahan. "Maafin Mama, Nak... Maafin Mama..."
Valeska berdiri membeku di trotoar. Tangannya memegang ponsel tua itu begitu erat hingga jemarinya memutih. Matanya menerawang kosong menatap aspal basah di bawah kakinya.
"Mama baru bisa beli HP murah ini dari gaji pertama Mama, Val..." bisik Ibunya dari seberang sana, suaranya bergetar hebat. "Setiap hari di sini Mama nangis ingat kamu... Mama takut banget ninggalin kamu sendirian di Jakarta. Mama tahu Mama jahat udah bentak kamu waktu itu... Mama minta maaf, Nak. Mama terpaksa... Mama gak punya pilihan lain selain pergi kerja demi kamu..."
Air mata Valeska menetes lambat, membasahi pipinya yang kusam. Rasa dingin di dadanya membakar hingga ulu hati.
"Mama janji, Nak... Mama janji sama kamu..." sambung Ibunya cepat-cepat, seolah takut Valeska akan memutus panggilannya. "Mulai bulan depan, Mama bakal kirimkan sebagian besar gaji Mama buat kamu. Kamu bisa pakai buat bayar SPP sekolah, buat beli makanan yang enak, buat sewa kontrakan yang lebih layak... Kamu kagak bakal menderita lagi, Val. Mama janji."
Gejolak emosi membakar jiwa Valeska. Ada kepedihan seorang anak yang merindukan pelukan hangat Ibunya, namun di saat yang sama, ia merasa bisa menjalani hidup tanpa harus meminta dengan sang mama.
"Kamu dengar Mama kan, Valeska?" panggil Ibunya penuh harap dari seberang telepon. "Tolong maafin Mama ya, Nak... Tolong pegang janji Mama..."
Valeska menarik napas panjang, menghirup udara pagi yang dingin dalam-dalam. Dia memejamkan matanya sejenak, membiarkan air matanya jatuh untuk yang terakhir kalinya sebelum mengusapnya hingga bersih dengan punggung tangannya.
"Iya, Ma," sahut Valeska dengan nada suara yang teramat tenang, dingin, dan datar. "Valeska denger."
Ibunya terdengar terhenyak di seberang sana, terkejut oleh perubahan nada suara putrinya yang kini begitu dewasa dan berjarak.
"Ma..." lanjut Valeska pelan, menatap lurus ke arah gerbang SMA Nusantara yang sudah kelihatan di ujung jalan. "Jaga kesehatan Mama di sana. Bekerja yang baik. Soal hidup Valeska di sini... Mama enggak usah cemas."
"Valeska, tapi uangnya—"
"Kalau Mama mau kirim, kirim aja. Tapi Valeska enggak akan pernah nungguin uang itu buat bertahan hidup," potong Valeska halus namun sangat tegas.
Di dalam hatinya, Valeska mengepalkan tangannya kencang-kencang, menanamkan sebuah prinsip baru yang tak tergoyahkan. "Gue kagak boleh bergantung sama bayangan janji siapa pun lagi. Kalau uang itu datang, syukur. Kalau enggak, gue tetap bisa berdiri di atas kaki gue sendiri."
"Valeska harus masuk kelas sekarang, Ma. Panggilannya Valeska matikan ya," ujar Valeska tanpa menunggu balasan dari Ibunya.
Tutt... tutt... tutt...
Valeska menekan tombol merah, memutus panggilan itu seketika. Suara tangisan Ibunya lenyap, digantikan oleh sunyinya jalanan pagi.
Valeska memasukkan kembali ponsel itu ke dalam saku seragamnya. Dia merapikan letak tali tas di bahunya, menegakkan dadanya, lalu melangkah memasuki gerbang sekolah.