Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Di Tepi Telaga Sukmawarna
Suara riuh panggung seni kemerdekaan di balai desa perlahan mulai samar, tergantikan oleh suara jangkrik malam dan gemericik air yang menenangkan. Telaga Desa Sukmawarna malam itu tampak begitu memikat. Cahaya bulan purnama memantul sempurna di atas permukaan air yang tenang, dibingkai oleh jejeran temaram lampu gantung bambu yang dipasang para pemuda Karang Taruna beberapa hari lalu.
Nayla berjalan pelan di samping Arkan, sesekali merapatkan selendang kebayanya. Langkah kaki mereka terhenti tepat di sebuah bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah hamparan telaga.
"Kamu mau membicarakan soal apa Arkan?..." bisik Nayla memecah keheningan, berusaha keras menutupi detak jantungnya yang sedari tadi berdegup tidak karuan.
Arkan tidak langsung menjawab. Pria kota itu menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran bangku, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku kemeja hitamnya, lalu perlahan menoleh menatap paras manis Nayla di bawah cahaya sinar bulan.
"Nayla," suara bariton Arkan terdengar begitu dalam, tenang, dan tanpa ada sisa nada bercanda sedikit pun. "Awal saya dibuang ke desa ini sama Papa, saya pikir hidup saya sudah hancur. Saya benci tempat ini, saya benci lumpur, dan saya sempat menganggap orang-orang di sini terlalu kaku."
Nayla terkekeh tipis, mengingat kembali masa-masa awal kedatangan Tuan Muda Jakarta yang super angkuh dan sangat menyebalkan itu. "Termasuk benci sama aku juga, kan?"
Arkan menyunggingkan senyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Awalnya begitu. Tapi makin ke sini, saya sadar... dibuang ke Desa ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam kehidupan saya."
Arkan memperbaiki posisi duduknya, memiringkan tubuhnya dan mengikis jarak di antara mereka sehingga Nayla bisa merasakan hangatnya aura pria di sampingnya itu.
"Di sini saya belajar arti kerja keras dan menghargai orang lain. Dan yang paling penting... di sini saya bertemu kamu," lanjut Arkan, mengunci pandangan matanya tepat ke dalam manik mata bulat milik Nayla. "Saya tidak mau berbelit-belit atau bersandiwara lagi. Saya tahu saya ini bukan pria yang sempurna. Saya masih punya masa lalu yang rumit di Jakarta, dan saya gak bisa mengumbar janji-janji manis."
Dada Nayla berdesir. Napasnya seolah tertahan saat mendengar keterusterangan nada serius dari Arkan.
"Tapi satu hal yang harus kamu tahu," Arkan melanjutkan dengan intonasi penuh penekanan. "Perasaan saya ke kamu itu nyata, Nayla. Saya menghormati kamu, saya mengagumi cita-citamu, dan saya ingin ada di samping kamu—bukan cuma sebagai rekan kerja bazar atau sekadar teman biasa, tapi sebagai pria yang punya tempat khusus di hatimu.
Arkan memberikan sedikit jeda lalu ia lanjut memberanikan diri untuk bertanya. "Bagaimana dengan kamu Nayla?"
Atmosfer di tepi telaga seketika hening. Hanya ada desir angin malam yang meniup dedaunan pohon disekitarnya.
Nayla menundukkan kepalanya sejenak, menggigit bibir bawahnya pelan. Jemari tangannya meremas erat kotak kecil berisi pulpen kayu ukir yang sengaja ia simpan di dalam tasnya. Rasa haru dan bahagia meluap-luap di dalam dadanya. Ia teringat bagaimana Arkan membelanya di rapat, melindunginya di gubuk sawah saat hujan deras, hingga rela memar tangannya bekerja kasar di sawah Pak Barkah demi membelikan pulpen ini dengan uang keringatnya sendiri.
Nayla kembali mendongak, menatap mata cokelat gelap milik Arkan dengan ketulusan yang begitu jelas.
"Arkan..." suara Nayla terdengar lembut namun sangat mantap. "Awalnya aku pikir kamu cuma anak kota manja yang suka pamer harta. Tapi makin ke sini, aku lihat sendiri bagaimana ketulusan dan tanggung jawabmu. Kamu mau merendahkan hati untuk bekerja keras di desa ini."
Nayla mengeluarkan pulpen kayu ukir itu dari tasnya, memegangnya erat di atas pangkuan. "Aku gak butuh janji manis dari kamu, Arkan. Melihat caramu menghargai aku dan keluargaku... itu sudah lebih dari cukup. Perasaanku... sama dengan perasaanmu."
Senyuman paling tulus yang pernah ada seketika terukir di wajah tampan Arkan. Rasa lega yang luar biasa menyapu dadanya. Tanpa ragu, Arkan mengulurkan tangannya yang hangat, menggenggam jemari mungil Nayla dengan lembut namun penuh kepastian. Nayla tidak menarik tangannya, membiarkan kehangatan genggaman Arkan menyalurkan komitmen baru yang begitu indah di antara mereka.
****
Sekitar pukul sepuluh malam, Arkan berjalan mengantarkan Nayla pulang menuju rumahnya. Di bawah remang lampu jalan setapak desa, kedua insan yang baru saja meresmikan perasaan mereka itu berjalan berdampingan dengan senyum bahagia yang tak henti-hentinya mengembang.
Namun, begitu mereka sampai di dekat pintu pagar bambu rumah Pak Suryo, dua sosok kepala mendadak muncul dari balik semak-semak pohon mangga.
"Ciee! Yang habis dari telaga malam-malam berduaan!" goda sebuah suara yang sangat familiar.
Reno dan Bagas melompat keluar dari balik semak-semak sambil tertawa. Bagas bahkan sibuk bersiul-siul goda, sementara Reno menunjuk-nunjuk tangan Arkan dan Nayla yang baru saja terlepas.
"Aduh Mbak Nayla, mukanya kok merah banget gitu mirip tomat matang?!" seloroh Bagas sambil memegangi perutnya yang geli.
"Iya tuh! Tadi di telaga ngomongin apa aja hayo? Udah dapet restu belum nih dari Pakde Suryo?" timpal Reno cengengesan tanpa rasa takut sedikit pun.
Nayla yang mukanya sudah panas membara langsung melepas sebelah sandal jepitnya. "Bagas! Reno! Kalian ngintipin ya?! Awas kamu Bagas, tak bilangin Bapak nanti!"
"Kabuurrr! Si Mbak amuk-amukan!" teriak Bagas dan Reno kompak, langsung ngacir berlari terbirit-birit menuju jalan raya sambil tertawa.
Arkan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua remaja tengil itu, sementara Nayla sibuk menetralkan rasa malunya sambil merapikan kebayanya yang sedikit berantakan.
"Jangan dimasukin hati, dua bocah itu memang lagi kumat gila-nya," kata Arkan terkekeh pelan.
"Gara-gara kamu sih, ngajak ke telaga segala," sungut Nayla pura-pura galak, meski matanya memancarkan binar kebahagiaan yang tak bisa ditutupi.
Dari arah teras rumah, pintu kayu terbuka. Mbah Harjo berdiri di sana sambil memegang tongkat kayunya, didampingi Bude Lastri. Mbah Harjo menatap Arkan dan Nayla bergantian, lalu menyunggingkan senyuman yang sangat hangat—senyuman seorang sesepuh yang sudah paham betul apa yang baru saja terjadi di antara dua anak muda tersebut.
"Arkan ini sudah malam, segera kamu antar Nayla pulang kerumahnya."
"Iya, Mbah," sahut Arkan
Sebelum masuk ke dalam rumah, Nayla menoleh sebentar ke arah Arkan. "Selamat malam, Arkan."
"Selamat malam, Nayla," jawab Arkan lembut.
Arkan berdiri memandangi langkah Nayla hingga pintu rumah terkatup rapat. Di bawah langit malam Desa Sukmawarna, Arkan tahu bahwa Babak baru dalam hidupnya baru saja dimulai—sebuah perjuangan untuk menjaga cinta dan komitmennya di tengah ujian yang pasti akan menghadangnya di masa depan.