Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2 - Istri yang Tidak Dianggap
Nadira keluar dari ruang ganti saat koridor ICU mulai ramai.
Pagi baru saja masuk, tapi rumah sakit tidak pernah benar-benar mengenal waktu. Perawat berganti sif. Dokter jaga menenteng kopi. Keluarga pasien duduk dengan wajah kusut di kursi tunggu.
Di depan kaca ICU, Laras berdiri sambil menggendong Kendra.
Anak itu mungkin berusia lima tahun. Wajahnya pucat, matanya sembab. Tangannya menempel di kaca, menatap Arga yang terbaring dengan banyak selang.
"Papa Arga tidur lama, Ma?"
Laras mengusap rambutnya. "Papa Arga capek. Kendra doain Papa, ya."
Nadira menghentikan langkah.
Papa Arga.
Setiap kali panggilan itu terdengar, ada bagian kecil dari dirinya yang terasa dicabut.
Ia tidak marah pada anak itu. Anak sekecil Kendra tidak tahu apa-apa. Yang membuat dada Nadira sesak adalah cara Laras membiarkan panggilan itu mengalir begitu mudah, seolah tidak ada istri lain yang pernah ada.
Bima berdiri tidak jauh dari mereka. Begitu melihat Nadira, ia langsung mendekat.
"Dokter Nadira, boleh bicara sebentar?"
Nadira mengangguk. "Soal pasien?"
"Iya. Komandan Arga punya riwayat alergi obat tertentu, tapi data medis lengkapnya ada di satuan. Saya sedang minta dikirim."
"Kirim ke perawat ICU begitu dapat. Untuk sementara kami pakai obat yang aman."
Bima menatapnya ragu. "Dokter... soal Bu Laras tadi..."
"Tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya."
Nada Nadira datar.
Bima terdiam. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi Laras sudah menoleh.
"Mas Bima, dokter bilang aku bisa lihat Mas Arga sebentar, kan?"
Bima segera kembali ke sana. "Sebentar saja, Bu. Dari luar dulu."
Laras menggenggam tangan Kendra, lalu memandang Nadira dengan mata merah. "Dok, saya boleh tahu kapan Mas Arga sadar?"
"Belum bisa dipastikan. Kondisi pasien stabil, tapi tubuhnya kehilangan banyak darah."
"Dia selalu begitu." Laras tertawa kecil di antara air mata. "Kalau sudah soal tugas, dia nggak pernah peduli badannya sendiri."
Nadira tidak menjawab.
Laras melanjutkan, mungkin karena ingin meyakinkan dirinya sendiri. "Mas Arga janji akan pulang setelah operasi ini. Kendra sudah menunggu. Setiap malam anak ini tanya kapan Papa Arga datang."
Kendra memeluk kaki Laras. "Papa janji beliin sepeda."
"Iya, Sayang."
Nadira menatap wajah anak itu, lalu menatap Laras.
Ada rasa getir yang tidak bisa ia telan.
Arga pernah berjanji pada anak ini. Sementara kepadanya, Arga bahkan tidak pernah mengirim pesan singkat.
Empat tahun.
Selama itu Nadira tinggal di rumah keluarga Wijaya. Ia menemani Mama Renata ke dokter jantung. Ia membantu Papa Surya mengatur obat diabetes. Ia menghadiri acara keluarga besar sebagai menantu yang selalu ditanya, "Suamimu kapan pulang?"
Ia tersenyum setiap kali menjawab, "Doakan saja."
Ia mempertahankan nama Arga di depan keluarga, tetangga, dan kerabat yang mulai kasihan. Ada yang menyuruhnya menikah lagi. Ada yang berbisik bahwa ia terlalu muda untuk menjadi janda tanpa kepastian. Ada yang menyebutnya bodoh karena setia pada laki-laki yang mungkin sudah mati.
Tapi Nadira bertahan.
Bukan karena ia sangat mencintai Arga. Bagaimana mungkin ia mencintai pria yang hanya ia temui pada hari akad, itu pun kurang dari satu jam?
Ia bertahan karena janji.
Akad bukan permainan. Nama Arga ada di buku nikahnya. Mama Renata dan Papa Surya memperlakukannya seperti anak sendiri. Nadira tumbuh sebagai anak angkat yang selalu takut kehilangan tempat pulang. Di rumah Wijaya, untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa dibutuhkan.
Dan sekarang, semuanya terasa seperti lelucon.
"Dokter?"
Suara Laras menarik Nadira kembali.
"Iya?"
"Saya boleh tetap di sini, kan? Saya nggak mau jauh dari Mas Arga."
Nadira memandangnya lama. "Aturan ICU membatasi keluarga. Perawat akan mengatur jadwal."
"Saya keluarganya."
Kalimat itu tegas. Terlalu tegas.
Nadira tersenyum tipis. "Kalau begitu ikuti aturan keluarga pasien."
Ia berbalik.
Langkahnya baru sampai meja perawat ketika ponselnya bergetar.
Pak Hari membalas.
Bu Nadira, untuk gugatan cerai perlu dokumen buku nikah, KTP, KK, dan alasan gugatan. Apakah suami setuju?
Nadira menatap layar. Suami setuju?
Seharusnya Arga setuju. Ia sudah punya kehidupan lain. Bukankah itu lebih mudah?
Ia mengetik.
Saya akan siapkan dokumen. Tolong buatkan konsep gugatan secepatnya.
Pesan terkirim.
Perawat Santi mendekat sambil membawa berkas.
"Dok, pasien Mayor Arga perlu tanda tangan keluarga untuk beberapa prosedur lanjutan. Bu Laras bilang dia keluarga, tapi administrasi minta hubungan jelas."
Nadira menahan napas.
"Tanyakan ke Pak Bima. Dia yang membawa pasien."
"Baik, Dok."
Santi pergi. Nadira duduk di kursi dokter dan membuka rekam medis elektronik. Nama Arga muncul di layar.
Arga Pratama Wijaya.
Status perkawinan: menikah.
Kontak darurat: kosong.
Ia tertawa tanpa suara.
Bahkan sistem rumah sakit lebih jujur daripada hidup mereka. Menikah, tapi kosong.
Siang harinya, Arga sempat menunjukkan respons. Jari tangannya bergerak. Kelopak matanya bergetar. Laras hampir menangis histeris di luar kaca.
"Mas Arga!"
Nadira masuk ke ICU bersama dokter anestesi. Ia memeriksa pupil, tekanan darah, respons nyeri.
Arga membuka mata sedikit.
Pandangan mereka bertemu.
Untuk pertama kalinya sejak akad empat tahun lalu, Arga melihat Nadira dalam keadaan sadar, walau samar.
Tapi tidak ada pengenalan di matanya.
Ia hanya melihat dokter.
"Tenang, Mayor Arga. Anda di rumah sakit," kata Nadira.
Bibir Arga bergerak.
Nadira mendekat karena ia harus mendengar kebutuhan pasien.
"Laras..."
Nama itu lagi.
"Kendra..."
Nadira menarik tubuhnya tegak.
"Pasien gelisah. Tambahkan sedasi ringan sesuai instruksi."
Ia keluar dari ICU sebelum Laras masuk.
Laras melewatinya dengan wajah penuh harap. "Mas Arga manggil aku?"
Nadira berhenti.
Ia ingin berkata tidak. Ia ingin berkata, iya, dia memanggilmu, jadi ambil saja laki-laki itu seluruhnya. Ia ingin bertanya, sejak kapan kalian menjadi keluarga?
Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Pasien belum sadar penuh. Jangan terlalu banyak bicara."
Laras mengangguk dan masuk.
Nadira berjalan ke tangga darurat. Ia tidak mau naik lift, tidak mau bertemu siapa pun.
Di anak tangga kosong, ia menelepon Maya.
Sahabatnya mengangkat dengan suara serak. "Dir, ini masih pagi banget buat orang yang kerja liputan sampai subuh."
"May."
Maya langsung sadar. "Kamu kenapa?"
"Aku mau cerai."
Diam.
Lalu suara Maya naik. "Akhirnya! Aku sudah bilang dari dulu, laki-laki hilang empat tahun itu bukan suami, itu legenda keluarga."
Nadira tertawa kecil, tapi tenggorokannya sakit.
"Dia pulang."
"Apa?"
"Arga pulang. Semalam masuk IGD. Aku yang operasi."
Maya tidak langsung bicara. "Ya Allah. Terus?"
"Dia punya Laras. Dan anak yang manggil dia Papa."
"Brengsek."
Nadira memejamkan mata.
Maya berkata lebih pelan, "Kamu di mana? Aku jemput."
"Nggak usah. Aku masih sif."
"Nadira, jangan sok kuat."
"Aku dokter, May. Pasienku masih kritis."
"Pasienmu itu suami yang nyakitin kamu."
"Justru karena itu aku harus profesional."
Maya menghela napas kasar. "Baik. Tapi setelah sif, kamu pulang ke apartemenku. Jangan pulang ke rumah Wijaya dulu kalau kamu belum siap."
"Aku harus ambil dokumen."
"Aku temani."
Nadira membuka mata. Dari celah pintu tangga, ia bisa melihat koridor ICU. Laras duduk dengan Kendra di pangkuannya. Bima berdiri di dekat mereka seperti penjaga keluarga kecil itu.
"May."
"Iya?"
"Aku capek."
Suara Maya melembut. "Aku tahu."
Nadira menutup telepon.
Ia berdiri beberapa detik lagi, lalu kembali ke koridor. Jas dokternya masih rapi. Wajahnya kembali tenang.
Sore itu, Pak Hari datang ke rumah sakit membawa konsep awal gugatan.
Nadira menemuinya di kantin yang hampir kosong.
"Bu Nadira yakin ingin secepat ini?" tanya pengacara itu.
"Saya sudah menunggu empat tahun. Itu cukup lama."
"Alasan gugatan?"
Nadira menatap kertas di depannya.
"Tidak menjalankan kewajiban sebagai suami. Tidak ada nafkah lahir batin. Dan..." Ia berhenti sebentar. "Ada dugaan hubungan dengan perempuan lain."
Pak Hari menulis.
"Apakah Ibu ingin menuntut hak nafkah atau ganti rugi?"
Nadira tersenyum dingin. "Tulis saja sesuai hukum. Saya tidak mau terlihat memohon. Tapi saya juga tidak akan keluar seperti sampah."
"Baik."
Saat Pak Hari pergi, Nadira melihat Laras berdiri di ujung kantin. Perempuan itu memegang botol air, tetapi matanya tertuju pada map di meja.
Laras pasti tidak tahu isinya.
Namun tatapannya berubah waspada.
Nadira memasukkan map itu ke tas.
Laras mendekat. "Dokter Nadira, boleh saya tanya sesuatu?"
"Silakan."
"Dokter kenal Mas Arga sebelumnya?"
Pertanyaan itu halus, tapi Nadira bisa mendengar durinya.
Nadira berdiri. "Saya mengenal banyak pasien, Bu Laras. Tapi saya tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan."
Laras tersenyum tipis. "Bagus kalau begitu."
Nadira membalas senyumnya.
"Saya juga berharap semua orang tahu batas."
Wajah Laras menegang.
Nadira berjalan melewatinya.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa ingin menangis.
Ia hanya merasa ingin selesai.