Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Orang Paling Dekat
Fajar menemukan mereka di ruang tunggu kantor polisi, tertidur dalam posisi yang tak nyaman.
Bu Rukmini berbaring di bangku panjang berselimut jaket Laras, napasnya teratur setelah disuntik antibiotik oleh dokter jaga. Andien duduk di lantai di dekat kepala ibunya, bersandar pada dinding, satu tangan masih menggenggam ujung selimut. Laras tertidur dengan kepala miring di bahu kursi, stetoskopnya masih tergantung di leher. Hanya Carlo yang tidak tidur. Ia duduk tegak di ujung bangku, menatap pintu kaca, lengan kirinya berdenyut di balik kain gendong yang sudah kusut.
Pukul enam lewat sepuluh, pintu itu terbuka.
Seorang pria tinggi berjas hitam masuk dengan langkah pelan, seolah takut suara sepatunya membangunkan seisi gedung. Rambutnya disisir rapi, tetapi matanya merah dan jasnya tampak tak diganti sejak kemarin. Di tangannya ada sebuah map cokelat tebal.
Carlo berdiri. Gerakannya begitu mendadak hingga Andien terbangun.
"Raka," kata Carlo.
Pria itu berhenti di tengah ruangan. Wajahnya, yang biasanya tenang dan nyaris tanpa ekspresi, kini tampak seperti seseorang yang sudah menyiapkan kalimat selama berjam-jam dan baru menyadari semuanya hilang.
"Pak Carlo."
Andien mengenalinya dari cerita. Raka Pradipta, asisten pribadi Carlo selama delapan tahun, pria yang mengatur jadwal, mengurus ponsel, menyimpan kunci, dan mengetahui hampir seluruh gerak-gerik atasannya. Pria yang tidak pernah salah mengingat sesuatu.
Dan pria berjas hitam yang, menurut Bu Rukmini, berlutut di hadapannya sore kemarin.
"Dia orangnya," bisik Andien pada Laras yang baru terbangun.
Laras tidak menjawab. Ia hanya berdiri perlahan, wajahnya kembali ke ketenangan dokter yang dingin.
---
Komisaris Arief membawa mereka ke ruang pemeriksaan kecil di lantai dua. Ruangan itu hanya berisi meja logam, empat kursi, dan kaca satu arah yang memantulkan bayangan mereka dengan wajah-wajah pucat dan lelah.
Raka duduk di ujung meja, map cokelat di depannya. Carlo duduk berhadapan dengannya. Tak ada yang bicara selama hampir semenit.
"Aku datang sendiri," kata Raka akhirnya. "Tidak ada yang menyuruh. Aku ingin itu dicatat."
"Dicatat," ujar Komisaris Arief dari sudut ruangan, menyalakan perekam.
"Pak Carlo." Raka menelan ludah. "Aku tidak akan meminta dimaafkan. Aku hanya ingin menceritakan semuanya, dari awal. Setelah itu, Bapak boleh memutuskan apa yang ingin dilakukan padaku."
"Mulailah."
Raka menarik napas dalam-dalam.
"Dua tahun lalu, ibuku didiagnosis kanker pankreas. Biaya pengobatannya hampir tiga ratus juta sebulan, dan asuransi kantor menolak sebagian. Aku tidak berani bicara pada Bapak karena malu." Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, seperti orang membacakan laporan. "Suatu malam, Pak Bramantyo menemuiku di lobi. Ia tahu semuanya. Katanya ia ingin membantu, sebagai paman yang peduli pada orang-orang keponakannya. Ia membayar seluruh tagihan rumah sakit ibuku, tanpa meminta apa pun."
Carlo mengeraskan rahang, tetapi tak menyela.
"Enam bulan kemudian, ia mulai meminta hal-hal kecil. Jadwal Bapak. Siapa yang Bapak temui. Dengan siapa Bapak makan siang. Hal-hal yang kupikir tidak berbahaya." Raka menunduk. "Lalu setahun lalu, ia meminta akses ke pelacak lokasi ponsel kantor Bapak. Aku tahu itu salah. Tapi ibuku sedang kemoterapi, dan setiap kali aku ragu, aku membayangkan tagihan rumah sakit yang tiba-tiba tidak dibayar."
"Jadi malam di desa itu," ujar Carlo pelan, "Om Bram tahu aku ada di sana karena kamu."
"Ponsel Bapak mati di tengah perjalanan, tapi lokasi terakhirnya tercatat di dekat Karang Sewu. Ia bertanya padaku apakah Bapak biasa ke sana. Aku bilang tidak." Raka mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya, Andien melihat pria itu hampir pecah. "Dia tidak membutuhkan jawabanku. Dia sudah tahu. Dia hanya menguji apakah aku masih setia padanya."
Hening yang menyusul begitu pekat hingga bunyi pendingin ruangan terdengar jelas.
"Dan paviliun di Jalan Palem Raja?"
"Aku yang mengurus sewanya, atas perintah Bapak. Tapi Bu Wati bukan orang Bram, Pak. Dia hanya pegawai yang takut." Raka menggeleng. "Pak Bram tahu soal paviliun itu dari sistem pembayaran bulanan. Dia membaca semua yang kuproses."
Carlo memejamkan mata sejenak. Andien melihat otot di sudut rahangnya bergerak, dan ia tahu pria itu sedang menghitung berapa banyak yang sudah ia percayakan pada orang yang salah.
"Delapan tahun, Raka."
"Iya, Pak."
"Aku memberimu kunci rumahku. Aku memberimu akses ke rekeningku. Aku menjemput ibumu dari rumah sakit saat kamu terlalu takut meminta cuti."
"Aku tahu, Pak."
"Kenapa kamu tidak bilang?" Suara Carlo pecah. "Kenapa kamu tidak datang padaku? Aku akan membayar semuanya. Aku akan membayar sepuluh kali lipat."
"Karena Bapak adalah satu-satunya orang yang paling kuhormati." Raka tersenyum pahit, dan air matanya akhirnya jatuh. "Dan aku tidak sanggup membiarkan Bapak melihatku sebagai seseorang yang butuh dikasihani."
Andien menatap pria itu, dan dalam sekejap ia mengerti. Gengsi. Rasa malu. Ketakutan menjadi lemah di mata orang yang paling ingin kita banggakan. Itu bukan alasan yang bisa membenarkan pengkhianatan, tetapi itu alasan yang manusiawi, dan itulah yang membuatnya lebih menyakitkan.
---
"Kemarin siang," lanjut Raka, "aku mendapat perintah dari Pak Bram. Menjemput Bu Rukmini dari desa dan membawanya ke vila. Katanya hanya untuk menjaganya agar tidak mengganggu rencana."
"Dan kamu melakukannya," ujar Laras dingin.
"Aku melakukannya." Raka menunduk. "Tapi aku memastikan Bu Rukmini makan, diberi selimut, dan tidak disentuh siapa pun. Aku menyuruh dua orang itu menjaga tanpa senjata. Pak Bram tidak tahu soal itu."
"Dan kamu mengirim pesan melalui Bu Rukmini."
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Raka menggenggam tepi map di depannya. "Aku tidak bisa menelepon Pak Carlo. Ponselku diawasi. Aku tidak bisa mendatangi polisi, karena ibuku masih di rumah sakit dan Pak Bram bisa menghentikan pembayaran dalam semalam. Jadi aku menitipkan peringatan pada satu-satunya orang yang kuyakin pasti sampai pada Bapak."
"Dan ibumu?" tanya Andien pelan.
Raka menoleh padanya, terkejut karena baru sekarang gadis itu bicara. "Ibuku meninggal tiga bulan lalu, Bu."
Andien menutup mulutnya.
"Pak Bram tidak memberitahuku. Aku mengetahuinya dari dokter yang menelepon langsung." Suara Raka kini hampir tak terdengar. "Aku sudah tidak punya apa-apa untuk dilindungi, tapi aku tetap mengerjakan semua perintahnya, karena aku sudah terlalu lama menjadi alat. Aku tidak tahu bagaimana berhenti."
Laras, di sisi Andien, menutup matanya sejenak. Ketika membukanya, sorot dokter itu telah berubah, bukan lunak, tetapi lebih paham.
"Sampai kemarin," lanjut Raka, "ketika aku berdiri di kamar itu dan melihat Bu Rukmini menyentuh tanganku sambil berkata *terima kasih, Nak, karena sudah memberi selimut.* Aku sadar aku lebih rendah dari yang pernah kupikirkan."
Hening panjang.
Raka mendorong map cokelat itu ke tengah meja.
"Ini semua yang kusimpan. Salinan setiap pesan, setiap perintah, setiap transfer dari Pak Bram selama dua tahun. Aku tahu itu akan memberatkanku. Tapi itu juga cukup untuk membuktikan bahwa Bram merencanakan semuanya sejak lama."
Komisaris Arief mengambil map itu dengan hati-hati, membuka halaman pertama, dan alisnya langsung terangkat.
---
Carlo tak menyentuh apa pun. Ia hanya menatap pria di hadapannya, yang delapan tahun mengisi gelasnya, membuka pintu mobilnya, dan menyimpan rahasianya.
"Raka."
"Iya, Pak."
"Aku tidak bisa memaafkanmu hari ini."
"Aku mengerti."
"Aku juga tidak akan menutup-nutupi apa yang terjadi." Carlo menarik napas. "Kamu akan menghadapi proses hukum. Tapi aku akan bersaksi bahwa kamu dipaksa, dan bahwa kamu datang sendiri sebelum ada yang memintamu."
Raka mengangkat wajah, tak percaya.
"Dan satu lagi." Carlo berdiri, menatapnya dari atas meja. "Kalau suatu hari kamu keluar dari semua ini, dan kamu masih ingin bekerja, jangan datang padaku sebagai bawahan. Datanglah sebagai seseorang yang berani berkata *aku butuh bantuan.* Itu satu-satunya hal yang kuminta."
Raka menunduk. Bahunya bergetar, dan dari tempat duduknya, Andien melihat air mata menetes di atas map cokelat, di atas nama-nama dan angka-angka dan tahun-tahun yang hilang.
Ia tahu rasanya menjadi seseorang yang percaya bahwa kebaikan hanya bisa diterima jika kita pantas mendapatkannya.
---
Setelah Raka dibawa keluar oleh petugas, Komisaris Arief tetap duduk di meja, membalik halaman demi halaman dalam map cokelat itu dengan wajah yang kian serius.
"Pak Carlo," katanya akhirnya. "Ada sesuatu yang perlu Bapak lihat."
Carlo kembali duduk. Laras dan Andien mendekat, melongok dari balik bahunya.
Komisaris Arief menggeser sebuah flash disk kecil yang terselip di antara halaman terakhir map. Pada permukaan plastiknya, tertempel selembar label kertas dengan tulisan tangan Raka yang rapi.
*Rekaman suara. Hanya untuk Pak Carlo. Jangan dibuka di depan Pak Bram.*
"Saya sudah memeriksa isinya sekilas," lanjut Komisaris Arief, suaranya rendah. "Sebagian besar percakapan telepon Bramantyo dengan berbagai pihak. Hendra, para komisaris, beberapa rekanan di luar negeri. Tapi satu file berbeda dari yang lain."
Ia menyambungkan flash disk ke laptop, membuka daftar file, dan menggulir ke bawah hingga satu baris berhenti di layar.
Sebuah rekaman berdurasi empat menit tiga puluh detik. Dan judul file-nya, hanya berisi tanggal, membuat napas Carlo berhenti.
Itu tanggal ayahnya meninggal.
Laras meraih lengan Carlo tanpa sadar. Andien merasakan dinginnya ruangan merayap naik ke tengkuknya.
"Putar," bisik Carlo.
"Pak Carlo, mungkin sebaiknya..."
"Putar, Pak Komisaris."
Jari Komisaris Arief bergerak di atas papan ketik. Kursor berpindah. Lalu, dari pengeras suara laptop yang kecil dan tipis, terdengar bunyi gemerisik panjang, dan sebuah suara tua yang serak dan lemah, suara yang Carlo kenal seumur hidupnya.
*"Bram. Aku sudah tahu soal angka-angka itu."*
---
*Bersambung ke Bab 21...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya