Alena Ricardo sangat mencintai seorang Abian Atmajaya, tidak peduli bahwa pria itu kekasih saudara kembarnya sendiri. Hingga rela memberikan kehormatannya hanya demi memiliki pria itu.
Setelah semua dia lepaskan bahkan dibuang oleh keluarga besarnya, Alena justru harus menghadapi kemarahan Abian. kehidupan rumah tangganya bagaikan di neraka, karena pria itu sangat membencinya.
Akankah Alena menemukan kebahagiaannya? Dan akankah Abian menyesali apa yang selama ini diperbuatnya, setelah mengetahui rahasia yang selama ini Alena simpan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy tree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Abian yang marah membawa Alena ke salah satu sudut ruangan yang sepi, dimana hanya ada dirinya dan wanita itu di tempat tersebut. "Sudah aku katakan berapa kali, jangan pernah keluar rumah tanpa ijinku!" ucapnya sembari menghimpit tubuh ramping Alena pada dinding.
"Kenapa? Apa karena kau takut aku mengetahui rencana mu yang ingin menikah lagi dengan ****** itu!" sentak Alena dengan tatapan penuh kemarahan, dan sakit hati. Bagaimana tidak sakit hati, saat mengetahui suaminya yang tidak pulang-pulang kerumah, tenyata sedang merencanakan pernikahan dengan wanita lain.
"Untuk apa aku takut? Justru dengan senang hati aku akan memberitahumu saat pulang nanti."
"Apa? Ja-jadi benar kau akan menikah lagi?" tanya Alena dengan terbata-bata.
"Ya," jawab Abian dengan singkat, dan jelas tanpa melepaskan himpitan nya.
Deg.
Alena menggelengkan kepala, menatap wajah Abian dengan penuh luka. Bukan pernikahan seperti ini yang diinginkannya, di duakan dengan wanita lain. Bahkan Alena lebih memilih di lukai fisiknya, dari pada harus melihat pria yang sangat dicintainya itu menikah lagi dengan wanita lain.
Melihat Alena yang diam dengan mata yang berkaca-kaca, entah mengapa hatinya ikut merasakan sakit. Tapi itu hanya sesaat, karena rasa itu menghilang begitu saja saat Alena berteriak dengan kasar.
"Kau brengsek! Kau bajingan!" Alena memukul dada bidang suaminya dengan sekuat tenaga. "Jangan kau pikir aku akan diam saja diperlukan seperti ini! Aku akan membunuh ****** itu sebelum kau menikahinya."
Plak.
"Bi..." Alena mengusap pipinya yang terasa panas karena di tampar pria itu.
"Kau itu benar-benar sudah gila!" Abian mencengkeram kedua sisi wajah Alena. "Dengan mudahnya kau mengatakan akan membunuh seseorang! Apa kau sadar, yang kau katakan itu mengerikan!"
Alena diam tidak menyahut sama sekali perkataan Abian, dia masih terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya itu, karena untuk pertama kalinya Abian menamparnya. Membuat Alena tidak bisa berkata-kata, dan hanya menatap pria itu dengan tatapan kosong.
"Kau tega menyakiti saudara kembarmu sendiri! Kau tega menyakiti perasaan keluarga mu, dan kau tega menyakitiku sampai harus kehilangan wanita yang sangat aku cintai. Itu bukan cinta Alena Ricardo, itu kegilaan, itu obsesi," ucap Abian dengan frustasi, bahkan tangannya sampai meninju dinding tepat di samping wajah Alena.
Membuat suasana di sekitar mereka terasa hening, setelah Abian melampiaskan kemarahannya. Tapi itu hanya sesaat, karena di detik berikutnya suara tawa sinis Alena terdengar di seluruh ruangan tersebut.
"Kau tidak tahu apa pun tentangku, jadi jangan pernah mengatakan cintaku ini sebuah kegilaan!" Alena mendorong kasar tubuh Abian. "Dan satu lagi! Jika kau ingin menikahi wanita itu, silahkan! Tapi ceraikan aku lebih dulu!" Alena berjalan menuju pintu lift.
"Aku tidak akan menceraikanmu! Kau harus tetap di sisiku, melihatku menikah dengan wanita lain. Agar kau merasakan apa yang dirasakan Alana, saat pria yang sangat dicintainya menikah dengan wanita lain."
Alena terdiam sesaat, lalu melanjutkan langkahnya tanpa mau menatap kebelakang. Dengan sekuat mungkin ia terus berjalan sambil menahan air matanya, karena Alena tidak ingin menangis di depan para karyawan, apalagi menangis di hadapan Abian.
Setelah keluar dari gedung perkantoran, barulah air matanya menetes. Alena menangis sambil berjalan tanpa arah, tanpa mempedulikan orang-orang disekitar yang menatapnya dengan aneh. Yang ada di pikiran Alena saat ini adalah berjalan sejauh mungkin, dan terus menangis untuk mengeluarkan rasa sakit dan sesak yang ada di hatinya.