sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ayah 2 Bayi Cacat
Ruang perawatan jam 2 dini hari itu yang tadinya sudah lega karena Johan ingat kembali, kini kembali mencekam karena satu kalimat dokter.
"...kelainan yang hanya bisa diturunkan jika ayah kandung Bintang dan Kevin adalah orang yang sama!"
Sari yang sedang memeluk Bintang yang di-gips langsung membeku. Johan yang sedang memeluk Bintang juga membeku. Bahkan Lina yang masih diborgol di lantai, berhenti menangis dan menatap dokter itu dengan mata melot.
"Apa maksud Dokter?" tanya Sari, suaranya bergetar, memeluk Bintang lebih erat.
Dokter anak itu membuka map hasil lab dengan tangan gemetar, menunjukkan dua lembar hasil lab. Satu atas nama BINTANG BINTI SARI, satu atas nama KEVIN BIN LINA.
"Begini, Bu Sari, Pak Johan. Hasil lab darah Bintang menunjukkan Thalassemia Major. Kelainan darah langka yang butuh transfusi seumur hidup dan butuh donor sumsum tulang dari ayah kandung. Dan kebetulan, hasil lab Kevin yang ada di buku KIA Lina ini... juga Thalassemia Major yang sama persis! Tipe mutasi genetiknya identik! 100% identik!"
Dokter itu menatap Johan dan Lina bergantian.
"Thalassemia Major tipe ini hanya bisa menurun kalau AYAH dan IBU sama-sama pembawa gen pembawa sifat. Ibu Sari pembawa. Ibu Lina juga pembawa. Dan ayahnya... ayahnya satu orang yang sama, dengan mutasi yang sama persis!"
Johan langsung berdiri dari brankarnya meskipun kepalanya masih diperban dan pusing. Ia menatap Lina yang diborgol itu dengan mata merah.
"LINA! JAWAB! APA MAKSUD DOKTER INI? KEVIN ANAK SIAPA? BINTANG ANAK SIAPA?"
Lina yang tadinya pura-pura pingsan, kini menangis sejadi-jadinya. Bukan drama lagi. Tangis sungguhan. Tangis seorang ibu yang sudah menyimpan rahasia busuk selama berbulan-bulan.
"Johan... Sari... maafkan aku... maafkan aku..." Lina berlutut di lantai ruang perawatan, borgolnya berderak, "Kevin... Kevin memang bukan anakmu, Johan..."
Semua orang terdiam. Polisi tua mencatat.
"Tapi Kevin juga bukan anak anonim! Kevin anak kandungku dengan... dengan kakak kandungmu sendiri! Kak Toni! Toni yang kerja di Malaysia 2 tahun lalu!"
Johan ambruk terduduk di brankarnya. Wajahnya pucat seperti mayat.
"Kak Toni? Kakak kandungku sendiri? Yang sudah mati kecelakaan di Malaysia tahun lalu itu?"
Lina mengangguk sambil menangis keras, "Iya! Aku hamil sama Kak Toni sebelum dia berangkat Malaysia! Tapi Kak Toni mati! Aku takut! Aku janda! Aku butuh uang untuk operasi jantung dan thalassemia Kevin yang butuh 100 juta! Makanya aku dekati kamu, Johan! Aku bilang Kevin anakmu, supaya kamu jual tanah Sari untuk operasi Kevin!"
Sari yang mendengar itu, lututnya lemas. Ia jatuh terduduk di lantai, masih memeluk Bintang yang di-gips.
Jadi selama ini, Johan tidak selingkuh dengan Lina karena cinta. Johan ditipu Lina yang memanfaatkan nama kakaknya yang sudah mati. Johan yang bodoh, yang mau jual tanah istrinya untuk keponakannya sendiri yang ia kira anaknya.
Tapi dokter anak itu belum selesai. Ia menatap Sari dan Bintang dengan tatapan iba yang lebih dalam.
"Bu Sari, kalau Kevin anak dari kakak kandung Pak Johan, Toni... dan Bintang anak dari Pak Johan... berarti Kevin dan Bintang itu sepupu kandung! Satu kakek! Makanya mutasi Thalassemia Major-nya identik! Karena gen-nya dari kakek yang sama!"
Sari menatap Bintang di pelukannya. Bayi kecil dengan kaki di-gips putih, yang ternyata tidak hanya cacat kaki, tapi juga punya penyakit darah yang butuh transfusi seumur hidup dan butuh donor sumsum tulang dari ayahnya.
Bintang menangis pelan, seolah tahu ibunya baru saja mendengar vonis seumur hidup.
Johan yang masih terduduk lemas, tiba-tiba merangkak mendekati Sari dan Bintang. Dengan kepala diperban, dengan darah Sari yang masih mengalir di tubuhnya, Johan memeluk kaki Sari dan menangis seperti anak kecil.
"Sari... maafkan aku... aku bodoh... aku ditipu Lina... aku hampir jual tanahmu untuk keponakanku sendiri... padahal anakku sendiri, Bintang, juga sakit... aku bapak macam apa... aku tidak pantas..."
Sari tidak menjawab. Air matanya mengalir, tapi tidak ada suara. Ia hanya mengelus kepala Johan yang diperban itu dengan tangan yang masih terpasang infus.
Di lantai, Lina masih menangis meraung-raung memeluk Kevin yang juga sakit jantung dan thalassemia, yang ada di gendongan polisi.
"Kevin... maafkan mama, Nak... mama jahat... mama jual kebohongan untuk selamatkan kamu..."
Polisi tua yang melihat dua bayi sakit dan dua ibu menangis di jam 2 dini hari itu, menghela napas panjang.
"Bu Sari, Pak Johan, Bu Lina... secara hukum, Lina akan kami proses karena laporan palsu dan pencurian sertifikat. Tapi secara medis..."
Polisi itu menatap dokter anak.
Dokter anak itu mengangguk dan berkata dengan suara paling nyesek malam itu.
"Secara medis, RSUD Waingapu tidak punya alat untuk transplantasi sumsum tulang Thalassemia. Harus dirujuk ke RS Sanglah Bali atau RS Jakarta. Biayanya 300 juta per anak. Dan donornya harus ayah kandung. Untuk Bintang, donornya Pak Johan. Untuk Kevin, donornya... donornya harus Kak Toni, tapi Kak Toni sudah meninggal. Jadi Kevin tidak punya donor. Kecuali..."
Dokter itu menatap Johan.
"Kecuali Pak Johan yang jadi donor untuk Kevin juga, karena gen-nya 50% mirip dengan kakaknya. Tapi Pak Johan baru operasi otak, baru dapat 750 cc darah dari istrinya, tubuhnya belum kuat. Kalau donor sumsum tulang sekarang, Pak Johan bisa lumpuh permanen atau mati."
Satu ruangan, dua bayi sakit thalassemia dan jantung, satu ayah yang sekarat, satu ibu yang kehabisan darah, dan satu ibu penipu yang diborgol.
Johan menatap Bintang, lalu menatap Kevin yang ada di gendongan polisi, yang wajahnya pucat karena sakit jantung.
Dua bayi itu sepupu. Satu anak kandungnya, satu keponakan kandungnya. Dua-duanya butuh dia untuk hidup. Tapi tubuhnya hanya satu, dan nyawanya baru saja diselamatkan oleh darah istrinya.
Johan menatap Sari dengan mata penuh air mata dan darah.
"Sari... aku harus donor untuk Kevin juga... Kevin keponakanku... anak kakakku yang sudah mati... dia juga butuh hidup... tapi kalau aku donor... aku bisa mati... Bintang bisa kehilangan bapaknya lagi..."
Sari menatap Johan, menatap Bintang yang di-gips di pelukannya, menatap Kevin yang biru karena sakit jantung di gendongan polisi, dan menatap sertifikat tanahnya yang masih ada di tangan Mama Leni.
Tanah itu nilainya 50 juta. Operasi transplantasi butuh 300 juta per anak. 600 juta total untuk dua bayi.
Tanah 50 juta tidak cukup untuk selamatkan dua nyawa.
Sari berdiri, dengan Bintang di pelukannya, dengan infus masih menggantung, dengan tubuh yang baru kehilangan 750 cc darah, dan berkata dengan suara tegas tapi nyesek yang membuat seluruh RSUD Waingapu jam 2 dini hari itu menangis.
"Johan, kamu donor untuk Kevin. Biar kamu lumpuh, biar kamu mati, saya ikhlas. Karena Kevin juga anak dari keluarga kita. Kak Toni kakakmu, darahmu."
Semua orang kaget menatap Sari. Lina yang diborgol sampai ternganga.
Sari melanjutkan sambil menatap Bintang yang di-gips.
"Tapi untuk Bintang... saya yang akan jadi donornya. Meskipun saya pembawa juga, meskipun saya baru kehilangan darah, meskipun saya bisa mati di meja operasi Bali nanti. Karena cinta tanpa syarat itu bukan hanya untuk suami, tapi untuk anak orang lain yang juga butuh hidup."
Sari memeluk Bintang erat-erat, dan Bintang menangis kencang, seolah tahu ibunya baru saja menawarkan nyawanya sendiri untuk dua bayi sekaligus.
Dokter anak itu menatap Sari dengan mata berkaca-kaca.
"Bu Sari... kalau Ibu donor sumsum untuk Bintang dalam kondisi Ibu baru kehilangan 750 cc darah dan baru melahirkan 1 hari... kemungkinan Ibu... Ibu tidak selamat di meja operasi..."
Jam menunjukkan 02:15 dini hari. Di luar RSUD, hujan badai mulai turun lagi, sama seperti malam Sari melahirkan Bintang sendirian di gubuk bocor.
Apakah Sari akan benar-benar donor sumsum tulang untuk Bintang dan mati, demi membuktikan cinta tanpa syarat?
Dan apakah Johan akan donor untuk Kevin dan lumpuh seumur hidup, demi menebus dosanya yang hampir menjual tanah istri untuk keponakan yang ia kira anaknya?