"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Hasil Didikan Tinju
Bunyi debus angin sore di parkiran SMA Taruna Bakti mendadak senyap, menyisakan deru napas Marvel yang kian memburu.
Detik berikutnya berjalan begitu cepat, seperti rekaman video yang diputar dengan kecepatan ganda.
Marvel, yang merasa harga dirinya diinjak-injak karena tangannya dikunci, menggunakan kaki kanannya untuk menendang tulang kering Rian. Tebakan Marvel tepat, Rian sedikit mengendurkan cengkeraman akibat serangan mendadak itu. Bebas dari kuncian, Marvel langsung menarik lengannya dan melayangkan pukulan beruntun menggunakan tangan kirinya.
Sebuah hook kiri yang buta, mengincar pelipis.
Namun, Marvel lupa satu hal. Rian bukan lagi samsak hidup.
Kemarin, Rian menghabiskan waktu yang melelahkan di sasana tinju amatir milik Bang Zegan—kakak kandung Ziva yang terkenal beringas di jalanan.
Rian seperti sudah biasa menghadapi pukulan yang jauh lebih cepat dan mematikan dari sekadar hantaman emosional seorang cowok manja.
Dengan gerakan slipping yang presisi, Rian sedikit merendahkan tubuhnya, membiarkan tinju Marvel melesat kosong di atas kepalanya.
Angin dari pukulan Marvel bahkan sempat menggeser beberapa helai rambut Rian.
Begitu pukulan Marvel meleset, posisi tubuh cowok itu otomatis condong ke depan, kehilangan keseimbangan akibat momentum kekuatannya sendiri. Rian tidak menyia-nyiakan celah itu.
Rian memutar poros kakinya, menyalurkan tenaga dari lantai parkiran langsung menuju pinggang, dan melepaskan satu pukulan balasan yang bersih. Uppercut kanan, telak mengenai dagu Marvel.
Brak!
Suara benturan itu terdengar begitu solid di area parkiran yang sunyi.
Tubuh Marvel terhuyung ke belakang, menabrak barisan motor matic di belakangnya hingga dua motor tumbang beruntun.
Marvel jatuh terduduk di tanah, sebelah tangannya memegangi dagunya yang gemetar hebat. Matanya nanar, kepalanya mendadak kosong akibat syok kinetik dari pukulan Rian.
Sudut bibirnya pecah, meneteskan setitik darah segar ke seragam putihnya yang sudah keluar.
Anak-anak yang menonton dari balik koridor koridor sekolah serentak menutup mulut. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Marvel—si penguasa sirkel paling ditakuti di sekolah—tersungkur hanya dalam satu kali kombinasi gerakan oleh Rian, cowok yang biasanya cuma duduk diam di pojok kelas sambil memperhatikan Keysha dari jauh.
Di kejauhan, Ziva yang masih berdiri di dekat pembatas parkiran tidak bisa menahan dirinya lagi. Suara tawa renyah lolos dari bibirnya.
Cewek itu bersedekep dada, menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum puas yang mengembang lebar.
"Kan, gue bilang juga apa," gumam Ziva pelan pada dirinya sendiri, matanya berbinar penuh kemenangan. "Nyari perkara sama orang yang salah lo, Marvel."
Rian tetap berdiri di tempatnya. Napasnya stabil, tidak ada riak emosi berlebih di wajahnya. Dia perlahan membenarkan posisi tas ranselnya yang sempat bergeser di bahu, lalu berjalan mendekati Marvel yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya di tanah.
Rian berhenti tepat di depan Marvel, menatap cowok itu dari ketinggian.
"Ini peringatan terakhir, Marvel," kata Rian, suaranya terdengar begitu dingin dan berwibawa di udara sore yang gerah. "Jangan pernah usik gue, Ziva, atau siapa pun lewat akun-akun sampah lo lagi. Lo mau kuasa di sekolah ini, ambil. Tapi jangan sentuh area gue."
Rian berbalik, berniat menghampiri motornya dan segera pergi dari tempat terkutuk itu. Dia tahu urusan ini akan berbuntut panjang, tapi setidaknya, satu batas tegas telah dia gariskan hari ini.
Namun, sebelum Rian sempat melangkahkan kaki ke arah motor matic-nya, sebuah lengkingan suara memecah keheningan parkiran.
"MARVEL!!!"
Suara teriakan itu begitu melengking, penuh dengan histeria dan kepanikan yang luar biasa.
Rian menghentikan langkahnya. Dari arah pintu penghubung gedung utama dan parkiran, seorang cewek berlari kencang dengan raut wajah yang pucat pasi. Rambut panjangnya yang biasa tertata rapi kini agak berantakan terkena angin.
Itu Keysha.
Gadis yang selama ini menjadi pusat dari segala drama, cewek yang namanya sempat diseret Rian di kelas, kini menatap pemandangan di depannya dengan mata membelalak horor.
Keysha langsung menjatuhkan dirinya di samping Marvel, memegangi bahu cowok itu dengan tangan yang gemetar.
"Marvel! Lo gak apa-apa?! Ya ampun, bibir lo berdarah!" Tangis Keysha hampir pecah. Dia mendongak, menatap Rian dengan tatapan yang bercampur antara rasa tidak percaya, benci, dan ketakutan yang mendalam. "Rian! Lo gila, ya?! Lo mau bikin dia mati?!"
Teriakan histeris Keysha menggema di seluruh sudut parkiran, mengunci pandangan semua orang yang ada di sana.
Rian hanya diam, menatap Keysha datar tanpa sepatah kata pun, sementara Ziva dari kejauhan langsung menghentikan tawanya, menyadari bahwa babak baru yang jauh lebih rumit baru saja dimulai.
......................
...****************...
Tbc,