Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Ketika Manja Berubah Menjadi Luka
Siska duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi dua lembar kain yang baru saja dikirimkan pihak butik melalui kurir. Kain itu merupakan contoh warna untuk busana pengantin yang sebelumnya mereka diskusikan. Di sampingnya terdapat buku kecil berisi daftar kebutuhan pernikahan, mulai dari pakaian, dekorasi, undangan, hingga perlengkapan untuk acara keluarga.
Semuanya sudah hampir kelar. Setidaknya, menurut Siska.
Ia telah meluangkan banyak waktu untuk mencari model busana yang cocok, menyesuaikan warna dengan tema acara, dan menghubungi beberapa penyedia jasa. Ia bahkan meminta pendapat Sarah agar pilihan yang dibuatnya tetap sesuai dengan keinginan keluarga Denis.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia atur sendiri: kehadiran calon suaminya.
Denis selalu memiliki alasan untuk menunda. Kadang-kadang karena pekerjaan. Kadang-kadang karena rapat mendadak. Di waktu lain, ia mengatakan terlalu lelah untuk keluar rumah. Padahal, yang diminta Siska bukanlah perjalanan jauh atau kegiatan yang menguras tenaga. Ia hanya ingin Denis menemaninya mencoba pakaian pengantin.
Acara pernikahan mereka kurang dari dua bulan. Sementara ini ia masih mengambil cuti tahunan. Sebelum hari’H’ ia akan resign. Ada rasa kecewa atas perubahan sikap Denis. Harusnya menjelang hari bahagia ini, mereka lebih banyak meluangkan waktu berdua.
Tapi hingga detik ini, Denis tidak bersedia menemuinya karena alasan pekerjaan. Sedangkan fitting baju pengantin adalah klimaks dari acara itu sendiri. Bagaimana mungkin calon pengantin melewatkannya.
Bagi Siska, pertemuan itu memiliki arti lebih besar daripada sekadar memilih busana. Ia ingin merasakan kebahagiaan sebagai calon pengantin. Ia ingin Denis berdiri di sampingnya, memberikan pendapat, tersenyum ketika ia mencoba pakaian, dan menunjukkan bahwa laki-laki itu menantikan hari pernikahan mereka.
Tetapi kenyataan tidak berjalan seperti yang dibayangkannya.
Ponselnya tergeletak di atas meja. Pesan terakhir dari Denis masih berupa janji bahwa mereka akan membicarakan jadwal fitting.
Siska mengambil ponsel, lalu mengetik pesan baru, “Mas, Sabtu ini jadi, kan? Aku sudah bilang ke butik.”
Ia menunggu.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Tidak ada balasan.
Siska mencoba menelepon, tetapi panggilannya tidak diangkat. Perasaan kecewa mulai merambat di dadanya. Ia tahu Denis bekerja keras, tetapi bukankah dirinya juga sedang berusaha mempersiapkan masa depan mereka?
Air matanya menggenang tanpa ia kehendaki.
Ia mengusap perutnya yang masih belum terlalu terlihat. Kehamilan itu mengubah banyak hal dalam hidupnya. Ada saat-saat ketika ia merasa bahagia membayangkan akan menjadi seorang ibu, tetapi ada pula saat-saat ketika ketakutan datang tanpa peringatan.
Bagaimana jika Denis berubah pikiran?
Bagaimana jika setelah menikah nanti ia semakin sering mengabaikannya?
Bagaimana jika laki-laki yang sekarang sulit ditemuinya itu suatu hari benar-benar menjauh?
Siska menggeleng, berusaha menyingkirkan pikiran tersebut. Ia tidak ingin terus curiga. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan perubahan sikap Denis yang semakin nyata.
Dulu, Denis selalu berusaha mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Pesan singkat darinya bisa membuat laki-laki itu tersenyum. Denis akan menawarkan bantuan, menanyakan apakah ia sudah makan, bahkan terkadang sengaja memperpanjang percakapan meskipun tidak ada urusan pekerjaan.
Sekarang, semua itu seperti menghilang.
Siska tidak mengetahui bahwa pada awal hubungan mereka, Denis begitu menikmati sensasi kedekatan yang terlarang. Ia merasa menjadi laki-laki istimewa karena berhasil menarik perhatian perempuan yang dikagumi banyak orang di kantor.
Bagi Denis, saat itu, Siska adalah tantangan sekaligus kemenangan.
Namun, setelah hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang serius, setelah kehamilan hadir dan pernikahan mulai disiapkan, sensasi tersebut perlahan menghilang. Yang tersisa adalah tanggung jawab, tuntutan, dan ketakutan menghadapi masa depan yang tidak pernah benar-benar ia rencanakan dengan matang.
Siska hanya melihat perubahan itu sebagai tanda bahwa Denis mulai bosan kepadanya. Ia tidak menyadari bahwa laki-laki itu juga sedang bergulat dengan penyesalan terhadap perempuan lain.
Sabtu pagi, Siska sudah bersiap sejak pukul delapan. Ia mengenakan blus sederhana dan celana panjang berwarna netral. Rambutnya disisir rapi, sementara riasan tipis membuat wajahnya terlihat segar meskipun semalaman ia kurang tidur.
Ia kembali menghubungi Denis. Panggilan pertama tidak dijawab. Panggilan kedua ditolak.
Pada panggilan ketiga, Denis akhirnya mengangkat, “Ada apa, Sis?”
Siska menahan napas, “Mas, kita jadi ke butik, kan?”
Keheningan sejenak terdengar dari seberang.
“Aku tidak bisa hari ini.”
Siska memejamkan mata, “Kenapa lagi, Mas?”
“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Pekerjaan apa? Bukankah hari ini Sabtu?”
“Tidak semua pekerjaan selesai pada hari kerja, Siska.”
“Aku mengerti. Tapi Mas sudah berjanji.”
Denis menghela napas keras, “Bisa tidak kamu berhenti mendesakku? Aku sedang pusing.”
Kalimat itu membuat Siska terdiam. Ia tidak menyangka Denis akan berbicara seperti itu. Selama ini, laki-laki tersebut memang terkadang terlihat lelah, tetapi jarang sekali menunjukkan kejengkelan secara langsung ketika mereka membicarakan persiapan pernikahan.
“Jadi, aku mendesak Mas?” tanyanya lirih.
“Aku cuma minta waktu.”
“Aku juga cuma minta waktu Mas untuk menemaniku.”
“Siska, jangan mulai lagi.”
Air mata Siska jatuh, “Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan Mas. Dulu, Mas yang selalu mencari aku. Mas yang ingin bertemu. Mas yang membuat aku merasa menjadi perempuan paling istimewa. Sekarang, untuk menemaniku mencoba baju pengantin saja Mas seperti keberatan.”
Denis tidak segera menjawab. Karena ucapan itu benar.
Dulu, ia memang mengejar Siska. Ia menikmati perhatian perempuan itu, menikmati perasaan bahwa dirinya diinginkan, dan menikmati kebanggaan karena berhasil mendapatkan seseorang yang menjadi idola baru di kantor.
Namun, ia tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana hubungan tersebut akan dijalani ketika sensasi awalnya perlahan menghilang.
“Aku sudah bilang banyak kerjaan,” jawab Denis akhirnya.
“Kalau begitu, kapan? Minggu depan? Bulan depan? Apa aku harus selalu menunggu sampai Mas punya waktu? Waktunya kurang dari dua bulan, Mas.”
Denis kehilangan kesabarannya, “Kalau kamu tidak bisa memahami kesibukanku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi!”
Panggilan itu berakhir dengan suara napas Siska yang tersengal.
Ia menatap layar ponsel, seolah berharap Denis akan menelepon kembali dan meminta maaf. Namun, tidak ada panggilan yang masuk. Untuk pertama kalinya, Siska merasa benar-benar sendirian di tengah persiapan pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagia.
Di tempat lain, Denis duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang.
Sebenarnya, tidak ada pekerjaan mendesak yang mengharuskannya membatalkan janji. Ia memang membawa beberapa dokumen pulang untuk diperiksa, tetapi pekerjaan itu bisa diselesaikan pada waktu lain.
Ia hanya tidak ingin pergi ke butik. Ia tidak ingin mencoba pakaian pengantin, mendengarkan pembicaraan tentang dekorasi, atau membayangkan dirinya berdiri di pelaminan bersama Siska.
Pikiran tentang pernikahan membuatnya merasa semakin terjebak.
Ia membuka laptop, tetapi tidak membaca satu pun halaman dokumen di layar. Pikirannya justru kembali kepada percakapan dengan Siska. Ia merasa bersalah karena telah membuat perempuan itu menangis.
Bagaimanapun juga, Siska sedang mengandung anaknya. Perempuan itu berhak mendapatkan kepastian dan perhatian. Namun, di balik rasa bersalah tersebut, ada kejengkelan yang sulit disembunyikan.
Denis merasa Siska terlalu banyak menuntut. Ia tidak suka setiap gerak-geriknya dipertanyakan. Ia tidak suka harus menjelaskan percakapan dengan rekan kerja. Ia bahkan mulai merasa terganggu ketika Siska mengirim pesan hanya untuk menanyakan apakah ia sudah makan.
Dulu, perhatian semacam itu membuatnya merasa dicintai.
Sekarang, perhatian yang sama terasa seperti beban.
Ia mengambil ponsel, membuka percakapan dengan Siska, lalu mengetik sebuah permintaan maaf, “Maaf, Sis. Aku benar-benar sedang banyak pikiran. Nanti kita bicarakan lagi.”
Ia mengirim pesan itu, kemudian meletakkan ponsel dengan perasaan sedikit lega.
Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.
Karena jauh di dalam hatinya, Denis tahu bahwa masalah mereka tidak akan selesai hanya dengan meminta maaf. Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar yang tidak pernah ia berani hadapi: ia sedang melangkah menuju pernikahan tanpa ketenangan yang seharusnya menyertai keputusan sebesar itu.
Dan setiap kali memikirkan ketenangan, bayangan Mita kembali muncul.
Sore harinya, Siska menghubungi Sarah.
Suara perempuan itu terdengar bergetar ketika Sarah mengangkat telepon.
“Assalamu'alaikum, Tante.”
“Wa'alaikumussalam, Siska. Ada apa, Nak?”
Siska berusaha menjawab dengan tenang, tetapi air matanya lebih dahulu jatuh, “Tante, maaf kalau Siska mengganggu.”
“Tidak mengganggu, Sayang. Kamu kenapa?”
“Siska cuma bingung. Akhir-akhir ini Mas Denis selalu marah kalau Siska mengajak bicara soal pernikahan. Tadi kami sudah berjanji mau ke butik, tetapi dia membatalkannya lagi.”
Sarah terdiam. Ia tidak ingin langsung membela putranya. Ia tahu Denis sedang banyak pekerjaan, tetapi ia juga memahami bahwa Siska membutuhkan dukungan, terutama dalam kondisi kehamilan yang masih muda.
“Sudah, jangan menangis dulu,” kata Sarah lembut. “Kamu istirahat, ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Nanti jabang bayinya terpengaruh…”
“Tapi Siska merasa mas Denis sudah tidak seperti dulu, Tante...” Siska memandang Sarah dengan lemah.
Sarah menarik napas pelan, “Denis memang kelihatannya sedang kelelahan. Akhir-akhir ini pekerjaan di perusahaan cukup padat. Dia harus mengunjungi beberapa sekolah untuk program bantuan CSR, belum lagi laporan yang harus diselesaikan.”
“Kalau memang lelah, Siska bisa mengerti, Tante. Tapi kenapa dia selalu marah? Siska cuma ingin ditemani. Apalagi fitting baju pengantin sudah mendesak.”
Sarah terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Nak Siska tidak salah. Karena disaat awal kehamilan hormon ibu hamil memang mempengaruhi. Kamu calon istrinya, dan wajar kalau kamu ingin Denis ikut terlibat dalam persiapan pernikahan. Tapi mungkin sekarang kalian berdua perlu berbicara dengan kepala dingin, tanpa saling menyakiti.”
Siska menyeka air matanya, “Apakah Tante juga merasakan perubahan Mas Denis?”
Pertanyaan itu membuat Sarah berpikir.
Ia teringat putranya yang belakangan semakin tertutup, mudah tersinggung, dan tidak antusias ketika membicarakan pernikahan. Ada sesuatu yang sedang dipendam Denis, sesuatu yang mungkin ia sembunyikan dan tak ingin ia ceritakan kepada orang tuanya.
“Belakangan ini Tante memang merasakannya,” jawab Sarah hati-hati. “Tapi Tante akan bicara dengannya.”
“Siska tidak ingin memaksanya. Siska cuma takut kalau setelah menikah nanti, Mas Denis semakin susah diajak bicara.”
Sarah merasakan dadanya menghangat oleh rasa iba.
“Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian, Nak. Kalau ada yang mengganggu pikiranmu, bicarakan baik-baik. Dan kalau Denis terlalu lelah, beri dia waktu untuk menenangkan diri. Tapi kamu juga berhak mendapatkan penjelasan. Kalian berdua harus membicarakan semuanya, tanpa harus menyakiti satu sama lain.”
Siska mengangguk meskipun Sarah tidak bisa melihatnya.
Setelah panggilan berakhir, Sarah tetap duduk diam di ruang keluarga.
Ia menyayangi Siska dan berharap perempuan itu bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Apalagi keluarga besar mereka sangat mendukung hubungan keduanya. Tak mungkin menantu yang menjadi idaman semua keluarga itu terlepas begitu saja.
Namun, ia juga mengenal Denis. Putranya bukan tipe laki-laki yang menghindar dari tanggung jawab. Ada sesuatu yang tidak beres.
Dan Sarah mulai khawatir bahwa pernikahan yang sebentar lagi akan dilangsungkan itu tidak berjalan lancar. Atau mungkin Denis menyembunyikan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kelelahan bekerja.