Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita
Pagi hari menyapa istana dengan cahaya matahari yang menembus tirai-tirai panjang. Udara masih sejuk, dan lorong menuju kamar Permaisuri dipenuhi langkah pelan para pelayan yang datang menjalankan tugas mereka.
Xia Lu berjalan di depan, diikuti empat pelayan lainnya. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya, mengingat semalam Kaisar datang ke kamar Permaisuri sesuatu yang jarang terjadi selama bertahun-tahun.
Ia tahu, Permaisuri sangat membenci sang kaisar dan takut terjadi sesuatu dengan keduanya.
“Kita harus berhati-hati,” bisik salah satu pelayan di belakang. “Jangan sampai membuat Yang Mulia Permaisuri marah.”
Xia Lu hanya mengangguk pelan. Ia berhenti di depan pintu kamar, lalu menarik napas sebelum mengangkat tangannya untuk mengetuk.
Namun sebelum tangannya menyentuh pintu tiba-tiba.
Ceklek!
Pintu terbuka dari dalam. Kelima pelayan itu langsung membeku di tempat.
Di hadapan mereka, berdiri sosok tinggi dengan aura yang begitu kuat hingga membuat udara seakan sesak. Kaisar Zi Xuan keluar dari dalam kamar, mengenakan jubah hitam kebesarannya.
“Yang … Yang Mulia Kaisar!” seru mereka serempak.
Tanpa menunda, kelima pelayan itu langsung berlutut dan menundukkan kepala dalam-dalam. “Salam hormat hamba, Yang Mulia!”
Zi Xuan hanya melirik sekilas, wajahnya kembali dingin seperti biasanya. Namun entah kenapa, hari ini ada sesuatu yang berbeda meski sulit dijelaskan.
“Bangkit,” ucapnya singkat.
Para pelayan buru-buru berdiri, namun tetap menundukkan kepala dengan hormat.
Xia Lu memberanikan diri melangkah sedikit maju. “Yang Mulia … hamba hendak melayani Permaisuri.”
Zi Xuan menghentikan langkahnya, lalu menoleh sedikit ke arah mereka.
“Tidak perlu,” katanya datar.
Kelima pelayan itu saling melirik sekilas, bingung dengan perintah tersebut.
“Permaisuri masih tidur,” lanjut Zi Xuan. “Jangan ada yang masuk,” ujarnya dengan nada dingin.
“Jangan ganggu dia,” tambahnya, kali ini dengan tekanan yang lebih dalam.
“Baik, Yang Mulia!” jawab mereka serempak.
Xia Lu sedikit menunduk lebih dalam. “Hamba akan berjaga di luar.”
Zi Xuan mengangguk singkat, lalu kembali berjalan tanpa mengatakan apa-apa lagi. Jubah hitamnya berkibar pelan seiring langkahnya yang mantap menyusuri lorong istana.
Hari ini, ia harus menghadiri pertemuan penting bersama para menteri dan pejabat tinggi. Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Begitu sosok Kaisar menghilang dari pandangan, suasana di antara para pelayan langsung berubah.
Salah satu pelayan menatap Xia Lu dengan mata membesar. “Apa … aku tidak salah lihat?”
“Kaisar … keluar dari kamar Permaisuri?” bisik pelayan lain dengan nada tidak percaya.
“Setelah tujuh tahun,” tambah yang lain pelan.
Xia Lu menghela napas, namun wajahnya tetap tenang. “Jangan bicara sembarangan.”
“Tapi ini benar-benar aneh,” bisik salah satu pelayan lagi. “Biasanya Kaisar tidak pernah—”
Ia menghentikan kalimatnya sendiri, takut jika ada yang mendengar.
“Semalam apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pelayan lain dengan penasaran.
Xia Lu terdiam sejenak, mengingat bagaimana Permaisuri bersikap berbeda belakangan ini. Tatapannya perlahan beralih ke pintu kamar yang tertutup rapat.
“Apa pun itu, itu bukan urusan kita. Ingat, dinding juga punya telinga. Jangan sampai Kaisar ataupun Permaisuri mendengar kalian,” ujar Xia Lu tegas.
Para pelayan lain langsung mengangguk, meski rasa penasaran jelas tidak hilang begitu saja.
*
Cahaya matahari sudah tinggi saat sinarnya menembus tirai kamar dan jatuh tepat ke wajah Mo Yuuran. Permaisuri itu perlahan mengerjap, lalu membuka matanya dengan napas sedikit berat.
“Astaga … ini sudah sangat siang!” serunya terkejut sambil buru-buru bangkit.
Namun begitu tubuhnya bergerak, ia langsung meringis pelan. Rasa tidak nyaman yang ada di inti tubuhnya menjalar, membuatnya spontan menahan napas.
Ingatan semalam tiba-tiba menyeruak begitu saja. Wajah tampan Zi Xuan, tatapannya yang tajam, dan sikapnya yang tak biasa serta malam panas yang mereka lakukan.
Wajah Mo Yuuran langsung memerah.
“Astaga … apa yang kupikirkan?” gumamnya pelan, lalu menggelengkan kepala kuat-kuat seolah ingin mengusir bayangan itu.
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Hari ini bukan waktunya memikirkan hal itu.”
“Kedua … tidak, ketiga putraku akan datang,” lanjutnya.
Ekspresinya perlahan berubah serius. Ia tidak boleh terlihat berbeda di hadapan mereka.
Setelah memastikan wajahnya kembali tenang dan dingin seperti biasa, Mo Yuuran akhirnya bersuara, “Xia Lu, masuk.”
Pintu segera terbuka dari luar.
Xia Lu masuk dengan empat pelayan lainnya yang tampak lebih muda dan belum begitu familiar. Mereka semua langsung berlutut dan menundukkan kepala.
“Salam hormat untuk Yang Mulia Permaisuri,” ucap mereka serempak.
Mo Yuuran menatap mereka satu per satu dengan sorot mata tajam namun tenang.
“Kalian wajah baru,” katanya datar.
Salah satu pelayan maju sedikit dengan kepala tetap menunduk. “Benar, Yang Mulia. Kami adalah pelayan baru yang ditugaskan menggantikan pelayan sebelumnya.”
Ruangan sejenak terasa hening. Xia Lu tetap diam, sementara pelayan lain menahan napas, seolah takut salah bicara.
Mo Yuuran hanya mengangguk pelan. “Baik.”
Tidak ada penjelasan tambahan, seolah keputusan itu sudah final dan tidak perlu dipertanyakan. Karena Mo Yuuran memang telah mengganti pelayan yang lama.
“Siapkan air,” lanjutnya singkat.
“Sudah siap, Yang Mulia,” jawab Xia Lu cepat.
Mo Yuuran bangkit dari tempat tidur dengan gerakan perlahan. Ia menjaga ekspresinya tetap tenang meski langkahnya sedikit tertahan.
Tanpa berkata lagi, ia berjalan menuju ruang dalam dan masuk ke dalam bak mandi yang telah dipenuhi air hangat.
Uap tipis naik ke udara, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan pikirannya yang masih bergejolak.
Sementara itu, di luar tirai, para pelayan mulai membereskan tempat tidur.
Salah satu dari mereka berhenti mendadak.
“A–apa ini?” bisiknya sangat pelan.
Pelayan lain mendekat, lalu langsung menutup mulutnya kaget. “Jangan bersuara .…”
Noda merah yang jelas terlihat di seprai membuat mereka saling berpandangan.
Belum lagi saat tanpa sengaja mereka melihat sekilas tanda kemerahan di kulit putih sang Permaisuri sebelumnya.
Wajah kelima pelayan itu langsung memerah.
Xia Lu yang menyadari suasana berubah langsung menoleh tajam. “Fokus pada pekerjaan kalian.”
Nada suaranya rendah, namun penuh peringatan.
“Ma–maaf .…” jawab mereka gugup.
Meski kepala mereka kembali menunduk dan tangan mereka bekerja, bisikan kecil tetap tak bisa sepenuhnya ditahan.
“Jadi … semalam .…”
“Diam!” potong Xia Lu cepat.
Ia menatap mereka satu per satu dengan dingin. “Apa kalian ingin kehilangan kepala seperti yang sebelumnya?”
Ucapan itu langsung membuat suasana membeku.
Kelima pelayan itu menelan ludah dan menggeleng cepat. “Tidak, Kak Xia Lu.”
“Kalau begitu, kerjakan tugas kalian. Dan simpan apa pun yang kalian lihat hari ini,” lanjut Xia Lu tegas.
“Baik!”
Di balik tirai, Mo Yuuran menutup matanya di dalam air hangat. Ia tidak tahu akan menghebohkan istana kekaisaran hari ini. Dan benar saja, setelah kaisar keluar dari kamar permaisuri. Semuaa orang langsung terkejut sekaligus tidak percaya
smngat terus buat up'y ya....💪💪
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar